Penantian Panjang
Matsumori berdiri di depan pintu sebuah rumah di kawasan Prefektur Saitama. Ia membawa beberapa kotak bento untuk makan siang dan seikat bunga lili putih.
Tak lama setelah mengetuk pintu, seorang wanita tua berpakaian sederhana menyambutnya dengan hangat. Wanita tua itu dan suaminya sudah dikenal Matsumori sejak 9 tahun yang lalu, sejak ia ditugaskan menyelidiki kasus itu.
Setsuko dengan bersemangat memanggil suaminya, Yoshiyuki. Matsumori sendiri sudah lama telah dianggap bagian dari keluarga itu, keluarga Miyazawa. Dua orang tua yang sudah renta itu hanya tinggal berdua di rumah tersebut.
Matsumori menanyakan kabar keduanya, ia selalu mengkhawatirkan kesehatan mereka. Di ruang tamu keluarga tampak berjajar boneka daruma merah yang diberikannya setiap tahun. Dilihatnya ada beberapa daruma yang bagian matanya masih kosong.
“Ah, seandainya Yasuko masih ada, dia pasti senang sekali melihat bunga-bunga lili yang cantik ini,” gumam Setsuko sambil menyambut seikat bunga yang dibawakan Matsumori. Matsumori tersenyum getir.
Hari itu seperti biasa pada setiap kunjungannya, Matsumori akan menanyakan kabar pasangan Yasuko dan Yoshiyuki Miyazawa. Bagaimana kesehatan mereka, apakah mereka makan dengan baik dan tidur dengan nyenyak. Lalu Matsumori akan bicara soal cuaca, hobinya, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Itu semua demi menghibur pasangan itu.
Matsumori tahu setiap hari kedua orang tua itu menanti telepon dari polisi yang mengabarkan kalau pelaku pembunuhan anak dan cucu mereka sudah ditangkap. Tapi itu tak pernah terjadi. Tahun demi tahun berlalu tanpa ada perkembangan berarti, tapi mereka tak pernah berhenti berharap.
![]() |
| Yasuko Miyazawa |
Mata Matsumori lalu menangkap kalender yang berada di ruangan itu. Sudah menjadi rutinitas harian Yasuko untuk mencoret tanggal di kalender itu setiap hari dengan tanda miring. Setiap hari adalah penantian panjang baginya untuk mendapatkan kejelasan akan apa yang menimpa keluarga putranya.
Yasuko duduk di dekat Matsumori, membolak-balik sebuah album. Album itu berisi foto-foto keluarga kecil Miyazawa. Dalam satu foto si sulung Niina tengah memeluk adik laki-lakinya yang masih bayi. Pada foto lainnya tampak keluarga itu tengah duduk di tangga sebuah taman.
![]() |
| Dari kiri ke kanan Yasuko dan Mikio (atas), Niina dan Rei (bawah) |
“Niina suka menunjukkan gerakan baletnya. Dia anak yang cerdas dan menggemaskan,” kata Setsuko mengingat cucu perempuannya. Niina Miayazawa duduk di kelas dua sekolah dasar dan suka sekali menari balet.
Ada lagi sebuah foto di mana sepasang suami istri itu bersama kedua anak mereka sedang bercengkrama di ruang makan. Keempatnya duduk menghadap meja, di atas meja itu ada kue ulang tahun dengan lilin yang masih menyala. Sang ibu menyolek hidung si anak laki-laki yang disambut derai tawa sang ayah dan anak perempuannya. Sepertinya itu adalah hari ulang tahun si bungsu.
![]() |
| Keluarga Miyazawa sedang merayakan ulang tahun si bungsu, Rei |
Melihat foto-foto itu, pandangan Matsumori langsung menerawang. Ia bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi 11 tahun yang lalu. Peristiwa yang menggemparkan seluruh Jepang, pembunuhan terhadap keluarga Miyazawa di mana sepasang suami istri, Mikio dan Yasuko serta kedua anak mereka Niina dan Rei Miyazawa dihabisi secara brutal di rumah mereka pada tengah malam di akhir tahun 2000.
“Kenapa harus keluarga Mikio?,” kata Satsuko lirih. Pertanyaan yang tidak ada jawabannya itu selalu saja diulang-ulanginya. Selalu saja.
Mendengar kata-kata itu Matsumori hanya menunduk. Sudah 9 tahun ia ditugaskan dalam kasus itu, sejak tahun 2002. Kasus itu sendiri adalah kasus pembunuhan pertama yang dipegangnya.
“Aku ingin tahu yang sebenarnya. Mengapa pembunuhan itu terjadi? Mengapa cucu-cucu kami yang masih sangat kecil harus dibunuh?,” Yoshiyuki menimpali, suaranya bergetar.
