Lifestyle

Menyesap Suasana Budaya Jawa Klasik di Kali Opak Resto, Prambanan, Yogyakarta

43
menyesap-suasana-budaya-jawa-klasik-di-kali-opak-resto,-prambanan,-yogyakarta
Menyesap Suasana Budaya Jawa Klasik di Kali Opak Resto, Prambanan, Yogyakarta
Menyesap Suasana Budaya Jawa Klasik di Kali Opak Resto, Prambanan, Yogyakarta

Menyesap Suasana Budaya Jawa Klasik di Kali Opak Resto, Prambanan, Yogyakarta | Culinary and Restaurant Review | Januari 2026

Sarapan di hotel pagi ini gagal total. Selain sajiannya sedikit, area makannya juga tak lega. Tak mampu menampung para tamu yang ternyata kompak memilih jam sarapan yang berkejar-kejaran. Dah gitu banyak tamu yang datangnya berombongan bareng segerombolan bocah. Jadi sekali duduk langsung menguasai hampir semua sisi resto. Ramai luar binasa.

Ah baru ingat. Saat saya datang itu memang sedang musim liburan sekolah.

Salah seorang petugas menawari saya duduk di bagian lobby. Persis di depan meja penerimaan tamu. Tapi di sana cuma ada sofa panjang. Gak ada mejanya. Seandainya ini terjadi di rumah, pasti saya udah ngangkat kaki, bersila di sofa, makan sambil nonton TV.

Tapi kan gak mungkin melakukan itu di hotel. Apa kata dunia?

Jadilah sepagian itu saya cuma mengunyah kue/bakery, sedikit potongan buah, dan menyesap secangkir kopi hitam dengan (sangat) sedikit gula. Itu pun dinikmati dengan tergesa-gesa karena jemputan saya sudah datang. Before time.

Yasudlah sekalian berangkat aja. Sarapannya dilanjut nanti saja. Rute hari ini padat banget soalnya. Ada sekitar empat tempat dengan pembagian waktu yang wajib cermat. Mumpung bisa terkejar dan hari ini memang hanya dikhususkan untuk agenda pribadi saja.

Apakah stabilitas lambung bisa bertahan hingga jam makan siang?

Eh ternyata. Baru juga sejam menyusur jalanan sepanjang Sleman, lambung mendadak krucukan. Terasa betul laparnya. Mas Adi, driver yang mengantarkan saya, mengusulkan untuk mampir ke Kali Opak Resto saja karena kami akan melewati jalur di sekitar Prambanan.

Pengennya sih menikmati light snacks layaknya brunch time saja. Heavy bakery dan segelas tinggi fresh orang juice. Karena sudah rada jauh dari pusat kota, agak sulit menemukan kualifikasi tempat nongkrong seperti ini. Yang terlihat kebanyakan adalah rumah makan dengan hidangan tradisional Yogyakarta yang sebagian besar menyajikan menu nasi dan lauk pauk masakan rumahan.

Tapi semua nanggung banget ya. Waktu sudah sekitar pkl. 10.30 WIB. Ngemil kayaknya cuma bisa mengisi 1/3 lambung. Sementara di waktu itu, makan siang masih terlalu jauh.

Akhirnya saya mengikuti usulan Mas Adi untuk mampir ke Kali Opak Resto yang ada di Desa Pulir Rejo, sekitar (hanya) 1km dari Candi Prambanan. Dari mulut Mas Adi jugalah saya tahu bahwa Kali Opak Resto ini struktur bangunan dan suasananya kental sekali dengan budaya Jawa klasik.

“Nanti deh Ibuk lihat langsung.” Ujarnya dengan nada bangga. “Yang punya itu pecinta sekaligus seniman Jawa Buk. Jadi dia memang pelestari budaya Jawa klasik.” Kalimat terakhir ini semakin membuat saya penasaran.

Rencana yang tadinya “hanya” pengen ngemil lah kok malah jadi kunjungan wisata tentang budaya.

Tapi baiklah. Hal ini jadi sesuatu yang menarik pastinya.

Restoran Pinggir Kali dengan Sentuhan Jawa Klasik

Dari sebuah jalan besar/utama yang mengelilingi/pinggiran Candi Prambanan, Mas Adi berbelok ke sebuah jalan lebih kecil yang mengarah ke Jl. Prambanan yang ada di Desa Pulir Rejo.

Kami melewati rumah-rumah yang padat berjejer yang sarat dengan persimpangan jalan. Mendekat ke Kali Opak Resto, jalurnya semakin menyempit. Dari yang lowong hingga hanya benar-benar cukup untuk dua mobil saat berpapasan. Berbelok di satu titik, saya kemudian bertemu bangunan rumah dengan pintu atau gebyok kayu jati yang penuh dengan ukiran. Ada tulisan Kali Opak Resto di salah satu bagian pintu.

Mas Adi menurunkan saya persis di dekat pintu ini.

