Scroll untuk baca artikel
Lingkungan

Tambakrejo, Semarang: Dari Ancaman Abrasi Menuju Kebangkitan Mangrove

webmaster
7
×

Tambakrejo, Semarang: Dari Ancaman Abrasi Menuju Kebangkitan Mangrove

Share this article
tambakrejo,-semarang:-dari-ancaman-abrasi-menuju-kebangkitan-mangrove
Tambakrejo, Semarang: Dari Ancaman Abrasi Menuju Kebangkitan Mangrove

LindungiHutan Insight

  • Tambakrejo adalah kampung nelayan di pesisir Semarang yang menjadi lokasi penanaman pertama LindungiHutan sejak 2016 dan kini berkembang menjadi kawasan konservasi mangrove.
  • Abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah menyebabkan hilangnya daratan serta permukiman, sekaligus mengancam ekosistem dan kehidupan masyarakat pesisir.
  • Bersama LindungiHutan, siapa pun dapat ikut berkontribusi dalam penanaman mangrove, baik individu, perusahaan, komunitas, maupun sekolah, untuk membantu memulihkan pesisir dan mendukung masyarakat lokal.

Tambakrejo Semarang, sebuah kampung nelayan yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan melawan laut. Tambakrejo, lokasi penanaman mangrove pertama LindungiHutan sejak 18 Desember 2016. 

Dari sinilah gerakan konservasi LindungiHutan berawal, sebelum akhirnya berkembang ke berbagai wilayah di Indonesia. Nama “Tambakrejo” sendiri berasal dari kata Tambak (tempat budidaya) dan Rejo (hasil melimpah).

Example 300x600

Sebutan “Tambak Lorok” pun muncul dari kata Jawa nglorok yang berarti merosot, menggambarkan kondisi tanah yang terus bergeser akibat abrasi.

Kampung Nelayan di Pesisir Utara Semarang

Penanaman mangrove di Desa Tambakrejo Semarang

Tambakrejo terletak di Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah. 

Wilayah ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa, tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Emas dan kawasan industri Kota Semarang. Sebagai desa nelayan, laut menjadi tumpuan hidup bagi mayoritas warganya.

Namun, letaknya yang berada di pesisir utara Pulau Jawa membuat Tambakrejo rentan terhadap berbagai tekanan lingkungan. 

Sejak pertengahan 1990-an, masyarakat mulai merasakan dampak penurunan muka tanah dan banjir rob. Memasuki 2000-an, abrasi semakin menjadi ancaman bagi kawasan ini.

Dampak abrasi dan rob di Tambakrejo telah berlangsung bertahun-tahun, ditandai dengan hilangnya sebagian daratan dan permukiman warga. Sekitar 2,5 hektare wilayah dan 25 rumah pernah dilaporkan lenyap akibat rob. 

Berdasarkan pemberitaan Tribun Jateng pada Juli 2025, dari total 323 hektare wilayah Kelurahan Tanjungmas, sekitar 30 hektare kawasan pesisir terdampak langsung abrasi dan rob, dengan sekitar 5% dari total luas wilayah yang kini telah tertutup air laut.

Lingkungan dan Ekosistem Pesisir

Abrasi dan rob tidak hanya menyebabkan hilangnya daratan dan permukiman, tetapi juga mengubah lanskap pesisir. Salah satu buktinya adalah sebuah makam di pinggir pantai yang kini terendam air laut.

Bahkan seorang nelayan pernah menemukan tengkorak saat mencari ikan di sekitar bekas pemakaman. 

Sebelum 1990-an, kawasan ini masih dikelilingi hutan mangrove lebat, namun pembukaan tambak dan penebangan masif menghilangkan sabuk laut alami. 

Masyarakat kala itu menganggap mangrove sebagai “benalu” yang mengganggu hasil tambak, sehingga tanggul kehilangan penopang dan abrasi tak terbendung. 

Pohon mangrove di Desa Tambakrejo Semarang

Kini, spesies Rhizophora sp. ditanam untuk meredam ombak, dan pemantauan terbaru mencatat 11 spesies mangrove serta 22 spesies burung di kawasan ini.

Baca juga: Kelompok CAMAR Selamatkan Pesisir Semarang dari Abrasi

Perjuangan Kelompok CAMAR dan Tokoh di Baliknya

Kebangkitan Tambakrejo dimulai pada 2011, ketika Kelompok CAMAR (Cinta Alam Mangrove Asri dan Rimbun) berdiri sebagai garda terdepan pelestarian lingkungan. 

