
Teknologi.id – Tepung berbahan dasar singkong tengah diuji sebagai salah satu alternatif untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Polri kini menyiapkan pengujian teknologi tersebut dalam berbagai skala. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui apakah metode yang sebelumnya digunakan dalam skala kecil dapat diterapkan secara efektif pada area karhutla yang jauh lebih luas.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan hasil kajian awal para ahli BRIN menunjukkan bahwa penggunaan tepung singkong untuk membantu pemadaman api masuk akal secara saintifik dan memungkinkan secara teoritik.
Namun, hal tersebut belum berarti teknologi tersebut telah terbukti efektif untuk memadamkan karhutla skala besar. BRIN masih melakukan kajian dan uji coba untuk mengetahui efektivitas serta cara penerapannya di lapangan.
Baca juga: Twitter Hidup Lagi, Buka Pendaftaran untuk Uji Coba
BRIN Nilai Tepung Singkong Memungkinkan Secara Teori
Kajian BRIN terhadap tepung singkong dilakukan setelah lembaga tersebut mendapat informasi mengenai praktik penggunaan bahan berbasis singkong untuk membantu memadamkan api.
Para ahli kimia molekuler BRIN kemudian melakukan kajian secara teoritik.
Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan material tersebut memungkinkan secara ilmiah.
“Secara saintifik sebenarnya itu [tepung singkong untuk pemadaman karhutla] hal yang masuk akal,” ujar Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Meski demikian, BRIN masih perlu membuktikan bagaimana teknologi tersebut bekerja ketika digunakan pada kondisi kebakaran yang sebenarnya, terutama dengan area yang luas.
Efektivitas di Skala Besar Masih Diuji
Perbedaan antara pengujian skala kecil dan karhutla menjadi salah satu tantangan utama.
Pada area yang luas, bahan pemadam tidak mungkin hanya ditaburkan secara manual. Karena itu, BRIN dan Polri masih mengkaji berbagai aspek, mulai dari komposisi campuran hingga teknik penyebaran material.
Arif menjelaskan bahwa penerapan dalam skala besar membutuhkan peralatan tertentu agar material dapat diaplikasikan ke wilayah yang terbakar.
“Untuk skala besar … tidak mungkin ditaburi pakai tangan, harus pakai alat-alat tertentu dan sekarang sedang dikaji,” kata Arif.
Artinya, penelitian tidak hanya berfokus pada apakah bahan berbasis singkong dapat membantu pemadaman api, tetapi juga bagaimana bahan tersebut bisa digunakan secara praktis di lapangan.
Berawal dari Inovasi Masyarakat
Penggunaan bahan berbasis tepung singkong ini bukan pertama kali muncul dari penelitian BRIN.
Teknologi tersebut sebelumnya berasal dari praktik yang berkembang di masyarakat dan kemudian mendapat perhatian pemerintah setelah disampaikan dalam penanganan karhutla.
BRIN kemudian menjalankan fungsinya untuk melakukan validasi secara ilmiah terhadap teknologi tersebut.
Dalam kajiannya, BRIN ingin memastikan apakah praktik tersebut memang memiliki dasar ilmiah dan seberapa jauh teknologi itu dapat dikembangkan untuk kebutuhan penanganan karhutla.
Sempat Diuji pada Skala Kecil
Sebelumnya, penggunaan bahan berbasis pati singkong telah diuji untuk membantu mengatasi kebakaran lahan.
Salah satu formulasi yang disebut dalam pemberitaan menggunakan pati singkong, amonium polifosfat, air, dan zat pembasah.
Campuran tersebut ditujukan untuk membantu menghambat perambatan api. Air berperan dalam menyerap panas, sementara pati singkong membantu material menempel lebih lama pada permukaan.
Namun, keberhasilan pengujian skala kecil tidak otomatis membuktikan bahwa metode tersebut akan sama efektifnya ketika digunakan untuk karhutla dengan cakupan yang jauh lebih luas.
Karena itu, BRIN dan Polri kini menyiapkan pengujian lanjutan.
Presiden Prabowo Minta Teknologi Ini Diuji Lebih Besar
Gagasan penggunaan bahan berbasis tepung singkong juga telah mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto.
Dalam rapat penanganan karhutla di Palembang pada 24 Agustus 2026, inovasi tersebut disampaikan kepada Presiden.
