
Saya menemukan buku The Land of Stars saat sedang berselancar di Instagram. Buku yang dilahirkan lewat dua orang penulis hebat, Edgar Hamas dan Marfuah Panji Astuti (Uttiek Herlambang) ini, langsung menyedot perhatian saya. Apalagi beberapa negara yang ada di Asia Tengah, yang menjadi pembahasan di buku ini, sudah masuk wish list traveling saya selama bertahun-tahun. MashaAllah.
Saya kemudian terpaku pada sub judul yang bertuliskan “Menyingkap Sejarah Terkubur Negeri Para Bintang”
Negeri Para Bintang? Dimanakah itu? Haduh tambah-tambah deh rasa penasaran itu bangkit. Tanpa babibu saya pun menghubungi Gensa Berilmu, official publisher yang memegang hak terbit The Land of Stars, untuk mengikuti PO (pemesanan awal) dengan harga khusus.
Penerbit Gensa Berilmu @gensa.berilmu sendiri sudah saya kenal dalam beberapa waktu yang cukup lama. Konsistensi mereka dalam menerbitkan buku-buku sarat sejarah dan kemuliaan Islam sudah menjadi DNA yang mengalir deras dalam setiap karya literasinya. Sebutlah seperti “The Incredible Muslim : Menjadi Muslim Luar Biasa dengan Penuh Sadar dan Rasa Bangga” lalu “The Untold Islamic History : Sejarah Islam yang Belum Terungkap” dan masih banyak lainnya. Dua yang saya sebutkan barusan sedang dalam antrian bacaan saya.
Selain menghadirkan para tokoh memorable dalam perkembangan dan pengaruh Islam di berbagai sudut dunia, buku-buku terbitan Gensa Berilmu sangat sesuai dengan selera saya yang menyukai perpaduan antara rangkaian diksi berbobot dan tampilan visual lewat gambar atau ilustrasi yang menggetarkan. Buku-buku seperti ini begitu mengajak imajinasi saya berkembang dan turut membayangkan situasi atau suasana yang dikisahkan dalam setiap lembaran bukunya.
Dan itu saya dapatkan saat saya membaca lembar demi lembar buku “The Land of Stars. Menyingkap Sejarah Terkubur Negeri Para Bintang”
The Realm of Stars
Tersaji dengan hard cover setebal 188 halaman, The Land of Stars terbagi atas dua bagian penting yaitu The Realm of Stars dan The Second Renaissance.
Di bagian pertama ini kita disajikan setumpuk kisah bersejarah tentang para sahabat nabi, beberapa negeri yang berada di Asia Tengah, perjuangan para sahabat Nabi dalam penyebaran agama Islam ke berbagai pelosok negeri di Asia Tengah serta karakter kuat mereka. Juga hadir fakta yang mencengangkan yang baru saya baca di buku ini.
Diantaranya tentang keluarga Abbas bin Abdul Muthalib. Salah seorang paman Rasulullah yang memiliki banyak anak yang terlahir sebagai sahabat Nabi yang salih dan taat. Anak-anak beliau menjadi penjelajah yang bertebaran di banyak negeri. Semua anak-anak tersebut lahir di Mekkah, di tanah suci, namun wafat di berbagai penjuru negeri. Salah seorangnya adalah Qutsam bin Abbas bin Abdul Muthalib, si anak bungsu, yang tak lelah berjuang menyebarkan agama Islam di negeri Asia Tengah. Qutsam ini juga dikenal sebagai salah seorang sahabat yang disebutkan memiliki paras yang mirip dengan Rasulullah. Beliau juga pernah menjadi walikota Mekkah ke-17 sejak Mekkah dibebaskan oleh Rasulullah dan adalah seorang jendral yang gigih berjuang di sisi Ali bin Abi Thalib.
