Lifestyle

Singgah ke Rumah Momo, Book Cafe Estetik di Renon Denpasar Bali

101
singgah-ke-rumah-momo,-book-cafe-estetik-di-renon-denpasar-bali
Singgah ke Rumah Momo, Book Cafe Estetik di Renon Denpasar Bali

Hujan ternyata enggan berhenti sejak saya tiba di Denpasar. Bahkan hingga keesokan harinya, saat saya menginap di Bestah Coliving dan hendak bertemu sahabat sembari menjahit silaturahim, hujan tampak awet ingin bertahan. Rasa malas untuk bangkit dan bersiap diri pun mendadak menguasai diri.

Langit masih gelap saat saya membuka gorden kamar. Titik hujan yang menderas tampak menghantam kolam renang yang ada di lantai bawah. Sentuhan air tersebut menimbulkan suara yang cukup membuat para penghuni Bestah Coliving terbangun. Setidaknya membuka mata saya di antara keengganan untuk beranjak dari tempat tidur atau beraktivitas luar ruang di pagi itu.

Saya segera menghubungi Fuli Nandhina. Salah seorang sahabat di Bali yang sudah belasan tahun menjadi salah seorang lingkar terdekat persahabatan saya. Setelah sekian menit perbincangan lewat whatsapp, kami sepakat akan tetap bertemu untuk sarapan bersama di sebuah resto sup ikan yang berada di Denpasar. Tak jauh dari tempat saya menginap.

Saya pun bergegas dan siap dalam 15 menit kemudian. Menyempatkan diri untuk ngopi sebentar di lantai bawah homestay yang saya tinggali, lalu memesan taxi on-line untuk tiba di tempat yang dituju.

Tentang Bali : Bestah Coliving Denpasar Bali, Menginap Serasa di Rumah Sendiri

Saya dan Fuli berpelukan erat karena diberikan kesempatan kembali untuk bertemu. Saya dan beberapa teman, termasuk Fuli, sebelumnya sempat ngumpul di awal November 2024 setelah saya selesai menghadiri Ubud Writers & Readers Festival 2024. Di akhir Januari 2025, kami bertemu kembali. Kali ini setelah saya menjelajah Karangasem selama 4 hari.

Sembari menunggu hujan yang terlihat mereda tapi tetap sungkan untuk berhenti, saya sangat menikmati hidangan sup ikan dan ikan goreng di Warung Bambu Lulu Sup Kepala Ikan sepagian itu. Sajian sarat rasa dengan bumbu yang memanjakan lidah serta kuah panas yang menyegarkan membuat sarapan di tengah hujan sepagian itu menjadi begitu sempurna. Nasi setangkup penuh bahkan langsung ludes tanpa sebutir pun tertinggal. Padahal biasanya makan 10 sendok nasi aja saya butuh perjuangan ekstra.

Hujan memang salah satu memantik rasa lapar yang baik ya.

Obrolan kami pun panjang, dari Sabang sampai Merauke, dan tentang apa saja. Mulai dari urusan keluarga khususnya anak-anak, tentang pekerjaan, dan tentu saja tentang perkembangan politik di tanah air. Alhamdulillah dari awal hingga saat ini kami berdua memiliki pandangan dan pendapat politik yang sama. Bahkan tentang apa saja. Tau kan kalau sudah sampai di tahap ini, bincang-bincang pun jadi tambah seru disertai dengan kalimat-kalimat sefrekuensi, seide, dan saling mengisi. Klop banget.

Sinar matahari mulai mengintip saat kami sepakat untuk melanjutkan langkah. Pertama adalah mengunjungi pusat oleh-oleh untuk menuntaskan pesanan anak-anak dan suami lalu mencari tempat nongkrong yang cantik untuk difoto sembari ngopi dan melanjutkan obrolan.

Pilihan pun jatuh pada Rumah Momo. Kami lalu memutuskan untuk singgah dan langsung melanjutkan perjalanan ke Rumah Momo, book cafe estetik yang ada di Jl. Drupadi III No. 7, Renon, Denpasar.