Matsumori mengerti apa yang dirasakan keduanya, tapi ia pun tak punya jawaban. Sudah bertahun-tahun lamanya penyelidikan terhadap kasus ini tidak membawa pada titik terang. Semakin mereka mengejar identitas pelaku, semakin gelap pula jati diri sang pembunuh. Terkadang dalam diri Matsumori pun merasa frustasi. Tapi ia tidak mau menunjukkan itu sedikit pun pada keluarga tersebut. Ia terus meyakinkan keduanya kalau suatu hari nanti pelakunya pasti akan tertangkap.
Keluarga Miyazawa
Tahun 1990-1991 (beberapa sumber menyatakan tahun yang berbeda) keluarga Miyazawa pindah ke Prefektur Setagaya jalan Kamisoshigaya. Keluarga Miyazawa tinggal bersebelahan dengan ibu dan saudara perempuan Yasuko. Rumah keluarga ini sendiri merupakan rumah semi-terpisah, berbagi satu dinding yang sama. Namun tidak ada pintu di dalam rumah yang saling menghubungkan antara keduanya. Jadi untuk dapat keluar masuk harus melalui pintu depan masing-masing rumah.
Pada awal tahun 90an, kawasan tersebut pada saat itu adalah tempat yang ramai. Ada lebih dari 200 rumah tersebar di sekitar sana, bertetangga saling dekat satu sama lain. Rumah keluarga Miyazawa sendiri berada persis di belakang taman tempat anak-anak biasa bermain. Taman itu bernama “Taman Kereta Choo-Choo”.
Taman itu telah ada selama bertahun-tahun dan cukup terkenal. Oleh karena itulah, pemerintah setempat berencana untuk memperluasnya. Rencana inilah yang menyebabkan 200 keluarga yang semula tinggal di sana pada awal tahun 1990an satu per satu pindah dan hanya menyisakan empat keluarga saja yaitu keluarga Miyazawa, keluarga ibu dan saudara perempuan Yasuko, dan dua keluarga lainnya.
Keluarga Miyazawa adalah keluarga Jepang pada umumnya. Mereka dihormati di masyarakat dan diketahui tidak memiliki musuh yang mungkin ingin menyakiti mereka.
![]() |
| Beberapa foto keluarga Miyazawa |
Sang kepala keluarga, Mikio Miyazawa (44), bekerja untuk Interbrand, sebuah firma pemasaran besar yang berbasis di London. Dia menyukai animasi, boneka, dan juga sandiwara teater. Istrinya, Yasuko Miyazawa (41) adalah seorang guru. Niina (8), putri sulung keluarga duduk di kelas dua di sekolah dasar Setagaya. Anak perempuan itu suka sekali balet dan piano. Si bungsu, Rei Miyazawa (6), bersekolah di taman kanak-kanak Setagaya. Ia mengalami gangguan bicara yang membuat keluarga memutuskan untuk menyewa jasa profesional. Meskipun memiliki kekurangan, namun keluarga besar sangat menyayanginya.
Rumah keluarga Mikio dengan keluarga kakak dan ibu Yasuko yang bersebelahan, rupanya membuat Mikio merasa agak tidak nyaman. Ia khawatir hal ini bisa menyebabkan masalah di kemudian hari. Oleh karena itulah akhirnya disepakati untuk membuat sekat kedap suara. Tapi karena hal inilah nantinya pembantaian keluarga Mikio sama sekali tidak terdengar oleh orang sama sekali, bahkan keluarga yang tinggal bersebelahan.
Sementara itu taman yang berada di belakang rumah memiliki semacam arena skate. Para pemuda biasa bermain skate di sana dan menyebabkan kegaduhan yang terdengar hingga ke rumah keluarga Miyazawa. Kegaduhan ini sangat mengganggu keluarga Miyazawa. Mikio bahkan sempat beberapa kali menegur para skater itu karena terlalu berisik.
![]() |
| Taman bermain Choo-Choo |
Sebenarnya keluarga Miyazawa berencana untuk pindah pada Maret 2001 meskipun sang ibu, Yasuko, ragu. Ia khawatir kalau-kalau anak-anaknya akan kesulitan untuk menyesuaikan diri di tempat yang baru, terutama anak bungsunya yang mengalami gangguan perkembangan. Maka keluarga itu tetap bertahan di Kamisoshigaya, sampai akhirnya mereka benar-benar tidak pernah pindah dari sana untuk selamanya.
Iblis yang Bertamu
Hari itu persis satu hari di penghujung tahun 2000. Akhir tahun adalah salah satu momen paling penting bagi orang Jepang, kesempatan untuk merayakan dan menyambut awal yang baru. Suasana keceriaan orang-orang yang akan menyiapkan malam tahun baru digantikan dengan raungan sirene mobil polisi dan ambulans. Mobil-mobil petugas itu kemudian berhenti di halaman sebuah rumah dua lantai di Prefektur Setagaya. Rumah itu adalah kediaman keluarga Miyazawa.
![]() |
| Kediaman keluarga Miyazawa |
Beberapa jam sebelumnya, Haruko, ibu Yasuko yang tinggal bersebelahan dengan rumah keluarga Mikio tidak dapat menghubungi keluarga tersebut melalui telepon walaupun sudah dihubungi berkali-kali. Jadi dia memutuskan untuk pergi memeriksa ke rumah mereka. Berkali-kali pintu diketuk, namun tidak ada jawaban dari dalam.
