Lifestyle

Menyeruak Beragam Rasa Lewat Buku Langgam Prapti Karya Ika Patte

79
menyeruak-beragam-rasa-lewat-buku-langgam-prapti-karya-ika-patte
Menyeruak Beragam Rasa Lewat Buku Langgam Prapti Karya Ika Patte
Visual buku Langgam Prapti yang bercerita

Subuh baru saja lewat saat saya, untuk kedua kalinya, menutup halaman terakhir dari buku Langgam Prapti. Buku solo ke-3 dari Ika Patte. Seorang penulis perempuan Indonesia yang produktif dan selalu berhasil menyeruak beragam rasa yang ada di hati setiap pembaca

Azan Subuh baru saja selesai berkumandang saat saya kemudian menunaikan kewajiban menghadap kepadaNya di awal hari. Berdoa agar di hari ini selalu dilimpahkan oleh keberkahan dan banyak peristiwa mendamaikan hati yang membuat semesta dan seisinya semakin ramah kepada setiap penghuninya, di belahan bumi mana pun dia berada.

Usai menunaikan ibadah, tangan saya langsung meraih sebuah buku berjudul Langgam Prapti yang tergeletak di meja kerja. Buku setebal 164 halaman karya Ika Patte. Seorang penulis perempuan Indonesia kelahiran 1976 yang saya kenal secara pribadi lewat komunitas penulis, Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI).

Seperti kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun, usai salat Subuh saya bersengaja menghabiskan waktu dengan membaca atau belajar saat masih sekolah dulu. Waktu yang menurut saya selalu mustajab untuk mengisi kepala dan menambah ilmu, khususnya saat akan menghadapi ujian.

Termasuk salah satunya adalah membaca banyak buku berkualitas, melamati serta memahami untaian diksi yang tersirat dan tersurat, untuk kemudian dibuatkan ulasannya.

Persis seperti apa yang saya lakukan untuk buku Langgam Prapti ini.

Buku Pertama Ika Patte : TABIR. Menyingkap Rahasia Mera

Back cover buku Langgam Prapti yang mengurai profil dari sang tokoh utama

Visual Buku yang Bercerita

Buku ke-2 dari Tetralogi Mera ini sudah saya lahap hampir dua minggu yang lalu. Persis sehari setelah paket buku Langgam Prapti tiba dengan manisnya di rumah.

Jadi saat pagi ini saya membacanya kembali berarti inilah kali kedua buku Langgam Prapti menyeruak beragam rasa yang sudah saya alami di pembacaan pertama.

Saat bungkusan paket itu saya buka, visual buku Langgam Prapti membuat saya tercenung. Melihat front cover yang didominasi oleh warna putih, hitam, abu-abu, dan sedikit merah, membangkitkan ingatan saya kembali ke buku Tabir. Buku solo pertama Ika Patte yang adalah sesi awal dari Tetralogi Mera.

Kombinasi berbagai warna yang mengantarkan imajinasi kita pada sebuah cerita penuh misteri dan membangkitkan tanda tanya.

Melalui sampul depan buku ini saya melihat beberapa aspek yang terlibat di dalam buku. Diantaranya adalah batik (yang diwakili oleh motif batik Mega Mendung khas Cirebon), gamelan dan sebuah tabuh (pemukul gamelan), dan sosok seorang perempuan cantik.

Perempuan yang diduga adalah Prapti. Seorang gadis muda dengan rambut hitam panjang digelung cepol, mengenakan kebaya, dengan hidung bangir yang menyempurnakan kecantikannya.

Dialah tokoh sentral dari buku fiksi berjudul Langgam Prapti ini.

Di sampul belakang (back cover), Ika Patte mengurai/mendiskripsikan siapa Prapti sekaligus menjadi blurb dan sinopsis singkat dari isi buku. Tulisan tiga paragraf singkat dengan pilihan diksi yang sangat mudah untuk dicerna dan dipahami.