Turun dari kendaraan, netra saya seketika mendapatkan hiburan yang berkualitas. Persis di bangunan yang akan saya masuki terlihat sebuah rumah Joglo dengan sentuhan Jawa klasik yang didirikan menggunakan kayu jati berkualitas. Rumahnya besar, terlihat kokoh, dan mampu menampung banyak orang. Setiap sudut kayu hadir dengan ukiran yang bikin saya terkagum tanpa henti. Rinci dengan pengerjaan yang halus banget.

Saya terpaku. Terjebak pada kekaguman yang tiada henti. Khususnya saat melihat betapa ukiran yang ada dibuat dengan begitu rinci dan kualitas pengerjaan yang gak main-main.

“Biasanya bangunan itu digunakan untuk acara-acara budaya Buk. Pertunjukan wayang atau acara-acara seni lainnya. Biasanya kalau Prambanan sedang ada event, beberapa diantaranya dialihkan ke sini.” Penjelasan dari seorang petugas resto ini melengkapi kekaguman itu.

Sayangnya saat itu rumah Joglo ini terkunci jadi saya tidak sempat menyaksikan sendiri keindahan bagian dalamnya seperti yang di ulas oleh sang petugas.

Tak ingin menghabiskan waktu berdiri di area depan ini, saya langsung melangkah masuk ke resto mengikuti langkah petugas penerima tamu di bagian depan tadi.

Menyaksikan Keindahan Interior yang Berbeda

Sebuah lorong panjang mengiringi langkah saya masuk ke dalam resto. Ada rangkaian galeri besar di sisi kanan dan kiri lorong yang tampak butuh pembersihan yang cukup serius.

Di kedua bagian ini saya bisa melihat ruang pajang yang panjang ke belakang. Mirip sebuah galeri seni dengan aneka produk yang cukup mengagumkan. Selain produk ukiran kayu, saya melihat banyak sekali koleksi batik tulis, dipan kayu besar, dan karya seni yang turut dihadirkan seperti ukiran Loro Blonyo, dekorasi rumah termasuk di antaranya adalah lukisan, dan keris dalam berbagai bentuk.

Jika Anda pengoleksi karya seni, berlama-lama di area sini pasti betah. Tapi jika boleh memberikan masukan, sepertinya tempat ini (sangat) perlu ditata lebih rapi dengan area pamer yang lebih bersih, tampilan yang lebih cerah, dan penanganan yang lebih profesional agar terlihat lebih ciamik. Setidaknya suasana serta penampilannya lebih wah selayaknya sebuah galeri. Kondisi ini tentunya menjadikan setiap karya seni yang ditawarkan kepada publik terlihat lebih menarik dan berkelas.

Mari kita lanjutkan penelusuran.

Segaris lurus dengan galeri, kita akan bertemu ruang khusus kasir di sisi kiri kedatangan dan ruang pelayanan minuman dan semua hal yang berhubungan dengan beverage serta kopi di sisi kanan. Beberapa orang bartender tampak menyapa ramah sembari menghadirkan wangi kopi yang begitu menggoda di indera penciuman saya. Sebagai anak Sumatera yang sejak usia tiga tahun sudah dikenalkan pada kopi hitam, wangi yang tersebar ini terasa menyegarkan dan menghidupkan semangat.

Saya sempat berhenti sebentar di sini untuk menyusur berbagai coffee packaging yang rapi tersusun dalam sebuah rak dan mudah terlihat oleh tamu yang datang. Banyak sekali jenisnya. Tak melewatkan kesempatan ini, plus mengingat pagi tadi acara ngopi terasa tak sempurna, saya memesan secangkir kopi Sidikalang. Hitam dengan sedikit gula pastinya.

Melewati area pelayanan minuman ini, berdiri di depan sebuah tangga, saya melihat sebuah ruang setengah terbuka yang lapang luar biasa. Seperti sebuah ruang serbaguna yang biasa digunakan untuk merayakan momen-momen penting. Ruang inilah yang berfungsi sebagai area makan karena di dalamnya disediakan meja-meja panjang dan kursi-kursi kayu yang berjejer rapi.

Ruangannya sendiri bentuknya memanjang dengan tiang-tiang yang menjulang. Saya langsung merasakan aura “istimewa” di tempat ini. Membayangkan bahwa ruang selapang ini tentunya seru menyambut dan menampung tamu berkelompok yang menginginkan tempat tersendiri, jauh dari kebisingan.

Ya. Suasana tenang begitu saya rasakan di sini.

Melangkah menuruni setiap anak tangga, saya memutuskan untuk duduk di bagian terujung resto. Karena datang sendirian, rasanya kurang elok jika berada di tengah, di antara tamu-tamu lain yang datang berombongan.

Ah, seharusnya Mas Adi tadi menerima tawaran saya untuk ngopi di dalam sini. Jadi kan ada temen ngobrolnya.

Area duduk di bagian pinggir ini, memungkinkan saya untuk melihat sekilas sebuah sungai kecil – yang lebih tepat disebut kali – dengan bebatuan besar-besar – di hampir setiap sisi. Airnya tampak tenang dan mengalir tanpa emosi. Di sisi lain dari sungai ini terlihat hutan kecil yang ditumbuhi oleh pohon bambu.