Diceritakan juga tentang Samarkand. Ibukota penting dalam peradaban Islam di Asia Tengah selama 500 tahun lamanya. Tempat dimana Qutsam dimakamkan. Tentang Persia. Sebuah kekaisaran, di bagian timur dunia, yang menguasai 30 (tiga puluh) negara. Luasnya sekitar 3.5juta km2 (di 620M). Atau sekitar dua kali negara kita. Negara yang kemudian dibebaskan dari kepercayaan baheula setelah Umar bin Abdul Aziz datang.
Ada cerita istimewa yang saya baca tentang Umar bin Abdul Aziz beserta pasukannya saat menguasai Samarkand. Beliau dikritik oleh para alim ulama karena saat menduduki Samarkand tidak lebih dulu menawarkan kepada penduduk setempat untuk menjadi muslim. Dia dan pasukannya langsung menyerang dan akhirnya berhasil mengalahkan penguasa setempat. Enam tahun kemudian sebuah keputusan langka diambil. Umar bin Abdul Aziz besserta pasukannya beriringan keluar dari Samarkand. Tentu saja hal ini menjadi kejadian aneh bagi masyarakat setempat karena toh Umar dan para pasukannya sudah hidup tentram di dalam kekuasaannya. Beliau kemudian dengan hati lapang mengulang proses pendudukan tersebut. Kali ini dengan menanyakan terlebih dahulu apakah rakyat Samarkand berkenan menjadi muslim atau akan diserang layaknya sebuah peperangan pendudukan. Hasilnya? Tentu saja rakyat Samarkand menerima niat baik untuk menjadi muslim dan taat kepada Allah Subhannahu Wata’ala.
Satu bagian kisah yang membuat saya terharu sekaligus terhenyak adalah tentang Imam Al-Bukhari. Saya yakin tidak seorang pun dari kita yang tidak mengenal beliau. Lewat buku The Land of Stars saya mencatat begitu banyak fakta akan beliau yang ingin saya bagikan di sini.
Imam Al-Bukhari yang lahir di Bukhara ini adalah Rijalul Hadits. Para ahli hadits sepanjang zaman yang sangat teliti membedakan mana hadits yang benar dan mana yang salah. Mana riwayat yang kuat dan mana yang lemah serta mana yang diriwayatkan oleh satu orang tertentu saja.
Nama asli beliau adalah Muhamad bin Ismail Al Bukhan. Lelaki yang tidak berbahasa Arab dan juga bukan orang Arab. Ayah beliau juga adalah ahli hadits terkemuka. Dikenal baik akhlak dan kesederhanannya. Jadi pepatah yang mengatakan bahwa “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” juga berlaku bagi Imam Al-Bukhari.
Cerita berbeda saya dapatkan tentang kakeknya. Kakeknya ada asli Persia, penyembah api, namun ternyata keturunannya menjadi muslim sejati. Pendahulunya adalah orang yang tak kenal Allah tapi anak cucunya menjadi pejuang di jalan Allah.
Pada masa kecilnya beliau sempat mengalami kebutaan dan sembuh – menerima sebuah keajaiban sembuh – berkat doa Ibunya. Saat itu, lewat sebuah mimpi, ibunya bertemu Nabi Ibrahim. Sang Nabi menyampaikan rasa simpatinya pada wanita tersebut dan menerima semua doa dan isak tangisnya demi kesembuhan anaknya.
Sepanjang jalan perjuangan dakhwa beliau saya mencatat rangkaian kalimat yang menjadi tekad beliau : “Bagaimana caranya umat Muhammad ini bisa mengakses hadits sahih dengan mudah dan praktis, dipelajari dengan tema yang runut dan sistematis.” Beliau pun akhirnya banyak berguru. Salah seorang diantaranya adalah Ishaq bin Ibrahim Rahawaih. Seorang imam besar, syaikh dunia timur, tuannya para penghafal Qur’an. Gurunya yang satu ini pernah menyampaikan harapan agar ada muridnya yang bertekad mengumpulkan hadits. Dari sinilah kemudian Imam Al-Bukhari menyempurnakan niat awalnya tersebut. Hingga akhirnya, dengan segala usaha dan niatnya ini, beliau dijuluki sebagai The Dream Catcher. Seorang pengejar impian.