Kelompok CAMAR Desa Tambakrejo Semarang

Juraimi, Ketua KPL CAMAR, menjadi motor penggerak konservasi sejak 2013. Sementara Yazid, Sekretaris CAMAR, adalah nelayan yang juga menjabat Ketua Nelayan di komunitas KOPI. 

Di bawah kepemimpinan Juraimi, CAMAR tumbuh dari 10 menjadi 26 anggota. Mereka tak hanya menanam mangrove, tetapi juga membangun rumah pembibitan kapasitas 10.000 bibit dan Alat Pemecah Ombak (APO) untuk melindungi bibit dari gelombang. 

Juraimi pun mengembangkan metode pola tanam segitiga (zig-zag) yang lebih efektif meredam energi gelombang.

Upaya ini juga menghadirkan jogging track sepanjang ±200 meter di tengah kawasan mangrove, yang kini dikenal sebagai Mangrove Edupark Tambakrejo. 

“Masyarakat belajar bahwa mangrove itu bukan sekadar penahan abrasi, tapi juga sumber kehidupan,” ujar Juraimi.

Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat

Sebagian besar hidup warga Tambakrejo bergantung dari sektor kelautan dan perikanan. Sejak berkembangnya Mangrove Edupark Tambakrejo, sebagian nelayan yang tadinya hanya melaut kini merangkap sebagai pemandu wisata saat tidak berlayar.

Akar mangrove yang kembali rimbun menjadi tempat pemijahan ikan, udang, dan kepiting, sehingga hasil tangkapan nelayan meningkat. 

Ibu-ibu pesisir mengolah daun dan buah mangrove menjadi keripik, minuman herbal, hingga pewarna alami untuk batik

Pemerintah Kota Semarang pun berkomitmen mengembangkan kawasan ini. Pengembangan ini dilandasi dua pertimbangan, yakni peningkatan ekonomi masyarakat pesisir dan pelestarian ekosistem dari abrasi.

Perkembangan Penanaman dan Kolaborasi bersama LindungiHutan

Sejak 2016, LindungiHutan telah menjadi mitra utama masyarakat Tambakrejo dalam upaya restorasi pesisir. 

Hingga saat ini, kolaborasi tersebut telah menghasilkan 197.834 pohon tertanam melalui 286 kampanye alam, melibatkan lebih dari 10.524 orang, mencakup 66% dari total luas lahan (4,95 hektare), dengan estimasi serapan karbon sebesar 107.8k kg CO₂eq.

Keberhasilan ini tidak lepas dari keterlibatan berbagai perusahaan yang turut serta dalam gerakan penghijauan. Salah satunya BAF melalui program “BAF Eco Move 2026” yang menanam 8.000 pohon pada Juli 2026. 

Gerakan tersebut merupakan pencapaian yang menunjukkan kondisi lingkungan semakin mendukung pertumbuhan mangrove.

Baca juga: OCBC Menguatkan Pesisir Tambakrejo Lewat 1001 Pohon Mangrove

Siapa Saja yang Bisa Berkontribusi di Tambakrejo?

LindungiHutan membuka pintu seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin berkontribusi nyata di Tambakrejo.

1. Individu/Personal Campaigner

Jadikan momen atau pencapaian spesial Anda sebagai alasan untuk menanam pohon dan meninggalkan jejak hijau.

2. Brand dan Perusahaan (Program CSR/ESG)

Bagi perusahaan yang menjalankan program CSR atau ESG berbasis alam, Tambakrejo menawarkan lokasi strategis yang menjadi komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan.

3. Komunitas, Sekolah, dan Organisasi

Komunitas pecinta lingkungan atau organisasi sosial dapat menggelar kegiatan penghijauan bersama di Tambakrejo yang membangun solidaritas sekaligus memberikan dampak ekologis yang bermakna.

LindungiHutan melalui program penanaman di Tambakrejo membuka kesempatan bagi siapa saja untuk berkontribusi dalam menjaga ekosistem pesisir Semarang. 

Setiap pohon yang Anda tanam adalah warisan yang akan bertahan puluhan tahun, melindungi pesisir dari abrasi, dan menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir. 

Jadilah bagian dari perjalanan restorasi ini dan tunjukkan bahwa aksi nyata Anda! 

Mari Pulihkan Ekosistem Mangrove Tambakrejo dan Jaga Masa Depan Pesisir