Scroll untuk baca artikel
Lifestyle

Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki

209
×

Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki

Share this article
menyambangi-sarang-ilmu-di-perpustakaan-jakarta-taman-ismail-marzuki
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki

Hari itu, selesai subuh, saya sudah mempersiapkan diri untuk pergi ke Cikini. Bukan karena ada janji dengan orang lain tapi ingin menyambangi sarang ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki. Hati dan semangat saya berbunga-bunga karena akhirnya punya waktu dan kesempatan baik untuk datang ke tempat yang sudah lama saya impikan untuk dikunjungi

Setelah lama memendam niat untuk bisa berkunjung ke Perpustakaan Jakarta (Jakarta Public Library) yang ada di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, saya akhirnya memiliki waktu khusus untuk berada di tempat yang sarat destinasi wisata Jakarta ini. Suami kebetulan ada pelatihan di seputaran Gajah Mada, Jakarta Pusat di hari Sabtu. Dan karena pelatihannya membutuhkan waktu yang cukup lama (pagi hingga sore hari), kami akhirnya memutuskan untuk menginap di area Jakarta Pusat sembari mengajak si bungsu untuk liburan singkat sekaligus menjelajah Cikini dan sekitarnya.

Rampung mengantarkan suami ke tempat pelatihan, saya pun langsung berkendara ke arah Cikini. Tak sulit untuk dilakukan karena kedua area ini saya kenal dengan (sangat) baik dan hanya butuh sekitar 15 menit untuk merampungkan perjalanan. Tapi semenjak Taman Ismail Marzuki di revitalisasi pada 2019, saya belum sama sekali menengoknya kembali. Jadi kunjungan di kala itu menjadi kesempatan pertama saya untuk menikmati Taman Ismail Marzuki dan Perpustakaan Jakarta serta lingkungan yang berada di sekitarnya dengan kondisi baru.

Example 300x600

Sambutan yang Begitu Melegakan

Waktu menunjukkan pkl. 09:00 wib saat saya tiba di Jl. Cikini Raya dan melambatkan laju kendaraan. Sepagian Sabtu itu, di kawasan ini sudah tampak sibuk. Suara berisik bunyi sempritan tukang parkir terdengar disana-sini. Beberapa dari mereka menawarkan saya untuk parkir di pinggir jalan yang terlihat masih lowong. Tapi entah kenapa kondisi parkir seperti ini tuh selalu bikin saya ragu. Terutama untuk urusan keamanan.

Saya kemudian teringat pesan salah seorang teman agar saya tidak parkir di area itu karena dia pernah mengalami mobilnya penyok dan terbaret parah akibat sempitnya ruang gerak dan riwehnya kendaraan roda dua yang meliak-liuk di sepanjang jalan. Dan saat dia kembali ke parkiran, semua tukang parkir cuci tangan, belagak gak tahu. Padahal jelas-jelas alarm mobilnya pasti meraung-raung ketika ada sentuhan berat. Hanya saja saat peristiwa itu terjadi, dia tidak berada di dekat mobil. Jadi tak tahu persis bagaimana kejadiannya. Yah akhirnya dia cuma bisa pasrah. Minta pertanggung jawaban pada siapa coba. Ngilu hati saya saat dia menceritakan ini. Meskipun toh bisa diurus ke asuransi, kan tetap aja keluar dana untuk biaya administrasi.

Mengingat kejadian yang tak mengenakkan ini, akhirnya saya memutuskan untuk mengarahkan mobil ke gedung parkiran resmi milik Taman Ismail Marzuki, yang ternyata sangat luas dan lega. Dari parkiran ini saya kemudian mengikuti petunjuk arah dan melangkahkan kaki ke sisi depan keseluruhan bangunan. Saya kemudian bertemu dengan sebuah kolam kecil dimana di salah satu sudutnya berdiri patung salah seorang maestro musik Indonesia, Ismail Marzuki. Beliau tegak berdiri, gagah sembari memegang sebuah biola. Nama harum beliau jugalah yang akhirnya diabadikan untuk menjadi nama tempat yang sedang saya sambangi ini.

Saya kemudian melangkah menapaki tangga menuju ke lantai dua. Di sini terdapat sebuah mini market dan dua coffee shop dengan area duduk yang cukup luas. Saya istirahat sebentar di sini sembari menikmati secangkir Americano Coffee dingin. Duh menyenangkan banget deh. Selain menenangkan fisik yang capek nyetir beberapa waktu dari Cikarang, menembus macet, saya akhirnya bisa mencuri waktu untuk istirahat sebentar sembari ngopi. Bonusnya lagi, dari satu ketinggian, dimana cofffee shop ini berada, saya bisa menebar pandangan ke sebagian besar bangunan fisik Taman Ismail Marzuki. Memandangi kesibukan manusia di pelataran jalan, serta beberapa bangunan yang ada persis di depan Taman Ismail Marzuki.

