Lifestyle

Menyesap Keheningan di Puri Payogan, Kedewatan, Ubud, Bali

83
menyesap-keheningan-di-puri-payogan,-kedewatan,-ubud,-bali
Menyesap Keheningan di Puri Payogan, Kedewatan, Ubud, Bali

Alasan kedatangan saya ke Bali di akhir Oktober hingga awal November 2024 salah satunya adalah menghadiri Ubud Writers & Readers Festival 2024 yang diadakan di Ubud, Bali. Setelah proses memilah dan memilih serta menyesuaikan dengan budget yang ada, akhirnya saya bertemu dengan Puri Payogan yang berada di Banjar Payogan, Kedewatan.

Keberangkatan saya ke Denpasar di hari itu sempat delay sekitar hampir 1 jam bahkan mungkin lebih. Penundaan yang mengakibatkan ketibaan saya di Denpasar pun menjadi mundur lumayan banyak. Saya bersegera menghubungi booking transportasi yang sedianya membawa saya langsung ke Ubud di sore hari itu karena bisa saja memunculkan additional charge yang harus dikenakan.

Tapi berkat komunikasi yang baik dengan info yang up-to-date, pihak penjemput langsung mengecek laporan yang saya sampaikan lewat nomor penerbangan yang sudah saya berikan. Biar gak ada syak wasangka dan meyakinkan bahwa keterlambatan bukan disebabkan oleh diri saya pribadi. Mereka pun paham dan berkenan menunggu. Tentu saja dengan batas waktu keterlambatan maksimum 3-4 jam.

Tentang Bali : Mengunjungi Produksi Garam Tradisional di Kusamba Klungkung Bali

Perjalanan yang Cukup Melelahkan

Keterlambatan perjalanan menuju Denpasar ini membuat saya sehari-harian berada di jalan. Berangkat dari rumah sekitar pkl. 08:00 wib dan baru tiba di Ubud pkl. 22:00 wita, nyatanya cukup menyita tenaga.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sejatinya tidak terlalu penuh saat saya tiba, urusan bagasi pun tidak harus menunggu lama. Mungkin karena jumlah penumpangnya juga tidak membludak. Saya berjalan pelan saat keluar area kedatangan menuju kawasan penjemputan yang sekarang sudah berpindah ke lantai 2-3 gedung parkir.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pkl. 19:00 wita lebih sedikit. Saya langsung galau. Makan malam dulu di bandara atau langsung meluncur ke Ubud. Para naga di lambung sudah menggelinjang sejak berada di dalam pesawat. Masalahnya waktu take-off persis berada di angka kebiasaan saya makan malam dan berdasarkan pengalaman hidangan dari penerbangan ini paling hanya roti, kue, dan aneka minuman. Walhasil akhirnya saya stok roti dan air putih saja untuk dinikmati selama sekitar satu setengah jam masa penerbangan.

Sambil berjalan menuju area parkir saya melihat hampir semua resto di bandara masih buka. Awalnya niat pengen makan dulu tapi kok tetiba merasa sungkan untuk membiarkan si penjemput menambah waktu menunggu saya.

Yoweslah, saya akhirnya memutuskan untuk menahan lapar dan membeli makanan di salah satu resto menuju ke Puri Payogan saja.

Ternyata keputusan ini keliru.

Tak menyangka bahwa sepanjang perjalanan ada beberapa titik kemacetan yang tak terhindarkan. Jadi saat memasuki area Ubud, sudah banyak resto yang tutup kecuali night club. Itu pun hanya beberapa. Ya salam.

Atas usulan pak driver akhirnya terpaksa deh beli ayam fast food yang dijual oleh salah satu mini market yang tak jauh dari Puri Payogan.

Kali ini keputusan saya untuk mengikuti usulan pak driver sangat tepat karena ternyata Puri Payogan letaknya lumayan tersembunyi dan restoran di sana sudah tutup saat saya tiba. Yang pasti dengan posisi di mana tempat ini berada, sungguh tidak memungkinkan meminta petugas untuk berkenan mencarikan makan malam.