Tentang Bali : Menyesap Keheningan di Puri Payogan, Kedewatan, Ubud, Bali

Tempat Singgah yang Menyenangkan

Meski terlihat seperti bangunan lama dan begitu bersahaja dari sisi luar, saya sangat penasaran untuk segera bertamu. Pagarnya terbuat dari deretan bambu yang tingginya tidak merata, diikat berjejer kuat satu sama lain, serta sudah mulai terlihat usang dan memucat dihantam udara.

Rumah Momo berada di antara banyak rumah lain yang terlihat cukup mewah. Setidaknya berada di lahan yang tidak kecil. Sekeliling perumahan ini dilengkapi oleh jalan yang cukup untuk menampung 2 kendaraan dalam sekali jalan.

Di halamannya yang bertebaran dengan ribuan batu koral dihuni oleh banyak meja dan kursi kayu yang siap menampung puluhan tamu. Ada beberapa pohon yang tumbuh subur meski hanya di beberapa sudut dan beberapa gantungan lampu-lampu kecil diantaranya. Tempat yang tampaknya nyaman saat malam hari dengan langit cerah dan ribuan bintang hadir di angkasa.

Tak heran jika beberapa teman yang pernah ke book cafe Rumah Momo sempat berkomentar bahwa seharusnya saya datang setelah maghrib untuk mendapatkan ambience dan atmosphere yang lebih asyik. Ah baiklah. Harus balik lagi kalau begitu.

Saya sempat melambatkan langkah saat “jeritan” batu koral begitu heboh menyeruak ke telinga. Ya ampun. Langkah-langkah saya yang kata ayah almarhum, seperti tentara baris berbaris itu ternyata membuat para batu merasa harus berteriak kencang lebih dari biasanya.

Tak jauh dari gerbang depan saya melihat sebuah pintu dengan beberapa ornamen yang ada di depannya. Tadinya saya kira pintu depan yang menghadap ke jalan itu adalah jalan masuk ke Rumah Momo. Tapi ternyata saya keliru. Pintu masuknya justru ada di belakang. Tempat yang langsung mengantarkan kita ke area pelayanan pesanan konsumen.

Jadi intinya kita masuk lewat pintu belakang.

Saya tak menemukan jawaban kenapa justru pintu sempit di sisi samping rumah kok malah jadi pintu masuk. Padahal pintu depan tadi sudah sangat proporsional untuk dijadikan area penyambutan para tetamu. Secara estetika pun pintu depan terkesan lebih menghargai tamu ketimbang pintu belakang yang langsung terhubung dengan dapur. Sama seperti rumah kita seperti biasa ya. Tamu selalu kita sambut di pintu depan demi menghargai sang tamu. Bukan lewat pintu dapur. Kecuali ya tentu saja jika si tamu adalah anggota keluarga dan atau orang yang sudah terbiasa keluar masuk rumah kita. Nah mungkin saja Rumah Momo ingin berasumsi seperti itu ya.

Tentang Bali : AMED Salt Centre, Bisnis Petani Garam Berbasis Tradisi di Amed, Karangasem, Bali

Saat saya melangkah masuk, wangi kopi menyeruak ke indera penciuman. Seneng banget. Apalagi di tengah cuaca yang redup seperti saat itu ngopi rasanya begitu membahagiakan. Untuk saya, si anak Sumatera, yang sedari balita sudah dikenalkan dengan istimewanya kopi, jangankan menyeruput, mencium baunya saja, kopi sudah memberi efek menenangkan. Apalagi kemudian dilengkapi oleh sebuah fakta bahwa desa di mana alm Ayah saya berasal adalah salah satu desa penghasil kopi terbaik di Indonesia.

Saya pun memesan kopi hitam dengan gula yang terpisah. Saya punya takaran tingkat kemanisan sendiri soalnya yang kata teman-teman gak manis sama sekali (ngetik dengan senyum dikulum). Tapi yah begitu ajaran keluarga. Ini saya lakukan dalam rangka mempertahankan purity and real value dari meminum kopi hitam. Bukan kopi kekinian yang sudah dicampur dengan cream, tumpukan produk gula, ice cream, dan segala macam efek tambahan lainnya.

