Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata: “Wahai saudaraku, engkau tidak akan meraih ilmu kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal yang cukup, bersahabat dengan guru, dan waktu yang lama.” (Khatib al-Baghdadi, Taarikh Baghdad). Sebagai gambaran bahwa mencari ilmu dengan sungguh-sungguh. Bukan dan santai-santai.
INDONESIAINSIDE.ID – Dalam dunia ilmu pengetahuan, kata-kata ini memberikan panduan penting bagi siapa saja yang bertekad untuk menuntut ilmu. Kesungguhan dan ketekunan adalah kunci utama dalam meraih pengetahuan yang bermanfaat dan bermakna. Mari kita bahas lebih lanjut prinsip-prinsip ini.
Kecerdasan dan Kesungguhan
Kecerdasan (ذَكَاءٌ) adalah anugerah yang harus dikembangkan melalui latihan dan usaha. Namun, kecerdasan saja tidak cukup tanpa diiringi dengan kesungguhan dan antusias (حِرْصٌ). Kesungguhan dalam menuntut ilmu berarti memiliki keinginan yang kuat atau antusias untuk belajar dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Kerja Keras dan Bekal
Kerja keras (اجْتِهَادٌ) adalah elemen yang sangat penting. Seorang pencari ilmu harus siap bekerja keras, membaca, menulis, dan berdiskusi. Selain itu, bekal yang cukup (بُلْغَةٌ) juga diperlukan untuk mendukung proses belajar, baik dalam bentuk finansial maupun moral.
Bimbingan Guru dan Waktu yang Cukup
Bersahabat dengan guru (صُحْبَةُ أُسْتَاذٍ) adalah salah satu cara terbaik untuk memahami ilmu dengan benar. Seorang guru dapat memberikan arahan, koreksi, dan inspirasi. Selain itu, proses belajar memerlukan waktu yang cukup (طُولُ زَمَانٍ). Ilmu tidak bisa didapatkan dengan instan, tetapi membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
Menjaga Keberkahan Ilmu
Ikrimah Rahimahullah sangat berhati-hati dalam mengajarkan ilmu. Ia berkata:
لَا تُعَلِّمُوا العِلْمَ إِلَّا لِمَنْ يُعْطِي ثَمَنَهُ
“Jangan ajarkan ilmu kecuali kepada yang memberikan harga untuknya.” Ketika ditanya apa yang dimaksud dengan harga, ia menjawab:
يَضَعُهُ العَالِمُ عِنْدَ مَنْ يَعْمَلُ بِهِ
“Ilmu diletakkan oleh orang yang berilmu kepada yang mengamalkannya.”
Sementara Sufyan Tsauri menjelaskan alasan di balik hal ini. Beliau berkata:
إِذَا رَأَيْتُمْ طَالِبَ العِلْمِ يَطْلُبُ الزِّيَادَةَ مِنَ العِلْمِ دُونَ العَمَلِ فَلَا تُعَلِّمُوهُ
“Jika kalian melihat penuntut ilmu yang hanya ingin menambah ilmu tanpa mengamalkannya, jangan ajarkan kepadanya”. Ia mengibaratkan penuntut ilmu yang tidak mengamalkan ilmunya seperti pohon hanzhal (pahit), yang semakin disiram semakin pahit buahnya.
Mengamalkan Ilmu
Pentingnya mengamalkan ilmu digambarkan dengan sangat baik oleh seorang penyair:
لَوْ كَانَ العِلْمُ دُونَ التُّقَى شَرَفًا لَكَانَ أَشْرَفَ خَلْقِ اللَّهِ إِبْلِيسُ
“Jika ilmu tanpa takwa merupakan kemuliaan, maka Iblis adalah makhluk Allah yang paling mulia.”
Sufyan Tsauri pernah mengirim pesan kepada sekelompok orang yang meminta diajarkan ilmu:
حَتَّى تَعْمَلُوا بِمَا تَعْلَمُونَ، ثُمَّ تَأْتُونِي فَأُحَدِّثَكُمْ
“Hingga kalian mengamalkan apa yang kalian ketahui, kemudian datanglah kepada saya dan saya akan mengajarkan kalian”. Beliau menegur mereka dengan keras:
يُدَنِّسُونَ ثِيَابَهُمْ ثُمَّ يَقُولُونَ تَعَالَوْا اغْسِلُوهَا
“Mereka mengotori pakaian mereka, lalu berkata datanglah dan bersihkanlah!”
Sarri bin Mughallis as-Saqathi juga mengingatkan kita:
كُلَّمَا ازْدَدْتَ عِلْمًا كَانَتِ الحُجَّةُ عَلَيْكَ أَوْكَدَ
“Semakin bertambah ilmu, semakin kuat pula hujjah atas dirimu.”
Menjaga Kebersihan Hati
Dalam biografi Abdurrahman bin Syuraih Rahimahullah, dikisahkan bahwa ketika para penuntut ilmu banyak bertanya, beliau berkata:
قَدْ دَرِنَتْ قُلُوبُكُمْ، فَقُومُوا إِلَى خَالِدِ بْنِ حُمَيْدٍ المَهْرِيِّ اسْتَقِلُّوا قُلُوبَكُمْ، وَتَعَلَّمُوا هَذِهِ الرَّغَائِبَ وَالرَّقَائِقَ؛ فَإِنَّهَا تُجَدِّدُ العِبَادَةَ وَتُورِثُ الزَّهَادَةَ، وَتَجُرُّ الصَّدَاقَةَ، وَأَقِلُّوا المَسَائِلَ فَإِنَّهَا فِي غَيْرِ مَا نَزَلَ تُقَسِّي القَلْبَ وَتُورِثُ العَدَاوَةَ
“Hati kalian sudah kotor, pergilah kepada Khalid bin Hamid al-Mahri untuk membersihkan hati kalian, pelajari keutamaan dan kelembutan ini; karena itu memperbaharui ibadah, mewariskan zuhud, dan mendatangkan persahabatan, serta kurangi pertanyaan karena itu selain yang turun memperkeras hati dan mewariskan permusuhan.”
Mencari ilmu bukanlah perjalanan yang mudah. Dibutuhkan kesungguhan, ketekunan, dan kebersihan hati. Sebagaimana yang diingatkan oleh para ulama terdahulu, ilmu harus diamalkan agar membawa keberkahan dan manfaat yang sejati. Dengan memegang prinsip-prinsip ini, semoga kita semua dapat menjadi penuntut ilmu yang sejati dan diridhai Allah SWT. (MBS)
