Lifestyle

Menikmati Warisan Kelezatan Chinese Food di Eastern Chinese Dining House Bandung

70
menikmati-warisan-kelezatan-chinese-food-di-eastern-chinese-dining-house-bandung
Menikmati Warisan Kelezatan Chinese Food di Eastern Chinese Dining House Bandung
Salah satu dine-in area yang ada di Eastern Chinese Dining House Bandung
Saya dan suami berfoto, mengukir kenangan, di tangga pintu masuk Eastern Chinese Dining House

Entah sudah berapa kali saya makan di Eastern Chinese Dining House ini. Mencoba berbagai menu yang berbeda di setiap kedatangan, membuat saya semakin lekat dengan rasa dan warisan kelezatan chinese food yang sudah berakulturasi dengan lidah orang Indonesia

Menikmati warisan kelezatan chinese food di Eastern Chinese Dining House tuh beneran bikin saya dan dan keluarga nagih. Bahkan sudah seperti agenda tetap setiap pulang ke Cimahi. Kebetulan rumah keluarga di Cimahi (Bukit Permata Cimahi) tak jauh dari Kota Baru Parahyangan (KBP) di mana Eastern Chinese Dining House berada. Kalau dihitung sih hanya sekitar 10-15 menit berkendara (naik mobil) atau sekitar 5-6 km saja.

Jadi jika tak ada niat atau rencana main ke Bandung kota, saya biasanya mengajak suami untuk mengunjungi Kota Baru Parahyangan aja. Kompleks perumahan mandiri ini, menurut saya, fasilitasnya sudah lengkap banget. Segala adalah pokoknya. Fasos (fasilitas sosial) dan fasus (fasilitas umum) tersedia dengan baik dan bisa digunakan oleh publik kebanyakan.

Bahkan saya dan suami mengukir niat membeli rumah di sini untuk investasi saat dananya sudah cukup. Semoga.

Selain berderet restaurant yang sudah punya nama dan dikenal publik seperti Eastern Chinese Dining House ini, Kota Baru Parahyangan juga memiliki IKEA dan department store Yogya Junction yang letaknya persis bersebelahan. Dua jenama tempat belanja yang sering kami kunjungi saat berada di Bandung.

Beberapa sudut tempat makan yang tersedia di Eastern Chinese Dining House

Tempat yang Adem dan Nyaman

Saat pertama kali sowan ke restoran ini, saya melihat signage jenama yang dipasang tinggi banget agar mudah terlihat dari kejauhan. Berada di deretan ruko yang berjejer padat, memang tidak mudah untuk mencari tempat ini kecuali, tentu saja, dengan menggunakan petunjuk arah digital.

Fasad depan resto ini tuh didominasi oleh sederetan tanaman tinggi sehingga bagian teras bisa tertutup sempurna. Untuk mencapai bagian depan resto, pengunjung harus melangkah melewati tangga dan selasar yang lantainya terbentuk dari banyak keramik yang dipecah-pecah lalu disusun secantik mungkin.

Efek baiknya dengan menyuburkan tanaman di teras depan ini adalah soal kenyamanan karena area penerimaan tamu menjadi sejuk dan rindang. Tapi efek lainnya adalah keindahan resto tidak terlihat dari arah kedatangan. Seperti permata yang bersembunyi di semak-semak. Publik hanya bisa menandai bahwa mereka sudah tiba di tempat yang dituju hanya lewat signage yang menjulang tadi.

On a second thought saya jadi sempat berpikir, mungkin tanaman tinggi ini sengaja disuburkan untuk menjaga privacy tamu dan menghalau debu. Karena selain jalan masuk, di bagian depan ini juga ada beberapa meja makan yang langsung terhubung dengan dapur setengah terbuka.

Saya dan keluarga biasanya terniat banget kalau ingin makan di Eastern Chinese Dining House ini. Biasanya sih di waktu makan siang. Supaya bisa makan maksimal di sini, saya biasanya mengatur lambung dalam keadaan lapar maksimal. Sarapan sengaja dimajukan dan tidak ngemil apapun di antara waktu makan pagi ke makan siang.

Pokoknya TERNIAT.

Sisi kiri depan (kiri foto) dari jendela kayu itu saya bisa mengintip kegiatan petugas menyiapkan pesanan dimsum | Pintu masuk (kanan foto) Eastern Chinese Dining House

Balik ngomongin soal tempatnya.

Saat tiba di waiting lounge, kita akan disambut oleh seorang petugas berseragam. Tiba di saat jam belum sibuk kami langsung diarahkan ke dalam sembari memastikan jumlah orangnya. Sangat mudah untuk menemukan meja ukuran sedang dengan empat kursi karena semua fasilitas duduk dan meja makan diatur sedemikian rupa.