Beberapa prestasi beliau yang tercatat dalam sejarah adalah : menuliskan kitab tentang hadits yang berjudul At Tariks Al Kabir dalam usia 18 (delapan belas) tahun. Lalu juga ada kitab Al Jami Ash Shaghir yang beliau tuliskan selama 16 (enam belas) tahun.
Beliau kemudian wafat setelah mengalami persekusi dari Khalid bin Ibrahim, penguasa Sarmarkand pada saat itu. Makam beliau ada di desa Hartang, 25km dari Samarkand. Penemuan yang dijalankan oleh pemerintah komunis Soviet ini adalah atas dasar permintaan Soekarno, presiden ke-1 RI, yang saat mensyaratkan permintaan ini sebelum Soekarno datang ke Soviet pada 1956.
The Second Renaissance
Bagian kedua buku yang bertajuk The Second Renaissance ini dimulai dengan rangkaian kalimat-kalimat menyentuh tentang saudara-saudara kita di Bukhara. Bagaimana mereka hidup dalam ketakutan, ketegangan, serba kekurangan, dan penindasan dari zionisme. Hingga pada Maret 1220, Bakhara luluh lantak, dibantai oleh bengisnya pasukan Genghis Khan. Amuknya berlanjut hingga Samarkand. Kemolekan Samarkand hancur seketika. Pasukan salah seorang jendral tak terkalahkan di dunia ini kemudian tidak hanya meluluh lantakkan kota Islam terkaya pada masanya, tapi juga menodai para wanita dan menyiksa orang-orang tak berdosa. Kekejaman Genghis Khan sungguh tak terperi. Tercatat pilu dalam kenangan.
Tapi sejarah kemudian merubah jejaknya. Genghis Khan memiliki seorang cucu bernama Amir Timur.
Di bagian ini, saya juga menemukan jejak beberapa orang pejuang Allah. Diantaranya adalah Khalid bin Walid (Syaifullah Sang Pedang Allah) salah seorang diantara 3 (tiga) panglima perang yang tak terkalahkan. Selain beliau ada Genghis Khan (pemimpin Mongol) dan Amir Timur (Sang Pemimpin) yang juga dikenal dengan julukan Daulan Timuriyah atau Timurid.
Buku ini juga mengurai tentang siapa Amir Timur beserta anak keturunannya. Salah seorang yang mencatatkan sejarah begitu berharga adalah cucu kesayangannya yang bernama M. Taraghay Ibn Shahrukh ibn Temur Ulugh Begh atau yang lebih kita kenal sebagai Ulugh Beg. Seorang ahli astronomi yang disegani oleh dunia yang juga dikenal dengan julukan Pangeran Bintang Gemintang.
Dalam sejarah hidupnya, Ulugh Beg berhasil mencatatkan diri sebagai seorang konseptor dan pembangun observatorium (tempat mengamati benda-benda langit). Konsepnya dalam membangun observatorium ini hingga kini banyak ditiru oleh berbagai bangunan sejenis di seluruh dunia.
Ulugh Beg jugalah yang berhasil membuat hitungan 1 (satu) tahun dengan rincian 365 hari, 6 jam, 10 menit dan 8 detik. Perhitungan dengan selisih 62 detik dari apa yang pernah dilakukan oleh NASA modern. Beliau jugalah yang memperkirakan posisi orbit sejumlah planet yang diukur dari jaraknya dengan bumi. Ulugh Beg juga dikenal sebagai pakar di bidang Ilmu Falak yang meliputi trigonometri, sinus dan tangen (menuliskan tabelnya), serta persamaan kubik dengan metode numerik. Selain menguasai ilmu pasti, Ulugh Beg juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Beliau menuliskan banyak bait-bait syair di waktu senggangnya.
Keistimewaan bagian kedua buku The Land of Stars ini dilengkapi oleh Para Penulis Peradaban. Diantaranya adalah :
Muhammad Bin Musa Al-Khawarizmi (780-850M). Beliau adalah ilmuwan muslim yang meletakkan dasar bagi renaisans dan revolusi ilmiah Eropa. Beliau adalah seorang jenius dalam bidang matematika, astronomi, dan geografi. Beliau jugalah penemu dari teori aljabar, trigonometri dan alogaritma.
