Scroll untuk baca artikel
Teknologi

Siapa Sosok di Balik Transformasi Teknologi Bank Mega? Mengenal YB Hariantono

webmaster
6
×

Siapa Sosok di Balik Transformasi Teknologi Bank Mega? Mengenal YB Hariantono

Share this article
siapa-sosok-di-balik-transformasi-teknologi-bank-mega?-mengenal-yb-hariantono
Siapa Sosok di Balik Transformasi Teknologi Bank Mega? Mengenal YB Hariantono

Transformasi teknologi perbankan tidak hanya terlihat dari hadirnya aplikasi digital, kemudahan transaksi, atau semakin cepatnya layanan kepada nasabah. Di balik perkembangan tersebut, terdapat peran para pemimpin yang bertanggung jawab memastikan teknologi berjalan selaras dengan kebutuhan operasional, keamanan, dan strategi bisnis perusahaan.

Example 300x600

Lantas, siapa sosok yang turut berperan dalam perjalanan transformasi teknologi Bank Mega?

Salah satunya adalah Hariantono, Direktur Operations & Information Technology PT Bank Mega Tbk, seorang profesional dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di industri perbankan. Perjalanan kariernya mencakup berbagai bidang, mulai dari pengembangan sistem informasi, integrasi teknologi, pengelolaan operasional, hingga kepemimpinan di sejumlah bank nasional.

Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal dalam menjalankan tanggung jawab strategis di Bank Mega, khususnya ketika industri perbankan semakin dituntut menghadirkan layanan digital yang aman, efisien, dan relevan dengan kebutuhan nasabah.

Berawal dari Programmer hingga Memimpin Teknologi di Berbagai Bank

Perjalanan profesional Hariantono dimulai pada 1991 sebagai Junior System Programmer di Bank Bali. Lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 1990 ini membangun pengalamannya melalui berbagai bidang teknologi informasi, termasuk pengembangan aplikasi, pengelolaan jaringan, data center, dan operasional sistem.

Pada 2000–2002, beliau dipercaya menjabat sebagai Vice President Group Head IT di Bank Bali, sebelum melanjutkan karier ke Bank Permata pada 2002.

Di Bank Permata, beliau terlibat dalam koordinasi integrasi teknologi informasi yang berkaitan dengan penggabungan lima bank pembentuk perusahaan tersebut. Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam memahami kompleksitas sistem perbankan, terutama terkait integrasi infrastruktur, pengelolaan data, dan kesinambungan operasional.

Menariknya, pengalaman profesional beliau tidak terbatas pada bidang teknologi. Tanggung jawab dalam fungsi Consumer Credit Underwriting dan Network Head turut memperluas pemahaman mengenai kebutuhan bisnis, pengelolaan risiko, dan layanan perbankan.

Pada 2010–2014, kariernya berlanjut sebagai Executive Vice President IT Head di BII–Maybank.

Perjalanan kepemimpinan di Bank Mega dimulai pada 2014 ketika beliau dipercaya menjadi Direktur Operations & Information Technology hingga 2018, kemudian menjabat sebagai Direktur Information Technology hingga 2019.

Setelah itu, pengalaman profesionalnya berlanjut ke Bank BTPN pada 2019–2020 dan BNI sebagai Direktur Teknologi Informasi dan Operasi mulai 2020.

Pada 2023, beliau kembali bergabung dengan jajaran direksi Bank Mega sebagai Direktur Teknologi Informasi. Sejak 2025, tanggung jawabnya mencakup bidang teknologi dan operasional melalui posisi Direktur Operations & Information Technology.

Rangkaian pengalaman tersebut memberikan perspektif yang luas mengenai bagaimana teknologi perlu dikelola untuk mendukung stabilitas operasional sekaligus perkembangan bisnis perbankan.

Menghubungkan Transformasi Teknologi dengan Kebutuhan Bisnis Bank Mega

Dalam industri perbankan modern, teknologi informasi tidak lagi hanya berfungsi sebagai pendukung operasional. Infrastruktur digital, keamanan transaksi, integrasi sistem, dan pengembangan layanan kini menjadi bagian penting dari strategi bisnis perusahaan.

Sebagai Direktur Operations & Information Technology Bank Mega, beliau memiliki tanggung jawab dalam dua fungsi yang saling berkaitan.

Dari sisi teknologi, pengelolaan sistem informasi dan infrastruktur menjadi fondasi untuk menghadirkan layanan perbankan yang aman, andal, dan mampu mengikuti perkembangan kebutuhan nasabah.

Sementara dari sisi operasional, pemanfaatan teknologi perlu mendukung efisiensi proses, peningkatan kualitas layanan, serta pengelolaan risiko yang terukur.

Salah satu perkembangan yang mencerminkan arah transformasi Bank Mega adalah partisipasi perusahaan dalam implementasi Kartu Kredit Indonesia (KKI) untuk segmen ritel pada Agustus 2026.

Bank Mega menjadi salah satu bank first mover dalam pengembangan layanan tersebut, yang merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem pembayaran nasional melalui pemanfaatan infrastruktur domestik.

Dalam kegiatan pada 17 Agustus 2026, Hariantono hadir mewakili Bank Mega dalam pengenalan layanan KKI, termasuk proses registrasi melalui aplikasi M-Smile.

Dari perspektif bisnis, pengembangan layanan pembayaran digital berpotensi memperluas akses transaksi, meningkatkan kenyamanan nasabah, serta membuka peluang pertumbuhan pada segmen pembayaran ritel.

