Lifestyle

Mengenang Kisah dan Merindu Rasa Lewat Buku Comfort Food Memoirs

152
mengenang-kisah-dan-merindu-rasa-lewat-buku-comfort-food-memoirs
Mengenang Kisah dan Merindu Rasa Lewat Buku Comfort Food Memoirs
Mengenang Kisah dan Merindu Rasa Lewat Buku Comfort Food Memoirs

Beberapa asupan punya jejak kisah tersendiri bagi beberapa bahkan banyak orang. Ada sejumput kisah yang begitu membekas dalam ingatan yang terus bertahan menjadi kenangan. Lalu ada seseorang atau banyak orang yang turut mengukir memori di dalamnya. Lewat tulisan ini saya ingin mengajak para pembaca untuk mengenang kisah dan merindu rasa lewat buku Comfort Food Memoirs. Sebuah buku antologi kuliner yang digagas oleh Omar Niode Foundation serta menggandeng komunitas Food Blogger Indonesia

Ajakan Kolaborasi dari OMAR NIODE Foundation dan Komunitas Food Blogger Indonesia

Saya sedang mengikuti perbincangan hangat di WAG komunitas Food Blogger Indonesia saat membaca sebuah tawaran dari admin tentang membuat buku antologi kuliner. Idenya dibagikan di 2023 (saya lupa kapan persisnya). Satu gawe besar dalam rangka menjawab undangan kolaborasi Omar Niode Foundation yang sudah beberapa kali mengajak komunitas untuk berkegiatan bersama.

Saya menyambut riang berita ini karena buku dan kuliner adalah dua hal yang menjadi fokus kegiatan saya selama jadi pengacara, pensiun dari orang kantoran, dan mencemplungkan diri di dunia literasi. Dan seperti bisa ditebak, saya pun langsung mendaftarkan diri dengan suka cita dan semangat membara. Kapan lagi kan menulis dan menjadi kontributor dari sebuah buku yang dilahirkan oleh sebuah institusi sosial yang sudah punya nama dan malang melintang di dunia kuliner dalam dan luar negeri.

Pembicaraan kemudian fokus pada tema khusus yang akan diusung bagi buku yang akan diterbitkan. Setelah melahirkan beberapa buku yang mengesankan, Omar Niode Foundation ingin mengajak komunitas membidani lahirnya buku antologi yang mengulik tentang comfort food dengan judul dan tagline “Comfort Food Memoirs. Kisah Makanan yang Menenangkan beserta Resepnya.”

Mengulik Makna Comfort Food Memoirs

Usai obrolan di grup tersebut, rasa penasaran saya mendadak bangkit. Sebelum memutuskan akan menggarap topik yang akan saya angkat, saya pun berselancar mencari makna sesungguhnya dari comfort food memoirs. Ada tiga hal/kata yang kemudian saya tarik sebagai kata kunci yaitu kenyamanan/ketenangan, makanan, dan kenangan/memori.

Terurai begitu luas ya. Tapi tentunya jika kita memaknai comfort food secara tersirat sesuai dengan katanya saja, artinya akan menjadi makanan yang menenangkan dan atau membuat kita nyaman. Hanya saja ketika Omar Niode Foundation menyelipkan kata memoirs sebagai pelangkap judul, maka cakupan pembahasannya pun bertambah dengan unsur kenangan/memori.

Saya seketika bergeming. Terdiam saat menyadari bahwa pemilihan tiga kata sarat makna ini akan mengusung banyak kisah yang lama tersimpan dari para kontributornya. Makanan dan memori berkolaborasi dengan hadirnya seseorang bahkan mungkin banyak orang yang menjadi bagian dari catatan masa lalu tersebut.

