Beberapa waktu yang lalu saya tidak sengaja melihat reels di Instagram yang membahas Perpustakaan Nyi Ageng Serang. Dalam hati saya langsung berpikir, “Wah, bagus juga nih perpustakaan.” Apalagi setelah tahu kalau tempat ini buka dari Senin sampai Minggu.
Akhirnya, karena penasaran, saya memutuskan untuk datang dan melihat langsung seperti apa suasana Perpustakaan Nyi Ageng Serang.
Oh ya, sebagai introduction, selain hobi mendaki gunung dan traveling, saya juga punya kebiasaan mengunjungi perpustakaan atau mampir ke Gramedia. Biasanya, aktivitas sederhana seperti ini jadi cara saya untuk menjernihkan pikiran dari hiruk pikuk pekerjaan sehari-hari.
Kadang saya datang tanpa tujuan khusus. Duduk, melihat-lihat rak buku, membaca beberapa halaman, lalu pulang. Tapi di kesempatan lain, tempat seperti perpustakaan justru menjadi ruang yang cukup efektif buat mencari ide konten. Maklum, selain suka menulis di blog, saya juga bekerja sebagai seorang digital marketer.

Ketika melihat Perpustakaan Nyi Ageng Serang muncul di Instagram, rasa penasaran saya langsung muncul. Dan setelah akhirnya datang sendiri ke sana, saya merasa perpustakaan ini layak disebut sebagai salah satu hidden gem untuk membaca di tengah kota Jakarta.
Lokasi Perpustakaan Nyi Ageng Serang dan Cara ke Sana
Perpustakaan ini berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, tepatnya di Gedung Nyi Ageng Serang lantai 7 dan 8. Lokasinya cukup strategis, terutama buat kamu yang mengandalkan transportasi umum.
Menurut saya, salah satu akses paling praktis adalah menggunakan LRT Jabodebek. Dari Stasiun LRT Rasuna Said, kita tinggal melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 5 sampai 10 menit.
Kalau dari Jakarta Barat seperti saya, rutenya juga cukup mudah. Saya naik KRL menuju Stasiun Sudirman, kemudian berjalan menuju Stasiun LRT Dukuh Atas. Dari sana tinggal naik LRT tujuan Bekasi atau Cibubur, lalu turun di Stasiun Rasuna Said.
Setelah keluar dari stasiun, tinggal jalan kaki menuju Gedung Nyi Ageng Serang.
Buat saya, akses transportasi menjadi salah satu nilai plus. Tidak perlu membawa kendaraan pribadi dan pusing mencari parkiran di tengah kawasan Kuningan yang terkenal cukup padat.
Cara Masuk ke Perpustakaan Nyi Ageng Serang
Sebelum datang, pastikan kamu sudah memiliki akun Jaklitera. Sistem masuknya kurang lebih sama seperti Perpustakaan Jakarta di Taman Ismail Marzuki yang sering saya kunjungi.
Saat tiba di lokasi, pengunjung perlu melakukan check-in dengan memindai barcode dari akun Jaklitera. Setelah itu, kita akan mendapatkan kartu akses sekaligus kunci loker untuk menyimpan barang bawaan.
Buat kamu yang belum pernah membuat akun Jaklitera, sebelumnya saya sudah pernah membahas langkah-langkahnya di artikel panduan ke Perpustakaan Taman Ismail Marzuki.
Menurut saya, sistemnya cukup praktis karena setelah memiliki akun, proses masuk ke jaringan perpustakaan Jakarta jadi jauh lebih mudah.
Ada Beberapa Aturan yang Perlu Diperhatikan
Sama seperti perpustakaan modern pada umumnya, ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan sebelum masuk.
Tas pribadi harus disimpan di dalam loker. Sebagai gantinya, pihak perpustakaan menyediakan tote bag yang bisa digunakan untuk membawa barang-barang pribadi yang memang dibutuhkan selama berada di dalam.
Makanan juga tidak diperbolehkan dibawa maupun dikonsumsi di area perpustakaan. Untuk minuman, pengunjung masih diperbolehkan membawa air putih, baik menggunakan botol air mineral maupun tumbler.
Kalau kamu membawa kopi, thai tea, atau minuman lainnya, sebaiknya dihabiskan terlebih dahulu sebelum masuk.
Aturan seperti ini menurut saya cukup masuk akal untuk menjaga kebersihan koleksi dan kenyamanan pengunjung. Apalagi kalau melihat interior serta koleksi buku di dalamnya yang cukup banyak.
Untuk aturan peminjaman buku, sistemnya kurang lebih serupa dengan layanan Perpustakaan Jakarta lainnya. Namun karena ketentuan layanan bisa berubah, saya sarankan untuk mengecek informasi terbaru langsung melalui Jaklitera atau kanal resmi Perpustakaan Jakarta.
Memang Lebih Kecil dari Perpustakaan TIM, Tapi Justru Lebih Nyaman?

