Di akhir pekan kali ini, usai acara kumpul keluarga besar, suami mengajak saya dan si bungsu untuk menyusur Kota Baru Parahyangan. Sebuah kompleks perumahan premium yang hanya berjarak sekitar 10km atau sekitar 15-20 menit berkendara dari rumah kami di Cimahi.
Kota Baru Parahyangan atau yang sering disebut sebagai KBP ini sudah menjadi favorit saya dan suami untuk beranjangsana, berbelanja, serta menikmati aneka jajanan yang ragamnya banyak tak terkira. Seperti IKEA, Eastern Dining House yang sudah jadi langganan tetap kami, Bale Budaya Parahyangan, dan masih banyak lagi.
Salah satu yang belakangan cukup populer dan mulai beroperasi di awal 2024 adalah Karnivor. Sebuah rumah makan yang mengusung jargon “Let’s Meet Our Meat” dan populer dengan sajian steak empuk porsi besar.
Sebagai seorang karnivor sejati, ajakan ini tentu saya sambut dengan girang. Steak house seperti Karnivor ini, bagi saya, adalah taste and mouth entertainment yang asyik tiada dua. Apalagi jika disajikan dengan mashed potatoes dan sejumput besar salad sebagai penyeimbang karbo kelas berat dari potongan daging tersebut. Makan terasa begitu tasteful dengan sajian kesukaan yang dulu sempat menjadi bagian penting dari diet saya selama sekitar 12 tahun lamanya.
Kuliner Bandung : Menikmati Warisan Kelezatan Chinese Food di Eastern Chinese Dining House Bandung
Meski sudah familiar dengan beberapa titik penting di Kota Baru Parahyangan, saya memutuskan tetap menggunakan Google Maps untuk mencapai Jl. Gelap Nyawang Kav. 2B No. 2, di mana Karnivor Kota Baru Parahyangan berada. Karena meskipun belum begitu terlalu luas, sudut-sudut area kuliner di kawasan ini tidak gampang untuk diingat. Apalagi untuk non-warga yang tidak tinggal di kompleks elit ini.
Tak berapa lama logo Karnivor yang terpasang di fasad dan atap sisi depan bangunan terlihat dari kejauhan. Fasad dengan atap lancip yang di depannya tumbuh banyak sekali tanaman tinggi menjadi indikasi yang manis untuk sebuah tempat yang peduli akan keteduhan dan keasrian lingkungan.
Setidaknya meski sebagian besar dinding bangunan dikelilingi oleh kaca dengan area makan di lantai bawah yang dikuasai ruang setengah terbuka, deretan tanaman tinggi tersebut menjadi pembatas daya pandang orang-orang yang berada di depan Karnivor. Ini tentu saja memberikan privacy pada pengunjung yang sedang bersantap.
Melewati beberapa pijakan konblok yang berbelok sedikit, kedatangan kami disambut oleh pintu kaca tinggi dan seorang petugas yang bersiap di bagian depan. Menyapa ramah sembari menanyakan jumlah rombongan, saya akhirnya menyetujui usulan sang petugas untuk melangkah ke lantai 2. Tempat di mana ruang non-smoking berada dan yang bisa menampung sekitar 40-an orang tamu.
Sembari melangkah pelan, berada dekat di pintu masuk, saya melihat kaca display berbentuk L yang luas betul. Di kotak kaca ini bertebaran berbagai produk bakery dan kue dengan berbagai jenis, bentuk, serta warna.
Saat saya kembali ke tempat ini saat menunggu pesanan datang dan menjawab rasa penasaran yang hanya selewatan tadi, mata saya dihibur oleh keahlian baker menyajikan banyak kue dengan estetika yang pastinya butuh keahlian khusus. Harga setiap potongnya juga tidak terlalu mahal. Sekitar 20-35/buah. Ada juga cake slices dengan aneka rasa serta warna plus bentuk yang indah.
Seneng banget ngeliatnya. Awalnya berniat sih menikmati kue-kue cantik ini sebagai dessert. Tapi setelah menimbang rasa kenyang luar biasa setelah menikmati porsi besar steak plus mempertimbangkan kandungan kadar gula yang ada, saya memutuskan untuk tidak mencoba.
That would be too much though.
Makan dulu ah sebelum berkeliling kembali.
Kuliner Bandung : Nongkrong asyik di Jabarano Coffee Kuda Lumping, Laswi, Bandung
Membuka buku menu yang jumbo dan berat di tangan itu, saya sungguh butuh waktu yang cukup lama untuk memutuskan pesanan. Melihat food photography nya begitu estetik dan cantik, saya malah terpekur lama mengagumi setiap foto ketimbang memilih asupan.
Perhatian saya benar-benar langsung teralihkan. Beginilah seharusnya sebuah buku menu itu dihadirkan. Indah, informatif, dan menyelerakan untuk dilihat dan dilamati. Sekaligus bikin galau customer karena ingin memesan semua asupan yang difoto dengan tampilan membangkitkan selera itu.
Akhirnya keputusan makanan untuk saya dipasrahkan saja kepada si bungsu. Yang pasti saya ingin menikmati steak empuk porsi besar seperti yang digadang-gadang menjadi ciri khas Karnivor Kota Baru Parahyangan. Sepiring asupan pilihan yang berisikan steak, mashed potatoes, dan potongan sayur.
Tapi yang membuat saya terpaku di saat membuka lembar demi lembar buku menu adalah Blooming Onion. Sajian bawang bombay goreng dengan tampilan yang tidak biasa. Sebuah bawang bombay ukuran besar dipotong-potong dan dibentuk seperti layaknya bunga yang sedang merekah. Potongan ini kemudian digoreng terendam (deep fry) dengan lapisan tipis terigu yang menimbulkan efek garing.