Haruko kemudian memutuskan untuk membuka pintu. Tepat ketika dia membuka pintu, wanita itu melihat pemandangan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Dia menemukan menantunya, Mikio, ada di bagian bawah tangga dekat pintu depan telah terbujur kaku. Ceceran darah ada di mana-mana. Tubuhnya tampak telah ditikam berkali-kali.
Tubuh wanita tua itu gemetar. Dengan perasaan campur aduk, ia kemudian naik ke atas. Dalam hati ia berulang kali berdoa agar anggota keluarga yang lainnya baik-baik saja. Tapi begitu naik ke lantai atas harapannya runtuh. Di sana ia menemukan putrinya dan cucu perempuannya bersimbah darah dengan luka tusukan di mana-mana. Haruko segera mencari cucu laki-lakinya, Rei. Bocah itu ditemukan di atas tempat tidurnya. Tak ada luka sama-sekali. Tapi ia sudah tak bernyawa. Anak laki-laki berusia 6 tahun itu tewas dicekik.
Orang-orang mengerubungi halaman rumah, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lingkungan yang biasanya sepi itu mendadak dipadati banyak orang. Di halaman depan, kerabat keluarga Miyazawa menangis histeris.
Beberapa jam kemudian empat usungan jenazah dikeluarkan dari dalam rumah. Menurut perkiraan polisi keempatnya tewas dibunuh malam sebelumnya.
![]() |
Polisi terlihat keluar masuk rumah tersebut, beberapa wartawan berdesakan di luar pagar, menanyakan informasi terbaru. Tapi polisi belum dapat memberikan banyak keterangan. Ada banyak petunjuk dan jejak yang ditemukan di lokasi, tapi mereka harus melakukan penyelidikan mendalam. Tanda kuning garis batas polisi mengelilingi rumah.
Polisi menduga pelaku masuk ke dalam rumah melalui jendela kecil di kamar mandi yang terletak di lantai atas pada malam tanggal 30. Tapi ada banyak kejanggalan.
Rei Miyazawa, putra bungsu keluarga yang baru berusia 6 tahun diduga adalah korban pertama yang dihabisi oleh pelaku. Saat kejadian, bocah laki-laki itu berada di kamar tidurnya yang berada tepat di sebelah kamar mandi. Pelaku sepertinya menemukan Rei yang tengah terlelap lalu mencekiknya hingga tewas.
Tempat tidur Rei adalah tempat tidur bertingkat di mana ada lemari di sebelahnya. Di kamar inilah polisi menemukan banyak sekali jejak kaki yang diduga milik pelaku. Bocah itu adalah satu-satunya korban yang tidak memiliki luka tusukan di tubuhnya dan jasadnya tetap berada di atas tempat tidur. Sementara korban lainnya ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan, tampak mereka berusaha melawan pelaku atau melarikan diri.
Setelah menghabisi nyawa Rei, polisi menduga sasaran pelaku berikutnya adalah sang ayah, Mikio. Pria itu diduga diserang ketika dirinya tengah bekerja di lantai satu. Pada jasad Mikio, polisi menemukan banyak luka tusukan, di paha, bokong, kedua lengan, dada, serta wajah. Luka tusukan fatal di dada adalah penyebab kematiannya. Dengan banyaknya luka yang dideritanya kuat dugaan kalau Mikio sempat berkelahi melawan pelaku. Polisi bahkan juga menemukan pecahan pisau sashimi di tengkorak pria 44 tahun tersebut.
Korban terakhir yang diduga diserang pelaku yaitu sang ibu Yasuko dan anak perempuannya Niina. Kedua jasad ibu dan anak itu ditemukan berjongkok dengan punggung yang bersentuhan. Luka tusuk ditemukan di sekujur tubuh mereka. Ceceran darah memenuhi lantai. Tampak kalau keduanya berusaha melarikan diri dari pelaku.dengan kondisi sama-sama terluka parah.
![]() |
| Tangga menuju ke loteng di mana Yasuko dan Niina tertidur |
Keduanya saat itu sedang tidur bersama di loteng. Ruangan itu sendiri dapat diakses dengan tangga lipat yang terletak di lantai dua dekat kamar mandi. Pelaku yang diduga menggenggam pisau sashimi yang telah rusak setelah menikam Mikio menyerang Yasuko dan Niina yang sedang tertidur. Noda darah ditemukan di atas kasur. Pelaku menikam berkali-kali ke wajah, leher, dan tubuh keduanya.
Diduga Yasuko dan Niina juga sempat berusaha melarikan diri dengan kondisi luka parah. Sebuah tisu yang berlumuran darah ditemukan di lantai loteng. Tisu itu sepertinya digunakan Yasuko untuk menghentikan pendarahan Niina. Yasuko sepertinya memeluk putrinya sambil berusaha kabur menuruni anak tangga. Pelaku tampaknya memberikan tikaman terakhirnya yang mengantarkan sang ibu pada kematian.
