Lifestyle

Sambal Bakar Cariu. Yang Doyan Sambal Musti Makan di Sini

100
sambal-bakar-cariu.-yang-doyan-sambal-musti-makan-di-sini
Sambal Bakar Cariu. Yang Doyan Sambal Musti Makan di Sini
Sambal Bakar Cariu. Yang Doyan Sambal Musti Makan di Sini

Pulang dari Puncak, Cipanas, lewat Jonggol adalah jalur alternatif buat kembali ke Cikarang. Apalagi jika memutuskan untuk kembali di jam-jam tanggung seperti setelah makan siang. Jalannya memang berliku-liku dan masih banyak yang belum mulus. Tapi setidaknya kami bisa menghindari macet yang selalu eksis mulai dari rumah, sepanjang jalan puncak raya, tol Jagorawi hingga akhirnya ketemu tol Cikampek. Karena jarak tempuhnya lama dan dipastikan bikin lambung kudu diisi, kali ini kami mencoba salah satu restoran yang ada di Cariu. Area penghubung sebelum kami mencapai kawasan Serang, Cikarang dan sekitarnya, hingga sampai ke rumah.

Tapi ternyata niat ini tak mudah untuk diwujudkan. Karena masih dalam periode libur lebaran, banyak rumah makan yang tutup. Jangankan resto besar, warung-warung kecil pun tertutup rapat. Sepanjang perjalanan yang memang relatif masih sepi, akhirnya menjebak kami pada rasa lapar yang berkelanjutan. Sempat berhenti di sebuah masjid dengan harapan pedagang gerobak atau sepedaan pada jualan. Eeehh mereka juga gak ada. Ya ampun.

Ya iya lah yaaaa. Kan sedang pada lebaran. Mosok mau jualan terus tanpa libur.

Setelah menembus kemacetan di beberapa titik yang tidak diduga sebelumnya, akhirnya kami menyempatkan mampir ke mini market yang cukup besar dan ada di jalan yang kami lewati. Yah setidaknya ada kopi, minuman dingin, dan beberapa camilan yang bisa mengganjal perut untuk sementara. Tak ada menu yang lengkap di sana karena stoknya memang sedang tidak tersedia. Bahkan ada beberapa materi dagangan yang habis di rak. Mungkin karena distribusi sedang tidak berjalan sebagaimana mestinya karena libur panjang.

Jadilah sepanjang jalan kami hanya bisa bersabar hingga menemukan tempat untuk menuntaskan rasa lapar yang mulai menohok.

Baca Juga : Menikmati Masakan Padang Berkelas di Rumah Makan Pagi Sore Cisaura Bogor

Mie kremes sambal bawang ala Sambal Bakar Cariu (Rp15.000,00)

Bertemu Sambal Bakar Cariu

Setelah melewati beberapa titik kemacetan di persimpangan yang tak ada lampu lalu lintasnya, saya mendadak melihat sebuah kawasan kecil yang padat dengan parkiran. Ternyata di sini ada beberapa warung fast food lokal, jajanan ayam goreng, gerobakan bakso, dan sebuah resto dengan signage lumayan besar di pinggir jalan. Sebagai promosi mereka juga memasang baliho kain yang ukurannya cukup besar dan begitu gampang terlihat dari kejauhan.

Di baliho ini selain terpampang nama jenama Sambal Bakar Cariu juga terlihat foto-foto masakan yang mereka tawarkan. Melihat dari cat dinding yang masih begitu bersih, saya berasumsi bahwa resto ini belum lama beroperasi. Dan benar saja. Beberapa bunga papan ucapan selamat masih berdiri dengan baik di area kedatangan.

Saat melangkah masuk, counter penerimaan tamu sedang kosong, tidak ada petugas. Suami memutuskan untuk mencari tempat duduk dahulu baru melapor setelah melihat petugas kembali ke tempatnya. Di area ini, selain ruang pencatatan, kita juga bisa melihat sebuah spanduk kain yang lumayan besar dan berisikan banyak informasi tentang sajian yang bisa kita pesan. Persis seperti buku menu yang terbuka lebar. Jadi begitu kita datang, kita bisa mendangak dan membaca susunan pilihan masakan yang Sambal Bakar Cariu tawarkan lengkap dengan foto-fotonya.