Prabowo kemudian meminta agar teknologi berbahan dasar singkong tersebut diuji dalam skala yang lebih besar sehingga efektivitasnya dapat diketahui sebelum diterapkan secara lebih luas.
Arahan tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pengujian dan pengembangan yang dilakukan bersama BRIN dan Polri.
Kenapa Tepung Singkong Bisa Membantu Memadamkan Api?
Secara sederhana, konsepnya berkaitan dengan karakteristik material yang digunakan dalam campuran.
Pati singkong dapat membantu material menempel pada permukaan, sementara komponen cair dalam campuran dapat membantu menyerap panas.
Dengan material yang dapat bertahan lebih lama pada permukaan vegetasi atau area yang terbakar, diharapkan proses pendinginan dan penghambatan perambatan api dapat berlangsung lebih efektif.
Namun, mekanisme tersebut masih harus diuji dalam kondisi dan skala karhutla yang sebenarnya. Karena itu, belum tepat menyebut tepung singkong sebagai pengganti metode pemadaman karhutla yang sudah digunakan saat ini.
BRIN Masih Kaji Komposisi dan Cara Penyebaran
Salah satu bagian penting dari penelitian saat ini adalah menentukan formulasi yang tepat.
Komposisi bahan perlu disesuaikan agar material dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan. Selain itu, tim juga harus menentukan bagaimana bahan tersebut dapat disebarkan secara efisien pada wilayah yang luas.
Metode penyemprotan menjadi penting karena karhutla dapat mencakup wilayah yang sangat besar.
BRIN juga perlu menguji berbagai skenario untuk mengetahui seberapa efektif material tersebut dalam membantu mengendalikan api.
Dengan demikian, uji skala besar menjadi tahap penting sebelum teknologi tersebut dapat dinilai layak untuk diterapkan secara luas.
BRIN Belum Siapkan Produksi Massal
Meskipun mendapat perhatian pemerintah, BRIN belum menyatakan bahwa bahan tersebut siap diproduksi atau digunakan secara luas.
Saat ini, fokus BRIN masih pada validasi ilmiah dan pengujian teknologi.
ANTARA melaporkan bahwa penggunaan tepung singkong tersebut masih berada dalam tahap kajian dan uji coba sehingga belum siap untuk diproduksi maupun diterapkan secara luas.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak memahami informasi mengenai tepung singkong ini sebagai tanda bahwa metode tersebut sudah menjadi teknologi pemadam karhutla resmi yang siap digunakan di seluruh Indonesia.
Baca juga: Kabar Baik! Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus Lagi, Ini Aturan Komdigi
BRIN Juga Siapkan Modifikasi Cuaca
Selain menguji bahan berbasis singkong, BRIN juga menyiapkan teknologi lain untuk membantu menangani karhutla, yaitu teknologi modifikasi cuaca (TMC).
BRIN telah berkoordinasi dengan Polri dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait upaya penanganan karhutla melalui modifikasi cuaca.
Dalam teknologi tersebut, material seperti natrium klorida (NaCl) digunakan sebagai bahan untuk mendukung proses pembentukan hujan dalam operasi modifikasi cuaca.
BRIN berperan pada sisi riset dan material, sementara pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dilakukan bersama pihak terkait, termasuk BMKG.
Jadi, Apakah Tepung Singkong Benar-Benar Bisa Memadamkan Karhutla?
Jawabannya saat ini adalah secara teori memungkinkan, tetapi efektivitasnya untuk karhutla skala besar masih harus dibuktikan melalui uji coba.
BRIN telah melakukan kajian awal dan menyatakan konsep tersebut masuk akal secara saintifik. Namun, pengujian di lapangan tetap diperlukan untuk mengetahui formulasi, metode penyebaran, peralatan yang dibutuhkan, serta efektivitasnya pada kebakaran dengan area yang luas.
Dengan demikian, tepung singkong saat ini lebih tepat disebut sebagai teknologi alternatif yang sedang dikembangkan dan divalidasi, bukan teknologi yang sudah terbukti menggantikan metode pemadaman karhutla.
Jika uji skala besar nantinya menunjukkan hasil yang baik, bahan berbasis singkong tersebut berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(dwk)







