Gumpalan awan mendung mulai bergelayut di langit saat saya menjejakkan kaki di kompleks Alun-alun Sewandanan Pakualaman. Udara terasa gerah, membuat tubuh menjadi lengket karena debu dan keringat. Meski begitu, semangat saya untuk mengunjungi Pameran Produk Lokal UKM binaan Dinas Koperasi dan UKM Daerah Istimewa Yogyakarta tidak luntur.
Saya sendiri baru mengetahui info pameran ini pada jumat sore dari laman instagram @plutjogja. Berhubung pameran ini hanya dilangsungkan selama 2 hari (Jumat-Sabtu, 24-25 Januari), maka mau tak mau siang ini saya harus berkunjung supaya tidak kelewatan.
Kali ini saya tidak datang sendiri. Selain mengajak Renjana dan ayahnya, saya juga mengajak sahabat saya Rossy untuk berkunjung. Sebagai alumni mahasiswa seni kriya, tentu saja dia sangat bersemangat.
Kami sama-sama memiliki ketertarikan khusus terhadap industri kreatif dan berkeinginan untuk memiliki usaha serupa di masa mendatang. Karena itu, selain untuk melihat-lihat, tujuan kami mendatangi pameran ini juga untuk ngangsu kawruh pada para pelaku usaha yang sudah sukses membangun bisnis mereka.
***
Alunan musik akustik menyambut kedatangan kami di lokasi pameran. Nampak seorang gadis berparas manis menyanyikan lagu milik Dewa 19 di panggung utama. Suaranya yang merdu menjadi pengiring orang-orang yang datang silih berganti mengunjungi pameran.
Kami pun berjalan menyusuri lorong pameran. Di kanan kiri terdapat stand-stand pelaku usaha dengan atap hijau kerucut. Ada 54 UMKM dari kabupaten dan kota di Yogyakarta yang turut serta dalam pameran ini. UMKM yang ikut sangat beragam, mulai dari batik tulis, eco print, tenun, kerajinan tangan, kuliner, dan banyak lainnya.
Sambil berjalan, mata saya mengamati tiap stand guna menemukan sesuatu yang unik dan menarik hati. Tak berapa lama, pandangan saya tertuju pada sebuah stand yang memamerkan aneka kerajinan mozaik kaca. Ini adalah kali pertama saya melihat produk seperti itu. Kontan saya mendekat dan memperhatikan dengan seksama.

“Monggo mbak, lihat-lihat dulu. Nanti kalau tertarik membeli saya kasih diskon,” sambut seorang pria paruh baya dengan ramah. Saya tersenyum.
“Ini pakai kaca ya, Pak?” tanya saya sembari memegang kotak wadah tisu yang seluruh permukaannya dilapisi mozaik kaca.
“Iya, mbak. Itu dalamnya kayu, luarnya dilapisi kaca 3 mili,” terang bapak pemilik usaha yang belakangan saya ketahui bernama Pak Suyanto.
“Ini gimana cara bikinnya pak? Kaca dipecah-pecah terus ditempel gitu? Kok pecahannya rapi ya?” tanya saya dengan polos. Jujur saya penasaran. Beberapa produk yang dipajang di meja terlihat sangat cantik dan estetik.
Pak Suyanto tertawa kecil mendengar pertanyaan saya. Lantas dari mulutnya keluar cerita panjang tentang bisnis yang digelutinya selama 10 tahun terakhir ini.
Surya Citra Mozzaic, itulah nama sanggar kerajinan kaca yang dimiliki oleh Pak Suyanto. Bermula dari rasa bosan setelah 17 tahun menjadi pekerja di industri manufaktur, Pak Suyanto memutuskan untuk resign dan memulai usaha sendiri.
Dia memulai usahanya dengan modal 2 juta. Kala itu dia nekat membuat mozaik dari limbah kaca. Alasannya memakai limbah kaca sebagai bahan utama produknya dikarenakan kaca sisa produksi pabrik kurang bisa dimanfaatkan dan terbuang sia-sia. Padahal kaca adalah bahan anorganik yang sulit terurai di tanah. Dengan keahliannya, dia mengubah limbah menjadi berkah.
Pak Suyanto belajar membuat mozaik kaca secara otodidak. Kali pertama beliau membuat mirror frame persegi. Desainnya masih minimalis. Lambat laun tangannya semakin terampil sehingga dia mampu mendesain produk lainnya seperti foto frame, vas, guci, tatakan gelas, wadah tisu, dan lain-lain.

