
Gawai saya tak henti berdering siang itu. Sementara saya sedang dalam diskusi berkelanjutan dengan sebuah lembaga yang membawahi bisnis perhiasan saya. Nama yang muncul di gawai membuat saya memohon izin untuk menjawab karena Anita, yang menelepon ini, biasanya, selalu datang dengan kabar mengejutkan.
“Mbaaaak…,” terdengar suara nyaringnya di ujung telepon. “Aku punya kabar mengejutkan nih.”
Tuh kaaann.
Maka mengalirlah sewadah besar cerita yang sepertinya sudah terlalu berhamburan menyesakkan dada untuk segera dibagikan. Yang pasti ini adalah berita bahagia karena nada suka cita begitu terdengar dari caranya bicara.
Dari mulut ibu tiga orang putri ini saya kemudian mendapatkan informasi bahwa dia mengantongi berita penting tentang Sultan Saifuddin, Sultan ke-11 Tidore yang sempat memerintah Bumi Kie Limau Duko selama 30 tahun lamanya (1657 – 1687).
Lewat seorang aktivis penggali sejarah Indonesia yang tinggal di Belanda, Donald Tick dan seorang peneliti serta penggiat budaya, Alesia Chong, Anita mengetahui bahwa di Museum of Czartoryski Krakow Polandia, menyimpan dan memamerkan sebuah lukisan salah seorang Sultan Tidore. Sultan ke-11 yang bergelar Jou Kota dan itu adalah lukisan asli bukan remake.
Saya seketika termangu, setelah bertahun-tahun berkutat dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang adalah perserikatan atau persekutuan asal Belanda, Spanyol, dan Portugis, kok tiba-tiba Tidore terhubung dengan Polandia.
Bagaimana bisa?
Sejarah Tidore : TIDORE Dalam Balutan Sejarah

Beranjak dari Sebuah Langkah Kecil
Rasa penasaran saya dijawab oleh Anita dengan berbagai foto yang dibagikan lewat WA. Dia pun mengkonfirmasi bahwa dalam waktu dekat, seiring dengan rencananya berangkat ke Eropa, Anita dan Gathmir (sang suami) akan menyempatkan diri mampir ke Museum of Czartoryski yang berada di Krakow Polandia.
Kunjungan ini akan dilengkapi dengan sebuah zoom meeting, presentasi on line dari pihak museum dengan mengundang beberapa pemangku jabatan yang banyak terlibat pada sejarah Tidore, seperti Dinas Pariwisata Maluku Utara, pemerintah kota Tidore, para sejarawan, pendidik/akademisi, lingkungan Kesultanan Tidore, wartawan, penulis, blogger, dan anak keturunan Tidore yang concern dengan sejarah .
Dan saya (sangat) bangga bisa diajak berada di dalam komunitas ini meski di dalam tubuh saya tak setitik darah pun mengalir darah keturunan Tidore.
Tapi saya yakin meski pertemuan daring ini diadakan hanya dalam satu waktu setidaknya ada sebuah langkah kecil yang nyata dilaksanakan demi keterbelangsungan sebuah catatan sejarah yang kelak dapat menjadi materi ajar dan legacy bagi generasi penerus.

Pertemuan Daring yang Sarat Sejarah
Pertemuan daring pun dijadwalkan pada 3 Juli 2025 pada pkl. 15:00 wib dengan mengusung tema “Menelusuri Jejak Lukisan Sultan Saifuddin di Musium Krakaw, Polandia”
Tak banyak persiapan yang saya aturkan kecuali membaca kembali banyak referensi tentang Sultan Saifuddin yang diberi gelar Kaicil Golofino. Saya pun membuka tulisan lama tentang Sejarah Tidore yang sempatkan saya hadirkan di blog ini. Ada satu bagian kecil yang saya cantumkan tentang beliau. Dan itu sangat menarik.
