Lifestyle

Sajian Lezat ala Iga Panggang Panglima Grand Garden City Bekasi

177
sajian-lezat-ala-iga-panggang-panglima-grand-garden-city-bekasi
Sajian Lezat ala Iga Panggang Panglima Grand Garden City Bekasi
Sajian Lezat ala Iga Panggang Panglima Grand Garden City Bekasi

Saya mengenal Iga Panggang Panglima semenjak mereka eksis di seputaran Gandaria puluhan tahun yang lalu. Kebetulan waktu itu saya nge-kost di kawasan Jakarta Selatan yang jaraknya – tentu saja – tidak begitu jauh dari outlet mereka. Saya dan rekan-rekan kost atau kantor sering dine-in di Iga Panggang Panglima ini saat weekend menikmati sajian lezat Iga Panggang Panglima sembari menghabiskan waktu ngobrol panjang kali lebar bagai tak ada hari esok

Itu cerita lama. Puluhan tahun yang lalu.

Saya kemudian ketemu lagi dengan Iga Panggang Panglima saat sedang berada di kompleks Grand Galaxy City yang berada di Kota Bekasi untuk satu urusan bersama suami. Tepat siang hari, setelah urusan rampung, dan karena belum pernah sama sekali ke lingkungan ini, saya pun berselancar di dunia maya mencari referensi resto atau rumah makan yang sekiranya pas dengan selera. Setidaknya memetakan situasi agar tidak berlama-lama muter untuk sekedar mengenali setiap fasilitas kuliner yang ada di kompleks perumahan yang lumayan luas dan tampak sibuk ini.

Ternyata referensinya berlimpah ruah. Lumayan juga milihnya. Sebagian adalah resto yang ada di Mall Grand City Bekasi, sementara selebihnya adalah resto yang berjejer di ratusan ruko yang berada di sepanjang jalan utama kompleks Grand Galaxy City. Wooaahh semuanya menarik dengan rating tinggi di situs pencarian atau jaringan referensi media on-line yang membahas atau mengulas tentang kuliner. Jenis/ragam hidangannya pun berlimpah ruah. Mulai dari selera nusantara, ala Jepang, ala Cina, ala Korea, ala Eropa, Amerika, atau sekedar camilan kekinian. Bener-bener mengoda selera yang semakin berisik berlomba-lomba merasuk ke indera perasa. Apalagi saat itu perut lagi keroncongan maksimal dan sudah gak sabar pengen makan enak.

Saya dan suami saat itu tidak punya preferensi khusus sih tapi ya pengennya mencoba masakan atau rumah makan yang tidak kami temui di lingkungan rumah (Lippo Cikarang). Setelah berbagai pertimbangan, pilihan pun jatuh pada Iga Panggang Panglima yang ada di Jl. Boulevard Raya, jalan utama dari keseluruhan kompleks Grand Galaxy City. Jaraknya pun hanya sekitar 300 meter-an dari tempat kami parkir.

Saat nama Iga Panggang Panglima ini muncul di peta, saya sempat terdiam dan berpikir beberapa saat. Hingga akhirnya ingatan saya kembali ke masa lampau saat masih bujangan di era 90-an. Tempat yang cukup sering dikunjungi karena memang saya penggemar hidangan daging bakar (barbeque) lengkap dengan berbagai menu tambahannya. Sajian barbeque nya juga sedap, cocok di lidah, dan memang jadi tempat ketemuan favorit saya dan teman-teman karena cukup dekat dari kost kami masing-masing.

Akankah kualitas mereka tetap akan bertahan di tengah gempuran banyaknya resto dengan pilihan sajian yang sama?

Mari kita buktikan.

Kualitas Panggangan yang Masih Bertahan

Hujan turun dengan derasnya saat saya menginjakkan kaki di Iga Panggang Panglima. Syukurnya resto ini tak jauh dari tempat kami berdiskusi di dalam mobil tadi. Signage resto pun gampang terlihat dengan space parkiran yang lumayan luas dan tak jauh dari resto. Jadi pas hujan semakin terlihat menggila, saya langsung kabur, berlari kencang tanpa harus ngos-ngosan (eeh ngos-ngosan juga sih karena gak terbiasa olga).

Resto ini berada di deretan ruko yang ada di jalan utama dengan posisi hook sehingga dine-in areanya lumayan luas. Bisa di teras atau di dalam ruko. Tempat menyiapkan santapan dan area pemanggangannya pun berada di sisi depan resto yang sudah dilengkapi dengan tenda. Tapi saya sempat deg-degan juga dengan tendanya karena hujan saat itu disertai angin kencang yang sempat menimbulkan suara hantaman yang cukup keras. Dan saya jadi semakin khawatir karena persis di sudut depan resto ada sebuah pohon besar yang banyak sekali dahan besarnya.

Dua orang petugas berseragam yang bersiap menerima tamu menyambut kedatangan saya dan suami. Salah seorang diantaranya menyodorkan lembaran menu sederhana yang dilaminating. Tawaran sajiannya simpel aja. Ada tiga pilihan panggangan. Original, blackpepper, dan lemon hot. Saya dan suami memutuskan untuk mencoba yang original. Harga sajian iga panggangnya seragam Rp99.000,00/porsi. Isinya ada tiga potong iga besar-besar yang dilengkapi dengan pipilan jagung dan kentang goreng. Semua pesanan langsung dibayar di kasir depan yang berada di dekat area pemanggangan.

