Di saat penjualan mobil produksi lokal anjlok di tahun lalu, PT Agrinas Pangan Nusantara malah impor 105.000 pikap dari India. Langkah ini dinilai kontradiktif dengan semangat penguatan industri domestik.
OLX News – Langkah PT Agrinas Pangan Nusantara impor 105.000 pikap asal India ini memicu tanda tanya besar. Di satu sisi, pemerintah gencar mengampanyekan penggunaan produk dalam negeri dan peningkatan TKDN. Namun, di sisi lain, sebuah entitas yang berafiliasi dengan program strategis justru melakukan impor dalam skala raksasa.
Jumlah 105.000 unit ini bukan angka kecil. Angka tersebut hampir menyamai total penjualan mobil pikap di pasar domestik tahun lalu yang hanya berada di kisaran 107.008 unit.
Keputusan ini juga makin terasa kian pahit bagi industri otomotif nasional yang sepanjang 2025 kemarin sedang “berdarah-darah” menghadapi penurunan penjualan.
Baca Juga:
Terus Maju, Usaha Melaju Bersama Toyota Hilux Rangga, Pikap Tangguh Pendukung Bisnis di Indonesia
Karpet Merah untuk Produk India di Tengah Lesunya Pasar Lokal
Data GAIKINDO menunjukkan potret buram industri otomotif kita. Penjualan mobil secara nasional turun 7,2% sepanjang tahun 2025. Di tengah situasi dealer lokal yang sepi pengunjung dan target pertumbuhan ekonomi yang meleset, keputusan untuk memborong produk dari Mahindra dan Tata Motors terasa sangat kontras.
Mahindra & Mahindra menyuplai 35.000 unit Scorpio Pick Up, sementara Tata Motors memasok 70.000 unit lainnya.
CEO Mahindra bahkan secara terbuka menyebut ini sebagai ekspor terbesar dalam sejarah perusahaan mereka.
Sementara produsen luar negeri merayakan rekor bersejarah, industri di dalam negeri justru harus gigit jari melihat potensi pasar sebesar itu “terbang” ke negeri tetangga.
Baca Juga:
Toyota Hilux Rangga VS Suzuki Carry, Mana yang Terbaik?
Pemerintah Tak Percaya Produk Lokal?
Armada ini rencananya akan dikelola oleh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) untuk mendukung distribusi pertanian dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pertanyaannya: Apakah industri otomotif dalam negeri memang tidak mampu memenuhi kebutuhan ini?
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, sempat menegaskan pentingnya keberpihakan pada produksi lokal.
“Kita juga mengedepankan apa yang pemerintah inginkan, yaitu memberikan peluang untuk produksi-produksi dalam negeri. Dengan adanya TKDN, baik listrik maupun konvensional,” ujar Kukuh menanggapi tantangan industri tahun ini.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Ketika industri lokal butuh stimulus berupa pesanan besar untuk memulihkan aktivitas produksi, kesempatan emas itu justru diberikan kepada pihak asing.
Koperasi Desa Merah Putih memang disiapkan sebagai motor ekonomi lokal, namun memulainya dengan armada impor tentu menyisakan catatan kritis. Alih-alih menciptakan efek domino bagi pabrik-pabrik otomotif dan vendor komponen di Indonesia, kebijakan ini justru memperkuat neraca perdagangan negara lain.
Jika pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6% pada 2026, sinergi antara program kesejahteraan rakyat dengan penguatan industri manufaktur dalam negeri seharusnya menjadi harga mati.
Tanpa keberpihakan yang riil, narasi soal “cinta produk Indonesia” hanya akan berakhir menjadi slogan tanpa makna di tengah serbuan kendaraan impor di jalanan desa kita. (Z)