Blooming Onion ini disajikan dengan cajun spice, bumbu rahasia restoran terkenal yang kabarnya mengandung beberapa rempah-rempah, dan special dipping sauce yang ditaruh di dalam sebuah mangkuk kecil. Kehadiran para spices ini sungguh membangkitkan selera serta nafsu makan. Susah untuk meminta otak agar memberhentikan indera perasa agar beristirahat barang sebentar.
Rasanya? Tentu saja enak. Apalagi kehadiran Blooming Onion ini bisa memecah efek “berat di lidah” karena sudah mengkonsumsi daging dalam ukuran besar. Efek “tajam” dan rasa manis khas bawang seperti tertutup dengan pintarnya Karnivor mengolah salah satu penyedap rasa alami ini.
Saya sendiri suka banget bawang bombay. Baik untuk jadi campuran berbagai jenis tumisan atau sajian ala chinese, termasuk saat dipotong bulat-bulat seperti cincin besar lalu digoreng dengan terigu. Masakan yang sering disebut sebagai onion ring.
Selain Blooming Onion yang kami ber-3 habiskan secara keroyokan, suami dan si bungsu sama-sama memesan Tenderloin. Beda hanya di side dish nya saja. Jika suami menginginkan kentang goreng (french fries), si bungsu mengikuti saya memesan mashed potatoes.
Untuk kematangannya, baik suami maupun si bungsu sepakat untuk memesan medium well. Kematangan penuh di bagian luar dengan sedikit pinky di bagian tengah. Daging terasa padat meskipun tidak begitu juicy dibandingkan dengan medium rare. Saya sempat mencicipi dan cukup mengagumi Karnivor dalam menghadirkan daging dengan tingkat kelembutan yang menyenangkan, gampang dipotong, dan mudah untuk dikunyah.
Saya sendiri memesan sepiring besar iga panggang yang disajikan dengan mashed potatoes dan sayuran. Daging iganya empuk teramat sangat. Gampang untuk digigit dan dikunyah. Bumbu barbeque serta rempah-rempah yang menempel di antaranya menghadirkan efek panggangan yang ramah di indera perasa. Salah satu sajian iga panggang terbaik yang pernah saya rasakan.
Yang pasti semua hidangan daging yang disajikan oleh Karnivor adalah 100% real meat bukan meltique. Ini yang tentu saja memberikan nilai plus untuk Karnivor.
Plating dari setiap pesanan kami juga cukup menarik. Menggunakan piring dan atau wadah yang hadir dengan warna serta goresan-goresan jadoel, justru membangkitkan estetika food photography. Meja rustik dan cangkir-cangkir tembaga yang digunakan juga mendukung sisi keindahan foto. Deep color yang hadir saat itu memudahkan saya untuk mengambil beberapa foto dari berbagai angle.
Oia, ada satu hal yang saya sangat berharap bisa dilakukan oleh Karnivor yaitu mengganti salad dari potongan beku yang tersedia di pasaran ke salad hasil potongan dan olahan sendiri. Saya membayangkan menikmati setiap gigitan daging yang ditemani oleh fresh salad yang berisikan lettuce, pipilan jagung, potongan bawang bombay, wortel, tomat, irisan timun jepang tipis-tipis dengan dressing yang tidak heavy. Salad dengan sentuhan personal yang tentu saja bisa mengimbangi “beratnya” nilai dan kandungan gizi yang ada di setiap tipe daging.
Kuliner Bandung : ARASSO, Halal AYCE Korean BBQ Ter-Worth It di Bandung
Kuliner Bandung : Pasar Cihapit, Surga Kuliner Tersembunyi di Kota Bandung
Tadi, saat menunggu pesanan terhidang, saya sempat berkeliling sebentar ke seluruh fasilitas resto Karnivor yang ada di Kota Baru Parahyangan Bandung ini.
Bagian terluas tentu saja adalah di ground floor. Puluhan meja dan kursi cantik tersebar di ruang setengah terbuka di bawah sini. Begitupun dengan banyak dekorasi cantik yang terpasang di langit-langit dan rangkaian tanaman dalam pot yang cukup menghibur mata.
Ada satu area terbuka yang memperlihatkan kesibukan para staff dalam memenuhi pesanan minuman, sementara dapurnya sendiri tidak terlihat. Di lantai bawah ini juga tersedia mushola dan ruang basuh bagi para tamu yang seperti butuh perhatian lebih dari para petugas untuk sisi kebersihan dan penataannya.
Saya memutuskan untuk kembali menyapa display kaca yang menawarkan banyak kue dan produk pastry lainnya. Tempat yang sempat mencuri perhatian saat datang tadi. Sayangnya isinya sedikit banget. Mungkin hanya 1/3 dari total seluruh wadah yang sudah disiapkan. Bisa jadi dalam rangka menghabiskan stok, sementara yang baru dan masih fresh belum selesai dikerjakan.
Satu yang cukup menarik perhatian adalah tangga kayu dengan efek garis-garis di salah satu sudut resto. Tangga ini menghubungkan lantai dasar dengan sebuah ruangan kecil di lantai 2. Ruangan ber-AC, non-smoking, yang saya dan keluarga tempati untuk menikmati rangkaian sajian yang sudah dipesan.
Terselip di sebuah dinding yang mendampingi tangga tadi, ada sebuah jam kayu besar yang unik dan sungguh menarik perhatian. Setelah melihat jam seperti ini di berbagai tempat, saya jadi begitu berminat untuk memiliki dan memasangnya di rumah. Cakep ya untuk dekorasi rumah.
Kuliner Bandung : Bumi Aki Heritage Bandung, Penggabungan Sempurna Antara Estetika Visual dan Kelezatan Rasa
IG @annie_nugraha | Email : annie.nugraha@gmail.com
