CNN Indonesia
Kamis, 22 Okt 2026 23:00 WIB
Jakarta, CNN Indonesia —
Novel-novel karya Sally Rooney dipastikan bakal ditarik dan dilarang beredar di pasar Inggris. Langkah drastis itu mencuat usai Rooney berencana menyalurkan royalti penjualan bukunya untuk Palestina.
Novelis asal Irlandia itu berencana menyalurkannya ke Palestine Action, kelompok pro-Palestina yang kini dilabeli sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Inggris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan penghentian distribusi tersebut, seperti diberitakan CNN pada 15 Oktober itu diumumkan secara resmi oleh pihak penerbit, Faber & Faber, pada Rabu (14/10) waktu setempat.
Mereka menyebut ada kesepakatan bersama dengan Rooney bahwa karya-karyanya tak akan lagi dipasok dalam format apa pun di wilayah Inggris. Namun, mereka memastikan penjualan di negara-negara lain tetap berjalan normal.
Undang-Undang Antiterorisme yang berlaku di Inggris saat ini menjegal pihak penerbit mencairkan pendapatan dari penjualan buku kepada Rooney lantaran aliran dananya bakal menyasar ke kelompok yang mereka nilai terlarang.
“Menjual karya seorang penulis dan tidak bisa meneruskan penghasilannya adalah situasi yang tidak masuk akal bagi sebuah penerbit,” tulis pernyataan resmi Faber.
Rooney rupanya sudah menyadari penuh risiko dari manuvernya. Ia sempat menyerahkan kesaksian tertulis ke Pengadilan Tinggi London untuk mendukung gugatan hukum atas pelarangan Palestine Action, dengan kesadaran aksi itu bisa membuat bukunya ditarik dari pasaran.
“Saya telah berupaya semaksimal mungkin untuk jujur kepada publik mengenai keyakinan dan niat saya, dan saya sepenuhnya siap menerima segala konsekuensinya,” tegas penulis novel hit Normal People itu.
Imbas dari pencekalan ini, gelombang protes langsung mengalir deras dari kalangan figur publik.
Dibela bintang Normal People
Dua bintang utama adaptasi serial Normal People yang ditulis Rooney, Paul Mescal dan Daisy Edgar-Jones, bahkan ikut turun tangan menandatangani surat terbuka untuk membela sang penulis.
“Sally Rooney adalah seorang penulis, bukan teroris,” bunyi kalimat pembuka surat terbuka tersebut seperti diberitakan Deadline pada Kamis (22/10).
Keduanya mengecam keras penyensoran yang terjadi dan mendesak pemerintah Inggris untuk segera mengubah undang-undang yang dinilai kelewat batas dalam mengekang kebebasan berekspresi.
“Buku-bukunya harus tersedia untuk publik. Penarikan (buku) dari peredaran, yang didasari Undang-Undang antiterorisme yang keliru dan kejam, merupakan penghinaan terhadap prinsip-prinsip dasar kebebasan berpendapat dan berekspresi yang selama ini dianggap biasa di negara ini,” lanjut surat tersebut.
Mereka juga secara gamblang menolak segala bentuk penyensoran, baik langsung maupun tidak langsung, seraya menuntut pemerintah untuk meralat aturan yang dianggap telah menyeret Inggris ke titik absurditas yang represif.
Di sisi lain, rekam jejak kelompok Palestine Action memang tengah menjadi pusaran kontroversi di Inggris.
Kelompok yang kerap menyasar perusahaan pertahanan yang terafiliasi dengan Israel ini resmi dilarang pemerintah Inggris pada Juli 2025, sebulan usai insiden pembobolan pangkalan Royal Air Force (RAF) di Brize Norton.
Sejak penetapan status teroris itu, aparat tercatat telah menahan lebih dari 3.000 orang hanya karena memegang poster dukungan untuk Palestine Action. Langkah keras itu praktis memicu panen kritik dari berbagai kelompok kebebasan sipil.
Proses hukum terkait status organisasi ini juga masih terus bergulir alot. Upaya banding atas gugatan dari salah satu pendiri Palestine Action, Huda Ammori, dijadwalkan segera disidangkan di tingkat Mahkamah Agung bulan depan.
Bagi pasar literasi Inggris, penarikan karya Rooney jelas menjadi pukulan telak mengingat rekam jejak penjualannya yang terbilang fantastis.
Hingga saat ini, Normal People tercatat sudah terjual lebih dari 1.000.000 kopi di Inggris. Sementara itu, novel Conversations With Friends dan Beautiful World, Where Are You masing-masing laku di atas 500 ribu kopi.
(chri)