Sembari menunggu saya menebarkan pandangan sembari berkeliling dan memotret.

Resto ini tidak begitu luas tapi area duduknya lumayan banyak. Ada beberapa di dekat counter. Baik dengan posisi duduk di kursi atau lesehan. Lalu ada banyak opsi tempat makan di bagian belakang. Di sana tersedia ruangan semi terbuka yang cukup luas dan sepertinya memang dipersiapkan untuk mereka para kaum hisab. Lalu ada area khusus untuk karaoke. Disediakan sound system dengan TV layar lebar. Sayangnya tempat karaoke ini dibiarkan terbuka. Menyatu dengan tempat makan di bagian belakang counter. Jadi kalau ada yang nyanyi-nyanyi di sana, seantero tamu harus ikhlas ikut mendengarkan.

Dekorasi ruangannya pun lumayan menarik. Khususnya di area makan lesehan. Ada wall paper yang menghadirkan gambar sebuah bangunan ala Eropa dengan sebuah kapal wisata di atas sungai. Kalau lihat dari bentuk kapalnya sih ini sepertinya di Amsterdam, Belanda, atau sungai Siene di kota Paris, Perancis. Ada juga gambar bata expose yang memberikan sentuhan suasana yang berbeda. Lalu ada gambar cabe besar-besar yang dipasang dalam sebuah frame dan dekorasi tanaman artificial. Cukuplah untuk sekedar pepotoan dan meninggalkan jejak di tempat ini.

Manajemen Sambal Bakar Cariu sepertinya tak ingin melewatkan jejak-jejak promosi kekinian dengan menyediakan beberapa sudut foto yang cantik. Cukuplah menurut saya dengan apa yang sudah ada. Setidaknya dengan interior design yang mereka miliki ada beberapa hasil jepretan yang cantik untuk dihadirkan di media sosial.

Baca Juga : Nongkrong Asyik di JABARANO Kuda Lumping, Laswi, Bandung

Pilihan Pesanan yang Pedas dan Menyelerakan

Sesuai dengan penamaan yang diusung, sebagian besar pilihan menu adalah dengan sambal sebagai pelengkap. Cocok dengan selera suami dan anak-anak. Saya juga suka sebenarnya. Tapi harus dengan level kepedasan terbawah. Lidah dan lambung sepertinya belum bisa menampung efek “kejamnya” cabe. Namun setidaknya jika disuruh memilih, saya lebih baik merasakan kepedasan daripada kemanisan. Dari pengalaman ini, setiap makan di restoran, saya selalu memesan agar sambalnya dihidangkan terpisah saja.

Setelah bolak balik melihat lembaran menu yang dibawakan ke meja tempat kami duduk, akhirnya kami memesan Telur Gimbal Sambal Bawang (Rp20.000,00), Mie Kremes Sambal Bawang (Rp15.000,00), Pete Goreng Sambal Ijo (Rp15.000,00), Tumis Kangkung (Rp15.000,00), Iga Bakar dua porsi (Rp110.000,00), nasi putih dua porsi (Rp12.000,00), dan teh tawar enam gelas (Rp30.000,00). Semua jika totalkan menjadi Rp217.000,00). Lumayan murah untuk makan ber-empat. Bahkan menurut saya cukup murah karena ada dua menu daging di sana.

Untuk rasa semua oke banget. Gak ada yang gagal di lidah dan selera saya, suami, dan anak-anak. Telur gimbalnya gak kalah dengan yang ditawarkan di rumah makan padang, mie kremes dibuat dengan kematangan yang pas, pete goreng sambal ijonya menyelerakan, tumis kangkungnya kremes-kremes, dan iga bakarnya kaya rasa, juicy, dan lembut saat dikunyah. Kadar kematangannya juga pas. Kualitas sangat layak yang biasa saya nikmati saat beranjangsana ke rumah makan serba barbeque.