Jadi ketika buku cetaknya sampai di tangan, saya tak sabar untuk membuka lembar demi lembar. Lewat beberapa uraian yang kemudian saya baca di bagian prakata yang ditulis oleh Ibu Amanda Katili Niode, pemahaman saya akan comfort food dan memoirs, kemudian dilengkapi oleh berbagai teori dari beberapa ahli dengan kutipan sebagai berikut:

“Pada artikel The Science of Comfort Food yang ditulis untuk The New York Times, Melinda Wenner Moyer menguraikan mengapa makanan tertentu sangat menyenangkan hati. Rasa dan kandungan nutrisi makanan memang mempengaruhi perasaan seseorang, tetapi acapkali kebahagiaan yang diperoleh dari makanan favorit berasdal dari kenangan yang ditimbulkan baginya dan orang-orang yang bersamanya saat menikmati makanan tersebut. Terkadang juga seseorang merasa sedih saat mengonsumsi makanan yang mengingatkannya pada orang tersayang yang dirindukan. Aroma makanan juga membangkitkan ingatan yang kuat” (x)

“Memoar/memoir adalah penggalan kisah hidup yang ditulis diri sendiri, tentang catatan peristiwa masa lampau yang ditulis dengan menekankan pada pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang sosok yang berhubungan dengannya.” (xi)

“Secara spesifik, comfort food memoir menggali lebih dalam lagi pengalaman emosional para penulisnya. Selain kenangan masa lalu, sensasi rasa ketika melahap comnfort food meningkat dengan memori kebersamaan, kehangatan, dan kenikmatan.” (xi)

Pindang Patin Pegagan dan Memori Masa Kecil

Tak butuh waktu lama bagi saya untuk memutuskan apa yang akan ditulis. Kebetulan tak lama dari undangan kolaborasi ini datang, saya baru pulang kampung ke Palembang dan diajak sepupu untuk mencoba pindang patin pegagan yang ditawarkan oleh Rumah Makan Pindang Patin Mbok Yah yang berada di Pasar Terapung 16 Ilir.

Saat itu indera pengecap saya begitu dimanjakan dengan gurihnya kuah pindang yang menyertai potongan-potongan besar ikan patin. Kehadiran berbagai rempah-rempah seperti batang serai, daun bawang, batang kemangi, potongan nanas, asam jawa, terasi, cabai merah, cabai rawit, bawang merah dan tomat kemudian menyempurnakan cerahnya potongan nanas untuk memberikan efek asam berpadu manis dan asin yang dimunculkan oleh gula merah dan garam halus.

Tentang Pindang Patin : Nikmatnya Pindang Patin Pegagan di Rumah Makan Terapung Mbok Yah Palembang

Bahagia tak terkira saat bermangkuk-mangkuk pindang patin tersebut menyusup masuk ke dalam mulut saya. Rasa lembut daging ikan patin menyatu sempurna dengan kuah otentik suku Ogan Komering Ilir. Apalagi konsep pasar terapung ini memberikan makna tersendiri bagi destinasi wisata kuliner otentik Sumatera Selatan yang ada di kota Palembang.

Rumah makan ini sebenarnya adalah pelengkap dari keseluruhan kenangan saya atas pindang patin. Sesungguhnya lah bibi (adik bungsu ayah saya) adalah orang yang selalu membangkitkan memori akan istimewanya masakan ikan berkuah tersebut dalam darah dan daging saya. Apalagi beliau sangat menjaga otentitas masakan yang sudah puluhan tahun melengkapi preferensi selera saya bertahun-tahun. Beliau dengan segala cinta selalu menyiapkan sepanci besar pindang patin – khusus bagian kepala – untuk saya makan selama pulang kampung dan menginap di rumahnya. Biasanya pindang patin ini juga dilengkapi dengan sambal tempoyak dan beberapa panganan lain yang dari masa ke masa menyertai kenangan semasa kecil saya.

Seperti yang saya ceritakan di buku Comfort Food Memoirs, kecintaan saya akan pindang patin sesungguhnya dimulai saat ayah saya (almarhum) mengajak seluruh anggota keluarga mudik ke dusun/desa ayah (alm.) yang berada di Pagaralam di seputaran tahun 1970-an. Saat itu adalah kali pertama saya menempuh perjalanan jauh – sekitar 7-8 jam – menuju dusun ayah yang berada di area pegunungan.

Ketibaan kami disambut hangat dan heboh oleh warga sekampung. Apalagi mengingat bahwa ayah saya sudah lama tidak mudik karena merantau ke Jakarta. Saya – anak perempuan satu-satunya – jadi incaran cubitan dan pelukan disana-sini. Semua orang terlihat berbinar-binar dan gemas menyaksikan saya yang aktif, tampak riang gembira (terkadang berlebihan) dan menyusur kampung karena rasa penasaran yang membuncah plus rakusnya nauzubillah (nulis ini sambil pengen ngakak). Jadi saat penduduk desa mengadakan adat pantauan, saya melangkah dengan semangat tak terbendung sembari mengenakan baju ala tekhnisi bengkel berbahan jeans celana pendek dan berpupur bubuk yang diteplok bibi saya semaksimal mungkin. Saya curiga jangan-jangan bibi saya ini punya dendam kesumat sehingga saya dipupuri sedemikian heboh.

