
Menjelajah Keindahan Hijau di Jantung Kebun Raya Purwodadi | Travel & Featured | September 2026
Kunjungan saya ke kebun raya tuh bisa dihitung pakai jari. Jarang banget. Sangat jarang tepatnya. Tapi, saat turun dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan sarapan di salah satu resort yang ada di sana, Mas Rifqy yang menemani perjalanan kami, mengusulkan saya untuk mampir ke Kebun Raya Purwodadi sebelum masuk/kembali ke kota Malang
Tak perlu waktu lama bagi saya untuk menyetujui ide ini. Setelah seminggu sebelumnya saya sempat gagal bertamu ke Kebun Raya Bogor bersama Lala (teman blogger) dan si bungsu, semesta sepertinya mewujudkan impian tersebut tapi di lokasi yang berbeda dan yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah.
Kesempatan langka yang rasanya akan sulit bagi saya untuk mengunjungi kembali Purwodadi di masa mendatang. Selain karena memang tidak ada seorang pun saudara yang tinggal di sini, Purwodadi bukanlah sebuah kecamatan yang kaya akan destinasi wisata dan membuat pejalan menginap berlama-lama.
Jujurly, saya tak memasukkan Kebun Raya Purwodadi di barisan tempat yang akan dikunjungi selama liburan di Pasuruan (dalam rangka pernikahan keponakan) dan Malang demi membangkitkan memori di saat SMA. Tapi ide brilian Mas Rifqy benar-benar menghibur hati dan memompa semangat sepagian itu.
Niat untuk tidur yang tadinya sempat melintas di kepala dan kelopak mata yang minta dipejamkan, mendadak centang merentang. Ngantuknya mendadak lenyap entah kemana. Setelah hanya menikmati tidur sekitar hanya 2-3 jam di hari sebelumnya, bangun karena harus beranjak dari hotel pukul 01.00 WIB dini hari demi menikmati sunrise di Bromo, semangat saya untuk menjelajah keindahan hijau di jantung Kebun Raya Purwodadi melonjak-lonjak di dalam pikiran.
Senengnya bukan kepalang.
Norak banget yak. Biarin dah.
Secara ya. Pemandangan hijau apalagi seluas kebun raya tuh sulit banget ditemukan di lingkungan di mana saya tinggal. Dulu iya. Saat saya memutuskan tinggal di Lippo Cikarang di awal 2000, kawasan ini hijau berlimpah ruah. Konsep yang begitu cocok dengan nama perumahan saya, Taman Lembah Hijau. Tapi sekitar 2-3 tahun belakangan ini, pengembang kompleks perumahan saya lebih memilih membangun “hutan beton” ketimbang memberikan dan atau menambah taman serta meluaskan lahan hijau sebagai paru-paru udara untuk penghuninya.


Disambut oleh Kegembiraan dan Langit yang Cerah
Rintik hujan menyertai perjalanan saya menuju Kecamatan Purwodadi di mana Kebun Raya Purwodadi berada. Saya langsung melambungkan doa, memohon agar hadirnya hujan bisa berhenti seketika. Karena kalau tidak, eksplorasi ke destinasi wisata alam yang mulai beroperasi dan dibuka untuk umum di 1963 ini, bakal gagal total.
Semesta mengabulkan. Langit mendadak cerah dengan warna biru serta awan putih yang perlahan tampil. Netra saya kembali benderang dengan hati yang sungguh riang.
Persis beberapa ratus meter mencapai gerbang kebun raya yang terlihat gagah dari kejauhan, hujan itu pun mendadak berhenti. Saya langsung berpikir. Bisa jadi ini terjadi karena pengaturan-Nya yang luar biasa. Menghadirkan udara yang lebih segar di saat yang tepat supaya penelusuran saya di setiap jejak kebun raya tidak terlalu gerah.

Saat mencapai gerbang depan yang menjulang dan tampak seperti pintu masuk sebuah lingkungan yang megah, seorang petugas keamanan menyapa dengan ramah. Senyumnya mengembang dan mengarahkan Mas Rifqy ke area parkir di sisi kiri pintu masuk. Karena letak area parkir ini cukup jauh dengan kontur tanah yang menurun seperti sebuah lembah pegunungan, saya memutuskan untuk turun saat itu juga. Lumayan juga soalnya kalau harus berjalan mendaki dari area parkir.
Sejenak melangkahkan kaki keluar dari mobil dan membayar HTM Rp15.500,00/orang, sebuah gerbang kedua pun terlihat gagah. Bentuknya seperti yang biasa kita temukan di kompleks candi atau lingkungan tempat beribadah umat Hindu.
Tiket masuk ini sebenarnya bisa kita beli secara on-line lewat sebuah tautan resmi (website) Kebun Raya Purwodadi. Lewat tautan ini juga, kita bisa membeli tiket untuk tiga kebun raya lainnya yang ada di Indonesia. Diantaranya adalah Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Bali, dan Kebun Raya Cibodas. Tapi pelayanan penjualan tiket langsung juga bisa kita lakukan. Bisa tunai, Bisa juga secara digital.
Lewat tautan ini jugalah saya mencatat bahwa pihak Kebun Raya Purwodadi memberlakukan harga tiket yang sama antara WNI dan WNA. Setiap hari kerja Rp15.500,00/orang. Sementara untuk akhir pekan harganya menjadi Rp25.500,00/orang dan tiket sepeda motor Rp5.000,00/unit. Jadi sepertinya kita bisa bawa sepeda motor sendiri untuk menyusur seluruh fasilitas yang ada di kebun raya ini.