Hiking Malam Hari

Masuk ke sebuah jalan satu jalur yang lumayan sempit dan menuruni tebing tanpa pencahayaan sama sekali, sempat membuat saya ragu. Terkejut dengan lingkungan yang hening dan sunyi. Sudah bener gak ya arahnya?

“Bener kok Bu. Sesuai dengan google maps,” ujar pak driver saat saya terlihat gelisah.

Hati saya mulai melega saat mobil mencapai sisi bawah tebing. Apalagi saat sebuah sign box bulat kecil bertuliskan logo Puri Payogan terlihat dari area parkir kecil yang berada di dekat pintu masuk. Sinar dari sign box begitu menyala di tengah cahaya yang redup tak terhingga. Dengan baik hati si bapak membantu saya menurunkan koper dan menemani saya hingga masuk ke dalam area depan Puri Payogan.

Saat melewati sebuah gapura khas Bali yang tinggi menjulang, dua orang petugas lelaki menyambut kedatangan saya. Mereka langsung menyebutkan nama saya karena memang sudah ditunggu sedari siang. Saya memutuskan untuk ngaso sebentar di sebuah pondok di sisi kanan pintu masuk sembari menunggu para petugas ini menyelesaikan proses administrasi.

Tak ada apa pun yang bisa saya nikmati dan lihat saat itu karena suasana hening dan pekat sangat menyelimuti Puri Payogan. Yang terdengar hanyalah suara kodok dan desir hembusan angin yang menerpa banyak pohon tinggi yang mengelilingi Puri Payogan.

“Yok Bu saya antar. Kamar Ibu ada di lantai dua.”

Saya mengangguk pasrah.

Hanya dalam beberapa langkah kemudian saya tertegun. Di hadapan saya terbentang sederetan tangga semen yang semakin menukik saat langkah itu bertambah. Tangganya gak main-main. Lumayan curam dan tinggi. Hati saya langsung menciut. Apalagi mengingat bahwa saya punya pengalaman buruk dengan tangga dan baru beberapa tahun belakangan berhasil mengikis phobia akan pijakan berjenjang ini.

Lutut pun langsung bergetar saat langkah demi langkah tangga itu semakin menukik. Saya memutuskan untuk berhenti sebentar di tengah jalan dan menarik nafas dalam. Ternyata perjuangan perjalanan saya belum berakhir. Apalagi kemudian melihat bahwa lantai dua yang dimaksudkan oleh sang petugas adalah posisi tertinggi dari bangunan menjulang yang ada di tengah penginapan seluas 6 hektar ini.

Astaganaga. Ternyata perjuangan saya belum berakhir.

Sang petugas melanjutkan langkah dan memutuskan untuk tiba lebih dulu di kamar sebelum kembali menjemput saya yang masih kelelahan di lantai bawah. Dia pun mengajak saya berbincang, berbasa-basi, sementara saya tengah berjuang mengatur nafas dan membiarkan getaran dengkul saya mereda.

Disambut Sebuah Kenyamanan

Setelah tadi mampir di pit stop lantai satu. Saya kembali melewati sebuah tangga curam sebelum menghentikan langkah di sebuah kamar yang besar dan tinggi menjulang.

Pintu sudah terbuka dengan AC yang sudah dinyalakan serta horden dua sudut yang sudah tertutup dengan sempurna. Sebuah kamar berukuran besar siap menyambut kedatangan saya.

Tapi saya memutuskan untuk masuk sebentar untuk mencuci tangan, lalu kembali ke teras depan dan duduk di sebuah kursi kayu besar untuk menghabiskan makan malam yang sempat saya beli tadi.