Saya mengalihkan pandangan.

Sembari duduk saya memperhatikan barisan publik yang menaiki escalator menuju lantai tiga. Persis di samping escalator ini terpampang jelas petunjuk yang bertuliskan Perpustakaan Jakarta (Jakarta Public Library). Saya pun bersegera mengikuti langkah-langkah mereka.

Saya cukup kaget saat melihat antrian pengunjung yang begitu mengular. Waahh ternyata padat dan membludak juga ya.

Saya sejatinya sudah melakukan pendaftaran on-line sekaligus mengisi formulir sebagai anggota Perpustakaan Jakarta. Tapi entah mengapa bukti pendaftarannya tidak dapat terlacak. Walhasil, saya harus menunggu dan meminta bantuan petugas untuk melakukan registrasi ulang. Alhamdulillah, meski harus dari awal, prosesnya dimudahkan dan selesai tak lebih dari lima menit. Petugas yang ramah dan cekatan sungguh sangat membantu dan memberikan kenyamanan.

Usai pendaftaran ini, saya diberikan sebuah kunci loker dan tote bag transparan (berbahan dasar plastik) yang cukup besar. Deretan lokernya berada persis di depan meja kerja para penerima tamu tadi. Seorang petugas mengarahkan bahwa barang-barang yang bisa dibawa ke dalam perpustakaan adalah peralatan elektronik dan perlengkapannya, alat tulis menulis, dompet, handphone, kamera, dan botol air yang bisa diisi ulang di dalam ruang baca.

Sebelum melanjutkan langkah dengan menaiki escalator sekali lagi, saya melihat sebuah prasasti kecil peremian Perpustakaan Jakarta yang ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan. Prasasti yang tertempel di dinding ini terukir cantik meski tidak begitu besar. Tertera juga tanggal 7 Juli 2022 yang menandai tanggal diresmikannya penggunaan tempat ini sebagai sarana publik.

Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Tangga di lantai 2 yang akan membawa kita ke Perpustakaan Jakarta yang berada di atasnya
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Barisan rak buku dengan tulisan petunjuk yang sangat informatif

Menyusur Bagian Dalam Perpustakaan Jakarta

Usai melewati escalator dengan jalur naik turun yang terpisah, kemegahan dan keindahan fasilitas Perpustakaan Jakarta ini langsung dapat saya nikmati. Saya memutuskan untuk berhenti sebentar di dekat escalator sembari menebarkan pandangan ke segala arah. Kekaguman yang dulu hanya dapat saya nikmati lewat media sosial, sekarang terpampang dengan indahnya di depan mata. Saya langsung terjebak dalam kekaguman yang tak dapat saya sembunyikan.

Selain counter pelayanan publik dengan meja panjang dan deretan PC di sebuah sudut, gedung dengan sebagian besar dinding terbuat dari kaca ini, tampak berdiri dengan konsep industrial yang sederhana dan ceiling simpel yang sangat tinggi. Warna kayu pupus dan abu-abu pun mendominasi setiap sudut. Sejumlah meja panjang dengan lampu meja yang menghadap ke dinding kaca, penuh terisi oleh banyak pengunjung.

Suasana hening layaknya perpustakaan pun menyambut dan menyelimuti ruangan.

Beberapa langkah dari tempat saya berdiri, terdapat tangga yang mengantarkan kita ke ruang baca yang sangat besar dan lapang. Sementara seiring dengan setiap tapak tangga, tersedia juga beberapa area baca dengan beberapa rak buku dan ruang estetik untuk sekelompok kecil tamu yang ingin berdiskusi. Di sini ruang bacanya diatur dalam kondisi duduk dan tidak diperkenankan menggunakan alas kaki. Ada juga meja serta kursi dengan lingkup privacy yang terjaga.

Saya menebar pandangan sekali lagi. Tak ada satupun dari tempat yang sudah saya lewati dalam kondisi kosong. Semua penuh sesak.

Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki

Saya kemudian memutuskan untuk terus naik hingga bertemu berbagai deretan rak buku setinggi sekitar 1.5-2m dan meja-meja untuk membaca atau bekerja. Di sisi luar rak ini tertulis penomeran yang mengelompokkan jenis bacaan dan kualifikasi yang tertulis dalam bahasa Indonesia lalu terjemahannya dalam bahasa Inggris ditulis italic. Aturan yang persis sama saat kita mengacu kepada estetika dan persyaratan EYD (Ejaan yang Disempurnakan) dalam Bahasa Indonesia. Huruf-hurufnya dibuat dalam cat putih, tegas, dan tebal. Jadi jika pun ruangan ini mendadak gelap karena listrik mati atau langit berubah pekat, kita masih bisa dengan jelas membaca tulisan tersebut.

