Lifestyle

Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali

56
menyesap-ketenangan-di-pura-goa-lawah-klungkung-bali
Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali
Menyesap Ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali
Suasana di dalam pura inti Pura Goa Lawah. Kegiatan dan kesibukan sembahyang saya potret dari pintu luar pura

Kunjungan ke Pura Goa Lawah ini jadi bagian dari rute perjalanan menyusur Klungkung dan Karangasem di akhir 2024 yang lalu. Agenda menjelajah Bali yang saya lakukan bersama Mega, ibu dua orang anak yang juga adalah penggiat literasi. Lewat literasilah kami akhirnya terhubung, membangun komunikasi, berada dalam kelompok hobi yang sama, hingga akhirnya mendekat satu sama lain.

Berada di desa Pesinggahan, Pura Goa Lawah sempat beberapa kali kami lewati. Menginap di Candi Dasa dan melakukan wisata ke Klungkung dan Semarapura, kami otomatis melewati pura ini beberapa kali. Kami bahkan sempat beberapa kali melambatkan kendaraan, menyempatkan melirik ke arah pura yang berada persis di pinggir jalan dan berhadap-hadapan langsung dengan pantai dan laut.

Melihat parkiran mobil dan motor yang panjang terbentang dan efek kemacetan yang ditimbulkan, saya jadi selalu menoleh ke arah pura. Terhidang sebuah “pemandangan” yang menentramkan hati. Terlihat barisan lelaki berbaju adat Bali berwarna putih, mengenakan kain dan udeng, kemudian diiringi oleh banyak perempuan mengenakan kebaya, bersanggul dan berdandan cantik, sembari membawa beragam bokor cantik berwarna-warni. Mereka berjalan tertib beriringan memasuki pura. Suasana sakral sembahyangan pun langsung bisa terbaca.

Hati saya tergugah. Apalagi melihat jumlah umat Hindu yang ingin beribadah terus menerus bertambah, membludak, memenuhi jalan masuk. Sebuah pemandangan semangat beribadah yang tidak pernah saya saksikan kecuali saat berada di Bali.

Rampung mengunjungi beberapa tempat wisata di Klungkung dan Semarapura (ibukota Kabupaten Klungkung) dan makan siang di kedai Lesehan Sari Baruna yang berada di Jl. Raya Goa Lawah dan hanya sekitar 200 meter dari Pura Goa Lawah, saya dan Mega pun sepakat untuk turun dan mengunjungi pura ini.

Mobil diparkirkan di di sebuah lahan yang ada di seberang pura, di pinggir pantai. Di sisi ini ada serangkaian tempat yang tampak memang disiapkan untuk para wisatawan menghabiskan waktu sembari menikmati pemandangan pantai. Di sini ada patung kelelawar yang tinggi besar. Patung yang selesai pada akhir 2023 ini berdiri gagah dilengkapi dengan banyak ornamen bernuansa Bali. Penampilan visual kelelawar tentunya juga mewakili arti dari Goa Lawah. Goa = gua sementara Lawah = kelelawar. Sehingga Goa Lawah bisa diartikan secara harafiah sebagai Gua Kelelawar.

Berjejer dengan patung tersebut terhampar serangkaian kedai jajan yang menawarkan banyak asupan dan minuman. Sebagian besar di antaranya menawarkan masakan non-halal dan es kelapa muda yang memang menjadi ciri khas jajanan wilayah pesisir. Saat saya berjalan ke arah yang berbeda, saya melihat sebuah resto yang menawarkan jajanan serba halal. Khususnya sate ikan tuna seperti yang ditawarkan oleh Lesehan Sari Buana. Saya bahkan sempat mengobrol sebentar dengan seorang petugas yang sedang berjibaku membakar sate tuna tersebut.

“Masakan di sini semua halal ya Mas?” tanya saya dengan nada sedikit ragu.

“Ya Bu. Ini restoran masakan ala Sunda. Semua halal termasuk sate tuna yang saya bakar ini. Mari silakan masuk dan makan siang di sini,” balasnya ramah. Saya tersenyum semanis mungkin. Semanis gula merah ditambahi gula putih terus dimasukin ke segelas sirup.

Pengen sih. Tapi sayang lambung saya yang kisut menuju lansia ini masih penuh karena makan cukup banyak dengan porsi heboh di Lesehan Sari Buana tadi.

Saya melirik ke arah Mega yang senyum-senyum tanpa arti. kemudian menjawil tangan saya untuk segera menyeberang dan menelusur Goa Lawah.

“Yok Mbak. Takut keburu hujan,” lanjutnya lagi.

