Bulan Muharram
Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa Allah membuka tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menutup tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah), sehingga Muharram adalah bulan yang sangat mulia di sisi Allah setelah bulan Ramadan. Mari kita mengenal lebih dalam bulan Muharram.
INDONESIAINSIDE.ID – Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah dan salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah [9]: 36).
Bulan ini memiliki keutamaan yang besar dan kemuliaan yang tinggi di antara bulan-bulan lainnya. Nama “Muharram” berasal dari kata “haram” yang berarti “dilarang” atau “diharamkan.” Bulan ini dinamakan demikian karena pada bulan ini dilarang untuk melakukan peperangan. Sebelum Islam, bangsa Arab sering kali mengubah aturan ini, kadang-kadang menghalalkan bulan tersebut dan kadang-kadang mengharamkannya. Namun, Islam menegaskan kemuliaan dan larangan berperang di bulan ini.
Keutamaan Bulan Muharram
Ada setidaknya 5 keutamaan dari bulan Muharram:
1. Bulan Haram
Bulan Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang memiliki keutamaan khusus. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa larangan melakukan dosa lebih keras di bulan-bulan haram ini dan pahala dari amal saleh pun lebih besar.
Imam Al-Izz bin Abdus Salam menjelaskan bahwa keutamaan waktu-waktu tertentu terkait dengan kemurahan Allah yang memberikan pahala lebih besar kepada hamba-Nya yang beramal di waktu-waktu tersebut, seperti keutamaan puasa di bulan Ramadan dan keutamaan hari Asyura di bulan Muharram.
2. Bulan Allah
Rasulullah ﷺ menyebut bulan Muharram sebagai “Syahrullah” (Bulan Allah), yang menunjukkan keistimewaannya. Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa Allah membuka tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menutup tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah), sehingga Muharram adalah bulan yang sangat mulia di sisi Allah setelah bulan Ramadan.
3. Puasa di Bulan Muharram
Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim).
Meskipun Rasulullah ﷺ tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadan, beliau sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram.
4. Hari Asyura
Hari Asyura, yaitu hari kesepuluh bulan Muharram, memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).
5. Tradisi Puasa Asyura
Rasulullah ﷺ mengamalkan puasa Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadan. Beliau melanjutkan tradisi puasa ini setelah hijrah ke Madinah, bahkan menganjurkan para sahabat untuk ikut berpuasa. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
“Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Nabi ﷺ bertanya: ‘Apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang baik, di mana Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari ini.’ Nabi ﷺ bersabda: ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan (umat Islam) untuk berpuasa juga.” (HR. Bukhari).
Bulan Muharram adalah waktu yang sangat istimewa dalam kalender Islam. Sebagai salah satu bulan haram, bulan ini menuntut kita untuk lebih menjaga diri dari perbuatan dosa dan memperbanyak amal saleh. Dengan memahami keutamaan dan kemuliaan bulan Muharram, kita dapat memanfaatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak puasa, dan meraih pahala yang besar. (MBS)







