Scroll untuk baca artikel
Berita

Menkes Ngaku Terima Aduan Banyak RS Paripurna Gagal Gaji Nakes-Dokter

webmaster
4
×

Menkes Ngaku Terima Aduan Banyak RS Paripurna Gagal Gaji Nakes-Dokter

Share this article
menkes-ngaku-terima-aduan-banyak-rs-paripurna-gagal-gaji-nakes-dokter
Menkes Ngaku Terima Aduan Banyak RS Paripurna Gagal Gaji Nakes-Dokter

Jakarta, CNN Indonesia

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengaku pihaknya banyak menerima aduan rumah sakit paripurna mengalami kegagalan membayar gaji dokter hingga tenaga kesehatan (nakes) lainnya.

Example 300x600

Hal itu disampaikan Budi dalam rapat bersama Komisi IX DPR di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (19/6).

Kasus itu, kata Budi, kini mulai menggambarkan akreditasi belum sepenuhnya menggambarkan kondisi rumah sakit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kita lihat keluhan yang SDM-nya tidak dibayar. Misalnya dokter-dokternya tidak dibayar, jaspelnya ditunda, itu terjadi juga di rumah sakit-rumah sakit paripurna,” kata Budi.

RS paripurna adalah predikat atau status akreditasi tertinggi atau paling bagus dari badan pemerintah terkait pelayanan hingga perlengkapan dan peralatan fasilitas kesehatan tersebut.

Predikat itu diberikan karena RS dinilai memenuhi seluruh standar mutu pelayanan dan keselamatan pasien secara menyeluruh.

Namun, kata Budi, selama ini predikat paripurna tak pernah mengukur manajemen rumah sakit terutama terkait kesejahteraan SDM. Pasalnya, sambung dia, kesejahteraan SDM tak masuk dalam indikator penilaian.

“Ya jadi sebelumnya pengaduan ini tidak pernah dihubungkan dengan akreditasi,” kata Budi.

Ke depan, Budi mengaku pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap sistem penilaian tersebut. Dia bilang, sistem penilaian RS ke depan tidak hanya akan berbasis pada standar yang sudah ditetapkan, melainkan juga kepuasan masyarakat atau pasien, maupun kepuasan sumber daya manusia (SDM).

“Kita mau menghubungkan antara pengalaman dokter dan perawat di dalam rumah sakit kalau mereka tidak terlayani dengan baik ke dalam proses akreditasi rumah sakit,” ujar Budi.

Bahkan, dia mengaku ingin sistem penilaian tersebut juga berbasis pada kepuasan pasien. Nantinya, kata Budi, pasien bisa memberikan kepuasan dalam bentuk emotikon seperti di bandara Changi, Singapura.

“Ibu misalnya ke Changi tuh, atau naik pesawat atau berpasan, Bapak, Ibu kan disuruh pijit-pijit begitu ke WC di Changi, Bapak, Ibu keluar kan ingat tuh apa mukanya ada lima, mukanya cemberut atau muka senyum,” kata dia.

“Nah, kita nanti akan dorong tuh supaya pasien memilih secara gampang seperti itu, dan itu akan menjadi dasar untuk penilaian akreditas,” sambung Budi.

(thr/kid)