Abu Nashr Muhammad Al-Farabi (870-950M). Dikenal sebagai bapak musik dunia. Jadi tak heran jika nama Al-Farabi digunakan sebagai jenama kursus musik. Dia juga adalah seorang filsuf, ahli hukum dan politik serta menguasai 40 (empat puluh) bahasa secara aktif. Yang dalam bahasa ilmiah disebut sebagai hiperpoliglot.
Lalu ada Abu Rayhan Al-Biruni (973-1052M). Beliau adalah seorang polymath (seseorang yang menguasai berbagai/banyak disiplin ilmu). Dikenal sebagai antrolog pertama di dunia sehingga dijuluki sebagai Bapak Antropologi Dunia. Dia mampu menjelaskan secara rinci dan membuatkan prediksi perhitungan terjadinya gerhana dan bagaimana caranya menikmati gerhana melalui genangan air. Al-Biruni juga menuliskan kitab “Al-Hind” yang menceritakan tentang negeri India dengan menggunakan metode etnografi. Beliau juga adalah manusia pertama yang mengurai perbedaan antara ilmu astronomi dan astrologi serta menegaskan teori yang menyatakan bahwa bumi itu bulat.
Diurai juga tentang Ibnu Sina atau Avicena (1980-1037M). Bapak kedokteran dunia, bapak pengobatan modern, yang juga adalah seorang polymath. Beliau menerbitkan kitab “Al-Qanun Fi Ath-Thib” yang berarti The Cannon of Medicine. Sebuah kitab yang berisikan ensiklopedia jutaan cara pengobatan dan obat-obatan, kita pertama yang menampilkan foto anatomi tubuh, merumuskan hubungan erat antara kesehatan fisik (raga) dan jiwa dan mengenalkan ilmu patologi serta farmasi.
Deretan manusia-manusia hebat dengan kejeniusan yang mereka miliki adalah mereka yang lahir di Asia Tengah. Mereka jugalah yang telah meninggalkan legacy luar biasa yang berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Bagian ini kemudian dilengkapi dengan informasi tentang banyak madrasah yang dibangun demi mewariskan berbagai bidang ilmu yang telah dilahirkan dan diciptakan. Dihadirkan juga banyak foto-foto dimana madrasah ini berdiri dan dijadikan destinasi wisata sejarah, ilmu dan pendidikan yang bisa kita nikmati saat berada di Asia Tengah. Khususnya di kota-kota yang dulu menjadi persinggahan atau tempat tinggal bagi para pengukir sejarah dan penulis peradaban yang memuliakan Islam beserta jejak-jejak pentingnya.
The Land of Stars. Buku yang Menggugah Jiwa
Kekuatan rangkaian diksi yang ringkas, jelas, dan tidak bertele-tele, membuat semua uraian yang dihadirkan gampang untuk dimengerti. Serangkaian kalimat aktif yang tertulis telah menghadirkan berbagai alasan untuk kita membaca buku The Land of Stars ini. Seperti yang dihadirkan pada blurb di back cover buku, saya memahami bahwa ketujuh alasan tersebut benar-benar pas untuk kita catat sebagai rangkaian poin penting dari keseluruhan isi buku.
Diantaranya adalah kita bisa menemukan permata peradaban yang tak terbayangkan sebelumnya, menemukan bintangnya manusia-manusia yang luar biasa dan yang mampu mengubah warna dunia. Tanpa buah pikir mereka, dunia tidak akan sama dengan yang kita lihat hari ini. Kita juga akan menyaksikan keindahan negeri 1001 malam yang sesungguhnya lewat rangkaian diksi dan ilustrasi. Kita juga diajak untuk mentadaburi bahwa sejarah itu dipergilirkan dan sekarang adalah giliran kita kembali. Kita juga diajak mengembara ke negeri Asia Tengah yang penuh dengan misteri dan sejarah yang terkubur lama. Dua alasan berikutnya adalah dengan membaca buku The Land of Stars, kita dapat mengenal beberapa pahlawan hebat dalam sejarah Islam dan menyadari sebuah kenyataan bahwa umat ini memang sedang tertidur. Namun ia tak mati dan akan bangkit kembali.