Niina sepertinya adalah korban yang meninggal paling akhir. Ia bukan hanya menerima luka tusukan di sana-sini, tapi juga dipukuli secara brutal. Anak perempuan 8 tahun itu meregang nyawa, menderita cedera tulang belakang leher parah yang disebabkan oleh luka tusukan dari belakang. Selain itu beberapa giginya juga hilang. Penyelidik bahkan meyakini kalau pelaku terus menikam Yasuko dan Niina meskipun keduanya sudah meninggal.
![]() |
| Denah rumah keluarga Miyazawa (tanda merah adalah lokasi di mana keempat korban ditemukan) |
Di malam yang dingin itu, anggota keluarga Miyazawa meregang nyawa satu per satu. Namun tak ada satu pun yang menyadari apa yang sudah terjadi di malam tragis itu, bahkan ibu dan saudara perempuan Yasuko yang tinggal hanya bersebelahan rumah.
Pada malam itu pelaku rupanya tidak langsung melarikan diri begitu ia selesai menghabisi nyawa seluruh anggota keluarga Miyazawa. Ia bahkan tampak bersantai, hilir mudik di dalam rumah, melakukan kegiatan di sana-sini seolah tidak terjadi apa-apa.
Pelaku tampaknya masih berada di dalam rumah hingga dini hari, beberapa berteori kalau ia bahkan masih ada di rumah tersebut hingga pagi. Hal ini diyakini dari komputer keluarga yang digunakannya. Komputer tersebut terhubung ke internet dan digunakan selama beberapa menit di kedua waktu tersebut.
Kasus pembunuhan keluarga Miyazawa sudah melewati 2 dekade. Kasus ini sendiri mendapatkan perhatian luas hingga dunia internasional. Bukan hanya karena kebrutalan pelaku menghabisi nyawa seluruh anggota keluarga, tetapi juga karena perilaku sang pembunuh yang tampak sangat tidak normal. Ada banyak sekali jejak dan barang bukti yang seperti sengaja ditinggalkan pelaku di TKP, namun sampai detik ini identitasnya tidak dapat terungkap.
Kejanggalan-Kejanggalan
Ada banyak keanehan dalam kasus pembunuhan keluarga Miyazawa. Tidak seperti kasus lainnya di mana pelaku berusaha menghilangkan jejak atau pun barang bukti, pada kasus ini justru sebaliknya. Pelaku meninggalkan banyak sekali jejak, barang bukti, hingga DNA nya sendiri. Tapi justru itulah kasus ini menjadi sangat tidak biasa.
Kejanggalan yang pertama yang menimbulkan tanda tanya adalah dari mana sebenarnya pelaku bisa masuk ke dalam rumah. Teori awal yang diyakini adalah ia masuk melalui jendela kecil yang berada di dalam kamar mandi. Namun dalam salah satu penyelidikan tidak ditemukan sama sekali adanya tanda-tanda lecet, adanya linen atau serat kain yang tertinggal di jendela.
![]() |
| Jendela kamar mandi yang diduga tempat pelaku masuk |
Lalu bila pelaku tidak masuk melalui jendela kamar mandi apakah ia masuk melalui pintu depan? Tetapi pintu depan rupanya terkunci. Jadi agar teori ini masuk akal berarti kemungkinan yang tersisa yaitu pelaku masuk sebagai tamu yang sangat dikenal oleh korban karena dia datang pada malam hari.
Namun jika kembali lagi ke teori jendela kamar mandi, dia mungkin menggunakan jendela dengan cara tertentu. Polisi menemukan jendela kamar mandi terbuka, dengan tirai nyamuk dilepas dan tergeletak di luar. Selain itu juga polisi menemukan tepat di bawah jendela tadi terdapat jejak kaki dengan ukuran yang diduga mirip dengan milik pelaku. Ranting-ranting pohon yang patah di dekat pagar taman juga merupakan bekas jejak pelaku.
Sementara itu, diyakini bahwa pelaku tetap berada di dalam rumah tersebut selama lebih dari 10 jam, bahkan mungkin sampai pagi. Ada juga kemungkinan pelaku kabur pada malam hari. Diduga pelaku sedang mengobati luka di tangan kanannya yang didapatnya saat penyerangan. Plester perekat dengan sidik jari dan darah pelaku dan juga handuk dengan noda darah, berserakan di dapur di lantai dua. Salah satu perban ditempelkan di bagian belakang buku catatan di ruang tamu. Ada juga bukti bahwa dia menggunakan produk kebersihan wanita untuk menghentikan pendarahan.
Ada bukti bahwa pelaku mengambil 4 botol teh barley, melon, dan 4 cangkir es krim dari lemari es. Salah satu wadah es krim ditemukan di bak kamar mandi di lantai dua, satu lagi di bantal di ruang tamu, dan dua lagi ditumpuk di sisi komputer di lantai pertama. Air liur pelaku juga ditemukan di cangkir yang digunakannya untuk minum teh. Dia telah berkeliaran di sekitar rumah sambil makan es krim.
