
Merayakan Kelezatan Rasa di Cafe District 9 Petak Enam Glodok | Restaurant and Culinary Review | Juni 2026
Glodok, bagi saya, bukanlah kawasan asing. Saat masih aktif mengerjakan perhiasan kawat (wire jewelry) saya beberapa kali kemari karena kenal dengan supplier kawat tembaga – bahan utama perhiasan yang saya bikin – yang berdagang di salah satu gedung yang ada di kawasan ini. Namun kali ini saya kembali kemari bukan karena urusan kawat tapi karena ada alasan lain
Kembali Menyapa Glodok
Cita-cita kembali ke Glodok tuh sebenarnya sudah jadi wacana bertahun-tahun yang lalu. Tapi terhambat (baca: segan) karena jalur jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, salah dua dari beberapa akses menuju Glodok, sedang riweh semriweh. Karena apa? Karena ada pembangunan jalur MRT dari tengah/pusat kota hingga mencapai Kawasan Kota Tua. Dan ini tampaknya akan berlangsung (sangat) lama. Jadi beberapa bagian jalan masih dalam kondisi porak-poranda hingga menutup beberapa lajur yang biasa digunakan publik.
Sebenarnya jalur ini bukan satu-satunya akses menuju Glodok. Masih ada beberapa jalan lain menuju Roma eh Glodok maksudnya. Bisa lewat Jl. Gunung Sahari lalu belok ke kiri melewati Mangga Dua. Atau yang lebih praktis, buat saya dari Cikarang, adalah melewati tol dalam kota menuju ke bandara Soetta yang melewati Kelapa Gading. Keluar di jalur Ancol lalu menuju kawasan Mangga Dua. Nah pusat perbelanjaan grosir ini tinggal sekepotan lagi menuju Glodok. Tapi karena saat menyentuh Glodok ada pusat kemacetan, otomatis jalur pendukung pun kecipratan padatnya.
Opsi terakhir inilah yang akhirnya saya ambil. Sengaja berangkat lebih pagi karena tak ingin terjebak pada hiruk-pikuk bumper to bumper traffic jam yang menjadi momok bagi warga Jakarta. Lagian biar gak terlalu panas di jalan juga.

Karena datang dari arah Mangga Dua, saya akhirnya memutuskan untuk parkir di salah satu gedung perdagangan yang persis berseberangan dengan Kawasan Pecinan Glodok. Biar tidak harus memutar lagi. Dari gedung ini saya harus menyeberang di tengah jalur jalan yang lumayan masih berantakan.
Untuk menyiasati lelahnya menghadapi kemacetan, pilihan menggunakan kendaraan umum tetap lebih aman dan jauh lebih baik. Naik bis Trans Jakarta dari arah Blok M misalnya. Berhenti di halte Glodok lalu tinggal jalan kaki sekitar dua ratusan meter supaya bisa sampai di gerbang utama Kawasan Pecinan. Di titik ini kita bisa melihat sebuah gapura jangkung dengan struktur bangunan, sentuhan seni, dan aksara Tiongkok serta warna yang cukup mencolok.
Tujuan utama saya ke Glodok kali ini adalah ke Petak Enam. Salah satu spot turistik yang jadi salah satu pusat kunjungan para wisatawan yang main ke kawasan memorial ini. Tempat yang sudah ribuan purnama hanya saya lihat lewat media sosial dan baru kali ini saya sambangi.
Khusus untuk Petak Enam nanti saya buatkan dalam tulisan terpisah ya.