Melengkapi berbagai keindahan literasi dan ilustrasi yang dihadirkan, The Land of Stars menghadirkan banyak sekali quote atau untaian kalimat bijak yang layak untuk kita pahami. Berikut adalah beberapa quote yang begitu membekas di hati saya.
“Dengan sejarah, kamu akan punya contoh tentang pemimpin-pemimpin hebat di masa lalu. Dengan sastra, kamu jadi bisa menyampaikan idemu dengan gaya yang cerdas dan mudah dipahami semua orang. Dan dengan geografi, kamu akan bisa melihat dunia dengan sudut pandang yang luas.”
“Belajarlah dari masa lalu, bersiaplah untuk masa depan, dan persembahkan yang terbaik untuk hari ini.”
“Kesuksesan bukan diukur dari seberapa tinggi tangga yang kau tapaki, tapi dari sebanyak apa orang yang kau bawa bersamamu.”
“Kau tidak akan mengerti nikmatnya cahaya jika tidak tahu rasanya kegelapan.”
“Seseorang tidak akan bisa menjadi pemimpin yang adil kecuali jika ia telah melakukan hal ini : bersikap adil bahkan pada musuh, berilmu sebelum beramal, suka bermusyawarah dengan ulama dan meneladani generasi salih terdahulu.”
“Umat yang tidak tahu masa lalunya, ia tak akan mampu membaca masa depannya. Umat yang tidak terhubung dengan masa lalunya, maka musuh akan seenaknya saja menyambungkan kita dengan sejarah yang banyak salahnya.”
“Kita tidak boleh meremehkan kalimat apa pun yang keluar dari lisan kita. Terlebih ketika kita diminta bicara. Sebab betapa banyak kalimat sederhana yang mungkin tidak sengaja keluar dari lisan kita, tapi ia menghujam dalam di hati seseorang yang mendengarnya.”
“Kamu tahu bedanya sejarah Islam dengan cerita khayalan? Jika cerita khayalan kau baca sebagai pengantar tidur, maka sejarah Islam kau baca untuk membangunkanmu dari tidur.”
“You will never meet a strong person with an easy past.”
Saya mengakhiri bacaan saya dan menutup buku The Land of Stars dengan mata berkaca-kaca. Buku ini telah menambah pengetahuan saya tentang negeri Asia Tengah yang sarat dengan sejarah perkembangan Islam dan bagaimana negeri tersebut telah melahirkan banyak pribadi yang begitu berharga bagi dunia dan agama Islam itu sendiri.
Seperti kata pepatah “semakin sering kita membaca, semakin kita menyadari bahwa sesungguhnya ilmu dan pengetahuan yang ada pada kita hanyalah sebutir debu.” Rangkaian kalimat inilah yang menyadarkan saya saat kembali menelusuri lembar demi lembar dengan gerakan perlahan sembari pelan-pelan melantunkan doa agar suatu saat, sebelum menutup usia, Yang Maha Penentu mengizinkan saya mengunjungi beberapa negara di Asia Tengah sembari menyaksikan bangunan-bangunan bersejarah dan jejak kejayaan Islam di masa lalu dengan mata kepala sendiri.
Buku ini juga mengajak saya untuk lebih sering mentadaburi diri dengan kecintaan akan Islam dan menjadi bagian dari kemuliaan agama yang saya imani dengan cara menuliskannya dan atau berbagi banyak hal sesuai dengan kapasitas yang saya miliki saat ini. Menjadikan profesi penulis dengan banyak deretan manfaat yang bisa dipersembahkan kepada publik. Khususnya saudara-saudara seiman di tanah air.
Semoga Allah Subhannahu Wata’ala berkenan mendampingi dan mengabulkan doa-doa saya.
