Indonesiainside.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen untuk terus mendukung tumbuhnya wirausaha baru, khususnya di sektor industri kecil dan menengah (IKM). Hal ini dikarenakan peran penting IKM dalam mendukung perekonomian nasional, termasuk dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, serta pengurangan kesenjangan ekonomi dan sosial.
Kemenperin menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan potensi sumber daya alam dan pasar lokal oleh pelaku IKM untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal menjadi produk dengan nilai jual tinggi. “Kami konsisten dalam mendorong penumbuhan dan pengembangan pelaku IKM berdasarkan potensi di berbagai daerah di Indonesia,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita dalam keterangan tertulis, Senin (29/7).
Sebagai contoh, Kemenperin baru-baru ini mengadakan Bimbingan Teknis Produksi dan Kewirausahaan bagi IKM Furnitur di Kota Banjar, Jawa Barat. Menurut Reni, industri furnitur Indonesia memiliki potensi besar dan sudah menjadi pemain penting di pasar global. “Produk furnitur karya IKM dikenal akan kualitas dan keunikannya yang tinggi, dengan kombinasi teknik tradisional dan modern yang memberikan nilai tambah signifikan,” jelasnya.
Reni juga menekankan pentingnya inovasi dan kreativitas dalam pembuatan produk berkualitas yang sesuai dengan pasar. Selain itu, ia menyoroti pentingnya pengembangan desain produk yang mengikuti tren industri furnitur global tanpa kehilangan identitas khas Indonesia. “Kita perlu mendorong pengembangan desain produk furnitur yang tetap mempertahankan ciri khas Indonesia,” tambahnya.
Selain itu, Reni mengajak pelaku IKM furnitur untuk mendukung sektor ekonomi lainnya, termasuk pariwisata. “Furnitur selalu terkait dengan berbagai sektor ekonomi lainnya, seperti perkantoran, restoran, dan perhotelan. Oleh karena itu, penting untuk mendorong penggunaan furnitur lokal,” tegasnya.
Kemenperin mencatat, industri furnitur berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Pada triwulan I tahun 2024, industri ini menyumbang 1,16 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, dengan sekitar 291,6 ribu unit usaha IKM furnitur yang mempekerjakan 819,8 ribu orang.
Untuk mendukung pertumbuhan ini, pemahaman IKM tentang bahan baku dan desain produk menjadi krusial. Menurut Reni, pemahaman ini membantu IKM dalam mengembangkan produk berkualitas yang dapat bersaing di pasar yang semakin kompleks.
Menambahkan pernyataan tersebut, Direktur IKM Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan, Yedi Sabaryadi, menekankan pentingnya penguatan daya saing IKM furnitur dalam produksi dan kualitas produk, khususnya dalam pengembangan furnitur knock down. “Fitur ini akan memberikan nilai tambah karena memudahkan pengepakan dan pengiriman, serta memiliki konstruksi yang mudah dibongkar pasang,” jelas Yedi.
Provinsi Jawa Barat, yang dikenal memiliki banyak kawasan wisata, diharapkan dapat memanfaatkan potensi industri furnitur lokal sebagai pendukung sektor pariwisata. “Industri furnitur di Kota Banjar berpotensi mendukung kawasan wisata di Jawa Barat, terutama kebutuhan hotel, restoran, dan kafe,” tutup Yedi.