Saat ini produknya sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Bahkan ada juga pembeli yang datang dari luar negeri seperti Jepang dan Jerman. Mereka memesan mirror persegi dengan beragam ukuran.
“Sebenarnya pernah ada permintaan dari Timur Tengah, Mbak. Mereka suka produk ini karena karakternya yang blink-blink. Tapi terpaksa saya tolak”
“Lho, kenapa di tolak, Pak?”
“Saya ndak sanggup mbak. Mereka mintanya perbulan lima ribu pcs. Saya ini kan masih industri rumahan, bukan skala pabrik,” jelasnya.
“Jadi sekarang saya melayani pemesanan lokalan saja mbak. Sama sesekali kirim luar negeri kalau ada yang pesan dan saya bisa bikin,” lanjutnya.
Selama ini usaha Pak Suyanto memang masih skala rumahan. Beliau belum bisa menerima pesanan dalam jumlah yang sangat banyak. Karena untuk membuat mozaik kaca seperti ini memang memerlukan ketelitian dan konsentrasi tingkat tinggi.
Saat saya bertanya apakah Pak Yanto sudah mengoptimalkan penggunaan sosial media untuk menjual produknya, dengan polos beliau menjawab bahwa dia tidak paham sosmed.
“Ada sih mbak instagramnya, tapi yang ngurusi anak saya. Kalau saya fokus di produksi saja,”
Bagi kawan-kawan yang tertarik ingin melihat produk kerajinan kaca Surya Citra Mozzaic bisa mengintip akun instagramnya di @suryacitra_mozaik. Selain membuat produk-produk regular, Pak Suyanto juga bisa menerima produk custom sesuai permintaan pembali.
Harapan saya semoga Pak Suyanto bisa menularkan ilmunya ke banyak orang sehingga bisa berkolaborasi dan mampu menggarap pasar luar negeri yang terbuka lebar. Karena produk ini memiliki kualitas yang teramat bagus dan mampu berdaya saing di kancah global. Sayang rasanya jika pasar mancanegara dilewatkan begitu saja.
***
Seusai ngobrol cukup lama dengan Pak Suyanto, Renjana ribut minta jajan. Kami pun beranjak meninggalkan deretan stand wastra dan kriya kemudian berpindah ke stand kuliner.
“Ibuk aku mau itu,” teriak Renjana tiba-tiba sambil menujuk pada snack berwarna kuning dan tulisan BUTARI di depannya. Lho, lho, lho, kok sepertinya saya familiar dengan bungkusnya ya?
“Itu kan keripik jamur yang kemarin aku bawa dari Pakem,” ujar Mas Chandra tiba-tiba.
Woalaaah, ternyata benar. Sabtu minggu lalu suami saya baru saja dikasih snack ini oleh temannya. Saat dibawa pulang, Renjana senang sekali dan makan sebungkus sampai habis. Ternyata di pameran ini kami menemukan produsennya. Terang saja saya langsung membeli.