Di beberapa rak, yang saya yakin adalah koleksi terbaru atau yang sering dicari, di ujungnya terdapat bohlam/lampu yang terbungkus kotak dengan empat sisi dove. Kondisi yang menghadirkan sinar yang adem dan tidak menyilaukan. Cantiknya.

Saya melangkah pelan. Menikmati setiap jengkal waktu menjelajah dengan melibatkan hati yang begitu terhanyutkan.

Saat ini dan dalam beberapa jam kedepan saya akan berada di satu tempat yang telah menjadi “pendamping” dari sebagian besar waktu di hidup saya. Betapa puluhan tahun berjalan, sejak bisa membaca di usia 5 (lima) tahun, buku dan perpustakaan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam setiap langkah pendidikan yang saya tempuh. Saya bahkan ingat bahwa saat masih di sekolah dasar, alm Ayah seringkali mengajak saya ke banyak perpustakaan. Cikal bakal dimana akhirnya saya mencintai buku dan dunia membaca.

Menyusur banyak deretan buku yang sudah diberikan tanda atau tulisan pengenal, saya kemudian menandai bahwa setiap buku, tersedia dalam 2-3 eksemplar. Aturan standard yang juga biasanya berlaku untuk di dalam perpustakaan. Semua tersusun dan berbaris dengan (sangat) rapi.

Saya sekali lagi celingak-celinguk mencari meja kosong. Setelah sekian menit, mata saya akhirnya terpaku pada sebuah meja panjang dengan lampu belajar dan menyisakan sebuah bangku. Persis di dekat tempat saya berdiri. Saya melangkah cepat. Setidaknya sebelum “dikuasai” oleh orang lain saya bisa menaruh penanda lebih dahulu sebelum menyusur rak buku. Di meja yang panjang dan bisa menampung sekitar 8 (delapan) orang ini sudah ada 7 (tujuh) orang yang tampak khusyuk bekerja di laptop.

Setelah aman menaruh penanda bahwa tempat yang bersangkutan sudah ada “yang punya” saya menyusur beberapa rak buku yang ada di dekat meja. Qodarulah, kok ya pas dengan apa yang ingin saya baca. Di rak ini berjejer banyak buku ensiklopedia baik dalam dan luar negeri. Salah satu jenis/genre buku yang begitu saya sukai. Setelah sempat bingung mau baca yang mana dulu, saya akhirnya memilih ensiklopedia tentang DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Saya pun kemudian dengan rasa bahagia melahap kedua buku ini dalam waktu sekitar 2 (dua) jam kedepan.

Ada beberapa hal yang kemudian membuat saya menghentikan kegiatan membaca dan beranjak : janji temu dengan seorang teman di sebuah resto yang tak jauh dari perpustakaan untuk maksi bareng, rasa haus yang tak tertahankan karena saya tidak membawa botol minum sendiri, tak kuat duduk di atas bangku kayu karena masalah tulang duduk (yang kondisinya tidak kondusif untuk berlama-lama tanpa jok empuk), dan ingin menyusur lebih jauh isi dalam perpustakaan.

Saya pun menuntaskan nawaitu terakhir terlebih dahulu, pipis di toilet yang disediakan di tiap lantai, dan berhenti kembali di salah satu coffee shop tadi untuk menuntaskan rasa dahaga.

Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki

Sarang Ilmu yang Merabuk Jiwa

Sembari minum air dingin bergelas-gelas di coffee shop yang ada di lantai 2 (dua) tadi, saya menyempatkan diri menikmati kenangan menjelajah Perpustakaan Jakarta barusan. Kesan akan ruangan yang lapang dengan langit-langit jangkung, sudah memberikan ruang bagi pengunjung untuk tidak merasa gerah. Pencahayaan pun sangat cukup. Selain dari dinding yang dikelilingi kaca yang memungkinkan kita menikmati cahaya natural matahari, pihak perpustakaan juga menyediakan lampu-lampu meja yang lebih dari cukup untuk menikmati kegiatan membaca dengan nyaman.

Warna ruangan juga dihadirkan sederhana. Cahaya lampu yang bersahabat dengan mata, rak-rak buku dengan bentuk dan warna sederhana yang tidak mengalihkan konsentrasi dan meja serta kursi yang cukup lapang. Di dalam ruangan juga disediakan bergalon-galon air putih, layanan media, konsultasi, toilet, alat digital yang bisa kita akses untuk mencari buku, serta petugas-petugas kebersihan yang sigap untuk bekerja dalam hening. Di depan beberapa rak yang tinggi, disediakan juga undak-undakan yang dapat digeser. Plus juga sistem penomeran rak sebagai petunjuk saat kita hendak mengambil buku setelah mengikuti mesin pencari.

