CNN Indonesia
Senin, 24 Agu 2026 23:30 WIB

Jakarta, CNN Indonesia —
Ada harapan baru bagi para pengidap kanker, terutama melanoma. Perusahaan di bidang kesehatan, Moderna dan Merck, mengungkapkan vaksin kanker mRNA yang dipersonalisasi dapat menurunkan risiko kekambuhan dan penyebaran melanoma dalam uji klinis tahap lanjut.
Hasil positif yang dibagikan pada Rabu (20/8) ini, menjadi tonggak penting bagi terapi kanker berbasis mRNA. Moderna dan Merck menyebut vaksin bernama Intismeran itu diuji bersama obat imunoterapi Keytruda milik Merck, yang selama ini menjadi salah satu terapi utama untuk melanoma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karen Knudsen, CEO Parker Institute for Cancer Immunotherapy, menyebut hasil uji klinis ini sebagai sinyal awal menuju era baru terapi kanker.
“Hasil positif ini membawa kita ke fase selanjutnya dalam imunoterapi. Ini adalah awal yang menjanjikan, di sinilah segalanya dimulai,” kata Knudsen, dilansir Reuters.
Jika pembuat kebijakan memberi lampu hijau, ribuan pasien melanoma berisiko tinggi berpotensi memperoleh manfaat terapi ini paling cepat tahun depan, kata Presiden Moderna Stephen Hoge.
Intismeran jadi harapan baru pengidap melanoma
Melanoma dikenal sebagai bentuk kanker kulit paling mematikan. Penyakit ini dimulai di melanosit. Mengutip Mayo Clinic, melanosit itu sendiri merupakan sel penghasil pigmen yang memberi warna pada kulit. Pigmen tersebut disebut melanin.
Tanda kemunculan melanoma sering kali berupa perubahan pada tahi lalat yang sudah ada atau pertumbuhan baru yang tak biasa pada kulit. Penyebab pastinya belum jelas. Namun sebagian besar melanoma disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet.
Hasil uji klinis pada vaksin Intismeran oleh Moderna dan Merck, menggunakan pendekatan yang melatih sistem kekebalan pasien agar mengenali dan menyerang tumor melalui target mutasi spesifik pada sel kanker.
Merck, Moderna, dan sejumlah perusahaan lain saat ini juga mengembangkan pendekatan serupa untuk kanker paru-paru, payudara, dan pankreas.
Keberhasilan uji klinis ini, menurut para analis dan pegiat imunoterapi, dapat membuka fase baru dalam pengobatan kanker padat atau solid tumor.
Intismeran merupakan terapi yang dibuat khusus untuk tiap pasien. Meski menjanjikan, pendekatan ini berpotensi sulit diproduksi dan diperluas secara komersial. Namun Hoge mengatakan Moderna yakin mampu memenuhi permintaan dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam pernyataannya, perusahaan tersebut tidak memerinci data lengkap uji klinis. Mereka mengatakan hasil detail akan dipresentasikan dalam pertemuan medis mendatang.
Hingga kini, data mengenai kelangsungan hidup keseluruhan (overall survival), yang menjadi salah satu titik akhir sekunder studi, juga belum tersedia.
Ilustrasi kanker kulit. (iStockphoto/kali9)
Hasil sementara dari studi yang masih berlangsung itu menunjukkan, Intismeran dapat memenuhi target utama, yakni menurunkan kekambuhan kanker.
Intismeran juga memenuhi target sekunder berupa mencegah penyebaran tumor ke bagian tubuh lain, jika dibandingkan dengan terapi menggunakan Keytruda saja.
Cara kerja vaksin ini, yakni dengan menyuntikkan formula yang memicu sel tubuh memproduksi salinan mutasi tertentu agar dikenali sistem imun dan dihancurkan.
“Ini pertama kalinya kami melihat peningkatan yang benar-benar signifikan secara klinis dan statistik dibandingkan dengan penghambat titik kontrol seperti Keytruda pada populasi ini,” kata Hoge.
Uji klinis ini melibatkan 1.137 pasien dengan melanoma stadium IIB hingga IV berisiko tinggi yang telah diangkat melalui operasi. Para relawan dibagi secara acak untuk menerima hingga sembilan dosis Keytruda plus vaksin personalisasi atau Keytruda saja selama sekitar satu tahun.
Pada Januari, Moderna dan Merck juga mengumumkan hasil uji tahap menengah yang menunjukkan terapi tersebut mampu menurunkan risiko kekambuhan atau kematian sebesar 49 persen setelah lima tahun.
Hasil terbaru di tahap lanjut ini memperkuat harapan bahwa vaksin mRNA personalisasi bisa menjadi senjata baru dalam perang melawan kanker.
(rti)