Sementara dari sisi teknologi, implementasinya membutuhkan kesiapan infrastruktur, integrasi layanan, keamanan transaksi, dan pengelolaan operasional yang konsisten.

Keterlibatan Bank Mega dalam inisiatif tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan modernisasi sistem internal, tetapi juga partisipasi dalam penguatan ekosistem pembayaran nasional.

Berkontribusi dalam Komunitas Teknologi dan Ekosistem Pembayaran

Di luar tanggung jawab dalam institusi perbankan, pengalaman profesional beliau juga mencakup keterlibatan dalam komunitas teknologi dan asosiasi industri.

Pada 2022–2024, beliau menjabat sebagai Chairman iCIO Community, komunitas yang mempertemukan para pemimpin teknologi informasi dari berbagai organisasi untuk berbagi pengalaman mengenai transformasi digital, kepemimpinan teknologi, dan pengembangan organisasi.

Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) pada 2022–2023.

Keterlibatan dalam kedua organisasi tersebut memperlihatkan pengalaman profesional yang tidak hanya berfokus pada kebutuhan teknologi dalam perusahaan, tetapi juga pada pentingnya kolaborasi dalam ekosistem industri.

Di tengah meningkatnya transaksi digital, kerja sama antara perbankan, regulator, penyelenggara sistem pembayaran, dan penyedia teknologi menjadi semakin penting untuk mendukung inovasi yang aman, terintegrasi, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pengalaman tersebut juga memberikan perspektif mengenai bagaimana perkembangan teknologi dan sistem pembayaran membutuhkan koordinasi lintas organisasi, bukan hanya pengembangan solusi secara internal.

Menyikapi Sovereign AI dan Masa Depan Trusted Banking

Seiring perkembangan artificial intelligence (AI), industri perbankan menghadapi peluang baru untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat analisis data, mendukung pencegahan fraud, dan mengembangkan layanan nasabah.

Namun, pemanfaatan AI juga membawa tantangan dalam pengelolaan data, keamanan, transparansi, dan tata kelola teknologi.

Isu tersebut menjadi pembahasan dalam forum AI Sovereignty: Leadership Dialogue & Whitepaper Launch pada 27 Oktober 2026.

Dalam forum tersebut, beliau hadir sebagai salah satu panelis pada sesi Industry Collaboration in Strengthening Technology for National Banking, bersama sejumlah pemimpin teknologi perbankan lainnya.

Forum ini juga menjadi momentum peluncuran whitepaper The Digital Sovereign AI and the Future of Trusted Banking yang disusun melalui kolaborasi PERBANAS, IBM, dan K&A.

Kajian terhadap 91 responden dari 35 institusi keuangan menunjukkan bahwa adopsi AI terus berkembang, meskipun kesiapan tata kelolanya masih menghadapi tantangan.

Sebanyak 34% organisasi masih berada pada tahap pilot atau uji coba terbatas, sementara 18% telah menerapkan beberapa penggunaan AI dalam lingkungan produksi. Namun, hanya 4% yang telah mengadopsi AI secara luas dengan tata kelola formal.

Sementara itu, tingkat kematangan AI governance memperoleh nilai rata-rata 2,74 dari skala 5, dan 82% responden menempatkan privasi data sebagai salah satu risiko utama yang membutuhkan perhatian.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan tata kelola teknologi, terutama ketika AI semakin terintegrasi dengan proses bisnis perbankan.

Keterlibatan beliau dalam forum ini menjadi bagian dari partisipasi profesional dalam pembahasan mengenai kolaborasi industri, kedaulatan teknologi, dan penguatan kepercayaan terhadap layanan perbankan digital.

Pengalaman Panjang dalam Mendukung Transformasi Perbankan

Lebih dari tiga dekade berkarier di industri perbankan, Hariantono telah melalui berbagai perubahan teknologi, mulai dari pengembangan sistem informasi hingga era layanan digital dan kecerdasan buatan.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan teknologi membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman teknis. Kemampuan memahami kebutuhan bisnis, menjaga keandalan operasional, mengelola risiko, serta membangun kolaborasi menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi perusahaan.

Di Bank Mega, pengalaman lintas fungsi tersebut menjadi bekal yang relevan untuk menjalankan tanggung jawab di bidang teknologi dan operasional, seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan yang cepat, aman, dan terintegrasi.

Partisipasi perusahaan dalam pengembangan Kartu Kredit Indonesia serta keterlibatan beliau dalam pembahasan Sovereign AI mencerminkan dua isu yang semakin penting bagi industri perbankan, yakni penguatan infrastruktur pembayaran nasional dan kesiapan tata kelola teknologi masa depan.

Dengan pengalaman profesional di berbagai institusi perbankan, Hariantono menjadi salah satu sosok yang turut berperan dalam perjalanan transformasi teknologi Bank Mega, khususnya dalam menghubungkan kebutuhan inovasi, pengelolaan operasional, dan strategi bisnis perusahaan.

Referensi: Artikel ini disusun berdasarkan publikasi resmi Bank Mega mengenai profil dan perjalanan profesional Hariantono, Laporan Tahunan BNI 2020 mengenai pengalaman kepemimpinannya di bidang teknologi dan operasional, Bank Mega mengenai implementasi Kartu Kredit Indonesia, serta IBM dan PERBANAS mengenai kajian The Digital Sovereign AI and the Future of Trusted Banking.