Lifestyle

Membuktikan Lezatnya Ramen Otentik Jepang di Ichiyo Ramen Buah Batu Bandung

34
membuktikan-lezatnya-ramen-otentik-jepang-di-ichiyo-ramen-buah-batu-bandung
Membuktikan Lezatnya Ramen Otentik Jepang di Ichiyo Ramen Buah Batu Bandung
Membuktikan Lezatnya Ramen Otentik Jepang di Ichiyo Ramen Buah Batu Bandung

Membuktikan Lezatnya Ramen Otentik Jepang di Ichiyo Ramen Buah Batu Bandung | Resto & Culinary Review | Januari 2026

Dari sekian banyak menu yang ada di dunia, masakan Jepang ada di level teratas kesukaan saya selain tentu saja menu nusantara dari negeri sendiri. Dan di antara semua menu ala Jepang, yang memegang tampuk tertinggi kesukaan adalah Ramen. Terutama Ramen otentik yang sudah dijamin ke-halal-an nya.

Puas menjelajah aneka asupan Jepang seperti Unagi (ini favorit saya selain Ramen), Tempura, Udon, Soba, Onigiri, Miso, Sushi, Takoyaki, Okonomiyaki, Gyoza, Katsu, Karaage, Mochi, Shabu, dan lain-lain di berbagai tempat/restoran, semesta mengajak kaki saya untuk mampir ke Ichiyo Ramen yang berada di Buah Batu, Bandung. Kebetulan di hari itu saya dapat tugas menjemput suami yang menghadiri sebuah pertemuan di kawasan yang sama.

Di sore menjelang malam saat itu kami berdua tidak punya ide apa pun untuk makan di mana. Hanya terpikirkan untuk mampir ke Superstore Yogya, membeli berbagai keperluan sebelum menginap semalam di hotel. Menuju ke tempat belanja inilah akhirnya saya melihat Ichiyo Ramen yang kebetulan hanya walking distance dari Yogya. Saya pun sregep menelisik akun media sosial resto ini, hingga akhirnya ngiler gak karuan.

Yoweslah mari kita makan dulu.

Berada di sedetan ruko yang padat dengan berbagai pelayanan umum, Ichiyo Ramen hanya memiliki space yang terbatas untuk parkir kendaraan. Apalagi setelah saya amati resto Jepang ini hanya menempati satu unit ruko saja. Tapi alhamdulillah, memang dasarnya rezeki, saya datang pas tamu sebelumnya pulang dan meninggalkan tempat parkir.

Melangkah masuk, disambut oleh seorang petugas berseragam, saya langsung diarahkan ke media pemesanan digital. Bentuknya berupa layar tipis berbentuk persegi panjang dengan layar yang cukup lebar. Berkat bantuan petugas, suami tidak mengalami hambatan yang berarti untuk melakukan pemesanan. Yang lama tuh justru saat memilih. Kehadiran visual yang menarik juga sering bikin saya hilang konsentrasi. Semua foto tampak merepresentasikan kenikmatan hakiki yang dipersembahkan oleh Ichiyo Ramen. Bikin ngiler maksimal pokoknya.

Entah berapa menit saya dan suami habiskan di depan layar, sampai akhirnya berujung dengan kalimat “mana yang menjadi favorit tamu” Nah cocoklah ya. Petugas kemudian menyebutkan Japanese Wagyu Steak Ramen (69K) yang kemudian langsung saya pesan. Suami jatuh dengan pilihan sendiri yaitu Miso Ramen (49). Bilangnya sih biar saya ada opsi foto yang berbeda. Dan seperti biasanya, setiap makan sajian Jepang, saya melengkapi semua pesanan dengan seporsi Deep Fried Gyoza (32K). Sementara untuk minum kami memesan 2 gelas Hot Ocha (9.9K) yang bisa diisi kembali tanpa biaya tambahan.

Menggunakan mangkuk hitam legam bertuliskan jenama mereka, saya cukup kaget saat semua sajian terlihat penuh berisi dengan kuah yang berlimpah. Uap panas tampak masih menari-nari saat kedua ramen ini dihidangkan di atas meja.

Japanese Wagyu Steak Ramen yang saya pesan begitu menggoda dan membangkitkan selera. Isinya padat memenuhi mangkuk. Dari yang saya amati, di dalam mangkuk pesanan saya ada mie ramen (saya minta dihidangkan well done), Ajitsuke Ramen Egg (telur rebus 1/2 matang), pipilan jagung manis, potongan tipis daun bawang, nori, sesame seeds, dan black mushroom. Plus tentu saja daging Wagyu yang lembut nya sangat memanjakan lidah. Aroma pembakaran singkat untuk dagingnya tidak terlalu kencang tapi begitu saya dekati wanginya oke banget. Yang istimewa adalah broth nya. Selain efek creamy yang full entertaining, kaldunya kaya rasa dengan bahan-bahan segar yang membangkitkan selera.

Jujurly awalnya saya gak yakin bakal menghabiskan Japanese Wagyu Steak Ramen ini, tapi saat pelan-pelan mentandaskan kuah kaldunya, yang lain pun tandas tanpa sisa. Suami bahkan mengacungkan jempol karena jarang-jarang saya bisa menyelesaikan makanan yang saya pesan. Apalagi saat itu ditambah dengan beberapa potong Deep Fried Gyoza yang lezat tak terkira. Saking semangatnya saya gak sadar kalau tidak memotret gyoza ini sama sekali.

