Scroll untuk baca artikel
Berita

Selain Ismail Haniyeh, Israel Juga Bunuh Pemimpin Hizbullah di Lebanon

120
×

Selain Ismail Haniyeh, Israel Juga Bunuh Pemimpin Hizbullah di Lebanon

Share this article
selain-ismail-haniyeh,-israel-juga-bunuh-pemimpin-hizbullah-di-lebanon
Selain Ismail Haniyeh, Israel Juga Bunuh Pemimpin Hizbullah di Lebanon

Indonesiainside.id- Militer Israel tidak hanya membunuh pemimpin Hamas, Ismail Haniyah, di Teheran Iran. Namun, Israel juga mengaku telah membunuh pemimpin Hizbullah Lebanon, Fuad Shukr, dalam serangan udara yang dilakukan di selatan Beirut pada Selasa malam (30/7/2024).

Serangan ini juga menyebabkan tiga warga sipil meninggal dunia dan 74 lainnya terluka, sementara Hizbullah belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini.

Example 300x600

Menteri Pertahanan Israel, Yoav Galant, menyatakan, militer Israel “menghabisi” Kepala Staf Hizbullah, Fuad Shukr, dalam operasi “mematikan dan tepat” di selatan Beirut.

Galant menulis di platform X bahwa dengan membunuh Shukr, “kami membuktikan hari ini bahwa kami dapat menjangkau setiap tempat untuk membuat mereka yang merugikan Israel membayar harganya.”

Jurubicara IDF, Daniel Hagari, mengumumkan, serangan udara tersebut dilaksanakan berdasarkan informasi intelijen militer. Hagari menyatakan, Fuad Shukr bertanggung jawab atas pertempuran melawan Israel sejak 8 Oktober lalu.

“Melalui operasi penyisiran yang tepat dilakukan oleh angkatan udara Israel, jet tempur menyerang Beirut dan menghabisi Fuad Shukr, yang dikenal sebagai Haj Mohsen,” kata Hagari, dikutip Aljazeera, Rabu (31/7/2024).

Hagari menambahkan, Shukr adalah “pemimpin militer terkemuka di Hizbullah dan bertanggung jawab atas urusan strategis.” Shukr juga dianggap sebagai tangan kanan Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah dan penasehatnya dalam perencanaan dan manajemen perang.

Hagari juga menuduh bahwa Fuad Shukr terlibat langsung dalam penculikan jasad tiga tentara pada tahun 2000.

Korban Jiwa dan Luka

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, tiga orang, termasuk dua anak, gugur dan 74 lainnya terluka dalam serangan udara Israel di selatan Beirut.

Drone Israel melancarkan serangan di selatan Beirut, menargetkan sebuah bangunan tempat tinggal di daerah Haret Hreik yang dikenal sebagai kawasan keamanan Hizbullah, yang mencakup kantor pusat dan Dewan Syura.

Menurut laporan dari Yedioth Ahronoth, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sedang bertemu dengan para pemimpin militer Israel di kantornya. Sementara, militer Israel dalam keadaan siaga tinggi untuk mengantisipasi tanggapan dari Hizbullah.

Surat kabar tersebut juga melaporkan, para menteri di Dewan Keamanan Politik (Kabinet) tidak diberi tahu tentang target sebelum operasi dilakukan untuk mencegah kebocoran.

Israel Broadcasting Authority melaporkan, “serangan di Beirut merupakan tanggapan Israel atas insiden di Majdal Shams, dan untuk Israel, serangan tersebut telah berakhir dan sekarang tergantung pada reaksi Hizbullah.”

Lembaga penyiaran tersebut menambahkan, keputusan untuk menyerang selatan Beirut diambil pada hari Minggu lalu setelah Netanyahu kembali dari Washington, dan menegaskan bahwa Israel telah memberi tahu pemerintah Amerika Serikat sebelum melancarkan upaya pembunuhan di Beirut.

Al Jazeera melaporkan, kota-kota perbatasan Israel telah mengimbau warganya untuk waspada dan mengikuti instruksi dari Komando Front Dalam Negeri. Tim penyelamat dan layanan darurat di utara Israel telah diinstruksikan untuk tetap siaga tinggi.

Kecaman dari Lebanon

Sementara itu, Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati mengutuk “agresi terang-terangan” di selatan Beirut dan menyebutnya sebagai bagian dari rangkaian operasi agresi.

“Kami mengajukan agresi Israel ini kepada masyarakat internasional untuk menanggung tanggung jawabnya dan memaksa Israel untuk menghentikan agresinya. Kami juga mempertahankan hak penuh kami untuk mengambil semua langkah yang dapat berkontribusi dalam menahan agresi Israel,” kata Mikati.

Menteri Luar Negeri Lebanon Abdullah Bou Habib menegaskan, Lebanon berencana untuk mengajukan keluhan ke PBB terhadap Israel.

Kelompok Islam di Lebanon juga mengutuk “agresi pengecut dan licik” Israel terhadap Beirut, dan menegaskan hak pasukan perlawanan dan angkatan bersenjata Lebanon untuk membela rakyat dan kota-kota mereka.

Pemimpin Druze Lebanon, Walid Jumblatt, mengatakan, “Kita dalam keadaan perang dan harus mengantisipasi segala kemungkinan dari Israel.”

Dukungan dari Amerika Serikat

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat segera menyatakan bahwa “dukungan Amerika Serikat untuk keamanan Israel kuat dan tak tergoyahkan terhadap ancaman yang didukung Iran termasuk ancaman dari Hizbullah.”

Kementerian Luar Negeri AS juga menambahkan bahwa mereka percaya bahwa eskalasi dapat dihindari dan terus bekerja menuju solusi diplomatik. Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin menyatakan bahwa Amerika Serikat akan membela Israel jika diserang oleh Hizbullah.