Selesai melakukan transaksi, saya seperti biasa, langsung menghaburkan pandangan ke semua sisi. Kesan pertama yang mampir adalah lega, luas, bersih, dan nyaman.

Tadi saat sempat menunggu untuk dilayani, saya langsung dibuat terkagum-kagum dengan kecantikan penataan di area counter. Selain coffee brewing yang melahirkan bau yang begitu menggoda, tempat ini juga dilengkapi dengan tulisan besar Rumah Momo di dinding belakang, semen tanpa plester. Dan yang paling menarik menurut saya adalah rak buku seisi-isinya yang ada di bagian depan.

Banyak sekali pilihannya. Jadi, jika berniat menunggu pesanan kita selesai, kita bisa menghabiskan waktu menunggu dengan memilih banyak buku yang ada di depan ini.

Saya sendiri memutuskan untuk berkeliling, melihat ke setiap sudut, sebelum akhirnya duduk dengan hidangan kopi hitam yang sudah saya pesan.

Jika melihat langit-langitnya yang sangat bersih, sepertinya tempat ini belum lama direnovasi. Lampu dengan kap bambu begitu apik berkolaborasi dengan warna cat ceiling yang membumi.

Rak bukunya tersebar di berbagai sudut. Yang paling padat adalah deretan komik. Ya ampun banyaknya luar binasa. Cocok banget nih untuk mereka yang besar di era 90-an di mana komik-komik Jepang banyak merajai toko buku. Kalau saya sih tidak begitu hafal judul-judul apa saja yang hit pada era itu. Komik yang pernah saya baca itu palingan Sinchan dan Sailormoon. Tapi itu pun hanya beberapa dan bukan milik sendiri.

Saya melangkah mendekati pintu masuk yang tadi tidak bisa dilewati. Di salah satu rak dekat pintu ini ada sederetan mainan jadul seperti ular tangga, halma, kartu remi, dan lain-lain. Ada juga produk imitasi dari peralatan photography, radio, music player, televisi tabung, telepon analog dengan nomor putar, dan masih banyak lagi.

Saya tetiba teringat dengan beberapa pasar loak yang pernah saya mampiri. Banyak sepertinya yang diborong ke sini. Dan tentu saja masa kecil dan masa remaja saya. Di mana barang-barang inilah yang menemani masa keemasan saya. Masa di mana teknologi masih belum tersentuh atau terkolaborasi dengan jaringan internet. Era di mana semua masih analog meski saat itu sudah dilabeli modern.

Selain buku dan barang-barang jadoel ini, saya juga melihat sepeda ontel yang diparkirkan menempel pada salah satu dinding dengan sebuah rangkaian quote yang dicetak di atas papan berwarna hitam. Kemudian saya pun menemukan sebuah organ model lama dengan injakan kaki di bawahnya.

Astaga, memori saya mundur kembali. Ingat dulu saat SMP, saya kursus organ di Yamaha Musik. Alm Ayah sengaja membelikan alat musik ini dan meminta saya memainkannya hampir di setiap waktu senja. Banyak lagu kegemaran beliau yang saya lantunkan sembari menemaninya duduk selonjoran di bangku santai. Ini biasa saya lakukan di setiap akhir pekan atau di sela waktu menjelang isya dimana alm sudah pulang kantor, mandi, makan, dan bersantai-santai.

Tentang Bali : Mengunjungi Produksi Garam Tradisional di Kusamba Klungkung Bali

Ruang Baca

Waktu beranjak sore saat saya dan Fuli memutuskan untuk meninggalkan Rumah Momo. Tapi saat berjalan keluar, mata kami terpaku pada sebuah pintu kayu yang terlihat sudah termakan usia dengan sebuah taman dan bangunan yang terlihat menarik. Lahan pijaknya pun ditebari dengan ribuan batu koral.

Karena tak ada larangan masuk, saya pun melangkah menelusur.