Pembunuh itu juga menggunakan komputer pada pukul 1:18 pagi dan makan es krim sambil menjelajah internet selama 5 menit 18 detik. Dia mengunjungi situs Perusahaan Teater Shiki yang di-bookmark oleh Mikio.
Selain itu dia juga diketahui mencoba membeli tiket untuk melihat pertunjukan dengan kartu kredit keluarga, tetapi gagal. Dia lalu diduga login kembali pada pagi hari pukul 10:05 selama 4 menit 16 detik. Dia mengunjungi halaman perusahaan Mikio dan sekolah Yasuko. Salah satu fakta yang menarik yaitu sidik jari ditemukan padahanya pada mouse tetapi tidak pada keyboard, membuktikan kalau pelaku sama sekali tidak menggunakan papan ketik tersebut.
Namun ada teori yang menyatakan bahwa komputer bermerek Macintosh tersebut yang terhubung dengan internet untuk kedua kalinya pada pagi hari kemungkinan besar karena ketidaksengajaan.
Diduga mouse komputer jatuh secara tidak sengaja saat ibu Yasuko menemukan mayat dan itu terhubung dengan internet. Polisi memang menemukan benda itu ada di bawah meja. Namun bila pelaku masih mengakses internet beberapa saat sebelum ibu Yasuko datang datang ke rumah itu, maka pelaku tidak punya banyak waktu untuk melarikan diri. Apalagi saat ibu Yasuko menemukan mayat di rumah tersebut, salah seorang kerabat keluarga langsung menelepon polisi. Jadi kemungkinan waktu pelaku melarikan diri adalah antara pukul 1:30 hingga 10 pagi.
![]() |
| Kamar mandi yang berada di lantai dua |
Dia juga telah menyebarkan dokumen pribadi, buku harian, kartu identitas, tagihan listrik, buku bank, dan dokumen lainnya di meja ruang makan dan sofa di lantai dua. Sejumlah dokumen, kwitansi, handuk, produk sanitasi, dan sampah lainnya dibuang di bak mandi lantai dua. Dia bahkan meninggalkan kotorannya di kamar mandi. Pelaku juga diketahui tidur di sofa ruang tamu.
Polisi menemukan uang sekolah dicuri dan dompet Mikio dan Yasuko dikosongkan. Melihat bagaimana si pembunuh menyebarkan dokumen di atas meja, ada kemungkinan kalau pelaku ingin mengetahui pin ke rekening bank Mikio. Ini memunculkan teori bahwa motif pelaku adalah perampokan. Tapi anehnya uang tunai, paspor, kartu bank, dan perhiasan tidak diambilnya. Lagi pula kalau teorinya adalah perampokan mengapa dia harus membunuh anggota keluarga yang lainnya? Apalagi Yasuko dan Niina yang sedang tidur di loteng atas. Ini sangat janggal.
Rentetan Peristiwa Aneh Sebelum Pembunuhan
Setelah pembunuhan keluarga itu terjadi, keluarga dan kerabat Miyazawa serta beberapa tetangga dan saksi mata mengatakan memang beberapa hari sebelum kejadiaan naas itu terjadi telah ada serangkaian peristiwa aneh yang terjadi di sekitar tempat itu. Peristiwa-peristiwa ini pun digali karena kemungkinan berhubungan langsung dengan pelaku pembunuhan.
Beberapa bulan sebelum kejadian, masyarakat di sekitar mulai memperhatikan adanya tindakan kekerasan terhadap hewan. Hewan-hewan di daerah itu ditemukan mati disiksa dan dibunuh. Ada desas-desus bahwa hewan pengerat dibunuh dan bahkan kucing liar setempat disiksa. Namun kemudian ditentukan kalau itu merupakan perbuatan seorang karyawan bank yang tidak memiliki kaitan dengan kasus keluarga Miyazawa.
Seorang saksi melaporkan kalau dirinya melihat Mikio tengah berdebat dengan Boszoku, yaitu sebuah geng motor yang dikenal kejam dan berbahaya. Mereka juga diketahui membawa senjata.
Pada tanggal 25 Desember, Yasuko mengatakan kepada ayah mertuanya bahwa ada sebuah mobil aneh yang sudah beberapa kali parkir di depan rumah mereka, padahal masih banyak tempat parkir kosong di tempat lain. Anehnya mobil tersebut selalu saja parkir di depan rumah keluarga Miyazawa.
![]() |
| Bagian belakang rumah |
Lalu pada tanggal 27 Desember, seorang saksi mata melihat seorang pria yang diperkirakan berusia 40an berkeliaran di sekitar rumah keluarga Miyazawa. Dua hari kemudian, tanggal 29 Desember atau sehari sebelum pembunuhan, seorang pemuda terlihat di depan Stasiun Seijogakuenmae, yang hanya beberapa mil jauhnya dari tempat tinggal keluarga Miyazawa. Pria itu terlihat mengenakan pakaian tipe skater yang mirip dengan pakaian yang ditemukan di TKP membawa sebuah ransel. Saksi mata mengatakan itu sangat tidak biasa karena pria itu berpakaian tidak sesuai cuaca. Polisi juga menemukan bahwa pria yang memiliki ciri yang mirip tersebut, membeli pisau sashimi di area perbelanjaan di dekat sana sehari sebelum kejadian.