Persis di depan pintu masuk tadi kita akan disambut dengan meja serta area receptionist yang berfungsi juga sebagai kasir dan penjualan beberapa produk milik resto ini. Seperti chilli oil yang enak betul. Takaran berbagai rasanya seperti pedas, manis, dan asin, pas juga komposisinya. Setiap si bungsu ikutan makan di sini, dia selalu membeli chilli oil ini untuk dinikmati di kost. Setidaknya beli dua toples.

Saya mendadak ingat pernah menikmati dan membawa oleh-oleh chilli oil sehabis “ngamen” di Nanning China. Saat itu sempat transit di Guangzhou dan melihat antrian panjang di satu food counter yang menjual chilli oil. Hingga saya bertemu Eastern Chinese Dining House ini, sambal hitam berminyak terbaik yang saya puji ya yang dari tempat itu. Tapi setelah ketemu resto ini, ranking teratas kemudian pindah secara otomatis.

Yuk lanjut menelusur ya.

Terus terang setelah sempat berkeliling untuk memotret, saya tidak menemukan konsep khusus bagi penataan ruangnya kecuali penggunaan materi kayu di berbagai unsur bangunan, seperti tiang, kursi dan meja makan, frame lukisan, pintu, dan materi hiasan berbagai titik dekorasi. Keramik lantainya tidak juga seragam. Ada selipan tanaman di beberapa titik yang memberikan efek penyegaran bagi sebuah ruangan.

Saya berasumsi bahwa bangunan asli dari tempat ini sepertinya dibiarkan begitu saja karena pembagian ruangannya tampak seperti sebuah rumah tinggal dengan teras di samping kanan kiri dan belakang serta area terbuka atau taman kecil di bagian belakang.

Hal ini sangat terlihat saat melihat jenis atap yang menaungi bagian belakangan ini. Atapnya terbuat dari bahan non-permanen dan tersanggah oleh kayu-kayu selongsong yang disimpul satu sama lain.

Melangkah ke teras samping lewat pintu keluar yang berdampingan dengan toilet, tersedia beberapa area makan dengan kondisi setengah terbuka. Jika melihat beberapa asbak yang tersedia, saya berasumsi bahwa di sini adalah tempat khusus untuk para ahli hisab.

Tak jauh dari pintu ini saya kemudian bertemu dengan sebuah dapur yang berasap tanpa henti. Ternyata di sinilah proses pembuatan, penyiapan, dan penghidangan aneka dimsum yang menjadi salah satu menu andalan. Di sini saya melihat tumpukan dan gunungan klakat dan wadah lebar-lebar tempat mengukus dimsum. Ada juga ratusan mangkok-mangkok kecil wadah sambal dan bumbu cair lain yang menemani hidangan dimsum.

Ngintip sebentar dari salah satu jendela yang terbuka, saya melihat kesibukan yang luar biasa. Para staff telihat sangat cekatan dan bergerak dalam birama perpindahan tangan dan peralatan yang konsisten. Semua tampak seperti pekerjaan yang bahkan bisa dilakukan sembari memejamkan mata. Mengesankan banget lah pokoknya.

Cuma satu pesan saya. Setelah beberapa kali makan di sini, saya termasuk sering menemukan klakat yang mulai menua dan dalam kondisi yang sudah, maaf, kurang layak untuk dihidangkan di depan tamu. Usul saya sih ketimbang pakai yang model bambu dengan pinggiran yang mudah aus, akan lebih baik memakai klakat yang bagian bawah dan pinggirnya terbuat dan bahan yang lebih solid. Lebih awet dan mudah dibersihkan juga.

Melewati dapur khusus untuk dimsum ini, saya kembali bertemu dengan teras depan di mana saya masuk tadi. Ternyata beberapa tempat duduk yang tadinya kosong sekarang sudah penuh terisi. Tanpa sisa.

Saya pun memutuskan untuk segera kembali ke meja. Sederetan pesanan pun telah ditata rapi oleh si bungsu. Memahami selera saya dalam memotret makanan, misi melaksanakan food photography pun berlangsung lancar dengan waktu yang se-efisien dan se-efektif mungkin.

Sajian yang Selalu Umami

Dari beberapa kali kunjungan, saya sempat mencatat dan memotret beberapa menu yang sering dipesan.

Untuk jenis minuman yang biasa saya pesan adalah Chinese Tea dalam teko (35K) (pernah memesan yang jasmine atau chrysanthemum). Suami tuh hobi dan suka banget dengan hampir semua jenis teh alami yang berasal dari Cina atau banyak pegunungan di Indonesia. Memesan yang edisi teko kuantitasnya lebih dari cukup. Biasanya teko ini diiringi dengan gelas teh kecil tanpa kuping yang sudah 1 set dengan tekonya.