Sinar yang temaram, keheningan, dan suara kodok yang tak henti bersahut-sahutan sempat membuat saya terpaku. Langit tampak begitu pekat dan tidak menghadirkan sebutir bintang pun di atas sana. Saya kembali termangu. Tak terbayangkan bahwa di satu masa menjelang akhir 2024, saya tiba kembali di Bali dengan nuansa dan suasana yang jauh dari apa yang saya bayangkan.

Sejujurnya saya merasa terlalu lelah untuk makan malam dan menghabiskan nasi beserta ayam goreng yang sudah saya beli. Tapi daripada membiarkan perut keroncongan dan mengakibatkan saya tidak bisa tidur, mending paksakan saja mulut untuk mengunyah. Sekalian memberikan waktu agar kamar dingin dengan sempurna.

Saya kembali ke dalam kamar lalu melihat kamar yang saya pesan dengan lebih sempurna. Cantik dan luas banget ternyata. Setidaknya untuk sebuah kamar yang hanya dihuni oleh seorang tamu.

Semua perangkat kamar dilengkapi dengan kayu solid yang tampak diplitur agar terlihat rustik. Ranjang berukuran king terhampar rapi dan terlihat begitu luas, menggoda untuk segera dihampiri. Di atas bedhead terlihat sebuah lukisan natural yang menampilkan dua orang sedang duduk santai sembari bercakap-cakap.

Ada dua nakas di masing-masing sisi tempat tidur dan sebuah sofa panjang di salah satu bagian ujung tempat tidur. Ada lemari kayu besar dan meja rias dengan kaca tinggi dan sebuah bangku. Di meja ini tersedia ketel penanak air dan semua compliment yang biasa dihadirkan di tempat-tempat menginap.

Saya memutuskan untuk menanak air dan menuangkan kopi sachet untuk menghangatkan badan. Mungkin bagi sebagian besar orang, menikmati secangkir kopi sebelum tidur membuat kita terus terjaga. Tapi tidak dengan saya. Kopi, bagi saya, justru melahirkan efek menenangkan.

Sembari menunggu air mendidih saya bersegera mandi dan langsung mengenakan piyama. Di dekat pintu masuk ada sebuah lemari tertutup yang di dalamnya ada di TV dengan kulkas kecil di bagian bawah.

Tentang Bali : Keindahan Bunga Abadi di Taman Edelweis Karangasem Bali

Kamar mandinya sendiri luas betul. Berbentuk memanjang dengan wastafel luas dan kaca lebar. Shower ada di sudut terdalam sementara kloset berada di antaranya. Semua tampak bersih dengan kondisi siap pakai dengan handuk yang terlihat melambai-lambai agar saya bersegera membersihkan diri.

Saya memutuskan untuk cepat mengabarkan suami bahwa saya sudah tiba di Puri Payogan dengan selamat sembari menceritakan proses perjalanan berjam-jam yang baru saja saya lalui. Dia pasti sudah gelisah menunggu kabar dari saya. Meskipun saya terbiasa melakukan solo traveling bertahun-tahun lamanya, tampaknya kekhawatiran itu tak dapat dia sembunyikan. Apalagi saat tadi saya mengabarkan bahwa penerbangan sempat delay dengan kemungkinan besar saya akan sangat larut baru tiba di Ubud.

Keesokan paginya, saat matahari mulai bersinar terang dan saya sudah berpakaian rapi menuju tempat perlehatan Ubud Writers & Readers Festival 2024 berlangsung, saya memutuskan untuk berkeliling, melihat fasilitas, dan memotret berbagai sudut Puri Payogan, sembari menunggu pesanan sarapan sandwich saya tiba.

Fasilitas Wah di Tengah Hutan Kecil

Berdiri di ujung teras depan kamar, hal pertama yang saya lihat adalah betapa tingginya kamar yang saya tempati. Saya melihat jalan setapak dan deretan tangga yang semalam mengiringi langkah saya dan deretan hutan kecil yang menyelimuti hampir seluruh fasilitas hotel.