Pada tanggal 30 Desember, seorang pria berusia 35-40 tahun dan cocok dengan deskripsi tersangka terlihat di Stasiun Sengawa yang berjarak kira-kira satu mil dari rumah Miyazawa. Lalu ada juga laporan seorang saksi mata yang mengatakan kalau dirinya melihat seorang pria bergegas pergi di jalan setapak dekat rumah Miyazawa sekitar pukul 23.35.
Sehebat Itukah Si Pembunuh?
Penyelidikan polisi selanjutnya menemukan lebih dari 12.545 barang bukti. Banyak sekali barang bukti yang ditinggalkan pelaku, seperti sidik jari, jejak kaki, kotoran di kamar mandi, pakaian, dan senjata pembunuh (pisau sahimi yang dibeli sendiri oleh pelaku dan pisau dari rumah keluarga Miyazawa). Selain itu polisi juga menemukan darah dan jejak kaki yang bukan berasal dari anggota keluarga Miyazawa.
Pembunuhan semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ratusan ribu polisi terlibat untuk membantu menyelesaikan kasus. Salah satu yang diketahui adalah pelaku memiliki golongan darah A yang didapatkan dari handuk bernoda darah yang dibuangnya. Namun salah satu hal yang sangat mengejutkan adalah sidik jari yang ditinggalkan pelaku tidak ditemukan pemiliknya. Bahkan setelah lebih dari 5 juta orang diperiksa sidik jarinya, meliputi tetangga, teman keluarga, semua penjahat, hingga semua pasien rumah sakit yang memiliki luka di tangan mereka. Bahkan polisi mencoba melakukan tes DNA dengan lebih dari 1.300.000 percobaan. Tak ada satu pun yang cocok.
Pihak penyelidik menemukan informasi yang sangat menarik. Kurang dari 5 tahun setelah kejadian yaitu tahun 2005, polisi mengumumkan kalau ada kemungkinan pelakunya merupakan keturunan Eropa Selatan dari sebelah ibu. Mereka menyimpulkan kalau ibu pelaku atau salah satu kakek neneknya berasal dari negara yang dekat dengan Laut Adriatik. Sementara itu ayahnya adalah orang Asia Timur, tapi dia bisa jadi orang Jepang atau orang Korea atau Cina.
Polisi Jepang sebenarnya telah minta bantuan Korea Selatan untuk mengidentifikasi pelaku. Ini adalah permintaan pertama untuk kasus semacam ini, tetapi pihak pemerintah Korea Selatan menolak permintaan tersebut.
Sementara itu pelaku diperkirakan berusia 15-35 tahun yang didapatkan dari perkiraan kemampuannya memanjat pagar dan tinggi badan sekitar 170 cm. Helaian rambut yang ditemukan di tasnya menunjukkan kalau dia memiliki rambut pendek berwarna coklat atau hitam. Beberapa spekulasi mengatakan kalau pelaku memiliki latar belakang tentara. Ini dilihat dari cara berjalannya.
![]() |
| Perkiraan penampilan pelaku saat melakukan pembunuhan |
Pelaku meninggalkan hampir seluruh pakaiannya di belakang ruang tamu Miyazawa, di sofa mereka. Selain itu pada tas ransel milik pelaku ditemukan jejak pasir yang diduga berasal dari Amerika Barat Daya.
Tas itu sendiri adalah tas dengan ukuran relatif kecil, pas dengan ukuran notebook A5, dan dijual di Jepang dari September 1995 hingga Januari 1999. Tas ini adalah tas bekas. Tas itu berharga di bawah 30 dolar dan diproduksi di Korea. Dalam tes Blacklight, beberapa jejak agen flourescent merah ditemukan serta helai rambut gelap pelaku.
![]() |
| Tas milik pelaku yang sengaja ditinggalkan di TKP |
Syal adalah salah satu item yang paling sulit untuk ditentukan. Tidak diketahui siapa yang memproduksi dan di mana item tersebut dijual. Menurut informasi yang diterima polisi, syal itu diberikan secara gratis di tempat-tempat umum seperti pusat permainan atau toko seragam.
Salah satu elemen yang menarik lainnya adalah sepatu. Sepatu itu bermerek Inggris Slazengers telah memproduksi model khusus ini di Korea Selatan. Item ini dijual di Korea Selatan dan Jepang, tetapi hanya Korea Selatan yang menjual sepatu dengan ukuran yang sesuai dengan jejak kaki pelaku Ini adalah barang kedua yang berasal dari Korea Selatan.
