“Awalnya saya anak IPA. Tapi hati saya tertarik ke dunia desain.”
Kalimat itu keluar dari Akbar dengan senyum kecil, seolah mengenang momen penting dalam hidupnya saat memutuskan pindah haluan ke Desain Komunikasi Visual (DKV).
Bagi sebagian orang, keputusan seperti itu mungkin penuh keraguan. Tapi buat Akbar, selama yakin dan orang tua mendukung, kenapa tidak?
Kecintaan Akbar pada ilustrasi, animasi hingga konten visual menjadi alasannya mantap menekuni DKV.
Ia menemukan kenyamanan bukan hanya dalam pelajaran, tapi juga di lingkungan pertemanan semasa kuliah. Belajar, berkarya, dan tumbuh bareng adalah hal yang tak tergantikan.
Akbar mengenang masa-masa aktif sebagai mahasiswa DKV sebagai momen penuh eksplorasi. Ia pernah terbiasa tidur menjelang pagi, begadang menyelesaikan project, entah itu tugas kuliah atau freelance.
Sekarang, sejak bekerja di LindungiHutan, pola hidupnya lebih teratur. “Nggak bisa tidur sebrutal dulu. Tapi tetap, semangat berkarya nggak hilang,” ungkapnya.
“Upload Dulu Aja”: Kunci Percaya Diri dari Seorang Akbar
Di era sekarang, aktif di media sosial bisa membuka banyak pintu. Tapi bagi Akbar, ada masa ketika ia jarang muncul di Instagram atau TikTok. “Capek kerja dan freelance, terus keenakan istirahat,” katanya sambil tertawa kecil.
Tapi ia mengakui, platform-platform itu pernah memberinya banyak kesempatan termasuk diajak jalan-jalan ke Sulawesi dan Kalimantan hanya karena konsisten bikin konten.
Kini, Akbar mulai punya keinginan besar untuk aktif kembali di Instagram dan TikTok. Ia ingin membangun kembali koneksi dengan audiens. Baginya, media sosial bukan sekadar tempat pamer, tapi ruang untuk berkembang dan berbagi dampak.
Motonya simpel, pamer aja dulu, upload dulu aja. Jangan keburu mikirin engagement. Dulu saat baru mulai, ia percaya diri karena punya teman-teman yang saling dukung dan kasih semangat.
Dari komentar-komentar dan reaksi followers, ia pelan-pelan improve dan lihat sendiri peningkatan karyanya.
“Bahkan beberapa brand sempat ngajak kolaborasi, walau nggak semua aku upload ke sosmed. Tapi itu jadi bukti kalau berani nunjukkin karya bisa bawa kita ke hal-hal yang nggak disangka.”
Menjelang wisuda, Akbar mencari pekerjaan full-time. Freelance terlalu tidak pasti. Iseng mencari lowongan dengan kata kunci “creative”, ternyata LindungiHutan jadi perusahaan yang merespons paling cepat.
Awalnya, Akbar tidak pernah menyangka bakal bekerja di perusahaan yang fokus pada isu-isu lingkungan, CSR, dan penanaman pohon.
Ia sempat punya mimpi menjadi dokter hewan atau bekerja di studio desain. Tapi siapa sangka, justru di sinilah ia menemukan tantangan baru dan ruang untuk berkarya lebih dalam.
“Dulu nggak kebayang bakal bikin konten tentang karbon, petani, dan hutan. Tapi ternyata, aku bisa kontribusi dengan cara kreatifku sendiri.”
Menurut Akbar, LindungiHutan sudah banyak melakukan inisiasi menarik, namun ke depan ia berharap proses kreatif dan produksi bisa lebih cepat, serta lebih berani mengikuti tren dan menggandeng KOL.
“Kadang kita perlu ambil risiko meski belum ada portfolio. Itu bagian dari berkembang,” tambahnya.
Baca Juga: Balik Lagi Outreeing, Outing LindungiHutan 2025
Tantangan Kreatif dan Impian Membuka Platform Belajar Desain
Bagi Akbar, kreativitas bukan cuma tentang gambar bagus. Tapi tentang bagaimana ia bisa membagikan ide-idenya ke orang lain.
Salah satu tantangannya kini adalah mengembangkan platform belajar desain agar lebih terorganisir. Tujuannya membuka akses belajar bagi siapa pun yang tertarik.
Platformnya sudah mulai berjalan dengan nama akun username Instagram @creact_project, hanya perlu lebih difokuskan lagi. Akbar percaya banyak orang di luar sana yang ingin belajar desain.
Terkait perkembangan AI, Akbar awalnya sempat risih. Tapi seiring waktu, ia melihat potensi besar di baliknya. “AI bisa bantu kita brainstorming, riset, dan mempercepat kerja. Tapi tetap, karya yang dibuat dengan hati itu punya rasa yang beda.”
Menghadapi Art Block dan Bangkit Lagi
Saat ide buntu, Akbar punya satu solusi unik yaitu naik gunung. “Pas naik gunung, fokusku cuma satu, sampai ke puncak. Nggak mikirin apa-apa selain itu. Hasilnya, pulang dari sana selalu dapat ide baru.”
Akbar juga pernah menghadapi rasa gugup berbicara di depan umum. Namun, karena sering isi webinar dan workshop, ia jadi terbiasa.
Kuncinya menurut Akbar adalah latihan dan jam terbang. Bahkan sesimpel latihan ngomong depan kamera bisa jadi awal yang bagus untuk melatih kepercayaan diri.
Budaya Kerja yang Ngeselin Tapi Dirindukan
Salah satu momen paling “ngeselin” tapi bikin kangen selama kerja di LindungiHutan adalah Cerita Kemarin, sesi berbagi cerita tiap Senin dua minggu sekali. “Kadang ganggu kerjaan sih karena ceritanya panjang, tapi lucu dan hangat juga. Jadi ya… ngeselin tapi dirindukan.”
Tiga Kata tentang Akbar: Kreatif, Ide, Semangat
Jika diminta mendeskripsikan dirinya sendiri, Akbar memilih tiga kata: kreatif, ide, dan semangat. Tiga hal ini merepresentasikan siapa dirinya dan bagaimana ia menjalani hari-hari sebagai content creator, ilustrator, sekaligus pribadi yang terus belajar.
Kreatif, karena dunia desain sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ide, karena ia senang brainstorming dan mencampur berbagai gagasan menjadi sesuatu yang segar. Semangat, karena dalam setiap pekerjaan, Akbar mengaku dirinya sering kali justru over semangat.
Baca Juga: M. Nana Siktiyana dan Perjalanan Tak Terduga di LindungiHutan
Temukan Cerita Lainnya di LindungiHutan!
Cerita seperti Akbar adalah bukti bahwa kreativitas bisa menyatu dengan misi sosial dan lingkungan. Jika Anda atau tim Anda ingin berkolaborasi untuk proyek kreatif bertema keberlanjutan, mari berbincang lebih lanjut bersama tim LindungiHutan.