Sebuah taman sarat bunga ada di sisi kiri pintu masuk. Ada beberapa bangku kayu rustik yang diletakkan di sana. Cocok banget untuk menikmati sore saat langit cerah.

Kemudian ada dua bangunan di dalam sini. Yang di kanan jalan masuk itu tampak seperti private room. Tidak besar tapi sepertinya cukuplah untuk menampung 20-an orang sembari menikmati masa-masa berharga bersama orang-orang terdekat.

Nah yang menarik adalah satu bangunan yang besar setelahnya dengan tulisan Ruang Baca di atas pintu masuk. Pintu yang saya buka berderit saat melangkah masuk. Tampaknya Rumah Momo sengaja menyediakan tempat ini khusus untuk mereka yang ingin membaca, menikmati buku, tanpa gangguan kebisingan. Ruangannya cukup lebar tapi masih sepi tempat duduk. Jadi terlihat lowong banget. Ada satu rak buku yang sudah terisi dengan beragam buku.

Saya mendadak memikirkan sesuatu. Seru juga ya kalau mengadakan book launching semi private di Ruang Baca ini. Acara yang terbuka hanya khusus undangan terbatas saja. Tapi mereka adalah orang-orang terpilih yang memberikan pengaruh pada perjalanan hidup kita.

Let me think seriously about this somehow. Atmosphere yang tercipta di ruangan ini sepertinya cocok banget untuk mendekatkan Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) dan Annie Nugraha Mediatama (ANM) ke publik penyuka buku atau komunitas baca yang ada di Denpasar.

Tentang Bali : Mempererat Silaturahim Bersama Para Sahabat di NEUN Cafe, Sanur, Bali

Kenangan yang Terukir

Saya (sangat) suka mengunjungi Book Cafe, Cafe Library, dan sejenisnya seperti halnya Rumah Momo ini. Mengapa? Karena saya mempunyai mimpi besar memiliki tempat dengan konsep yang sama. Perizinannya bahkan sudah di tangan. Resmi diberikan oleh institusi negara yang memiliki kewenangan untuk memberikan izin tersebut. Hanya satu yang belum adalah eksekusinya. Sementara network untuk perbukuannya sudah memegang erat tangan saya.

Rumah Momo sudah memberikan masukan yang cukup berarti buat saya. Mana yang harus dicontoh dan mana yang harus lebih diperhatikan.

Berada di tengah kota yang penuh dengan kesibukan dan lingkungan perumahan, Rumah Momo nyatanya bisa mempertahankan rangkaian kenyamanan bagi tamu untuk bersosialisasi. Meskipun menurut saya konsep “bukunya” belum terejawantahkan dengan sempurna. Publik yang datang, yang saya lihat, lebih fokus pada fungsi berkumpul seperti cafe pada umumnya. Cuma satu dua yang terlihat mengambil buku lalu terpekur membaca.

Tempat duduk yang disediakan pun kurang nyaman digunakan untuk duduk berlama-lama. Sementara pembaca dan kegiatan membaca butuh itu. Bangku kayu yang kokoh tanpa bantalan, terus terang, bikin bokong menjerit. Apalagi saat duduk lebih dari 30 menit. Buat saya berbokong tepos dengan tulang ekor yang sudah tidak sempurna, sungguh bikin saya tidak betah. Beda halnya jika di atas dudukan itu diberikan bantalan alas yang membuat bokong lebih nyaman.

Ini salah satu sebab mengapa saya memutuskan untuk tidak berlama-lama.

Namun overall, Rumah Momo tuh asyik banget untuk para nongkronger untuk berkumpul, bertukar kabar, sambil menikmati aneka minuman dan sajian masakan yang menurut banyak teman saya enak betul. Sayang saya tidak sempat mencoba karena perut masih full habis makan sup ikan.

Dari tautan resmi IG @rumahmomo_ saya melihat banyak kegiatan yang dilakukan di sini. Foto-foto yang dihadirkan pun begitu instagenic dan mengundang publik untuk menata mata, menyusur hasil jepretan satu demi satu, sembari membayangkan bagaimana asyik dan serunya jika bisa berada langsung di Rumah Momo.

Exit mobile version