Sementara saya dan anak-anak biasanya memesan minuman segar/dingin tanpa kandungan gula seperti es teh tawar (15K), lychee tea (25K), blue lemonade (28K), dan healthy green (28K). Healthy green ini jadi favorit saya karena kandungan sayurnya banyak banget. Tapi meskipun berlimpah sayuran, rasanya tetap segar. Saya tidak mencatat dengan pasti campuran apa selain sayuran, tapi dari rasanya kuat dugaan bahwa minuman ini mendapatkan sentuhan nanas atau jeruk manis yang segar. Tentu saja untuk mengimbangi rasa sepat yang muncul dari sayuran.

Untuk dim sum, specialties dari Eastern Chinese Dining House, yang sering saya pesan adalah hakau (23.8K), siomay (24K), lumpia udang kulit tahu (24.8K), ceker (19K), pangsit wangsui (23.8K), dan bakso roti udang (25.8K). Ini semua dihidangkan di dalam klakat dan biasanya isinya 4pcs/klakat/porsi. Kecuali untuk dimsum yang digoreng. Biasanya ditaruh di piring dengan alas kertas roti bermotif.

Selain dimsum ada juga beberapa menu umami yang masuk dalam daftar pesanan kami. Seperti brokoli jamur garlic (32K), bebek panggang (360K/ekor atau 46K/setengah ekor), nasi hainan (10K), brokoli siram daging kepiting (35K), kailan 2 rasa (32K), dan bihun goreng seafood (50K).

Semua terhidang lezat dengan kuantitas yang cukup. Setiap dimsum disiapkan untuk 4 orang begitupun dengan porsi lauk lainnya. Semua recommended untuk dicoba. Tapi yang selalu jadi favorit saya dan keluarga adalah aneka dimsum, bebek panggang, dan segala jenis masakan brokoli.

Untuk harga, menurut saya, masuk dalam level menengah. Mahal sekali tidak, murah pun juga tidak. Tapi jika membandingkan antara kualitas, kuantitas, kelezatan, dan angka yang tertera, rasanya cukup reasonable.

Apalagi kemudian ditambah dengan kecepatan pelayanan dan keramahan para petugas serta kemampuan berkomunikasi petugas dalam menyampaikan rincian menu serta memberikan usulan santapan apa saja yang patut dicoba saat kita pertama kali bertamu.

Bebek panggang 1 ekor (kiri foto) | Aneka dimsum – siomay, ceker, dan hakau (kanan foto)
Lumpia udang kulit tahu (kiri foto) | Hakau (kanan foto)

Kesan Pribadi

Kuliner ala Cina yang sudah terverifikasi halal sudah jadi pilihan dan favorit saya. Apalagi jika itu menyangkut masakan rebusan, kukusan, dan segala jenis mie beserta saudara-saudaranya. Asyiknya lagi preferensi ini juga diikuti oleh suami dan anak-anak. Jadi saat bepergian, jika tidak ada kuliner lokal yang menarik, kami berempat selalu comes up dengan keputusan yang sama yaitu jajan mie dan chinese food.

Menemukan Eartern Chinese Dining House yang sudah berdiri sejak 1999 dan letaknya tak jauh dari rumah, tentunya jadi berita baik. Enak, berlogo halal, pilihannya banyak, dan sesuai dengan selera saya dan keluarga. Berkali-kali makan di sini dan berkali-kali pula tidak pernah kecewa.

Lokasinya yang ada di Kota Baru Parahyangan (KBP) bisa jadi salah satu kelebihan yang mendongkrak eksistensi di resto ini. Kawasan yang sungguh mudah untuk ditemukan dengan popularitas yang semakin naik.

Banyak jenama nasional dan internasional yang bergabung di kawasan elit ini. Tak hanya cuma resto tapi juga layanan publik seperti perbankan, sekolah, tempat kursus, klinik hewan, layanan laundry, bahkan hotel bintang 5 yang menjadi perhatian masyarakat. Tak heran kalau harga rumah di kawasan ini semakin merangkak naik.

Saya berharap agar Eastern Chinese Dining House tetap bertahan di KBP. Dengan catatan tambahan bahwa outlet mereka bisa mendapatkan sentuhan arsitektur yang lebih apik dan indah tapi tetap bertahan di lokasi yang sama. Saya membayangkan. Dengan kondisi lahannya yang sedikit membukit dan luas tanah yang dimiliki, pemilik resto ini bisa mengembangkan ide untuk mendapatkan tempat yang lebih estetik dan indah dari sisi arsitekturnya.

Galeri Foto

Bakso roti udang (kiri foto) | Brokoli jamur garlic (kanan foto)
Siomay (kiri foto) | Ceker (kanan foto)
Kailan 2 rasa (kiri foto) | Teh tawar dingin dan healthy green (kanan foto)
Bihun goreng seafood (kiri foto) | Brokoli siram daging kepiting (kanan foto)
Exit mobile version