Penggabungan di antara keduanya nyatanya mampu menghadirkan bahkan membangkitkan imajinasi awal akan keseluruhan isi buku. Sebuah karya sastra fiksi yang membangun kisah tentang keputusan sesaat akan hasrat yang terpendam dan yang akhirnya berlanjut menjadi kisah anak yang tumbuh dengan kondisi seperti Mera di novel pertama, Tabir, yang terbit di 2021.

Siapakah Prapti?

Buku Solo Kedua Ika Patte : Mengulik Lembar Pengetahuan di Dunia Pendidikan Bahasa Lewat Buku Anakku Bingung Bahasa?

Tentang Sebuah Kesalahan

Tidak mudah tentunya melahirkan seorang pelakon utama dengan lingkungan dan tokoh pendukung lain yang “sama kuatnya” dan kerap berada di sekitarnya. Sosok utama haruslah tetap mendominasi dan hadir dengan karakter yang membuat para pembaca terus tergerak untuk fokus pada sang bintang.

Saya mendapatkan sisi ini saat membaca buku Langgam Prapti hingga mencapai 1/2 isi buku. Pelan tapi pasti, dominasi tokoh Prapti terasa semakin greget dan terbuka dengan segala permasalahannya.

Prapti, sang gadis belasan tahun, yang hidup nrimo dan bekerja di berbagai tempat, dan pintar nembang (melantunkan langgam), begitu hati-hati diulas oleh Ika. Dari seorang gadis yang ceria, ringan tangan, disayangi oleh banyak orang, hingga mengambil keputusan dan sebuah kesalahan, dihadirkan oleh Ika dengan begitu rinci, tanpa terkecuali, tanpa terlewatkan.

Termasuk saat dia tanpa bisa ditahan dan berurai air mata, mengaku di depan ayahnya, bahwa dia tresno, jatuh cinta pada lelaki sudah beristri dan berwibawa, yang juga adalah gurunya dalam menguasai berbagai langgam Jawa.

Hidupnya sendiri dikelilingi oleh Mbok War sang ibu baik hati yang menderita penyakit gondok, Pak Dikun sang ayah yang lumpuh akibat “kenakalan” di masa lalu, Bano si kakak kandung dan seorang pekerja keras, dan Dipo teman Bano yang berusaha untuk terus menjaga dan sangat mencintai Prapti.

Selain itu hadir juga Satrio Utomo (Romo) beserta istrinya Widadari (Bu Ndari/istri Romo). Sepasang suami istri yang menikah tanpa cinta dan memiliki konflik rumah tangga yang njlimet. R.M. Samudera (ayah Bu Ndari) seorang priyayi yang “menitipkan” dan menikahkan Ndari kepada Utomo. Babah dan Nyah Liong tempat di mana Mbok War bekerja dan Mamah Gede (ibu dari Babah Liong) yang sempat mengutarakan ramalannya akan kehidupan percintaan Prapti di masa yang akan datang.

Cinta dan keputusan yang keliru pelan-pelan terurai lewat ribuan diksi yang tak sedetik pun membuat kita liyer, mati gaya, terjebak kebingungan dan lost in translations. Mengapa? Karena Ika Patte menghadirkan kata dan kalimat yang mudah dipahami.

Gak nyastra tapi tetap asyik untuk dinikmati.

Rangkaian kisah Prapti yang diurai dalam 24 bab di buku Langgam Prapti ini pun berhasil menghadirkan cerita berjenjang dengan banyak tokoh yang kuat dan membuat saya tak bisa menghentikan jari untuk terus membalik setiap halaman tanpa henti.

Terkadang geram, gemas, dan ingin mengutuk. Bahkan jatuh pada kesedihan yang mendalam hingga pilu saat menggapai bab terakhir.