Kalau dibandingkan dari skala bangunannya, Perpustakaan Nyi Ageng Serang memang terasa lebih kecil dari Perpustakaan TIM.
Tapi anehnya, saya justru merasa lebih nyaman berada di sini.
Entah karena penataan ruangnya atau memang suasananya yang lebih intim, area membaca di Perpustakaan Nyi Ageng Serang menurut saya terasa lebih banyak dan lebih nyaman untuk benar-benar duduk sambil membaca.
Perpustakaan Jakarta di TIM punya daya tarik tersendiri dengan bangunan besar dan desainnya yang ikonik. Namun, Perpustakaan Nyi Ageng Serang memberikan pengalaman yang berbeda.
Tempat ini terasa seperti ruang yang ingin saya datangi lagi ketika sedang ingin membaca, bekerja sebentar, atau sekadar mencari suasana baru.
Fasilitasnya Bikin Betah Berlama-lama
Perpustakaan Nyi Ageng Serang menempati area sekitar 4.000 meter persegi dan hadir dengan konsep yang jauh lebih modern setelah direvitalisasi. Tempat ini juga memiliki puluhan ribu koleksi buku dari berbagai kategori.
Selain area membaca, ada beberapa fasilitas menarik yang bisa ditemukan di sini. Salah satunya adalah koleksi vinyl yang menurut saya cukup unik untuk sebuah perpustakaan. Ada juga ruang multimedia serta berbagai ruang yang bisa dimanfaatkan untuk belajar dan aktivitas lainnya.




Koleksi bukunya sendiri juga cukup beragam. Dari hasil eksplorasi katalog perpustakaan, tersedia koleksi umum, referensi, fiksi Indonesia, hingga koleksi bertema Kejakartaan.
Toilet dan Musholla juga tersedia, jadi menurut saya cukup nyaman kalau memang ingin menghabiskan waktu cukup lama di sini.
Satu hal yang paling saya suka adalah perpustakaan ini tidak terasa seperti perpustakaan konvensional yang identik dengan rak buku dan meja baca saja. Ada banyak sudut yang membuat pengunjung bisa memilih sendiri cara menikmati waktu mereka.
Mau fokus membaca, mengerjakan sesuatu dengan laptop, atau hanya melihat-lihat koleksi buku, semuanya terasa memungkinkan.
Jam Operasionalnya Sampai Malam
Hal lain yang membuat Perpustakaan Nyi Ageng Serang menarik adalah jam operasionalnya.
Perpustakaan ini buka setiap hari dari Senin sampai Minggu pukul 09.00 hingga 22.00 WIB. Namun, perpustakaan tutup pada hari libur nasional dan cuti bersama.
Menurut saya, jam buka sampai malam ini menjadi salah satu keunggulan terbesar.
Buat pekerja kantoran atau mahasiswa yang baru punya waktu luang setelah sore hari, pilihan untuk mengunjungi perpustakaan sampai pukul 10 malam tentu cukup menarik.
Mungkin Bakal Jadi Perpustakaan Favorit Saya di Jakarta
Perpustakaan Nyi Ageng Serang ukurannya memang terasa lebih kecil dibandingkan Perpustakaan Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Namun justru di situ saya menemukan daya tariknya.
Suasananya terasa lebih intim, area membacanya nyaman, fasilitasnya cukup lengkap, akses transportasinya mudah, dan jam operasionalnya panjang.
Buat saya yang sesekali butuh tempat untuk menjauh sebentar dari rutinitas pekerjaan, demi membaca buku, atau mencari ide baru untuk menulis, tempat seperti ini jelas menarik.

Jadi kalau kamu sedang berada di sekitar Kuningan dan ingin mencari tempat untuk membaca atau menghabiskan waktu dengan suasana yang lebih tenang, mungkin Perpustakaan Nyi Ageng Serang bisa masuk ke daftar tempat yang perlu kamu kunjungi.
Kalau ditanya apakah saya akan kembali lagi?
Sepertinya iya. Bahkan, bisa jadi lebih sering dari yang saya kira. Saya masih penasaran datang kesini di malam hari karena area jendelanya langsung menghadap gedung-gedung tinggi di sekitarnya.
Exprience night library disini tampaknya bakal jadi daya tarik tersendiri dan berpotensi viral kalau banyak yang ngontenin.