Suami – saat saya perhatikan – tampak khusyuk dengan Miso Ramen nya. Isi yang berbeda dari mangkuk suami hanyalah di urusan kuah dan potongan ayam nya aja. Selebihnya semua sama. Perbedaan lainnya adalah di rasa kuahnya. Kuah miso tampak lebih ringan di lidah ketimbang ramen yang saya pesan. Suami mempersilahkan saya mencoba terlebih dahulu sebelum dia menambahkan chilli oil sesuai seleranya. Ingat betul bahwa saya tidak bisa makan pedas karena kondisi lambung yang sangat sensitif.

Keduanya – menurut saya – punya kelebihan dan penggemarnya masing-masing. Ramen, meski terasa “lebih berat,” sentuhan umaminya bikin saya semangat makan. Efek creamy nya juga bikin saya ketagihan. Sementara Miso – salah satu sup tradisional Jepang – dibuat dari pasta miso (fermentasi kedelai, beras, atau jelai) lalu dicampur kaldu dashi yang menghasilkan rasa asin, gurih, sedikit manis dan kaya nutrisi. Miso sendiri sering disajikan bersamaan dengan tahu, rumput laut, dan berbagai sayuran.

Usai menandaskan ramen pesanan dengan penuh perjuangan dan keringat (lebay), saya memutuskan untuk memotret ruang dine in Ichiyo Ramen di Buah Batu, Bandung ini.

Satu yang sangat menyenangkan buat saya pribadi adalah tentang good ambience dan Japanese Vibes nya. Dikelilingi oleh warna-warna alam dan banyak ornamen ala Jepang, berada di dalam resto ini serasa sedang benar-benar berkunjung ke Jepang. Bahkan terlihat lebih lega dan lebih cantik. Dari berbagai video yang saya tonton, jika dibandingkan dengan resto ramen di negara asalnya, Ichiyo Ramen punya space atau ruang yang lebih lega. Tidak berdempet-dempetan. Tidak terasa sesak.

Tempat duduknya juga banyak. Semua tertata proporsional. Pintar betul ngatur nya. Jadi meskipun luas bangunannya kecil, bangku dan mejanya tersebar dengan baik. Pintar memanfaatkan ruang. Kalau pergi sendiri atau ingin merasakan makan di outlet kecil di Jepang sana, ada meja yang menempel ke dinding atau menghadap ke arah dapur. Makan bisa lebih konsen tanpa harus terganggu oleh tamu yang mondar-mandir.

Di sisi belakang, ada toilet dan sebuah mushala kecil serta taman kecil dengan penerangan yang cukup. Setiap dinding tidak dibiarkan kosong. Ada mural dengan gambar pegunungan di Jepang. Rangkaian gambaran indah, hadir dengan warna yang soft betul. Lalu ada juga silhouette dua orang samurai yang sedang berlaga. Kemudian ada lampion merah dengan hiasan huruf Hiragana, Katakana, dan Kanji. Suasana negara matahari terbit yang matang betul. Salut buat interior designer nya. Gak mudah loh menata ruang dengan luas terbatas tapi tetap terasa lega.

Dari sekian banyak dekorasi, saya menyempatkan diri membaca flyer yang ditempelkan di dinding pembatas area makan terbatas yang menghadap ke arah dapur. Di dalam stiker ini terurai beberapa info tentang Ramen Authentic Japanese Recipe. Di mana dalam semangkuk ramen dengan resep otentik Jepang wajib menghadirkan noodles berkualitas sebagai main ingredients, juga harus ada sesame seeds, mushroom, spring onion, sweet corn, garlic, chili, nori, chicken charsiu, special chicken broth, ichiyo’s spicy sauce, ajitsuke ramen egg, dan menma.

Stiker informasi ini dilengkapi dengan gambar, dan tulisan dalam dua bahasa (bahasa Jepang dan bahasa Inggris). Kemudian ada pula informasi mengenai nilai gizi sajian serta cara penyajian. Ada juga beberapa karakter huruf Hiragana dan makna yang tergantung di dalamnya.

Saya beruntung, saat saya memotret, resto sedang tidak penuh. Beberapa pengunjung sudah meninggalkan tempat. Jadi bisa dengan bebas mendapatkan sudut foto yang tidak mengganggu orang lain.

Nilai pelayanannya juga saya bisa berikan skor tinggi. Setiap personal berseragam rapi, apik, dan besih. Semua ramah dan kompak menyapa tamu yang datang maupun yang pergi. Simple things but that means a lot.

Keputusan saya dan suami untuk melanjutkan acara malam itu dengan berbelanja di Yogya Department Store beneran menjadi keputusan yang tepat. Berkat tambahan kegiatan ini, kami bisa melepaskan penatnya lambung karena sudah makan malam dalam porsi yang tidak biasa, lebih banyak dari kebiasaan. Khususnya saya yang jumlah makan malam per bulan nya bisa dihitung dengan jari. Yah berkisar antara 8-10 kali lah dalam sebulan.

Yang pasti, setelah “menemukan” Ichiyo Ramen yang di Buah Batu Bandung ini saya tertantang untuk bertamu di beberapa outlet mereka di Jakarta. Ingin kembali merasakan kelezatan maksimal yang sudah saya dapatkan sebelumnya.

IG @annie_nugraha | Email: annie.nugraha@gmail.com

Exit mobile version