Teknologi

Terinspirasi dari Sunburn, Ilmuwan ini Temukan Baterai Molekuler dari Energi Matahari

3
terinspirasi-dari-sunburn,-ilmuwan-ini-temukan-baterai-molekuler-dari-energi-matahari
Terinspirasi dari Sunburn, Ilmuwan ini Temukan Baterai Molekuler dari Energi Matahari

Foto: Teknologi.id/ Yasmin Najla Alfarisi

Teknologi.id  Inovasi revolusioner sering kali lahir dari pengamatan sederhana terhadap alam. Bagi Grace Han, seorang profesor kimia di University of California, Santa Barbara (UCSB), inspirasi untuk menciptakan sistem penyimpanan energi masa depan justru datang dari sengatan matahari California yang terik. Berawal dari rasa penasaran tentang bagaimana molekul DNA manusia berubah bentuk saat terbakar matahari (sunburn), Han berhasil mengembangkan sistem penyimpanan energi baru yang diklaim jauh lebih dahsyat daripada baterai konvensional.

Teknologi ini dikenal sebagai Molecular Solar Thermal (Most). Prinsip kerjanya meniru proses biologis: menggunakan molekul yang mampu “menekuk” atau berubah bentuk saat terpapar cahaya, menyimpan energi tersebut dalam ikatan kimianya, dan melepaskannya kembali sebagai panas saat dibutuhkan.

Baca juga: Canggih! SPBU di China Gunakan Robot Isi Bensin Otomatis, Proses Hanya 120 Detik

Melampaui Kapasitas Baterai Lithium-Ion

Dalam penelitian yang diterbitkan pada Februari 2026, Grace Han dan timnya memperkenalkan terobosan dalam densitas energi. Sistem Most yang mereka kembangkan mampu mencatat angka penyimpanan sebesar 1,65 megajoule per kilogram. Angka ini merupakan lompatan besar jika dibandingkan dengan baterai lithium-ion yang umum digunakan pada ponsel dan mobil listrik saat ini.

Ketangguhan teknologi ini dibuktikan dalam uji laboratorium sederhana namun dramatis. Energi yang disimpan dalam botol kecil (vial) mampu mendidihkan air dalam waktu yang sangat singkat.

“Saat saya melihat videonya dan melihat betapa cepat seluruh larutan mendidih, itu benar-benar luar biasa,” kenang Grace Han.

Pencapaian ini pun mendapat pengakuan dari komunitas ilmiah global. Kasper Moth-Poulsen, peneliti dari Polytechnic University of Barcelona yang telah lama bergelut di bidang ini, menyatakan kekagumannya terhadap lonjakan efisiensi tersebut.

“Saya pikir sistem terbaik kami berada di angka satu megajoule. Mereka, yang mencapai 1,6, itu sangat menakjubkan,” ujar Moth-Poulsen.

Meniru Evolusi Kulit Manusia

Secara teknis, sistem ini beroperasi layaknya “laboratorium hidup”. Di dalam kulit manusia, molekul DNA yang mengalami kerusakan atau perubahan bentuk akibat radiasi UV dapat memperbaiki dirinya sendiri dengan bantuan enzim yang disebut fotoliase. Han menyadari bahwa karakteristik molekul yang bisa berubah bentuk ini adalah kandidat sempurna untuk baterai masa depan karena ukurannya yang mikroskopis namun mampu menyimpan energi masif.

Salah satu keunggulan utama teknologi Most adalah kemampuannya menyimpan energi dalam jangka waktu yang sangat lama, bahkan hingga puluhan tahun tanpa kehilangan daya secara signifikan. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang harus dibakar untuk menghasilkan panas, teknologi ini bekerja sepenuhnya tanpa proses pembakaran atau emisi karbon.

“Teknologi ini beroperasi tanpa membakar apa pun,” tegas Moth-Poulsen, menekankan potensi dekarbonisasi dari penemuan ini.

Baca juga: Zuckerberg Danai Proyek AI Sel Manusia demi Lawan Penyakit Mematikan

Tantangan Menuju Penggunaan Massal

Meski memiliki potensi besar untuk menggantikan pemanas berbasis fosil, teknologi ini masih menghadapi beberapa kendala teknis. Saat ini, molekul tersebut membutuhkan paparan sinar UV yang sangat kuat (300 nanometer) untuk dapat menyimpan energi. Selain itu, proses pelepasan energinya masih memerlukan pemicu berupa asam klorida, zat korosif yang harus dinetralkan setelah digunakan.

Grace Han mengakui bahwa penggunaan bahan kimia korosif bukanlah solusi jangka panjang yang ideal untuk pasar konsumen. Ia berharap responsnya dapat ditingkatkan terhadap cahaya alami, serta memicu pelepasan energi tanpa memerlukan bahan kimia beracun.

Masa Depan: Jendela Pintar dan Panel Padat

Ke depannya, pengembangan teknologi Most tidak hanya terbatas pada bentuk cair yang harus dipompa. Para peneliti, termasuk tim dari Lancaster University, sedang menguji bentuk padat (solid state). Salah satu aplikasinya adalah sebagai pelapis jendela transparan yang cerdas.

Jendela ini nantinya bisa menyerap panas matahari di siang hari dan melepaskannya di malam hari atau saat suhu turun untuk mencegah pengembunan dan menghangatkan ruangan secara alami. Jika tantangan teknis ini berhasil diatasi, “baterai molekuler” ini bisa menjadi kunci utama dalam memangkas ketergantungan dunia pada bahan bakar gas dan batu bara untuk sistem pemanas.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(yna/sa)

Exit mobile version