Tak jauh dari pintu masuk yang kedua itu, saya menemukan Gedung Informasi dan Perkebunrayaan di sisi kiri jalan. Di halaman depan gedung ini ada Kafe Kebun yang sedang tidak beroperasi karena hari kerja. Tapi beberapa meja kayu berangka besi dan kursi dengan rancangan yang sama dan berada persis di depan counter pelayanan, terlihat siap dan diijinkan untuk dipakai.
Saya membelokkan langkah menuju Gedung Informasi. Tapi langkah saya terhenti saat melihat barisan alat transportasi berjejer rapi di halaman depan. Ada sepeda gunung/mountain bike, shuttle bus untuk rombongan besar, motor listrik, golf car (dudukan empat dan dudukan enam), sepeda keranjang (dengan unit terbanyak), sepeda tandem, ATV, scooter, dan mobil-mobilan batere untuk anak-anak.
Perhatian saya langsung teralihkan.
Setelah melewati antrian yang cukup panjang dan berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk menyewa motor listrik senilai Rp35.000,00/30-45menit dan sebuah sepeda gunung senilai Rp20.000,-/jam untuk suami. Niatnya sih pengen nyewa golf car supaya bisa berkendara berdua dengan suami dan tidak kepanasan. Tapi ternyata batere mobil lucu ini sedang tidak siap. Harus menunggu sekitar 30 menit untuk mengisi daya.
Ya sudah. Mari kembali ke rencana semula. Sewa motor listrik dan sepeda gunung saja.
Saya sempat kagok saat mencoba motor listrik itu. Sudah lama tidak mengendarai motor. Doyong ke kanan, ke kiri, dan kagetan saat harus ngerem. Tapi saat memikirkan bahwa mengendarai motor adalah opsi terbaik untuk menggapai beberapa sisi lahan kebun raya, saya langsung semangat. Gempor lah kalau harus jalan kaki.
Selain penyewaan alat transportasi, di area ini juga ada cafe kecil, toko cendera mata di dalam gedung informasi, dan toilet.



Yuk lah. Mari kita menyusur kompleks Kebun Raya Purwodadi ini.
Berdiri di atas lahan seluas 85 hektar, langkah pertama yang saya lakukan adalah menyusur jalan/jalur utama kebun raya dari ujung depan hingga ke paling belakang. Selama berkendara di tengah kehebohan pengunjung lain yang sebagian besar menggunakan sepeda keranjang, saya merasakan suasana hijau yang terawat dengan apik. Saya juga mendengar suara riuh rendah serta senda gurau riang yang menghidupkan suasana.
Barisan pohon jangkung yang tertata begitu rapi terlihat berdiri kokoh dengan batang yang kuat dan cengkraman akar yang menyundul keluar. Sebuah pertanda bahwa usia sang pohon sudah belasan bahkan mungkin puluhan tahun.
Jalur yang saya lewati teraspal dengan baik. Tidak ada lubang yang mengganggu kenyamanan berkendara. Sepanjang jalan disediakan beberapa bangku beton dan kayu di beberapa titik untuk pengunjung beristirahat atau memutuskan untuk rehat sementara sembari puas memandangi setiap pohon sebelum berpindah tempat.
Meski sempat oleng beberapa kali karena rem sepeda motor yang pakem betul dan stang gas yang terlalu sensitif, saya akhirnya mencapai Taman Bougenville dengan selamat. Sebuah taman kecil dengan bunga bougenville berwarna-warni yang dilengkapi oleh pondokan semen (gazebo) di bagian tengah. Saya tak lama di sini. Meskipun dipenuhi oleh bunga yang tampak tumbuh subur, taman ini terlihat sepi pengunjung, dan dedaunan yang dibiarkan jatuh dan tidak tersapu. Keindahannya juga mulai memudar dimakan waktu karena ada beberapa bagian bangunan sudah tak lagi sempurna.
Tak lama saya memutuskan untuk menjelajah ke sisi yang lain. Melewati berbagai jalur jalan turun naik, sedikit berliku, dengan pohon tinggi menjulang dan batang yang langsing, saya menemukan beberapa baris jalan lurus yang tampak begitu cantik serta menantang untuk dilalui. Komposisi keelokan jejeran pohonnya begitu rapi. Tersusun dengan jarak yang tertata dan persis sama dengan tinggi pohon yang seragam, saya yakin beberapa titik seperti ini lebih dari cocok untuk rangkaian keindahan photography. Apalagi jika cuaca mendukung dan proses kreatifnya ditangani oleh para professional di bidangnya. Wah, pasti luar biasa hasil akhirnya yah.
Di tengah deretan kekaguman tersebut, saya menyempatkan diri duduk. Rehat sebentar, sembari mengamati dan memuaskan mata dengan pemandangan hutan lebat yang jarang bisa saya nikmati. Satu kegiatan berharga yang belum pernah saya alami sebelumnya.