![]() |
| Sepatu milik pelaku yang juga ditinggalkan begitu saja di dalam rumah |
Selain sepatu ada pula barang yang mencurigakan lainnya yang ditinggalkan pelaku yaitu sweatshirt. Di Tokyo, hanya sepuluh dari mereka yang dijual di toko M/X yang sekarang sudah tutup. Bahkan jika dihitung di seluruh negara itu hanya ada 130 sweatshirt yang terjual.
Pakaian pelaku terdiri dari topi ember rajutan abu-abu, jaket hitam dari Uniqlo, dan sarung tangan hitam. Topi rajutan itu sendiri dijual pada September 1999 sampai November 2000. Sementara itu jaket yang memiliki ukuran L itu keluar pada tahun 2000 dan tersedia di toko-toko sejak September 2000. Sarung tangan diproduksi oleh merek Jepang Edwin dan dibeli dari tahun 1998-2000. Beberapa pakaian berbau seperti Drakkar Noir, parfum Perancis yang dijual di Jepang sejak 1982.
![]() |
| Kaos milik pelaku |
Barang lainnya yaitu sapu tangan hitam yang diproduksi oleh merek Jepang Muji. Salah satunya kemungkinan besar digunakan penjahat untuk membungkus gagang senjata pembunuhan. Ada potongan senjata toiga cm di tengah kain. Menurut polisi Tokyo, teknik semacam itu digunakan oleh pekerja Cina di sebuah pabrik ikan, untuk mencegah pisau tergelincir ketika membersihkan seafood.
Lima dari sepuluh barang yang ditinggalkan pelaku rupanya bisa dibeli di sekitar Stasiun Ogikubo. Polisi mengira mungkinpelaku tinggal di sisi barat Tokyo dan dipindahkan oleh jalur JR Chuo dan Jalur Kei, yang menempatkannya tidak jauh dari Taman Soshigaya.
Namun beberapa penyelidik menduga pelaku yang membuang dan menghancurkan barang-barangnya bisa jadi merupakan kamuflase dan bagian dari rencana rumit yang membawa polisi keluar dari jalur penyelidikan.
Polisi memiliki banyak sekali barang bukti, namun tidak dengan saksi. Hanya ada 2 orang yang diperkirakan melihat pelaku. Pertama adalah seorang wanita yang mengaku berada di dekat TKP tengah mengendarai mobil sekitar pukul 11:30 malam. Tiba-tiba dia melihat seorang pria yang bergegas keluar dari lingkungan rumah Miyazawa dan melompat ke depan mobilnya. Dia berhasil menghindari kendaraannya dan melarikan diri. Tapi informasi ini diragukan karena menurut keterangan polisi mereka sama sekali tidak menemukan adanya jejak bekas darah di jalan.
Penampakan lainnya terjadi sehari setelah pembunuhan. Seorang pria dengan luka di lengannya terlihat di stasiun Tobu-Nikk. Stasiun ini sendiri lokasinya sekitar 2-3 jam perjalanan dari Setagaya. Orang tersebut menerima perawatan dari seorang pekerja di stasiun tersebut. Tapi luka yang dideritanya sangat dalam sampai tulangnya tak terlihat. Ini sama sekali tidak sama dengan gambaran keadaan pelaku.
Sementara itu satu-satunya gambar yang didapat sebelum terjadinya pembunuhan yang diduga kuat adalah pelaku didapatkan dari kamera sebuah supermarket yang terletak di dekat pintu keluar Stasiun Kichioji. Di sini jugalah senjata pembunuhan itu dibeli.
Motif yang Kabur
Seseorang melakukan pembunuhan pasti selalu ada motif di belakangnya. Paling tidak ada 3 kemungkinan motif dalam kasus pembunuhan keluarga Miyazawa, yaitu uang, dendam, dan motif yang tidak diketahui.
Teori uang sebenarnya cukup diragukan sejak awal. Faktanya pelaku memang membawa pergi uang dari rumah tersebut, namun jumlahnya hanya sebesar 150 ribu yen. Mungkinkah pelaku tega membunuh seluruh anggota keluarga demi mendapatkan sejumlah uang yang tidak begitu besar. Rasa-rasanya kurang masuk akal.
Salah satu dari ketidakmungkinan itu bisa dilihat dari fakta di lapangan. Pelaku tidak mengambil semua uang. Ia bahkan meninggalkan sekitar 190 ribu yen dan mata uang asing yang jumlahnya sekitar 5 ribu yen. Jika itu memang pembunuhan karena uang, apa yang ia lakukan juga sangat berlebihan. Jika memang motifnya itu, harusnya yang diserang cukup Mikio saja, tapi mengapa dia sampai membunuh Yasuko dan Niina yang sedang tidur di loteng dan diserang dengan begitu mengerikan.
Itulah mengapa sebagian besar orang lebih percaya kalau motif pelaku sebenarnya adalah karena dendam. Dalam sebagian besar kasus, pembunuhan yang dilakukan karena dendam memang biasanya dapat dilihat dari tindakan yang begitu kejam yang dilakukan pelaku terhadap korbannya. Bahkan pelaku tidak pandang bulu karena anak-anak dan wanita juga diperlakukan dengan begitu brutal, seolah-olah ia punya dendam kesumat luar biasa. Dalam kasus ini kita bisa melihat bagaimana Yasuko dan Niina terus ditikam meskipun sudah meninggal, seolah pelaku agresif sekali terhadap wanita.