Setidaknya yang saya ingat bahwa Sultan Saifuddin lah yang memindahkan pusat pemerintahan Tidore dari Kadato Biji Negara di Toloa ke Limau Timore Soasio (area yang ditempati sekarang yang kemudian dikenal sebagai Kelurahan Soasio). Tindakan beliau memindahkan ibu kota inilah yang kemudian beliau dijuluki sebagai Jou Kota yang berarti Sultan yang Diantar. Kadato yang dicat berwarna hijau ini diberi nama Kadato Ijo (Fola Ijo). Kehadirannya tetap seperti sekarang. Alhamdulillah saya sudah berkali-kali bertamu atas dan memenuhi undangan dari Kesultanan Tidore yang sekarang dipimpin oleh Sultan Husain Sjah.
Meeting secara on-line ini dibuka oleh Alesia Chong yang tampak terbata-bata dalam bahasa Inggris. Tapi karena punya teman yang berbahasa Polish dan Rusia, saya bisa menangkap apa yang dia sampaikan, kalimat demi kalimat. Meski dalam beberapa vocabularies saya tetap harus mengernyitkan kening. But no problem. She’s done everything so very well.
Dengan nada ramah dan wajah semringah, Alesia memperkenalkan diri lalu mengulas sekilas tentang Museum of Czartoryski kemudian menunjukkan lukisan Sultan Saifuddin yang berukuran sekitar 32 x 25cm yang berada/digantung di sebuah dinding. Karena warna background lukisan cenderung gelap saya tidak bisa begitu melihat lukisan tersebut. Tapi Alesia segera menampilkan hasil foto clear dari lukisan lewat fasilitas share screen yang sudah disiapkan.
Saya mendadak terkisap meski sesungguhnya foto ini sudah saya lihat lewat WA yang dikirimkan oleh Anita beberapa hari sebelumnya. Kenapa? Karena detik itulah netra saya menyaksikan sendiri bahwa benar lukisan Jou Kota memang berada di the Museum of Czartoryski, Krakow, Polandia. Sebuah kota dan negara yang jaraknya ribuan kilometer dari tanah air.

Alesia Chong kemudian mengenalkan Prof. Andrzej Szczerski. Direktur dari Museum of Czartoryski. Dalam sambutannya Prof. Andrzej mengungkapkan kebanggaan dan kebahagiaan bahwa lewat kehadiran lukisan Jou Kota di museum yang dipimpinnya telah membangkitkan hubungan yang erat antara Polandia dan Indonesia. Museum pun membuka pintu selebar-lebarnya bagi masyarakat/publik tanah air jika hendak berkunjung dan menyaksikan langsung lukisan yang menghadirkan salah seorang sultan yang sempat memimpin Tidore di abad ke-17, negeri kaya rempah-rempah yang berada di timur Indonesia.
Pihak museum kemudian menghadirkan Dr. Adam Spodaryk (Adam), seorang museum expert on historical collection. Adam lah yang akhirnya meneruskan penjelasan lebih rinci dari lukisan ini.
Lewat penuturan Adam semua peserta meeting mengetahui bahwa Museum of Czartoryski adalah museum tertua dan paling prestisius di Eropa Timur. Di awal pendiriannya (1801) museum ini bertujuan untuk mengumpulkan artefak sejarah. Kemudian menjadi pusat seni dan sejarah penting di Polandia (1809-1831). Hingga kini museum yang didirikan oleh Princess Izabela Czartoryski ini tetap dirawat dengan baik dengan banyak koleksi yang mengukir sejarah dari segala penjuru dunia.
Selain lukisan Sultan Saifuddin, museum ini juga menyimpan lukisan para gubernur Hindia Belanda. Semua lukisan ini dibeli (baca: diboyong) oleh sang putri pada sebuah acara lelang barang antik di Belanda pada 1769.

Terjemahan bebasnya kira-kira begini:
Lukisan ini diduga dikerjakan oleh seorang seniman asal Belanda dan diduga sebelumnya berada di Rijksmuseum. Sayangnya dugaan ini tidak terbukti. Saya tidak menemukannya di sana hingga akhirnya saya justru mendapatkannya di Museum Czartoryski di Krakow. Saya tidak memiliki ide sama sekali tentang bagaimana sang pelukis atau lukisan ini bisa berada di Krakow tetapi menyadari betapa beruntungnya lukisan ini selamat dari gerakan revolusi dan invasi yang terjadi di Polandia.