Petak Enam yang Mengagumkan
Rangkaian dan gema hiruk-pikuk suara terdengar nyaring saat saya memasuki Petak Enam. Suasana begitu hidup dengan kerumunan manusia yang tersebar merata di setiap sudut. Tempat duduk yang terlihat padat, kedai makanan yang sibuk melayani pelanggan, orang yang mondar-mandir, beberapa kelompok tamu yang bercakap-cakap dengan suara nyaring serta gelak tawa, dan beberapa meja kecil yang menampilkan beragam dagangan (seperti produk kerajinan tangan, alat-alat rumah tangga, bahkan ada yang jual sepatu persis di pintu masuk utama).
Rangkaian kepadatan yang mendesak indera penglihatan seperti halnya saat kita memasuki sebuah pusat kegiatan di tengah kota atau kawasan yang penuh dengan berbagai aktivitas.
Tiba di Petak Enam satu jam sebelum jadwal makan siang, saya menyempatkan diri berkeliling sebentar di lantai bawah. Saya juga memotret beberapa sudut yang begitu mengagumkan ala negeri tirai bambu yang dimiliki oleh Petak Enam, memperhatikan mereka yang berkegiatan, dan menemukan banyak pilihan kuliner yang sebagian besar jenama nya belum pernah saya coba.
Terus terang memotret dan dipotret serta membuat video di tengah keriuhan seperti ini jadi pekerjaan yang tak mudah. Kita harus jeli dan sabar melangkah kesana kemari agar apa yang kita lakukan tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Saya mengalami menemukan satu sudut yang tampak indah untuk direkam kamera tapi ternyata saking penuhnya manusia, tak satupun jepretan “bersih” yang berhasil saya dapatkan.
Puas beredar di lantai dasar dan tak menemukan satu pun tempat duduk, saya memutuskan untuk naik ke lantai dua yang ternyata banyak diisi oleh kedai makanan di sisi kanan dan kiri bangunan. Suasana di lantai ini tidaklah sepadat seperti di bawah. Tapi jumlah tamunya tetap tinggi. Banyak yang berkeliling sembari menikmati sekian banyak spot nongkrong dengan situasi yang lebih tenang. Berbeda jauh dengan suasana di lantai dasar.
Saya kemudian menemukan serta merasakan kebebasan memotret dan membuat video dari lantai ini. Layaknya memiliki kesempatan mengamati, berada di lantai dua ini seperti mendapatkan privilege karena bisa melihat keseluruhan fasilitas Petak Enam dalam satu posisi. Saya juga bisa melihat hiruk pikuk yang terjadi di bawah lewat fasilitas tele yang ada di smartphone saya. Menyenangkan banget.

Bertamu ke Cafe District 9
Waktu pun beranjak siang dengan perut yang mulai berteriak minta diisi. Memastikan akan mendapatkan jaminan halal karena berada di kawasan pecinan, suami bertanya kesana-kemari tentang tempat makan yang benar-benar halal. Atas usulan seorang bapak, saya akhirnya menemukan Cafe District 9 di lantai atas dan terlihat sebagai restoran yang paling besar dan paling strategis dari semua yang ada.
Mereka menempati lahan bangunan terujung dan memiliki teras luar dan dalam yang sangat akomodatif. Teras dalam inilah yang begitu menarik perhatian dan hanya bisa digunakan oleh tamu Cafe District 9. Tempat ini menjadi opsi berkumpul yang nyaman bagi para ahli hisab. Di sini tersedia beberapa sofa, bangku dan meja besi, dengan area yang lumayan luas.
Sembari menunggu pesanan datang, saya kemudian menemukan ruang terbuka di sisi luar yang menghadap ke jalan raya. Cafe District 9 menyediakan banyak bangku tinggi agar tamu bisa leluasa duduk dan melihat kesibukan jalan raya yang berada persis di depan bangunan Petak Enam. Saya membayangkan betapa asiknya nongkrong-nongkrong di sini saat malam hari dan lampu-lampu jalanan di depannya sudah menyala dengan sempurna. Ngopi sembari ngobrol berpanjang-panjang tentunya akan begitu melegakan dan menyenangkan jiwa.
Jika kedua teras ini sudah membuat saya terpesona, ruang dalamnya punya cerita yang sama mengagumkannya.
Disambut dengan keramahan yang menyenangkan, area dine-in di dalam ini dilengkapi dengan penataan ruangan yang cukup bijak dan cantik. Meski tidak terlalu luas, tata letak meja memungkinkan pengunjung untuk menikmati waktu bersantap senyaman mungkin. Pendingin ruangannya pun bekerja dengan (sangat) baik. Bagi saya soal suhu ruangan ini penting karena dengan cuaca panas di luaran makan dengan kenyamanan udara tentunya bikin betah.

