
Periset Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Widya Fatriasari.
Indonesiainside.id- Periset Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Widya Fatriasari, menilai, Indonesia memerlukan sebuah teknologi berkelanjutan yang dapat mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.
Widya menjelaskan, Biorefinery (Kilang Hayati) merupakan konsep yang memanfaatkan biomassa secara terintegrasi untuk menghasilkan berbagai produk yang memiliki nilai tambah. Berbeda dengan Oilrefinery konvensional yang menggunakan bahan baku fosil, kilang hayati menggunakan biomassa sebagai bahan baku utama.
“Kilang Hayati mengarah pada solusi teknologi yang lebih berkelanjutan dan mendukung ekonomi sirkular,” jelas Widya dalam acara BRINTALK Haterknas Series #3: Teknologi Biorefinery Sebagai Alternatif dari Oilrefinery, dikutip Sabtu (10/8/2024).
Widya menjelaskan, biomassa terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin, dan bahan aditif lain. Misalnya, dengan kilang hayati, biomassa dapat dikonversi menjadi bio-ethanol dan bio-oil. Pemanfaatan biomassa dapat mengurangi emisi karbon dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Dia juga menjelaskan tentang manfaat Lignin. Lignin adalah salah satu dari tiga komponen utama dalam biomassa tetapi memiliki potensi besar untuk berbagai aplikasi. Ada beberapa cara yang digunakan untuk mengubah lignin.
“Lignin dapat diubah menjadi berbagai produk untuk bahan kimia, kertas, bahan aditif tahan api, dan bahan kosmetik,” papar Widya.
Widya mengutarakan beberapa tantangan yang dihadapi terkait pemanfaatan kilang hayati. Teknologi kilang hayati saat ini masih dalam tahap pengembangan.
“Ketersediaan biomassa juga masih tersebar secara tidak merata di berbagai daerah,” tuturnya.
