- Barista Starbucks memulai pemogokan terbuka pada hari Kamis di tengah negosiasi kontrak yang terhenti.
- Walikota terpilih NYC Zohran Mamdani menyerukan kepada masyarakat untuk menghindari Starbucks selama pemogokan.
- Ini merupakan indikasi awal bagaimana Mamdani dapat memanfaatkan mimbar penindas di kantornya.
Zohran Mamdani tidak ingin Anda berbelanja di Starbucks sekarang.
Walikota terpilih Kota New York ini mendesak masyarakat untuk tidak menggurui jaringan kopi ikonik tersebut saat menjadi barista tetap mogok kerja.
“Pekerja Starbucks di seluruh negeri melakukan pemogokan Praktik Ketenagakerjaan yang Tidak Adil, memperjuangkan kontrak yang adil,” tulis Mamdani di X pada Kamis malam. “Saat para pekerja sedang mogok, saya tidak akan membeli Starbucks apa pun, dan saya meminta Anda untuk bergabung dengan kami.”
Pemogokan terbuka itu bertepatan dengan Hari Piala Merahketika jaringan tersebut menawarkan cangkir liburan gratis yang dapat digunakan kembali kepada pelanggan. Secara historis, hal ini mendorong rekor penjualan bagi perusahaan.
Pemogokan ini terjadi di tengah terhentinya negosiasi kontrak di raksasa kopi tersebut, dan juga menyusul pengumuman perusahaan mengenai restrukturisasi yang menyebabkan penutupan lebih dari 600 toko di seluruh AS.
Ini merupakan pemogokan keempat yang diorganisir serikat pekerja sejak tahun 2023, dan merupakan pemogokan ketiga yang terjadi sejak CEO Brian Nikol mulai memimpin perusahaan pada Oktober 2024.
Seorang juru bicara Starbucks mengatakan kepada Business Insider pada hari Kamis bahwa meskipun terjadi pemogokan, perusahaan tersebut masih berada di jalur yang tepat untuk melampaui ekspektasi penjualan hari itu di seluruh kedai kopi yang dioperasikan perusahaan di Amerika Utara.
Mamdani memberikan dukungan kepada para barista yang melakukan aksi mogok tersebut merupakan indikasi awal tentang bagaimana ia dapat memanfaatkan mimbar pengganggu di kantornya sebagai Walikota New York City. Anggota dewan negara bagian yang sosialis Demokrat ini telah lama memposisikan dirinya sebagai sekutu buruh.
“Bersama-sama, kita dapat mengirimkan pesan yang kuat,” tulis Mamdani pada hari Kamis. “Tidak ada kontrak, tidak ada kopi.”
Baca selanjutnya