Salah satu teori pelaku pembunuhan melibatkan para skater. Seperti diketahui rumah keluarga Miyazawa berada di belakang taman, di mana biasa para skater biasa berkumpul. Bisa jadi ada keributan antara keluarga itu dengan para skater. Banyak kesaksian yang mengklaim kalau Mikio sering berdebat dengan skater yang menggunakan bangku di Choo-Choo Train Park sebagai arena mereka. Bisa jadi pelaku tinggal di suatu tempat di Ogikubo yang berdekatan dengan Taman Soshigaya.
![]() |
Teori ini seolah diperkuat dengan fakta bahwa Slazengers, pembuat sepatu yang produknya dipakai oleh pelaku, membuat sepatu yang tidak biasa untuk para skater.
Di Jepang, karena barang-barang yang ditinggalkan oleh pelaku (dan kecenderungan menganggap pelaku kejahatan adalah orang asing) teori populernya adalah pelaku merupakanwarga negara Korea. Salah satu kisah yang sensasional yang ditulis oleh seorang jurnalis, Ichihashi Fumiya, menceritakan kisah kalau Miyazawa tidak ingin menjual tanah mereka sehingga mereka dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran.
Teori lainnya yaitu pelaku mengidap penyakit mental atau pelaku sebenarnya adalah perampok yang salah korban.
Hampir 250.000 penyelidik telah menangani kasus ini, menerima lebih dari 15.000 petunjuk dari publik. Tetapi sudah dua dekade berlalu, para penyelidik tampaknya tidak lebih dekat untuk memecahkan kasus yang mengerikan ini, nk mengungkap identitas sang pembunuh. Apalagi untuk mengetahui apa sebenarnya motif pelaku, mengapa harus menghabisi keluarga Miyazawa? Kenapa?
Kepala Polisi yang Tidak Pernah Menyerah
Namanya Takeshi Tsuchida. Ia adalah kepala polisi yang menangani kasus pembunuhan keluarga Miyazawa. Pensiunan polisi ini merupakan kepala perwira di kantor polisi Seijyo saat ia ditugaskan untuk menyelidiki pembunuhan tersebut.
![]() |
| Takeshi Tsuchida dan Yasuko Miyazawa yang tidak pernah menyerah untuk memecahkan kasus |
Mantan kepala polisi itu masih ingat betul bagaimana ekspresi wajah masing-masing korban ketika jasad mereka ditemukan. Itu semua masih membekas dalam ingatannya.
“Ketika Anda membandingkan korban yang meninggal karena penyakit atau sebab alami dengan mereka yang dibunuh secara tiba-tiba, mereka terlihat sangat berbeda”. -Takeshi Tsuchida
Meski telah lama pensiun, namun Tsuchida masih secara tidak resmi menangani kasus pembunuhan Setagaya ini. Ia tahu meskipun dirinya tidak dapat lagi melakukan penyelidikan, tapi ia memiliki banyak pengetahuan tentang kasus ini, jadi dia bekerja sendiri membuat selebaran dan membagi-bagikannya. Tsuchida juga secara teratur tetap mengunjungi tempat kejadian dan tetap mengingat detail di dalam rumah itu, terutama para korban.
“Ketika saya memikirkan kebrutalan dalam cara dia membunuh keempatnya, saya bertanya-tanya bagaimana mungkin orang waras bisa melakukan kejahatan ekstrem seperti itu? Kami tidak bisa menunjukkan bekas luka itu kepada keluarga korban yang hancur. Tidak ada kasus lain di mana para korban telah dipotong seperti ini.” -Takeshi Tsuchida
Kasus pembunuhan keluarga Miyazawa saat ini berada di tangan Manabu Ide dari Satuan Investigasi Khusus Kepolisan Tokyo. Inspektur Ide yakin kasus ini pasti akan dapat dipecahkan. Ia juga mengatakan bahwa para penyelidik ingin agar arwah para korban dapat beristirahat dengan tenang.
Referensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Setagaya_family_murder
https://www.abc.net.au/news/2019-12-29/the-house-of-horrors-in-setagaya-japan/11771304?nw=0
https://medium.com/the-mystery-box/what-we-really-know-about-the-setagaya-family-murder-a87389875e71
http://www.asahi.com/ajw/articles/14085667
Kasih komentar yaa.. Tanpa kalian apalah arti aku menulis. Kalian adalah penyemangat setiap kalimat demi kalimat yang kutulis, setiap artikel yang kuposting.. 😉
Perhatian: Mohon hargai penulis dengan tidak mengambil atau copy paste artikel di blog ini untuk dijadikan postingan blog/website ataupun konten Youtube. Terima kasih.. ^^


























