Setelah lama memendam keinginan untuk berada di puncak tertinggi Sulawesi, akhir Juni 2018 kemarin saya mendaki Gunung Latimojong (3.478 mdpl) untuk menemani dua orang teman dari Jawa.
Puncak dari gunung yang melintang dari selatan ke utara ini bernama Rantemario. Ini adalah salah satu dari tujuh puncak tertinggi di tujuh regional di Indonesia (The Seven Summits of Indonesia).
Untuk mendaki Gunung Latimojong, kami berangkat naik mobil pick-up dari Makassar menuju Kabupaten Enrekang—sisi barat Gunung Latimojong—malam-malam sekitar pukul 19.00 WITA. Setelah berkendara semalam, kami tiba di Enrekang sekitar subuh. Dari sana kami melanjutkan perjalanan selama empat jam ke base camp pendakian di Dusun Karangan, lewat jalan yang rusak di sana-sini, berliku, dan naik-turun. Perjalanan kami sempat terhenti karena ada sebuah truk yang bermasalah dan pengemudinya memerlukan bantuan.
Setiba di base camp pukul 18.30 WITA, kami melakukan registrasi kemudian mulai mendaki Gunung Latimojong. Inilah catatan tentang jalur pendakian menuju Puncak Rantemario.
</strong></h3>
<p>Pada fase-fase awal mendaki Gunung Latimojong, trek berupa jalan setapak dan cukup jelas arahnya. Meskipun demikian, pendaki harus hati-hati dan waspada, sebab ada beberapa jalur yang berpotensi mengecoh, misalnya di jembatan pertama yang berjarak sekitar 250 meter dari pos di Dusun Karangan.
<p>Menuju Pos 1 kita berjalan menyusuri perkebunan kopi milik warga. Treknya terjal dan becek, medannya berbukit-bukit, hingga tiba di Pos 1 yang berada di hamparan bukit yang indah. Untuk menuju Pos 1 dari base camp perlu waktu sekitar 2 jam.
<h3><strong>Menuju Pos 2 (Gua Sarung Pa’pak)</strong></h3>
<p>Selepas Pos 1, kita akan melewati tanjakan terjal yang akan menghajar sampai mendekati Pos 2. Dari sana, kita akan menjumpai turunan yang di sebelah kiri diapit oleh jurang—jadi harus ekstra waspada. Jalurnya sempit dan banyak akar melintang yang jarang ditemui di gunung-gunung lain. Apabila hujan, kondisinya akan semakin parah karena licin.
<p>Apabila sudah terdengar suara aliran sungai, artinya Pos 2 sudah tak jauh lagi. Malam itu kami memilih untuk mendirikan tenda di Pos 2 dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya pukul 10.00 WITA.
<figure><img data-attachment-id=)