Apa sih pantauan itu?

Dari jejak cerita dan penjelasan ayah saat itu, budaya pantauan ini sudah berlangsung berabad-abad lamanya di kampung ayah saya. Setiap ada warga kampung yang sudah lama tak pulang (seperti ayah saya) dan atau hadirnya tamu-tamu yang dianggap istimewa oleh para penduduk dan juga baru kali itu menginjakkan kaki di kampung (seperti saya dan kedua saudara lelaki saya), biasanya warga akan mengundang mereka ini untuk datang ke rumah sembari menikmati banyak asupan khas kampung untuk dinikmati.

Saat itu, banyak sekali penduduk yang datang ke rumah dan menyampaikan undangan itu secara langsung. Jadi kami tidak semerta-merta datang ya. Tapi benar-benar atas undangan. Lalu setelah mandi dan berpakaian sepantasnya, ayah mengajak kami semua mendatangi rumah-rumah tersebut satu persatu. Saya, si perakus ini, heboh teramat sangat. Dan itu terjadi mulai dari rumah pertama yang kami sambangi dan jaraknya hanya selemparan kaos.

Mata saya langsung membelalak saat masuk ke ruang tamu rumah tetangga ini. Dengan beralaskan tikar di atas kayu tebal bangunan rumah, terhampar kain bersih dan belasan piring kecil melingkar kemudian dibuat dua tumpukan. Setiap jenis sajian – jika tidak salah ingat – disediakan dalam tiga piring. Jadi tak ayal jumlahnya berlimpah betul. Selain bermacam sayuran rebus maupun berkuah santan, lauk pauknya banyak. Ada ayam dan daging sapi yang dimasak kuah santan dan digoreng. Aneka sambal juga ada. Sambal bawang, sambal mentah, sambal pete dan tentu saja sambal tempoyak (fermentasi durian). Plus tentu saja sewadah besar nasi putih hangat.

Naahh yang paling menarik perhatian saya adalah ikan dimasak kuah dengan banyak rempah dengan potongan tomat dan nanas yang mendominasi di bagian atas. Melihat saya membelalak dan langsung menarik piring ini, bibi langsung menghadiahi sekaligus mengkuliahi 2SKS untuk saya tentang hidangan yang bikin saya penasaran ini. Hidangan yang kemudian saya kenal sebagai pindang patin dan saya “kuasai” sepanjang proses pantauan. Bahkan saking hebohnya, pindang patin di setiap rumah langsung saya tarik ke hadapan, tanpa noleh-noleh, tanpa berbagi, dan saya tandaskan hingga ke kuahnya. Satu kenikmatan hakiki yang kemudian menyertai kegemaran saya akan kuliner kampung halaman ayah sepanjang masa.

Menuliskan ini membawa kembali setumpuk besar kenangan terindah saya akan Pagaralam, almarhum ayah, almarhumah ibu saya, dan bibi yang menetap di Palembang. Merekalah yang mengenal pindang patin sebagai masakan otentik tanah kelahiran saya yang hingga saat ini masih menjadi santapan andalan saat berkunjung ke Sumatera Selatan.

Dan cerita tentang pindang patin dan budaya pantauan tersebut terhidang indah di halaman 45 hingga 49

Comfort Food Memoirs dan Komunitas Food Blogger Indonesia

Buku antologi kuliner yang menyajikan narasi, foto, dan resep masakan yang menjadi bahasan ini, menghadirkan beberapa anggota komunitas Food Blogger Indonesia. Selain saya yang menuliskan artikel berjudul “Nikmatnya Pindang Patin Pegagan” juga hadir:

  • A.B. Eko Dony Prayudi (Dodon) dengan artikel “Hangatnya Akulturasi di Meja Makan”;
  • Bayu Fitri Hutami dengan artikel “Bubur Sumsum dari Syukuran Sampai Obat Kangen”;
  • Hanny Nursanty dengan artikel “Cumi Asin Cabai Hijau Kecombrang Selera Nayla”;
  • Katerina dengan artikel “Pindang Patin Bertahta di Batin”;
  • Rina Susanti dengan artikel “Semangkuk Rasa dan Aroma”;
  • Ovianty dengan artikel “Ketan dan Pisang Goreng Ala Minang”