Jika merasa kurang, pihak resto juga menawarkan tambahan pipilan jagung, kentang goreng, atau gabungan keduanya di harga Rp8.000,00/porsi. Ada juga pilihan nasi Rp8.000,00, Jasuke original Rp12.000,00, jasuke pedas Rp15.000,00 dan extra keju Rp4.000,00.

Saat pesanan saya datang, wuiihh mata langsung dikagetkan dengan ukuran iga yang sangat mengesankan. Tulang iganya jelas besar. Begitu pun dengan daging yang menempel. Tebal dan tampak telah dimarinasi dengan begitu sempurna. Di atas daging-daging ini tersebar bumbu barbeque yang berlimpah ruah. Mata saya mendadak tidak berkedip apalagi setelahnya terdengar gurauan tawa suami yang melihat ekspresi kaget saya. Keharuman bumbu dan asap panggangan yang masih meliuk-liuk langsung membangkitkan selera.

Platingnya? Sederhana aja. Apalagi ketiga potongan iga ini “hanya” ditemani oleh pipilian jagung rebus dan homemade kentang goreng dalam jumlah sangat terbatas. Tadinya saya sempat berpikir keduanya bakal tidak cukup. Tapi ternyata memang secukup itu aja. Iga Panggang Panglima sepertinya ingin para tetamu berselancar pada rasa panggangannya saja. Itu pun, terus terang, susah payah saya menghabiskannya. Bahkan akhirnya saya dan suami masing-masing menyerah pada dua potong iga saja. Tak lebih. Dua potong lagi (satu dari masing-masing kami) akhirnya dibungkus dan dinikmati di rumah. Jadi menu makan malam. Nafsu dan selera memang menggoda tapi akhirnya kapasitas lambung lah yang membatasinya.

Jadi kalau boleh usul, dua porsi iga panggang cocoknya dinikmati bertiga. Tinggal tambahin kentang goreng untuk mengenyangkan.

Soal rasa? Jempolan. Dagingnya terolah dengan baik. Bumbunya meresap ke setiap inci sela daging. Perfecto!! Tak heran jika dagingnya empuk dan full of taste. Makannya pelan-pelan sembari menikmati kolaborasi antara bumbu barbeque, kelembutan daginnya, dan proses pemanggangan yang pas. Well-done. Tidak gosong, tidak kematangan, terpanggang dalam waktu dan kualitas yang pas. Gak kalah mutunya dengan resto-resto kelas atas yang juga menawarkan menu sejenis. Bedanya hanya pada penampakan visualnya. Pengennya sih untuk orang yang hobi memotret makanan seperti saya, “penampakan” hidangan di atas wadah tuh bisa lebih “berbicara”. Tapi mungkin konsep dagang, sales and marketing Iga Panggang Panglima berbeda dengan pemikiran saya. Mereka cuma mengutamakan rasa tanpa harus berepot ria mengutak-atik penampilan.

Yang pasti Iga Panggang Panglima sudah berhasil mempertahankan kualitasnya. Kehebatan rasa lama yang melegenda nyatanya masih sangat layak untuk mendapatkan pujian. Setidaknya bagi saya, seorang karnivor sejati yang tergila-gila pada olahan dan kelezatan iga panggang.

Kolaborasi dengan Boba-Na Coffee & Eatery

Sembari menunggu pesanan siap, saya menyempatkan diri melihat-lihat situasi di dalam resto. Segala urusan Iga Panggang Panglima – khususnya tentang penerimaan pesanan dan pengolahannya – dilakukan di teras depan ruko. Para tamu bisa menikmati pesanan di dalam ruko atau beberapa tempat duduk yang disediakan di samping dalam kondisi setengah terbuka.

Bagian dalam sesungguhnya adalah “ranah kekuasaan” Boba-Na Coffee & Eatery. Mereka menawarkan aneka minuman dingin, minuman panas, penganan kecil/camilan, dan ada juga es gelato dalam berbagai rasa. Di sini juga saya temukan tiga buah minuman soda yang sangat legendaris di Indonesia. Coffee Beer, Sarsaparila, dan Badak. Saya malah sudah mengenal minuman Badak sejak masih SMP. Botolnya selalu ada di meja setiap makan di warung atau bahkan di restoran-restoran besar. Saat itu saya masih tinggal di Medan. Setiap kali Ayah mengajak makan seafood di Belawan, minuman Badak selalu nangkring dengan manisnya dan jadi favorit para pecinta kuliner. Ketiganya memiliki rasa yang sangat mirip dengan minuman khas AW (sebuah resto cepat saji).

Membayar kangen, saya pun melengkapi iga panggang original yang saya pesan dengan minuman soda ala Badak. Sementara suami memesan secangkir kopi hitam.

Kolaborasi seperti ini sepertinya asik juga untuk ditiru ya. Setidaknya biaya operasional untuk sewa tempat bisa ditanggung bersama. Satu rekan fokus pada makanan sementara yang lain menawarkan aneka minuman. Saling melengkapi. Manajemen administrasinya pun langsung mereka pisahkan. Itulah kenapa saya harus membayar langsung pesanan iga panggang di kasir depan, sementara untuk minuman bayarnya di kasir yang ada di dalam ruko.

Aaahh kenapa saya jadi kepikiran untuk bikin warung bakso di ruko dekat rumah. Lalu kerjasama, berbagi ruangan dengan pengusaha minuman kekinian. Boleh juga ya?

Exit mobile version