Pelayanannya juga lumayan sigap dan cepat. Waktu menunggu tidak terlalu lama. Petugas yang melayani juga cekatan dan ramah dengan gembira saat mengucapkan “selamat menikmati” setelah semua pesanan terhidang lengkapn di meja. Menyenangkan sih menurut saya. Hal kecil tapi cukup berarti buat konsumen.

Dari keseluruhan isu soal hidangan, saya cuma berharap agar pihak Sambal Bakar Cariu menaruh lembaran alas di setiap wadah yang terbuat dari gerabah bakar itu. Setidaknya dengan memberikan alas kertas makan atau potongan daun pisang, masakan yang berada di atasnya terlihat lebih higienis dan cantik untuk difoto. Apalagi beberapa diantaranya mengandung minyak. Plating mungkin hanya pelengkap. Tapi jangan lupa plating ciamik jugalah yang bisa membangkitkan selera makan konsumen. Bedalah ya makanan yang ditata cantik dengan yang hanya sekedar ditaruh. Apalagi ini kan sekelas resto. Bukan pedagang emperan, menggunakan tenda, atau abang-abang gerobakan.

Telur gimbal sambal bawang ala Sambal Bakar Cariu (Rp20.000,00)
Tumis kangkung ala Sambal Bakar Cariu (Rp15.000,00)

Baca Juga : Memanjakan Lidah dengan Kuliner Khas Manado di Dabu Dabu Lemong

Pulang dengan Hati Riang

Di awal kedatangan tadi, saya tidak berharap banyak. Perut yang harus segera diisi lebih jadi prioritas ketimbang memikirkan soal rasa yang akan dinikmati. Melihat rangkaian menunya juga saya, suami, dan anak-anak cukup gembira. Banyak diantaranya yang memang pas dengan selera. Apalagi yang harus dicari di saat sudah kelaparan dan posisi kami masih jauh dari rumah.

Ternyata akhirnya malah dapat kejutan. Masakannya enak dan harganya sudah sangat bersahabat. Si sulung tadinya pengen nambah Mie Kremes Sambal Bawangnya, tapi melihat tamu semakin banyak dengan situasi riuh rendah yang tercipta, sudah terbayangkan pesanannya bakal (terlalu) lama untuk ditunggu. Jadi saya mengusulkan dia untuk beli camilan berat di sebuah mini market yang berada persis di depan resto ini. Setidaknya kembali membeli air putih dingin untuk dinikmati selama sisa perjalanan.

Selain masukan tentang plating di atas, hal lain yang sepertinya wajib diperhatikan kembali adalah soal kebersihan toilet. Sepertinya tidak ada petugas khusus yang menangani masalah ini. Konsumen pun sepertinya bukan tipe yang begitu peduli pada kepentingan bersama di ruang publik. Hingga hal kecil seperti membuang tissue bekas pakai ke dalam kotak sampah aja sepertinya segan. Lantai toilet jadi berantakan tak keruan. Apalagi jumlah toiletnya terbatas. Wah kerasa banget ya ketidaknyamanannya.

Saya tidak tahu kapan akan melewati jalur ini kembali. Karena sejak ibu sudah wafat di pertengahan April 2024 yang lalu, saya tidak punya alasan kuat untuk kembali ke rumah di Cipanas, sesering dahulu. Apalagi untuk mencapai area Puncak dan Cipanas butuh perjuangan kesabaran transportasi yang tidak sedikit. Tapi saya berharap bisa mampir lagi jika waktunya ada. Tentu saja dengan kondisi yang lebih melegakan, tidak terburu-buru, dan terjebak kelaparan. Makan dengan suasana lebih santai rasanya bakal lebih mengesankan.

Yang pasti, resto Sambal Bakar Cariu cocok banget untuk mereka yang doyan hidangan serba sambal yang menggoyang lidah dan membangkitkan selera.

Baca Juga : ARASSO. Halal AYCE Korean Barbeque Ter-worth It di Bandung

Wall paper yang terpasang di area makan lesehan di Sambal Bakar Cariu

Baca Juga : Bakmi Roxy. Bakmi Legendaris di Cikini Jakarta

Deretan menu yang terpasang di area depan resto Sambal Bakar Cariu. Kita jadi gak repot-repot buka buku menu.
Exit mobile version