Kamar yang saya tempati memiliki dua dinding kaca. Satu menghadap ke teras depan kamar sementara satu lagi menghadap ke sisi kanan. Di depannya ada teras kecil memanjang. Saya melangkah ke sana dan bisa melihat sebuah kolam renang dengan air biru yang tampak senyap dan dilengkapi dengan kursi santai kolam renang (sun lounger) kayu dengan beberapa payung yang melindunginya.

Saya mengunci kamar dan melangkah turun menuju kolam renang ini. Namun langkah saya tempat terhenti di lantai satu, di mana ada dua kamar lagi berada. Di hadapan dua kamar ini, ada teras kayu yang sangat luas dengan taman-taman kecil yang ada di sudut-sudutnya dan sempat saya potret dari atas.

Dari teras itulah saya bisa memotret keseluruhan bangunan yang terdiri atas empat kamar yang ukurannya serupa dengan kamar saya. Tiang pancang tampak kokoh menjulang dengan fasad yang luar biasa cantik. Gak heran kalau bangunan ini dilengkapi dengan sederetan tangga curam yang butuh ekstra tenaga untuk menggapai kamar yang berada di lantai dua.

Saya tertegun cukup lama. Apalagi saat kembali membayangkan bagaimana perjuangan saya semalam untuk melangkah dengan kaki yang gemetar karena kelelahan.

Tentang Bali : Menyesap Harmoni di Desa Adat Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali

Meniti tangga yang kemarin saya lewati, saya bersengaja mampir sebentar ke gedung belakang. Mumpung langit cerah dan diyakini mampu menghasilkan gambar yang cantik.

Gedung di belakang ini juga terdiri atas dua lantai. Tapi tidak sejangkung gedung depan. Dengan bangunan berbentuk L, tampak berderet-deret kamar yang langsung menghadap kolam renang.

Dari petugas yang kemudian menemui saya temui di receptionist area, saya baru tahu bahwa semestinya salah satu kamar di gedung belakang itu diperuntukkan bagi saya karena pada saat reservasi dibuat oleh suami, dia sudah memilih kamar tersebut. Tapi karena saya datang terlambat, kamar itu diberikan kepada tamu yang lain yang seharusnya menempati kamar saya.

Mungkin si tamu juga gak mau kali ya harus naik tangga sedemikian heboh. Jadi meminta petugas hotel untuk memindahkannya.

Usai memotret di area ini, saya menuju ke area kedatangan di mana seluruh kegiatan para staff berlangsung. Saya sempat meminta agar kamar saya dipindahkan tapi ternyata Puri Payogan sedang fully booked dalam jangka waktu berhari-hari. Jadi meskipun saya menginap selama 3 hari 2 malam, kesempatan untuk pindah itu jelas tak mungkin.

Ya sudah. Pasrah dah.

Sembari menunggu pesanan taxi on-line saya datang, saya melihat sekeliling bagian depan ini. Dari gerbang masuk, pondokan penerimaan tamu didampingi oleh sebuah pondokan tempat tamu menunggu. Tidak besar sih ukurannya. Tapi menurut saya, sayang banget jika tidak dilengkapi oleh ornamen atau aneka craft yang bisa membuat pondokan ini lebih estetik dan terlihat bergaya. Setidaknya bisa menjadi spot foto cantik yang istagenic untuk ditampilkan di media sosial.

Selain kedua pondokan kayu tersebut, ada satu gedung dua lantai yang sentuhan bangunannya persis seperti bangunan tengah dan belakang. Di bagian bawah ada ruang serba guna dengan sebuah lemari pendingin dan beberapa peralatan kebersihan. Di atasnya ternyata ada ruang makan dengan beberapa meja kecil dan bangku-bangku kayu. Melihat kondisinya yang agak berantakan, saya bisa pastikan bahwa ruangan ini jarang dikunjungi tamu.

