Jakarta, CNN Indonesia —
Kepolisian Albania menembakkan peluru karet ke arah pengunjuk rasa antipemerintah di ibu kota Tirana. Unjuk rasa semakin memanas diwarnai dengan kekerasan terkait tuntutan agar Perdana Menteri Edi Rama mengundurkan diri.
Bentrokan selama unjuk rasa berlanjut pada Sabtu atau hari kelima setelah para pelajar sekolah menengah dan mahasiswa bergabung dalam gerakan yang lebih luas guna menentang Rama dengan Partai Sosialis yang berkuasa sejak 2013.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemarahan publik kian meluas terkait pendidikan, pengangguran, dan dugaan korupsi menjadi konfrontasi yang lebih besar dengan pemerintah.
Pengunjuk rasa melemparkan batu, bom molotov dan kembang api ke arah polisi dekat kantor Rama dan beberapa titik lain di pusat kota Tirana.
Manuver itu direspons polisi dengan tembakan gas air mata, meriam air, dan tindakan represif menggunakan tongkat saat pengunjuk rasa berupaya menerobos barisan pengamanan.
Seperti dilaporkan AFP, aparat kepolisian juga menggunakan peluru karet untuk pertama kalinya sejak unjuk rasa dimulai.
Tindakan ini pun diakui Kepala Kepolisian Nasional Skender Hita dalam sebuah konferensi pers pada Sabtu (17/10). Dia menyatakan peluru karet digunakan “secara terbatas”.
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial melaporkan sebanyak 9 pengunjuk rasa dan empat petugas kepolisian menerima perawatan medis pada Sabtu.
Sementara itu, Hita menyebut sebanyak 167 orang telah ditangkap sepanjang lima hari demonstrasi, sedangkan sebanyak 132 petugas kepolisian mengalami luka-luka.
Kemudian sebanyak tujuh petugas kepolisian telah dinonaktifkan sementara menunggu penyelidikan atas dugaan penyalahgunaan wewenang.
Di sisi lain, Rama mengunjungi tempat usaha yang rusak akibat demonstrasi. Ia yang kini menjabat untuk periode keempat dan menolak mundur berjanji untuk mendengarkan aspirasi para pelajar dan melindungi hak mereka untuk berunjuk rasa.
Rama juga memperingatkan agar tidak ada lagi tindakan perusakan. Dia menuding lawan politiknya dari kubu konservatif sebagai kambing hitam pemicu kekerasan.
(els)