Penasaran dengan apa yang ada di bawah, seorang petugas menawarkan diri untuk menemani saya. Sambil melewati banyak anak tangga, saya kemudian menyadari bahwa ruang makan di mana saya duduk, sejatinya berada di bahu sebuah bukit kecil.

Saya melewati banyak ruang kosong tak terawat dalam perjalanan menuju tepi sungai. Pecahan bahan bangunan, tumpukan sampah, dan bagian-bagian yang tampaknya dulu pernah digunakan, juga terlihat melengkapi beberapa batang pohon bambu yang meranggas. Sungai hening yang kemudian saya ketahui bernama Kali Opak ini kabarnya dulu merasakan bagaimana “dinginnya” larva yang dimuntahkan oleh Gunung Merapi tahunan yang lalu.

Lewat keterangan pak petugas juga saya mengetahui bahwa beberapa bagian dari resto ini lumayan kena dampaknya. Meski bangunan resto tidak hancur lebur, setidaknya ada beberapa kerusakan minor yang terjadi.

Perasaan saya mendadak terbanting. Miris membayangkan efek yang dirasakan warga sekitar saat Gunung Merapi ini meletus. Cukup lama saya merunduk hingga sang petugas menawarkan saya untuk berfoto di sebuah sampan buatan yang terbuat dari semen.

“Dulu ini spot foto favorit para tamu Buk,” ujarnya sembari membangkitkan cerita. “Tapi akhirnya luluh lantak karena muntahan Merapi.” Sambung si petugas dengan kesedihan yang tak dapat dia sembunyikan.

Saya menjawab pernyataan ini dengan anggukan dan menerima tawaran si Bapak untuk memotret saya di perahu semen ini.

Hasilnya lumayanlah. Meski tidak seindah dan se-estetik hasil jepretan ala pinggir sungai yang pernah saya lakukan di beberapa tempat wisata.

Santapan Kecil yang Menyegarkan

Menuntaskan secangkir kopi hitam panas, pesanan brunch saya berlanjut ke sepiring fish and chips, segelas tinggi fresh orang juice (tanpa gula), dan segelas air putih dingin.

Fresh orange juice nya menyegarkan betul. Sensasi rasa asam dan manis nya berpadu dengan begitu sempurna. Segelas awal yang tandaskan dengan cepat lalu memesan segelas lagi. Fish and chips nya diluar dugaan saya. Potongan ikan dan rasanya mirip seperti bakwan. Untungnya si french fries digoreng dengan sempurna. Disajikan panas-panas, gorengan kentang ini saya tandaskan hanya dalam hitungan kurang dari lima menit. Potongan ikan goreng itu akhirnya saya bungkus untuk dimakan di jalan.

Serangkaian santapan kecil menyegarkan dan mampu memompa semangat saya untuk berkelana kembali.

Spot Foto Cantik Sebelum Pulang

Sebelum melangkah pulang, petugas tadi menawarkan diri untuk memotret saya di sebuah area khusus persis di samping ruang makan. Tempat ini tadi sempat saya lirik sebenarnya. Tapi karena berbeda arah dengan tangga menuju pinggir sungai, akhirnya sempat hampir terlupakan.

Dengan posisi lantai yang lebih tinggi dari ruang makan, di sini ada lagi satu rumah joglo tanpa dinding yang menghadirkan suasana budaya Jawa klasik, seperti yang disampaikan Mas Adi di awal tadi.

Menghadap ke sebuah ruang terbuka yang dipenuhi oleh tanaman-tanaman dalam pot dan meja kayu besar-besar serta dudukan dengan pola yang sama, saya sekali lagi melihat sebuah gebyok kayu jati yang rumit terukir. Desainnya melambangkan kemegahan tradisi dan budaya klasik Jawa yang elegan, kokoh, dan terlihat awet/tahan lama.

Mata saya tak henti menatap dan menyusur gebyok ini. Terlewat di ingatan beberapa rumah beberapa sahabat yang memang priyayi Jawa dan memiliki gebyok megah ini di pintu depan rumah mereka. Puluhan dan ratusan juta rupiah tak segan mereka gelontorkan untuk melestarikan budaya ukir Jawa yang punya nilai sejarah tinggi.

Saya melepaskan semua rasa saat berada di lahan berlantai semen ini dalam beberapa waktu. Membiarkan wajah dan tubuh tertempa sinar matahari sembari menebar pandangan ke segala arah, sebelum melangkah pulang.

This place could have been better and then would be much better. Perlu tangan-tangan midas untuk menghadirkan kembali keindahan, keistimewaan, dan kekayaan budaya Jawa klasiknya.

Somehow, someday, semoga ada personal yang bisa membangun kembali kejayaan Kali Opak Resto. Menghadirkannya dengan sentuhan-sentuhan luar biasa hingga berjaya sebagai destinasi wisata kuliner di seputaran Candi Prambanan.

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Exit mobile version