Eh iya. Langit di seputaran Klungkung dan Karangasem memang lagi senang bercanda. Kadang terang tapi tiba-tiba bisa mendadak hujan deras. Kayak orang galau yang sekian masehi belum ketemu jodoh.

Saya sempat salah jalan. Tangga dan pintu gerbang besi berwarna hitam yang hampir saya buka itu ternyata jalan masuk utama yang langsung terhubung dengan pura. Gak ngeh kalau ada tulisan “wisatawan dilarang masuk.” Ya ampun untung tadi gak nekad buka pagar dan langsung masuk.

Seorang pecalang kemudian menyapa saya dengan ramah dan memberikan arahan untuk masuk lewat pintu lain yang berada di ujung yang berbeda.

Mengikuti arahan yang dimaksud, saya berjalan melipir sepanjang jalan setapak di bahu jalan hingga bertemu sebuah bale-bale besar dengan atap tinggi. Bentuknya seperti sebuah function hall tanpa dinding luar. Saat melangkah ke arah bale-bale ini tampak sudah ada banyak orang yang. sedang berbincang atau sekedar bersantai-santai, bahkan ada yang tertidur. Terlihat juga beberapa pedagang asongan yang menaruh dagangannya di sebuah kotak di lantai bale-bale. Persis seperti halnya mbok-mbok pedagang jamu yang sering beredar atau berjalan kali sembari berjualan ke sana kemari.

Belakangan saat melangkah pulang, para pedagang asongan itu jadi semakin banyak. Saya menemukan pedagang seperti ini berjejer di bahu jalan. Ada yang menjual minuman, makanan ringan, jajajan khas Bali (yang non-halal). serta masih banyak lagi. Saya sempat membeli segelas plastik minuman dingin. Es teh tawar seharga Rp10.000,00. Lumayan untuk melepas dahaga di udara yang sedang tidak menentu.

Mengikuti petunjuk, saya dan Mega mendekati sebuah pondokan yang menjual tiket masuk Rp30.000,00/orang dewasa. Harga ini sudah termasuk kain yang wajib dikenakan selama berada di dalam kawasan pura.

Baiklah. Mari kita menjelajah.

Pintu masuk dengan gapura berbatu hitam berukir ini ternyata adalah pintu yang terhubung dengan sebuah taman yang berada di salah satu sisi pura utama. Ada bale-bale yang berdiri di dekat pintu masuk, tersambung dan menyatu dengan jalan setapak menuju pintu selanjutnya. Gapura hitam dengan batu berukir atau ukiran khas Bali yang langsung terhubung dengan kawasan pura utama. Area sembahyang tidak boleh dimasuki wisatawan pada saat itu.

Di tengah-tengah taman ada sebuah kolam kecil dengan sebuah monumen mini dan beberapa pancuran air berukuran kecil. Keindahan taman kemudian dilengkapi oleh payung-payung kain warna-warni khas Bali yang dipasang di beberapa titik. Kehadirannya membuat taman dengan rumput gajah yang tumbuh segar ini menjadi lebih menarik dan cukup estetik untuk dipotret.

Saya dan Mega pun kemudian melangkah ke arah kiri di mana terdapat sebuah pohon besar tinggi yang “pinggang” nya ditutupi kain kotak-kotak hitam putih. Ada sebuah petunjuk yang mengarahkan wisatawan untuk berfoto di sana. Kami pun memanfaatkan masa ini sembari memandang ke arah taman yang hening sembari menyesap ketenangan di Pura Goa Lawah Klungkung Bali ini.

Lahan hijau dengan hutan yang berada di belakang pohon besar ini tampak begitu padat dan rindang. Saya memutuskan untuk duduk di bangku semen yang ditanam di sekitar akar pohon yang terlihat menonjol di atas tanah. Kekar dan berkarakter kuat. Tak heran jika banyak wisatawan bersengaja mengambil foto di sini.

Saya dan Mega memutuskan untuk duduk sedikit lama sembari menyaksikan banyak orang mondar-mandir melewati taman, keluar masuk Pura Goa Lawah. Saya mencoba memotret sedikit bagian dalam pura lewat lensa zoom dan mendapatkan keramaian di tempat berdoa yang ada di lahan terbuka persis di depan pura. Keheningan begitu terasa seiring dengan suara alunan doa yang semilir terdengar tanpa henti.

Saat beranjak keluar dan mengembalikan kain ke loket tiket tadi, saya melihat sebuah prasasti yang terpasang di bawah pepohonan yang rindang. Isi prasasti yang cukup besar ini menghadirkan sekilas sejarah tentang Pura Goa Lawah dan orang-orang penting yang terlibat di dalam pendiriannya.