Semua kisah yang kami bertujuh rangkai dengan segenap jiwa, menghadirkan kisah-kisah inspiratif yang sangat menggugah. Ada setumpuk kenangan yang sangat bernilai, ada diksi tentang kenikmatan, dan tentu saja keistimewaan sajian yang diulas oleh setiap kontributor. Sebagai food blogger, saya menandai bagaimana kuatnya alur cerita dan kekuatan memilih diksi yang dimiliki oleh seorang professional blogger. Dan buku ini juga membuktikan teori bahwa “Kenangan Tidak Akan Menghilang. Itu Membekas Dalam Jiwamu” (Lovely Runner episode 16). Kami pun menambah ukiran kenangan tersebut lewat blog kami masing-masing dan juga official website dari komunitas.

Tulisan Dodon : Buku Comfort Food Memoirs. Kisah Makanan yang Menenangkan Beserta Resepnya

Tulisan Hany : Buku Ketiga : Comfort Food Memoirs

Tulisan Katerina : Comfort Food Memoirs. Merayakan Kenangan dan Warisan Kuliner

Ulasan Lengkap dari Komunitas : 7 Warga Food Blogger Indonesia Turut Berkolaborasi dalam Buku Comfort Food Memoirs Bersama Amanda Katili dan Eros Djarot

Ingin menyintas lebih banyak informasi tentang komunitas Food Blogger Indonesia? Sila berselancar ke IG @foodbloggeridcommunity atau FB Page Food Blogger Indonesia

Comfort Food Memoirs yang Mendunia

Buku antologi yang ditulis oleh 65 (enam puluh lima) orang kontributor lintas profesi ini, disajikan dengan layouting yang sangat tertata rapi, foto-foto yang apik, serta pemilihan dan ukuran font yang readable dan nyaman di indera penglihatan kita. Mencapai jumlah artikel sebanyak 350 halaman dan diterbitkan oleh Diomedia Publishing House bekerja sama dengan Omar Niode Foundation, nyata buku “Comfort Food Memoirs. Kisah Makanan yang Menenangkan Beserta Resepnya” ini mencatat prestasi yang mengagumkan sebagai pemenang kedua pada kualifikasi Food Writing – Lifesyle dan Foreword – Best Authors and Chef, pada Gourmand Awards 2023. Penyerahan penghargaan dilakukan dalam acara megah di Saudi Feast Food Festival yang diadakan di Riyadh pada 27-29 November 2023.

Apa itu Gourmand Awards?

Menutip dari salah satu laman IG @foodbloggeridcommunity, Gourmand Awards yang didirikan pada 1995 oleh Eduarto Cointreau, adalah satu-satunya kompetisi internasional untuk konten budaya makanan. Setiap tahun, penghargaan ini memberikan apresiasi kepada buku-buku terbaik, baik cetak maupun digital, televisi dan media sosial kuliner dengan 205 negara peserta. Dengan 205 negara peserta, kompetisi ini terbuka untuk semua bahasa dan tidak dipungut biaya. Acaranya pun selalu menjadi ajang untuk bertemu dengan tokoh-tokoh terkemuka di sektor pertanian, pangan, dan kuliner termasuk penerbit, penulis, chef, dan jurnalis yang berkenan berbagi kisah budaya pertanian, pangan, dan kuliner mereka.

Jadi jika menilik luasnya jangkauan presentasi dari Gourmand Awards, Omar Niode Foundation, Food Blogger Indonesia Community, dan Diomedia Publishing House, serta tentu saja semua kontributor yang terlibat, patut bergembira dan bangga akan pencapaian yang telah diraih. Satu langkah pembuktian pada dunia kuliner internasional bahwa keberagaman kuliner Indonesia tak hanya berjaya di hati publik tanah air tapi juga bisa menghadirkan kebanggaan yang terukir manis sepanjang masa. Saya kemudian langsung mencatat bahwa buku antologi kuliner ini akan menjadi unforgettable yet dominant legacy bagi dunia literasi di Indonesia.