Setelah peristiwa November 1830 bangkit dan terjadi penyitaan atas koleksi Museum Czartoryski, akhirnya banyak koleksi dari museum ini dipindahkan ke sebuah tempat yang aman di Paris dan kemudian dikembalikan ke Krakow pada 1876. Di 1914 dan selama Perang Dunia I, koleksi museum dipindahkan Dresden, Jerman, sebelum kemudian dikembalikan ke museum keluarga di 1920. Pada 1939 setelah Jerman menginvasi Polandia, koleksi lukisan ini dan berbagai obyek lainnya dijarah dibawa ke Jerman. Di 1945 perwakilan dari negara Polandia atas nama Museum Czartoryski melaporkan peristiwa pencurian dan perampasan ini kepada the Allies Commissions for the Retrieval of Works of Art. Meskipun begitu, dari hasil penelusuran ini dilaporkan bahwa ada 843 koleksi yang hilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.
Di tahap awal, saat diadopsi oleh sang Putri, lukisan Sultan Saifuddin ini sempat ditandai sebagai Raja Ternate. Tapi saya masih berusaha menjejak informasi mengapa akhirnya dinyatakan sebagai Sultan Tidore. Asumsi saya adalah karena tahun pembuatan dan kondisi tangan sang sultan yang tampak tersanggah kain dan diikatkan ke dada, pundak dan badan bagian belakang. Sebuah visual yang menandakan bahwa yang bersangkutan sedang sakit. Dan ini memang menjadi tanda khusus Jou Kota.
Seperti yang disampaikan Adam, dari hasil penelitian dan pengamatan secara ilmu pengetahuan, saat dilukis Sultan Saifuddin memang sedang menderita sakit lepra. Saat itu kondisi tangan kanannya memang sudah harus disanggah.
Mengamati lukisan ini lebih jauh, Adam menginformasikan bahwa saat dilukis Sultan Saifuddin mengenakan baju terbaik dengan mengenakan ikat kepala dan sling atau kalung dada yang terbuat dari emas. Perangkat lengkap yang menunjukkan kelas dan status beliau sebagai orang penting serta aura seorang pemimpin. Dan ini sekaligus membuktikan bahwa di era itu Tidore memiliki outstanding jewelry products yang bisa merepresentasikan kedudukan sang pemimpin.
Ada beberapa ciri khas yang menurut saya pribadi adalah visualisasi khas lelaki Timur. Rambut ikal, kulit tanned, wajah tegas dengan kumis dan janggut tipis. Tatapan matanya kuat meski tidak terlihat garang.
Sekilas Tentang Jou Kota
Dalam catatan sejarahnya, Jou Kota adalah seorang yang sederhana dan begitu merakyat serta sangat memikirkan nasib warganya. Dia berkonsentrasi pada pembangunan kesejahteraan rakyat ketimbang urusan militer atau membuka konfrontasi dengan VOC yang mulai memperluas kekuasaan perdagangannya di Maluku.
Keputusannya untuk bekerja sama dengan VOC dalam perdagangan cengkih dan memberikan hak monopoli, sempat ditentang oleh banyak pihak. Termasuk para Bobato Adat. Apalagi di masa itu pergolakan politik melawan para penjajah begitu terasa kencang di timur Indonesia, khususnya Maluku.
Sultan Saifuddin menganggap kehadiran VOC justru harus disikapi berbeda. Beliau malah menandatangi kesepakatan lewat sebuah perundingan pada 28 Maret 1667. Traktat tersebut dibuat dalam dua bahasa. Bahasa Tidore dan Bahasa Belanda. Ada dua poin kesepakatan yang menjadi fokus dari perjanjian tersebut. Pertama, VOC mengakui hak dan kedaulatan Kesultanan Tidore atas Kepulauan Raja Ampat dan Papua Daratan. Kedua, Kesultanan Tidore memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah dalam wilayahnya kepada VOC. Sumber : ANRI yang dikutip oleh Adnan Amal dalam bukunya “Kepulauan Rempah-Rempah (Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950).“ Status Tidore selama traktat berjalan, diberlakukan setara, sebagai sekutu, hingga VOC sangat menghormati Jou Kota dengan tidak terlibat dalam urusan kebijakan domestik apa pun yang diambil beliau.
Kelimpahan kesejahteraan selama kepemimpinan Sultan Saifuddin berlangsung selama beliau berkuasa selama 30 tahun. Jou Kota, sultan ke-11 Tidore ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 2 Oktober 1687.


