Scroll untuk baca artikel
Pendaki

Mendaki Gunung Arjuno via Lawang

184
×

Mendaki Gunung Arjuno via Lawang

Share this article
mendaki-gunung-arjuno-via-lawang
Mendaki Gunung Arjuno via Lawang

Sebelumnya, saya dan seorang teman ingin mengikuti pendakian bersama ke Gunung Semeru. Memang, Gunung Semeru adalah dambaan para pendaki. Mereka ke sana untuk menginjakkan kaki di Mahameru atau hanya sekadar menikmati keindahan Ranu Kumbolo.

Saat itu kami ingin sekali ke sana. Kami bahkan sudah mendaftar pendakian bersama dan membayar uang registrasi. Tapi, ternyata bulan April 2019 gerbang pendakian Gunung Semeru masih belum dibuka. Agak kecewa karena batal ke sana, kami merencanakan untuk naik gunung di atas 3.000 mpdl sebagai pengganti Semeru. Kami memutuskan untuk ke Gunung Arjuno.

Example 300x600

Akhirnya, saya—cewek sendiri—dan tiga orang teman cowok berangkat tanggal 20 April. Rencananya kami akan turun keesokan harinya, 21 April, sebab tanggal 22 kuliah sudah dimulai dan salah seorang teman saya yang masih SMA juga ada ujian. Benar-benar nekat teman satu itu.

Kami berangkat dari Kediri jam 1 siang mengendarai motor. Setiba di Malang, kami makan mi pangsit di warung pinggir jalan. Saat makan di sana, tahu bahwa kami ingin naik gunung sebab kami membawa tas gunung, sang penjual mi ayam memberikan porsi lebih banyak untuk tiga teman saya.

peta gunung arjuno via lawang
Peta pendakian Gunung Arjuno via Lawang/Velina Nur Rahma Afifah

“Ini tak kasih porsi banyak biar kuat mendaki buat mas-masnya,” ujarnya. “Ini buat mbaknya saya kasih porsi biasa saja gapapa, ya, Mbak.”

Setelah salat Asar kami melanjutkan perjalanan dan tiba di base camp Lawang jam 4 sore. Salah seorang di antara kami ada yang sudah pernah ke Arjuno, tapi lewat jalur berbeda, yakni Tretes. Kami langsung registrasi, membayar biaya masuk, lalu di-briefing. Kami memarkir motor dekat dengan titik awal pendakian.

Pukul 16.15 kami berdoa bersama dan mulai mendaki Gunung Arjuno. Di awal pendakian, melewati perkebunan teh warga, kami sering berpapasan dengan pemetik teh yang baru pulang bekerja. Ada yang sampai bertanya, “Wong piro iki seng munggah?” Dalam bahasa Jawa, itu artinya “berapa orang yang naik?” Serentak kami menjawab: “Empat orang, Pak.” “Genep, yowes. Ndang munggah. Ati-ati.” Memang ada mitos yang beredar bahwa jangan naik gunung dalam sebuah tim yang jumlah anggotanya ganjil. Untung saya jadi ikut. Kalau tidak, mungkin teman-teman saya ini naik bertiga, ganjil. Sebenarnya saya hampir gagal ikut ke Arjuno, sebab ada seleksi lomba panjat tebing. Beruntungnya seleksi itu bisa dimajukan.

Melewati shelter, hari sudah gelap. Tapi kami lanjut berjalan dibantu penerangan sebuah headlamp. Kala itu cahaya rembulan sedang bersinar terang sehingga jalan kelihatan jelas.

Setiba di Pos 2 sekitar pukul 19.05, dua teman saya mengambil air. Perlu sekitar setengah jam untuk ke mata air dari Pos 2 lewat jalan yang katanya menurun dan terjal sekali. Kata teman saya, bahkan pernah ada pendaki yang tersesat saat ke mata air. Makanya, rasanya lama sekali menunggu teman-teman kembali, meskipun saya dan seorang teman lain mengisi waktu dengan mengobrol.

Balada botol air

Teman saya yang pernah ke Arjuno sebenarnya sudah meminta bahwa setiap orang membawa dua botol air ukuran besar. Namun, teman saya yang masih SMA itu malah tidak membawa botol sama sekali. Sempat terjadi perdebatan.

Akhirnya saya menengahi mereka. “Sudah. Kita punya enam botol mau gimana lagi. Nggak mungkin ‘kan balik ke bawah cari botol lagi? Kita mau naik atau tetap di Pos 2 untuk mendirikan tenda?”

Lalu kami berunding sambil menyantap makanan ringan. Muncullah keputusan: kita tetap lanjut jalan. Setelah itu kami pun lanjut berjalan. Saya membawa daypack, dua orang teman lain membawa tas gunung, sementara yang seorang lagi juga menggendong daypack. Mereka bertiga selalu bertukar tas jika ada yang merasa kelelahan—kecuali saya. Memang, saya membawa tas yang paling ringan. Tapi, paling tidak itu adalah tas saya sendiri.

Post Views: 184