Secara estetika, rancang dalam ruang perpustakaan ini lebih dari cukup. Efek leganya sangat terasa dengan keheningan yang mumpuni meski pengunjung berlimpah.

Saya merasakan euforia yang luar biasa saat melihat sekian banyak orang terpekur dalam buku yang mereka pegang. Menyadari bahwa Indonesia menempati peringkat ke-70 dari 80 negara dengan skor literasi membaca 359, pemandangan yang ada di depan mata saya tadi sungguh menjadi pengalaman yang indah tak terperi. Dari beberapa referensi singkat yang sempat saya baca, Indonesia masih kalah dengan negara Asia Tenggara lain yakin Thailand di posisi 63 dengan skor 379 dan Malaysia di posisi 60 dengan skor 388, serta Brunei Darussalam di posisi 44 dengan skor 429. Minat baca masyarakat Indonesia ketahui tergolong rendah. Berdasarkan data dari UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001% atau 1 dari 1.000 orang yang gemar membaca (26 Februari 2024). Kenyataan yang sungguh sangat menyedihkan.

Sembari melegakan tenggorokan dengan segelas besar teh dingin, saya membaca bahwa di gedung yang saya kunjungi ini, selain Perpustakaan Jakarta juga ada Pusat Dokumen Sastra Hans Bague Jassin – atau yang dikenal dengan nama HB Jassin – di lantai 4 dan berada di bagian belakang bangunan. Kemudian ada Galeri Emiria Soenassa dan Galeri Sindoedarsono Soedjojono di lantai 1-2 yang ada di sisi belakang perpustakaan. Saya sempat melihat petunjuk/informasi tentang tempat tersebut hanya saja saat itu aksesnya tidak dibuka. Jadi sesungguhnya bangunan baru di sisi paling kanan dari kompleks Taman Ismail Marzuki ini adalah gabungan dari dua bangunan lama yaitu Gedung Perpustakaan Cikini dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin yang berada di lahan lama yang sudah ada sejak tahun 2013-an.

Dari berita terbaru yang saya baca lewat media on-line, selain Perpustakaan Jakarta, Pusat Dokumen Sastra HB Jassin dan Galeri Emiria Soenassa yang berada di satu bangunan, juga tetap berdiri Jakarta Planetarium, gedung pameran seni dan pertunjukkan budaya, juga ada gedung dengan arsitektur modern (Gedung Panjang). Dulu, seingat saya, saat terakhir ke Taman Ismail Marzuki, ada juga bioskop dan sederetan pedagang makanan pondokan. Lalu di sini juga lah berdiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sekolah seni bergengsi dengan berbagai penjurusan keilmuan seni seperti Seni Rupa & Desain, Film & Televisi, Pertunjukkan, bahkan hingga sampai Pasca Sarjana.

Saya melangkah turun dan menemukan banyak sekali penjual makanan dan minuman gerobakan dalam berbagai rupa di pelataran depan gedung. Semuanya sangat menggoda dan tampak menyelerakan. Duh kalau tak ingat sudah punya janji dengan teman untuk maksi di salah satu resto di Jl. Cikini Raya ini, saya pasti nongkrong dulu di sini.

Saya melangkah pelan sembari berjanji pada diri sendiri. Di kunjungan berikut saya akan ingat membaca botol minum dan laptop untuk melahirkan banyak tulisan. Saya bahkan sudah menandai sebuah pojokan di lantai 2 (dua) yang cukup jauh dari pandangan umum. Tempat yang terlihat sangat asik dan appropriate untuk melahirkan karya literasi tanpa gangguan apapun.

Oia untuk teman-teman yang ingin ke Perpustakaan Jakarta, bisa melakukan pendaftaran dan registrasi kedatangan lewat tautan perpustakaan.jakarta.go.id. Perpustakaan ini buka dari Senin – Sabtu dengan waktu buka pkl. 09:00-17:00 wib (Senin – Kamis), pkl. 09:00-20:00 wib (Jumat – Minggu). Khusus untuk Jumat jam istirahat lebih panjang (11:30-13:00 wib). Dan tutup pada hari besar atau cuti bersama.

Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Pelataran depan Taman Ismail Marzuki dan bangunan yang ada persis di depannya
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Kubah planetarium yang terlihat dari lantai 2 Perpustakaan Jakarta. Dua gedung yang menjulang itu adalah Menteng Park Apartments, tempat saya menginap
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Beberapa ruang membaca yang berada di samping tangga menuju ke lantai 3
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Deretan rak buku dengan ruang baca yang nyaman
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Saya duduk di pijakan-pijakan awal tangga di lantai 2
Menyambangi Sarang Ilmu di Perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki
Saya dan suami di depan gedung Perpustakaan Jakarta pada malam hari. Di dekat kami berdiri, bertumpuk para pedagang makanan dan minuman gerobakan