Asa yang Lahir
Di akhir masa temu daring tersebut, banyak sekali pertanyaan yang muncul dari para peserta dan semua terkoodinir dengan baik oleh Ko Kris mewakili Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Utara. Keluwesan Ko Kris mengatur alur komunikasi begitu mumpuni hingga satu demi satu tanggapan, pendapat, serta ide ke depannya bisa tertampung dengan baik.
Dari sekian banyak komunikasi yang terbangun, banyak sekali harapan yang muncul, khususnya mengakomodir dibuatnya replika dari lukisan ini. Sebuah mimpi yang saya rasa cukup reasonable dan applicable. Saya (sangat) yakin anak keturunan Tidore tentunya ingin agar memori mereka akan Sultan Saifuddin bisa terwakilkan lewat sebuah lukisan yang terpajang indah di Kadato Kie (Istana Sultan) yang berada di Soasio.
Saya kemudian menelusur akun media sosial milik seorang politikus sekaligus peneliti yang sedari awal memberikan perhatian istimewa atas sisi sejarah Tidore. Beliau saya kenal pernah menjadi sebagai Anggota Maluku Utara dan DPRI RI periode 2014-2019. Berikut adalah kutipan saya atas apa yang ditulis beliau setelah ikut berpartisipasi pada pertemuan daring tersebut di atas.
“Few years ago, in Poland museum, sebuah negeri yang nyaris tak ada relasi budaya dan sejarahnya dengan nusantara, wa bil khusus dengan Maluku Utara. Namun sedemikian setianya mereka merawat peninggalan sekian abad lalu, tentang potret diri “Koning van Tidore”. Bahkan di tengah hiruk pikuk revolusi dalam negeri, hingga melintas dua kali perang dunia, mereka tetap saja setia merawat lukis tersebut. Bahkan motif pakaian sang Jou Kota turut tercatat pada dokumen dan arsip Yale University, USA. Betapa smart nya mereka merawat memory and heritage kita, nun jauh di pelosok timur Eropa hingga AS.”
Saya juga membaca dan mencatat sebuah uraian penting yang dituliskan Alesia Chong lewat aku Facebook nya. Ada satu paragraf yang begitu menarik perhatian saya. Berikut adalah kutipannya:
“We are try grateful to the Museum for their openness and for hosting a special teleconference dedicated to one of its most intriguing artworks: The Portrait of Sultan Saifuddin of Tidore. This painting is not only a valuable historical object, the only known realistic portrait of an Indonesian ruler from that era, but also a powerful symbol connecting South East Asia and Europe.”
Lewat rangkaian komunikasi tanya jawab, uraian berbagai pendapat, dan diskusi singkat di bagian akhir sesi teleconference ini, saya menyimak, memperhatikan, serta mencatat bahwa semua yang ikut serta dalam kegiatan ini mempunyai harapan besar agar ke depannya dapat terbangun kerja sama yang lebih erat antara Indonesia dan Polandia.
Terbangun pula suatu asa agar lukisan Jou Kota dapat dibuatkan replikanya dan ditampilkan di salah satu museum di Jakarta atau dipajang di Kadato Kie (Istana Kesultanan Tidore) yang berada di Soasio. Dengan harapan bahwa kehadiran lukisan ini bisa semakin menumbuhkan cinta rakyat Tidore pada beliau sebagai salah seorang Sultan yang dibanggakan. Sultan yang dalam masa pemerintahannya menjadi tonggak penting akan “kekuatan” Tidore sebagai salah satu negeri penghasil rempah-rempah (baca: Cengkih) yang kualitasnya diakui oleh dunia.
Masa boleh berlalu tapi catatan sejarah adalah jejak yang membangun sejarah itu sendiri. Sebuah pertinggal yang nantinya akan menjadi bagian penting dari ilmu pengetahuan serta jejak kehidupan sejauh apa pun kita melangkah.
Tentang Tidore : Puta Dino Kayangan, Membidani Lahirnya Kembali Kain Tenun Tidore yang Sempat Punah
Tentang Tidore : Revitalisasi Puta Dino, Tenun Tidore yang Sempat Punah