Dari sudut pandang pribadi, saya mengambil kesimpulan bahwa yang membuat buku antologi kuliner ini begitu istimewa adalah karena keberagaman sajian yang menampilkan kekayaan kuliner nusantara. Mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan seolah terhidang dan tersentuh begitu spesifik dan otentik. Kekayaan rempah nusantara pun dikulik dan diangkat sehingga menjadi strong point dari setiap tulisan yang telah diuraikan.

Dalam satu kesempatan, Kamis, 23 Mei 2024, telah diadakan acara bedah buku “Comfort Food Memoirs. Kisah Makanan yang Menenangkan” di Gedung Gerakan Bhinneka Nasionalis, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh beberapa orang kontributor buku. Diantaranya adalah budayawan Erros Djaort, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Alue Dohong, Chief Ragil Imam Wibowo, dan juga Ibu Amanda Katili Niode yang adalah founder dari Omar Niode Foundation. Beliau juga berperan sebagai penggagas dan chief editor dari buku ini. Acara ini menyertai lahirnya buku dalam bentuk cetak dan langsung mendapatkan apresiasi publik yang antusias ingin membaca dan memegang langsung buku ini.

Acara bincang buku Comfort Food Memoirs yang diadakan pada 23 Mei 2024. Komunitas diwakili oleh Tami.
Lembaran tentang resep pindang patin pegagan yang saya hadirkan di buku Comfort Food Memoirs

Tentang Omar Niode Foundation

Omar Niode Foundation adalah sebuah organisasi nirlaba kecil yang turut berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, citra budaya, dan kuliner nusantara, di Indonesia dan mancanegara. Organisasi ini telah menerbitkan 15 buku. Diantaranya adalah “Trailing the Taste of Gorontalo” yang meraih Gourmand World Cookbook Award, Best of the Best 1995-2000, di kategori Food Heritage. Buku yang bernilai ini dipamerkan di Frankfurt Book Fair dan pameran buku internasional lainnya.

Amanda Katili Niode, Chairwoman Omar Niode Foundation, pernah menjadi kontributor Bab Indonesia pada buku “At the Table. Food and Family Around the World” yang diterbitkan pada 2016 oleh Greenwood/ABC-CLIO dan juga meraih Gourmand Award. Selain itu Amada juga menjadi kontributor pada buku Contemporary Advances in Food Tourism yang dilahirkan oleh Routledge Publishing pada Maret 2023.

Buku lain yang juga diterbitkan organisasi ini adalah Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo. Buku yang mengenalkan konsep makanan ramah bumi dari berbagai aspek, sudut pandang, dan perannya dalam menyikapi krisis lingkungan. Buku yang ditulis oleh Amanda Katili Niode dan Zahra Khan ini menampilkan makanan ramah bumi yang dapat dicoba, khususnya masakan Gorontalo.

Di langkah berikutnya, bekerja sama dengan penerbit Diomedia, organisasi ini menerbitkan buku “Sambal Roa. Ragam, Resep, dan Rupiah” yang terbit pada 2023. Berperan sebagai kontributor dan editor, Amanda Katili Niode, lewat buku kecil ini berupaya menggali dan menyebarkan informasi tentang apa itu sambal roa, termasuk asal usul dan resep dasarnya, penggunaan sambal roa pada kuliner nusantara, serta bisnis sambal roa yang menguntungkan dan efek transformasi digital yang menyertainya.

Untuk kegiatan berskala internasional, Omar Niode Foundation juga aktif dalam persiapan United Nations Food Systems Summit pada 2021. Event ini menyelenggarakan tiga dialog independen, serta berperan serta dalam dialog diantara negara anggota.

Dalam melaksanakan berbagai kegiatannya, organisasi nirlaba ini bekerja sama dengan individu maupun organisasi dalam dan luar negeri. Aktif berkontribusi dalam kegiatan nasional maupun internasional seperti Pangan Bijak Nusantara, Yayasan Pusaka Rasa Nusantara, Future Food Institute, Jamie Oliver Food Revolution Day, Slow Food International, dan World Food Travel Association.

Ingin mendapatakan profil lengkap tentang organisasi ini, silahkan berselancar di akun IG @omarniode.

Berminat untuk memiliki buku ini? Sila hubungi saya di 0811-108-582 ya.

Exit mobile version