Izinkan saya mengutip setiap kata dan kalimat yang diukir di prasasti berbatu hitam dan ditutupi oleh kaca tersebut.

“Pura Goa Lawah terletak di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, merupakan pura di mana terdapat sebuah goa yang dihuni oleh sekumpulan kelelawar. Kata Goa berarti gua dan Lawah berarti kelelawar. Ribuan kelelawar di Goa Lawah ini dipercayai oleh umat Hindu sebagai penunggu Pura Goa Lawah dan sebagai binatang yang dikeramatkan. Salah satu upacara besar di Pura Goa Lawah adalah upacara Piodalan yang jatuh pada Anggara Kasih, Medangsia. Pura Goa Lawah merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan Jagat di Bali. Di dalam goa ini diyakini terdapat sebuah lubang yang tembus sampai ke Pura Besakih di Gunung Agung, sebagai tempat bersemayamnya Naga Basuki, yang menjaga keseimbangan dunia.”

“Dalam beberapa lontar disebutkan bahwa pura-pura beserta bangunan lainnya di Bali dibangun oleh Mpu Kuturan sekitar tahun 1072 Masehi. Sebagaimana diceritakan dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, Mpu Kuturan adalah seorang pendekar besar yang datang ke Bali dari Jawa Timur. Pada masa pemerintahan Raja Airlangga di Jawa Timur (991-1042). Mpu Kuturan diundang ke Bali oleh Raja Udayana untuk menyatukan berbagai sekte yang ada di Bali.”

“Menurut kenyataan sejarah, Mpu Kuturan adalah seorang tokoh spiritual yang membawa perubahan penting bagi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Bali terutama tentang pelaksanaan upacara keagamaan. Ia juga yang memperkenalkan konsep Tri Kahyangan Desa, yaitu pura desa yang terdiri atas Pura Desa Bale Agung, Pura Puseh, dan Pura Dalem.”

“Disamping nama Mpu Kuturan dikenal pula nama Pedanda Sakti Wawu Rauh yang dikenal juga sebagai Dan Hyang Nirartha yang datang ke Bali sekitar tahun 1460 Masehi pada masa pemerintahan Dalam Waturenggong, seorang raja yang sangat berjasa dalam membawa kejayaan Bali.”

Saya sempat tertegun. Membaca apa yang didiskripsikan kalimat demi kalimat berulangkali untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Saya kemudian teringat pada sebuah pelajaran sejarah saat saya masih di SMP atau SMA. Ketika itu ada cerita tentang akulturasi budaya antara kerajaan di Jawa dan di Bali, di mana saat itu agama/kepercayaan Hindu masih begitu kuat bercokol di nusantara. Dan jika menyimak apa yang dituliskan di atas, jelas bahwa pengaruh kerajaan Hindu di Jawa untuk kerajaan Hindu di Bali sangatlah kuat.

Saya – pada awal – sejujurnya sempat ragu untuk masuk ke Pura Goa Lawah ini karena memahami bahwa setiap ada kegiatan sembahyang, pura akan ditutup total. Jika pun ada kawasan sekitar yang dibuka, pembatasan area kunjungan pastinya tidak akan mencapai titik terpenting dari pura yang bersangkutan. Jadi saat saya “hanya” bisa menikmati taman yang berada di sisi pura, sebenarnya saya kurang puas dan masih terbius pada rasa penasaran. Apalagi Pura Goa Lawah sejatinya adalah melihat lubang di dalam pura yang kabarnya menjadi tempat hidup banyak kelelawar. Hal unik yang saya baca di berbagai sumber informasi wisata Bali.

Ingin banget saya memotret secara rinci dan melihat plus membuktikan sendiri bagaimana pura ini memiliki kesakralan dengan pengetahuan sejarah yang mendalam, keunikan budaya serta pengalaman spiritual yang memikat. Posisinya yang berada di pertemuan antara perbukitan dan pantai juga membawa Pura Goa Lawah memiliki nilai wisata yang menarik. Dalam sebuah tautan sejarah saya juga mencatat bahwa lokasi di mana gua ini berada adalah salah satu titik fokus/titik penting terjadinya perang Kusamba. Perang di mana terjadi pertempuran dahsyat antara warga Klungkung dan penjajah Belanda.

Semoga saya bisa kembali ke goa yang dilindungi oleh sang Hyang Widhi ini. Dewa pelindung gunung dan penguasa laut yang mendapat tempat istimewa di hati warga penganut agama Hindu di Bali.

Ada yang pernah berkunjung ke sini dan punya cerita istimewa? Bagi ceritanya dengan saya di kolom komen ya.

IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com

Exit mobile version