
“Pas di Harga. Pas di Rasa“
Kalimatnya ringkas dan singkat. Tapi inilah jargon yang disematkan oleh Dapur Coet. Sebuah restoran yang berada di dalam kompleks perumahan Jababeka, Cikarang. Salah satu resto yang cukup sering kami kunjungi untuk menyesap lezatnya masakan rumahan yang sudah begitu melekat di lidah keluarga saya sejak puluhan tahun tinggal di Cikarang.
Rumah makan ini berada di dua lokasi yang saling berdekatan. Kedai yang pertama ada di Jl. Tarum Barat II, Blok C3 No. 53. Benar-benar berada di lingkungan perumahan dan sederetan ruko sebagai fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos). Sedangkan yang kedua ada di lokasi Pasar Bersih Jababeka (Pintu XI), Jl. Antilop Raya. Jarak keduanya tak lebih dari 500 meter. Tapi kedai yang kedua terlihat lebih besar dalam skala ukuran luas. Termasuk untuk urusan parkir yang menjadi salah satu unsur penting dalam pelayanan dan kenyamanan customer.
Saya sendiri belum pernah merasakan makan di tempat di kedai yang pertama karena memang sulit menemukan tempat parkir yang lapang. Jadi saya lebih sering singgah di kedai yang kedua.
Tentang Kuliner Cikarang : Makan Puas ala Korea di Pochajjang Jababeka Cikarang
Menyesap Lezatnya Masakan Rumahan
Layaknya masakan rumahan, berbagai menu yang ditawarkan tentunya sudah begitu familiar di ingatan kita. Tapi kalau boleh saya bilang, opsi sajian Dapur Coet lebih condong kepada menu Sunda. Dan itu tidaklah mengejutkan karena memang Cikarang adalah bagian dari Kabupaten Bekasi, provinsi Jawa Barat.
Setelah beberapa kali makan di Dapur Coet, saya mengamati bahwa kelebihan utama mereka adalah pelayanan yang cepat. Sajian yang ditawarkan adalah sekelompok sajian utama, lalu diikuti oleh sajian tambahan. Sajian utama ini meliputi ayam goreng kampung yang disajikan dengan rempah-rempah dan parutan kelapa yang sudah diolah sedemikian rupa, sate semur jengkol dan jengkol balado, tempe dan tahu goreng, serta sayur asem. Masakan-masakan inilah yang langsung disajikan tanpa harus menunggu lama. Jika pun kita tidak mengambil makanan utama ini, maka petugas tidak akan menghitung atau memasukkannya di dalam lembar tagihan.
Setelah ini terhidang, menu atau pesanan tambahan pun akan didatangkan. Pilihannya panjang dan sangat variatif. Menu tambahan yang biasa saya pesan adalah aneka sop. Lebih sering sih sop daging/tulang sapi. Lalu pecak kangkung favorit suami. Ikan asin sepat goreng kremes dan bala-bala (bakwan sayur).
Untuk harga termasuk ramah banget di kantong. Sesuai dengan standar yang ditetapkan pasar atau berbagai resto dengan kelas yang sama atau menghidangkan menu sejenis. Ayam goreng kampung Rp19.700,00/potong, bala-bala Rp14.545,00/paket (isi 4buah), tempe Rp4.000,00/potong, nasi Rp6.000,00/porsi, sop tulang sapi Rp32.000,00/porsi, sayur asem Rp13.000,00/porsi, pecak kangkung Rp13.000,00/porsi, ikan sepat Rp16.000,00/porsi, dan sambal dalam cobek kecil Rp16.000,00/porsi. Untuk minuman harganya berkisar antara Rp2.000,00 – Rp17.000,00. Ini untuk minuman bukan golongan juice seperti teh tawar, es teh manis, dan es lemon tea. Bersahabat banget kan harganya? Oia harga-harga yang saya sebutkan ini belum termasuk pajak (PB1) sebesar 10%.