Sebuah gelang Naga Antaboga (gelang berbahan perak dengan dua berlian di kedua matanya) dan secarik kertas dengan tulisan tangan Romo – Untukmu yang terkasih. Gelang Naga Antaboga warisan leluhurku untukmu dan anakku – membuat Prapti jatuh pada kondisi psikis yang mengkhawatirkan.

Perasaanku setelah membaca buku Langgam Prapti

Perasaanku Setelah Membaca Langgam Prapti

“Menyelami sebagian perjalanan hidup Prapti menggiring belasan rasa yang berkecamuk di dada. Ika telah berhasil meramu rasa tersebut dengan ribuan diksi yang menggugah jiwa.”

Rangkaian kalimat di atas saya sematkan di sebuah lembar seukuran postcard yang Ika sertakan bersamaan dengan buku Langgam Prapti. Kedua kalimat tersebut saya tulis dengan hati-hati agar meski dalam ruang terbatas, keduanya bisa mewakili apa yang saya rasakan setelah membaca buku ini.

Yang pasti, sepanjang dilumuri oleh serangkaian ujian jiwa bagi Prapti muda, beberapa orang dewasa yang memberikan pengaruh dalam hidupnya, seperti Romo dan Bu Ndari, seharusnya menjadi mereka yang bertanggung jawab atas kehidupan Prapti di akhir cerita.

Tapi semua wes kadung. Pergulatan cinta sekali dalam sebuah kesempatan tak terduga, ternyata meninggalkan benih yang dititipkan oleh Yang Maha Kuasa.

Prapti yang perlahan “terjebak” pada cinta yang terus bertumbuh lewat pertemuan dan kesempatan, akhirnya terjerembab dalam dekapan seorang lelaki berkharisma kuat yang layaknya menjadi seorang ayah dan pelindung bagi hidupnya.

Tapi cinta tak pernah memilih siapa, usia mu berapa, kapan dan bagaimana terjadinya.

Hati saya mendadak kemerungsung. Gundah gulana sekaligus gemas dengan betapa “jahatnya” cinta yang lahir dari tresno nya seorang lelaki yang kesepian, diacuhkan oleh istrinya sendiri dengan seorang perawan muda belasan tahun yang terpasung pada kekaguman yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saya langsung membayangkan beragam rasa yang bergulat dan menggulung sebuah ramalan menjadi kenyataan sambil berkata “Tuh kan kejadian!!”

Greetings dari Ika Patte sang penulis buku Langgam Prapti

Banyak hal baik dan ilmu pengetahun baru yang saya dapatkan dari buku Langgam Prapti ini.

Ika Patte, ibu dari tiga orang anak-anak yang beranjak dewasa ini, menghadirkan beberapa lembar info tentang langgam yang dipelajari Prapti lengkap dengan artinya dalam bahasa Indonesia dan pemaknaannya dalam budaya Jawa. Jadi untuk pembaca yang tidak ber-bahasa Ibu dalam bahasa Jawa, tak perlu khawatir.

Saya yang sebelumnya tak begitu memahami langgam Jawa meski separuh darah saya mengalir dari suku ini, tentu saja seperti mendapatkan bonus ilmu yang begitu berharga. Langgam Jawa ternyata bukanlah sekedar nyanyian atau senandung. Tapi juga adalah falsafah hidup yang mengajarkan banyak kebaikan dan selipan budi pekerti yang ada di dalamnya.

Thanks a billion for sharing these Ika.

Last but not least, atas nama pribadi dan mewakili komunitas Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI), saya pun ingin menyapa dan menyemangati Ika agar terus menulis, berkarya, dan menjadi bagian penting dari dunia literasi tanah air, sekarang dan nanti. Terima kasih karena sudah menyapa dan menyebutkan PAPI di lembaran Ucapan Terima Kasih.

Tulisan Ika Bersama PAPI : Mencintai Budaya Lewat Buku Antologi Budaya Nusantara dalam Cerita, Cerita Indah dari Buku dan Selalu Terindah

Exit mobile version