Keripik jamur tiwar BUTARI ini rasanya sangat crunchy, garing dan renyah. Keripik ini diproduksi tanpa menggunakan MSG. Meski begitu rasanya sudah sangat gurih alami. Bagi Anda yang menginginkan camilan lokal yang sehat, keripik yang satu ini bisa dijadikan pilihan.
Meski produk rumahan, packaging keripik ini tidak kalah dengan snack pabrikan yang biasa dijumpai di gerai supermarket. Ia dibungkus dengan standing pouch transparan dan dilapisi sticker merek di bagian depan. Untuk menjaga kerenyahan produk, terdapat seal pembuka di bagian atas. Snack yang diproduksi oleh UKM Sumber Rejeki ini sudah dilengkapi dengan penanda expired date.
Seusai membayar jajanan yang kami beli, ibu-ibu penjaga stand sebelah menawari saya bawang hitam.
“Monggo mbak dicicipi bawang hitamnya. Rasanya manis kok, kaya dodol,” katanya sambil menyodorkan wadah berisi bawang hitam yang sudah dibelah menjadi dua. Saya pun penasaran. Saya ambil satu dan coba saya masukkan ke mulut. Hmmmm, iya sih rasanya manis. Cuma masih ada rasa bawangnya teramat kuat. Tapi enak.

Saya sudah lama mendengar khasiat tentang bawang. Dalam salah satu literatur yang pernah saya baca, konon para budak yang bekerja membangun Piramida dan Sphinx di Mesir mendapatkan jatah makan sup bawang. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka yang sudah dipaksa bekerja terlampau keras.
Sedari dulu bawang memang dikenal memiliki khasiat. Dan kini, bawang diolah menjadi bawang hitam dengan cara mengoven vakum selama berhari-hari. Bawang hitam ini memiliki beragam khasiat, baik untuk menjaga kesehatan maupun untuk penyembuhan.
Berdasar penelitian, jika dikonsumsi secara rutin bawang hitam mampu menurunkan kolesterol jahat dan tekanan darah tinggi, membantu memperbaiki sistem pencernaan, mengurangi sakit sendi, dan masih banyak kegunaan lainnya.

“Bawang yang dijadikan bawang hitam ini pakai bawang lanang mbak, bawang tunggal,” jawab Bu Niken saat saya bertanya apakah ada kriteria khusus bawang yang bisa diolah. Katanya bawang tunggal kualitasnya jauh lebih bagus.
Selain untuk kesehatan, ternyata bawang hitam alis black garlic juga memiliki manfaat untuk mengurangi penuaan dini dan membuat kulit lebih bagus. Mendengar itu kontan mata saya mengerjap. Siapa sih yang nggak mau tampil cantik?
“Kalau mbak mau jadi reseller boleh banget lho, nanti saya kasih harga khusus,” lanjutnya.
Usaha bawang hitam milik Bu Niken ini memang lebih banyak memanfaatkan sosial media sebagai promosi penjualannya. Ada banyak reseller yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Merekalah yang menjadi ujung tombak penjualan.
Menghadapi era industri 4.0 seperti ini memang para enterpreneur harus mampu beradaptasi dengan perubahan. Dari yang tadinya mengandalkan toko atau workshop sebagai tempat berjualan, kini sudah berpindah menuju digital. Dan salah satu tujuan hadirnya PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) Jogja adalah untuk memberikan pendampingan serta pembinaan bagi UMKM.
Dengan pendampingan yang diberikan, diharapkan UKM bisa naik level. Dari yang tadinya packaging hanya seadanya, penjualan masih secara konservatif, kini mau berbenah. Produk-produk UKM yang dihasilkan pun akhirnya memiliki kualitas yang baik dan berdaya saing di kancah industri global.

Siang itu saya masih melanjutkan menyusuri stand demi stand. Saya sempat mencicipi dan juga membeli manisan jahe dan manisan kencur yang nikmat dan sehat, berbincang dengan penjaga stand Luve Garden yang mengkampanyekan gerakan hidup sehat dan kembali ke alam, serta masih banyak lainnya.
Kunjungan ke Pameran Produk UKM kali ini tak hanya membuat perut saya kenyang, namun pikiran saya juga tercerahkan. Ternyata jika kita mampu melihat peluang, di sekitar kita ada banyak sekali hal yang bisa diolah untuk dijadikan produk kreatif. Sekarang tinggal kitanya nih, mau atau tidak?
*) Artikel ini menjadi juara 1 dalam lomba blog “Produk Lokal Berdaya Saing” yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM D.I. Yogyakarta pada tanggal 24 – 25 Januari 2019 di Alun-alun Sewandanan Pakualaman.