Setelah sempat berulangkali membolak-balik buku menu, saya, si bungsu, dan suami, sepakat memesan nasi goreng buntut (120K), bakmi ayam jamur (39K), tongseng buntut (175K), mozarella cheese stick (58K) dengan minuman lychee tea (35K), es teh manis (35K), dan black tea panas (35K). Perlu waktu sekitar lima belas menit untuk menghadirkan semua menu di meja.
Tapi rentang waktu ini justru memberikan keleluasaan bagi saya untuk memotret kesana-kemari. Sembari menunggu, saya bisa ke dua teras luar, menemukan beberapa sudut foto ciamik yang berada di sekitaran cafe, dan sempat jatuh dalam kekaguman akan keriuhan petak enam dari lantai dua di mana cafe ini berada.
Saat seorang petugas datang dengan nampan besar dan menyertakan harumnya masakan yang seketika menyeruak ke indra penciuman, selera pun langsung bangkit tanpa bisa ditahan. Plating nya sederhana dengan isi yang penuh terlihat sangat menggoda. Saya mendadak terduduk dengan para naga di lambung yang tak sabar menuntut bagian.
Tongseng buntut yang jadi bagian saya menampilkan kuah pekat dengan potongan buntut dan rempah-rempah yang wangi menusuk hidung. Semua saya aduk pelan dengan maksud mengurangi panas serta kehangatan yang ditimbulkannya. Menyendok kuah yang sudah tercampur sempurna oleh remah daging buntut dan segala bumbu yang terlibat, saya langsung jatuh cinta pada rasa tongseng ini. Sebagai manusia yang tak fasih dengan urusan memasak yang melibatkan bumbu yang begitu berlimpah, saya langsung jatuh kagum oleh keahlian sang juru masak. Ada gitu ya orang yang terlahir dengan keahlian menghadirkan masakan selezat ini.
Si bungsu yang memesan nasi goreng buntut juga tampak girang dengan keputusannya memesan menu ini. Bumbu nasi gorengnya senada seirama dengan kelezatan olahan buntut itu sendiri. Potongan acar, irisan timun, dan beberapa lembar daun selada, telur ceplok, serta emping dalam jumlah yang banyak, menyempurnakan kehadiran nasi goreng ini di tengah-tengah rasa kelaparan yang sudah tidak tertahankan. Porsi yang setara dengan sebungkus nasi padang ini pun dilibas tanpa ampun oleh si bungsu.
Di tahap hendak menghabiskan 1/4 bagian dari isi piringnya, si bungsu mendadak tergiur untuk memesan mozarella cheese stick. Saya mendadak keselek dan melotot. Astaga.
“Ini loh. Adek baru baca review nya. Ternyata banyak yang bilang kalau mozarella cheese stick di sini tuh enak banget,” sahut si bungsu sigap saat melihat saya melotot hingga hampir tersedak potongan buntut sapi. Dan sekian detik kemudian seorang petugas sudah menerima order tambahan ini dengan senyum semringah.
“Tapi janji dihabiskan loh.” Jawab suami yang juga sama kagetnya dengan saya.
Jika nasi goreng buntut dan tongseng buntut berhasil membuat saya dan si bungsu merayakan kelezatan rasa dengan suka cita, ternyata suami pun mengalami hal yang sama dengan bakmi ayam jamur yang dia pesan. Selintas saya melihat porsi mie ini cukup kecil karena hanya terlihat memenuhi sebagian mangkuk saja. Tapi saya lupa. Yang setengah itu ternyata ada di dalam sebuah mangkuk yang maha besar dan berat. Jadi suami pun cukup berjuang untuk menghabiskannya.
Ya ampun.
Gak kaget ya, jika rata-rata hidangan di sini tuh (cukup) pricey dibandingkan dengan sajian yang sama di tempat lain. Tapi jika kita menilik bagaimana kualitas rasa dan ukuran porsi yang dihadirkan berbanding lurus dengan apa yang kita bayarkan, semua terasa impas tanpa keraguan. Rela rasanya jika saat itu saya bisa merayakan kelezatan rasa di Cafe District 9 Petak Enam Glodok. Sebuah cafe dan resto yang pantas untuk direferensi bagi mereka yang mengejar hidangan umami berkelas di kawasan Glodok.


Bertamu Kembali ke Petak Enam
Jika semesta mengijinkan, saya sesungguhnya masih penasaran dengan beragam kuliner yang ada di Petak Enam Glodok ini. Apalagi saat melihat setiap kedai jajanan dipadati oleh banyak orang. Saat kembali menyusur setiap bagian, ternyata banyak sekali pilihan asupan yang belum pernah saya coba. Sebagian besar sudah menyertakan logo halal. Jadi aman untuk kita yang muslim untuk menjelajah dan menyicipi banyak sajian satu persatu.
Ada yang menempati stand/ruang khusus tapi ada juga yang berdagang di kios terbuka. Tapi jika tidak salah mengamati, hanya Cafe District 9 yang memiliki ruang dine-in di dalam restorannya. Sementara yang lain harus makan di ruang terbuka tanpa pendingin ruangan.
Tapi jika kita ingin menjamu tamu istimewa, pilihan bersantap di Cafe District 9 jadi pilihan terbaik. Ruangannya hening, tidak terganggu dengan keramaian dan hiruk pikuk yang terjadi di lantai bawah. Namun jika ingin merasakan sensasi bersantap di antara bangunan lawas ala Pecinan yang indah serta punya rangkaian sejarah yang memorable, maka makan di lantai bawah adalah sesuatu yang mengasyikkan.
Kapan yok menemani saya bertamu kembali ke Cafe District 9 yang ada di Petak Enam Glodok ini. Kabarin saya ya.








