Scroll untuk baca artikel
GenZ

Quarter Life Crisis, Bukan Soal Karier, tapi Capek Bersaing

8
×

Quarter Life Crisis, Bukan Soal Karier, tapi Capek Bersaing

Share this article
quarter-life-crisis,-bukan-soal-karier,-tapi-capek-bersaing
Quarter Life Crisis, Bukan Soal Karier, tapi Capek Bersaing

Bukan lagi sekadar bingung soal karier, tapi lelah dengan semua persaingan!

Quarter Life Crisis, Bukan Soal Karier, tapi Capek Bersaing

Example 300x600

Akhir-akhir ini aku merasa ada yang berbeda dengan caraku melihat hidup. Dulu, aku bisa menjalani hari tanpa terlalu memikirkan apa yang sedang dicapai orang lain. Sekarang, entah kenapa, melihat pencapaian orang lain sering kali membuatku diam lebih lama.

  • 💼Teman dapat pekerjaan baru.
  • 📈Ada yang naik jabatan.
  • 💍Ada yang menikah.
  • 🏠Ada yang membeli rumah.
  • 🛍️Ada juga yang tiba-tiba punya bisnis sendiri.

Aku ikut senang melihatnya. Sungguh.

Tapi setelah itu, ada perasaan lain yang muncul. Perasaan seperti sedang tertinggal.

Lucunya, aku bahkan tidak selalu menginginkan apa yang mereka punya. Aku hanya mulai merasa seharusnya aku juga sudah sampai di sana.

Mungkin inilah bentuk quarter life crisis yang sedang kurasakan. Bukan lagi sekadar bingung soal karier atau tidak tahu mau menjadi apa. Aku justru mulai lelah karena merasa harus terus bersaing.

Aku tidak tahu kapan hidup berubah menjadi perlombaan

Adegan film 3 Idiots tentang hidup sebagai perlombaan
Sumber: cuplikan film 3 Idiots

Kadang aku bertanya-tanya, sejak kapan hidup terasa seperti perlombaan?

Dulu aku hanya ingin sekolah dengan baik, mendapatkan pekerjaan, punya penghasilan sendiri, lalu menjalani hidup dengan tenang. Sesederhana itu.

Tapi ternyata setelah dewasa, target tidak pernah benar-benar berhenti.

Ketika sudah punya pekerjaan, aku merasa harus punya pekerjaan yang lebih baik. Ketika penghasilan mulai cukup, aku melihat orang lain yang penghasilannya jauh lebih besar. Ketika mulai merasa nyaman dengan hidup sendiri, aku melihat teman-teman yang sudah menikah dan membangun keluarga.

Seolah selalu ada sesuatu yang harus dikejar.

Dan yang paling melelahkan adalah aku tidak tahu siapa yang sebenarnya menentukan garis finish-nya.

  • Aku sendiri?
  • Orang tua?
  • Lingkungan?
  • Atau media sosial?

Aku sering membandingkan hidupku dengan potongan hidup orang lain

Seseorang membandingkan hidupnya dengan unggahan media sosial orang lain
Sumber: canva.com

Aku tahu media sosial bukan gambaran utuh kehidupan seseorang.

Aku tahu orang biasanya hanya membagikan hal-hal yang ingin mereka tunjukkan. Aku tahu sebuah foto bahagia tidak bisa menceritakan seluruh masalah yang terjadi di belakangnya.

Tapi mengetahui semua itu ternyata tidak membuatku kebal.

Kadang aku hanya berniat membuka media sosial selama beberapa menit. Lalu muncul unggahan teman yang baru mendapatkan promosi. Beberapa detik kemudian ada orang lain yang sedang liburan ke luar negeri. Setelah itu, seseorang mengumumkan pernikahan atau pencapaian finansialnya.

Aku ikut tersenyum. Kemudian aku menutup aplikasi dan mulai memikirkan hidupku sendiri.

“Kenapa aku belum seperti mereka?”

Pertanyaan seputar quarter life crisis itu sering muncul tanpa diundang. Padahal beberapa menit sebelumnya aku baik-baik saja.

Mungkin masalahnya bukan karena hidupku buruk. Mungkin aku hanya terlalu sering melihat hidup orang lain sampai lupa bahwa hidupku sendiri sebenarnya sedang berjalan.

Aku mulai sadar, aku tidak selalu ingin menang

Seseorang merenung tentang keinginan untuk menang
Sumber: canva.com

Ini bagian yang paling sulit aku akui dalam menghadapi quarter life crisis. Terkadang aku merasa ingin berhasil bukan karena benar-benar menginginkan sesuatu, tetapi karena tidak ingin terlihat gagal.

  • Aku ingin punya pekerjaan bagus karena takut dianggap tidak sukses.
  • Aku ingin punya penghasilan lebih besar karena takut tertinggal.
  • Aku ingin mencapai sesuatu lebih cepat karena melihat orang lain sudah lebih dulu mendapatkannya.