Ruangan ini belakangan saya ketahui bernama Kapu Kapu Restaurant

Saya melipir ke teras depan yang menghadap ke luar. Sebuah pemandangan menyejukkan langsung menyentuh mata. Dari ruangan setengah terbuka ini saya bisa melihat jalan semen yang hanya bisa dilewati oleh motor, dengan sebuah sungai kecil di depannya. Sungai yang tampak begitu bersih dan mengalir dengan lancar.

Sebelum memutuskan untuk turun, mata saya terpaku pada sebuah rumah menyerupai villa yang sedikit tertutup oleh tanaman-tanaman jangkung yang mengelilinginya. Villa tipe suite yang dilengkapi oleh sebuah kolam renang. Saya yakin ketenangan serta privacy nya sangat terjaga. Letaknya pun persis di belakang pondokan penerimaan tamu. Jadi gak perlu melewati puluhan tangga tinggi seperti yang saya alami.

Sayang villa ini sedang dihuni jadi saya tidak bisa minta izin untuk memotret.

Tentang Ubud : Melali ke Little Talks Ubud Bali

Tempat yang Bikin Kangen

Tempat menginap dengan hanya 12 kamar ini, menurut saya, cocok untuk mereka yang mencari keheningan atau bersengaja mengasingkan diri untuk berkegiatan mandiri, seperti menulis, melukis, membaca buku, mengkoreksi diri atau menyelesaikan novel yang tak kunjung menemukan titik akhir. Ini yang bikin saya kangen.

Tapi tentu saja dengan catatan saya tidak menempati kamar yang sama yang saya tinggali saat itu. Lemes dengkul saya oi.

Namun yang pasti ambience dan atmosphere yang tercipta sungguh menghadirkan rasa tenang dan damai. Lokasinya yang sedikit terpencil sepertinya menjadi cikal bakal terciptanya nuansa berbeda dari apa yang kita alami saat berada di perkotaan. Apalagi untuk saya yang hidup di kawasan atau lingkungan industri.

Di hari-hari berikutnya saat saya tiba di sore hari, saya sempat memesan Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku yang berada sekitar 300 meter dari Puri Payogan. Lumayan sih jadi solusi saat kita malas untuk beranjak keluar karena sudah kadung pulang/balik ke Puri Payogan.

Kuliner di Ubud : Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku. Sajian Halal di Ubud Bali yang Sarat Selera

Saat berkegiatan menghadiri rangkaian program Ubud Writers & Readers Festival 2024 di Taman Baca Ubud, saya bisa memesan Grab atau Gocar untuk menjemput saya di Puri Payogan. Biayanya hanya 20rb-an sekali jalan. Reservasinya pun sangat mudah untuk dilakukan. Saya bahkan berani mengusulkan agar kita memanfaatkan Grab untuk mondar-mandir di seputaran Ubud demi efisiensi dan efektivitas. Apalagi hanya pergi seorang diri.

Ada satu lagi perihal yang membuat saya betah adalah layanan massage yang sudah jadi langganan para penginap. Saya lupa namanya. Tapi yang jelas, staff Puri Payogan bisa memesankan layanan ini untuk kita. Tarifnya 150rb/jam. Standard harga layanan massage di seputaran Ubud. Pijitannya nyaman banget deh. Bikin tubuh kita betul-betul rileks dan kembali segar.

Enaknya pijitnya tuh sehabis maghrib setelah badan kita bersih dan dalam kondisi kenyang. Habis itu minum secangkir teh hangat, leyeh-leyeh, terus nikmati tidur berkualitas. Saya malah biasanya minum obat flu supaya bisa segera terlelap.

Saya menutup rangkaian kunjungan ke Ubud dengan berkendara menuju Singaraja. Pindah tempat menginap untuk menghabiskan waktu bersilaturahim dengan para sahabat yang tinggal di Denpasar sebelum akhirnya kembali pulang ke Cikarang.

Exit mobile version