Efek dari seringnya kami makan di Dapur Coet, saya, suami, dan anak-anak jadi punya preferensi masing-masing yang berbeda-beda. Saya menyukai segala olahan jengkol, bala-bala/bakwan sayur, dan karedok. Sementara suami menyukai pecak kangkung dan ayam goreng kampung. Saking sukanya suami seringkali membungkus tambahan sambal pecak untuk dibawa pulang dan bikin rebusan sayuran sendiri. Lalu preferensi anak-anak adalah ayam goreng kampung dan sop tulang sapi. Tapi yang pasti diantara semua yang barusan saya sebutkan, kehadiran bala-bala bener-benar menggugah selera. Saya bisa hanya menikmati bakwan ini dengan karedok tanpa nasi.
What so special dengan bala-balanya? Apa ya. Yang pasti garingnya pas, gurihnya berkesan di lidah. Isian bakwannya gak begitu banyak sih, sayurannya tidak “serame” yang biasa dijual abang-abang gerobakan misalnya. Tapi kombinasi antara gurih dan manis nya tuh dapet banget. Untuk menguji kelezatannya, saya pernah order take away dan makan bakwannya dalam kondisi dingin. Ternyata enaknya tetap bertahan. Sama seperti saat makan bakwan ini dalam kondisi hangat. Dan saya, terus terang baru tersadar, bahwa setiap makan di resto dan order bakwan, saya selalu heboh berebutan dan lupa untuk memotret. Astaga!!
Kuliner Cikarang : Sarapan Nikmat dengan Bubur Ayam dan Soto Pemalang Mbak Wulan di Jababeka Cikarang
Kuliner Cikarang : Bubur Ayam Al-Azhar Jababeka. Belasan Tahun Menjamu Sarapan Warga Cikarang dengan Kelezatannya.
Kesan Sederhana untuk Dapur Coet
Sebagian besar menu yang diolah oleh rumah makan Dapur Coet adalah masakan rumahan. Semua bisa dibuat di rumah bahkan cara menyajikannya. Bagi yang jago atau setidaknya bisa masak ya. Dan itu yang jelas bukan saya (ngekek). Plating nya juga biasa aja. Sama sekali tidak memunculkan kesan sekelas resto. Jadi otomatis kita tidak mendapatkan kesan visual pembangkit selera atau menghadirkan food photography dengan estetika tinggi. Peralatan makannya pun memakai apa yang biasa ada di rumah. Piring-piring beling bergambar ayam yang sudah ada sejak saya masih kanak-kanak. Atau yang bergambar bunga-bunga dan jadul banget itu. Tahu kan?
Kondisi di dalam restonya juga sederhana menurut saya. Ruangannya panjang. Lebih luas sedikit dari lapangan badminton. Saat melangkah masuk, di sisi kiri digunakan untuk dapur dan service area dan beberapa counter kue serta layanan kopi. Bagian tengah dialokasikan untuk sedemikian banyak meja dan bangku, sementara di pinggir kanan dan kiri dijadikan beberapa tempat makan lesehan. Yang uniknya adalah di atas lesehan ini ada atap-atap buatan yang mengarah ke dalam ruangan. Unik bener. Kemudian ada wall printing yang lumayan oke buat background foto. Setidaknya buat seseruan rame-rame sembari merekam dan atau memotret salah satu sisi cantik rumah makan Dapur Coet.
Mengakomodir para ahli hisab, di sisi paling ujung ada sebuah teras kayu dengan lumayan banyak meja dan kursi. Teras ini menghadap salah satu sisi jalan yang menghubungkan resto ke deretan ruko yang membelakangi kompleks perumahan. Pemandangan hijau terasa di sini karena persis di depan teras ada penjual tanaman. Klop banget.
Oia, di dekat pintu masuk tadi, ada beberapa gerobak dorongan yang menawarkan minuman klasik seperti es selendang mayang, es podeng, es cincau, es cendol. Semua sudah pernah saya coba. Bagi yang kurang begitu suka manis harus ngomong dulu sebelum minuman disiapkan ya. Karena semuanya sarat gula. Leginya minta ampun.
Kapan dong temen-temen main ke Cikarang? Jangan lupa kabarin ya. Siapa tahu kita bisa makan bareng di rumah makan Dapur Coet.