Padahal, kalau aku berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, belum tentu semua itu benar-benar menjadi keinginanku.

Mungkin aku tidak ingin menang. Aku hanya takut kalah.

Dan ternyata hidup dengan perasaan seperti itu sangat melelahkan.

Aku capek mengejar standar yang terus berubah

Seseorang lelah mengejar standar hidup
Sumber: canva.com

Setiap kali berhasil mencapai sesuatu, seharusnya aku merasa senang. Tapi sering kali kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Setelahnya, aku melihat pencapaian orang lain yang lebih tinggi dan kembali merasa kurang.

Aku mulai mengerti kenapa rasanya seperti tidak pernah cukup. Kalau ukuran keberhasilanku adalah menjadi lebih baik daripada orang lain, memang tidak akan pernah ada titik selesai.

  • Selalu ada orang yang lebih cepat.
  • Selalu ada orang yang lebih kaya.
  • Selalu ada orang yang lebih sukses.
  • Selalu ada orang yang lebih dulu mencapai sesuatu.

Aku bisa menghabiskan seluruh hidup hanya untuk mengejar posisi yang sebenarnya tidak pernah aku inginkan. Dan aku tidak ingin seperti itu.

Aku mulai bertanya apa yang sebenarnya aku inginkan

Seseorang bertanya pada diri sendiri tentang apa yang diinginkan
Sumber: canva.com

Belakangan ini, aku mencoba mengajukan pertanyaan yang sederhana kepada diriku sendiri.

  • Kalau tidak ada yang melihat, aku sebenarnya ingin hidup seperti apa?
  • Kalau tidak ada media sosial, apakah aku masih ingin memiliki semua yang sedang aku kejar?
  • Kalau tidak ada teman yang membandingkan pencapaian, apakah aku masih merasa tertinggal?

Jawabannya ternyata tidak selalu sama. Ada beberapa hal yang memang ingin aku capai. Ada pula yang ternyata hanya terasa penting karena terlalu sering kulihat pada kehidupan orang lain.

Dari situ aku mulai belajar membedakan antara dua hal yang ternyata sangat berbeda:

  • “Aku menginginkannya.”
  • “Aku merasa harus memilikinya.”

Mungkin aku tidak terlambat

Ilustrasi setiap orang punya waktunya sendiri
Sumber: canva.com

Aku juga mulai belajar bahwa hidup tidak punya satu jadwal yang berlaku untuk semua orang.

  • Ada orang yang menemukan kariernya lebih cepat.Ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
  • Ada yang menikah muda.Ada yang baru menemukan pasangan ketika sudah jauh lebih dewasa.
  • Ada yang sudah mapan di usia 20-an.Ada yang baru menemukan arah hidup setelah melewati banyak kegagalan.

Aku pun punya waktuku sendiri. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk melihat jam milik orang lain sampai lupa melihat jamku sendiri.

Aku tidak tahu apakah hidupku akan berjalan sesuai rencana. Bisa jadi tidak. Mungkin akan ada banyak perubahan yang tidak pernah kuduga. Tapi mungkin itu tidak masalah.

Di 2027, aku hanya ingin berhenti berlari sebentar

Aku masih punya ambisi. Aku masih ingin berkembang. Masih ada mimpi yang ingin kukejar dan kehidupan yang ingin kubangun.

Aku tidak ingin berhenti hanya karena merasa lelah. Tapi aku juga tidak ingin terus berlari hanya karena takut tertinggal. Kalau tahun depan ada satu hal yang ingin kupelajari, mungkin itu adalah bagaimana menjalani hidup tanpa terus-menerus menjadikannya kompetisi.

Aku ingin bisa melihat teman berhasil tanpa merasa gagal. Aku ingin bisa melihat orang lain melangkah lebih jauh tanpa langsung menganggap diriku tertinggal. Dan yang paling penting, aku ingin bisa merasa cukup tanpa harus membuktikan sesuatu kepada siapa pun.

Mungkin quarter life crisis yang sedang kurasakan bukan tanda bahwa aku tidak tahu arah. Mungkin aku hanya terlalu lama berlari mengikuti arah orang lain. Sekarang aku ingin berhenti sebentar.

  • Menarik napas.
  • Melihat ke belakang.
  • Lalu bertanya lagi kepada diri sendiri:
“Kalau tidak perlu bersaing dengan siapa pun, sebenarnya aku ingin menjalani hidup seperti apa?”

Mungkin jawaban dari pertanyaan itu jauh lebih penting daripada seberapa cepat aku sampai.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senior content writer – Wordsmith with 10 years experience. I do write everything; lifestyle, technology, finance, economic, entertainment, business, viral things, etc. Business inquiries: 0895422334529

Editor

Seorang SEO Specialist dan Editor dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dalam optimasi website, pengelolaan konten, dan peningkatan performa SEO secara organik.