Saya mengajak motor listrik yang saya kendarai untuk kembali menjelajah. Kali ini saya menemukan satu lagi spot foto yang mengundang saya untuk berfoto. Sebuah area lapang yang dipadati oleh ribuan daun yang berguguran. Ide membuat video melemparkan daun pun mampir di benak. Gak semudah itu ternyata karena sang videographer (baca: suami) harus berulang kali merekam dengan posisi dan titik mulai yang saya inginkan. Tapi akhirnya berhasil juga kok.
Dari sini saya melanjutkan perjalanan. Saya kembali bertemu sederetan pohon yang berdiri rapi di sebuah jalan kecil yang terlihat baru saja dilapisi aspal kembali. Karena di tempat ini masih sepi, saya meminta suami merekam kedatangan saya sedang mengendarai motor listrik dari arah yang berbeda dengan titik saat dia berdiri/merekam. Lagi-lagi rekaman videonya sungguh sesuai dengan apa yang saya harapkan.

Saat berhenti di titik yang ketiga, saya memutuskan untuk duduk lebih lama sembari membuka tautan resmi Kebun Raya Purwodadi – www.kebunraya.id yang juga menghadirkan Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cipanas, dan Kebun Raya Bali. Tiga kebun raya besar di nusantara yang berada di bawah manajemen pemerintah/negara. Saya pun menilik akun resmi Instagram @kebunraya_purwodadi untuk mendapatkan beberapa info pendukung.
Dari kedua tautan on-line ini saya disirami oleh beragam informasi yang sangat mengagumkan. Tanaman yang bertumbuh di Kebun Raya Purwodadi ini disusun tematik dan didominasi oleh tanaman buah, dan berbagai jenis tanaman obat. Selain tentu saja berbagai tanaman khas kawasan tropis seperti palem, bambu, paku, dll.
Lewat sebuah catatan sejarah, saya mencatat bahwa tanah luas yang dikonsep sebagai kebun raya ini pertama kali berdiri pada 30 Januari 1941 di bawah pimpinan Dr. Laurens Gerhard Marinos. Kemudian sempat diambil alih oleh penjajah Jepang pada 1943. Pada periode 1945-1949, tempat ini sempat dipimpin oleh orang Indonesia bernama Moestopo kemudian dilanjutkan oleh seorang Belanda bernama H.O van Leusen di masa 1949-1954. Hingga akhirnya kembali diambil alih oleh negara, di bawah pengawasan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Lewat penelusuran di beberapa titik dan peta lokasi yang tersedia di area depan Kebun Raya Purwodadi, saya menandai beberapa fasilitas seperti Rumah Kaca dan Menara Pandang, Taman Meksiko, Taman Buah Lokal, Taman Labirin, Taman Bougenville, Taman Evolusi, Taman Akuatik, dan Taman Obat. Tempat ini juga memiliki koleksi tanaman bambu, tanaman anggrek, palem, dengan beberapa spot foto yang jadi destinasi fotografi seperti Lawn Majapahit, Lawn Bungur, Taman Mexico, Jalan Jenglot yang penuh dengan bebatuan dan Jalan Randu – jalur utama yang di awal tadi sudah saya lewati.
Dari Instagram juga saya menandai banyak sekali kegiatan off-line yang diselenggarakan oleh Kebun Raya Purwodadi. Seperti misalnya yoga, kelas pelatihan ketrampilan seperti membuat Terrarium (kaktus dan sekulen), journaling, berkebun, dan berbagai aktivitas yang melibatkan partisipasi publik. Semua menyempurnakan niat pengunjung untuk menjelajah keindahan hijau di jantung Kebun Raya Purwodadi.
Saat saya menghabiskan waktu berkeliling, saya melihat kebahagiaan beberapa keluarga yang asyik piknik dengan menggunakan beberapa fasilitas yang disediakan oleh Kebun Raya Purwodadi. Ide bagus menurut saya sih. Peralatan sudah disediakan tinggal kita mengatur konsumsi yang ingin kita nikmati saat berpiknik.
Saya bahkan sempat membayangkan menikmati piknik dengan membaca. Atau doing nothing sembari tidur-tiduran (bahkan mungkin tidur beneran) sembari menikmati musik. Memberikan waktu bagi pikiran dan fisik untuk beristirahat total setelah sekian waktu didera oleh date line atau pekerjaan. Biar semakin asyik bisa juga kali ya bawa minuman dingin, makanan ringan, bahkan makanan berat sekalipun. Salah satu surga yang bisa kita nikmati di dunia.
Kapan yok berpiknik bareng saya di kebun raya atau beberapa opsi taman yang ramah publik di beberapa sisi Jakarta.










