
Shira Media Library and Coffee Corner Yogyakarta | Featured & Travel | December 2025
Di kunjungan kesekian ke Yogyakarta dan setelah melewati masa pelatihan menulis di Kaliurang bersama Omong Omong Media yang dibimbing oleh Okky Madasari, saya memutuskan untuk melipir sejenak ke Shira Media Library and Coffee Corner. Sarang buku estetik di Sleman, Yogyakarta. Satu keputusan yang bangkit dari rasa penasaran tak tertahankan setelah menyusur dan melihat Shira Media di media sosial berbulan-bulan lamanya
Sepagian itu, sehabis sarapan, saya mengantarkan seorang teman asal Malaysia yang akan menaiki KRL menuju Yogyakarta International Airport (YIA) untuk kembali ke negara asalnya. Malam sebelumnya saya sempat menyampaikan akan ke Shira Media dan obrolan tentang ini tersambung sembari sarapan. Sang teman langsung menjerit penuh rasa iri karena sesungguhnya dia pun mengetahui tentang Shira Media sebelum datang ke Yogyakarta. Cuma sayangnya tiket pesawat untuk pulang keesokan hari sudah di tangan jauh-jauh hari dan tidak dapat dijadwalkan ulang.
Saya langsung mendamaikan hatinya dan berjanji akan memberikan foto-foto yang cantik untuk dia lihat. Tapi tawaran ini bikin dia semakin gemas karena justru jadi tambah penasaran. Ah, saya jadi tersenyum kecut. Iya juga ya.
Usai mengantarkan sang teman ke Stasiun Tugu dan kembali ke hotel sambil berjalan kaki, saya langsung bersiap diri. Mas Adi, yang biasa mengantarkan saya saat berada di Yogyakarta, ternyata sudah siap dengan mobilnya di halaman hotel. Perjalanan selama sekitar 30 menit pun saya nikmati sembari mengobrol hangat tentang Yogyakarta, bisnis kuliner dan hotel yang semakin meningkat belakangan hari, serta tentu saja tentang Shira Media.
“Lagi hits itu Bu. Banyak banget tamunya. Saya beberapa kali ngantar orang ke sana dan biasanya lama bertahan di dalam,” ujar Mas Adi tentang Shira Media. “Sedikit ke pelosok tempatnya. Tapi nyaman banget. Tempat parkirnya juga luas. Jadi biar jalan depannya gak begitu lebar, kendaraan para tamu bisa diatur tanpa mengganggu lalu lintas sekitar,” sambung Mas Adi melanjutkan penjelasannya terdahulu.
Saya mengangguk senang. Setidaknya ada sebuah usaha yang punya pikiran yang sama dengan saya. Urusan parkir harus jadi satu perkara prioritas demi kenyamanan konsumen dan masyarakat yang berada di sekitarnya.
“Eh, tapi di dalam situ tuh ada apa aja toh Bu? Bikin orang betah kayaknya?” tanya Mas Adi dengan buncahan rasa penasaran yang tidak bisa disembunyikan. Saya tersenyum lebar. “Perpustakaan dan toko buku itu Mas. Tapi dalam ruangnya kekinian, seperti cafe,” jawab saya bersemangat. “Masa Adi kalau mau masuk ya ikut saya aja.”
Mas Adi kemudian cekikikan sembari menggeleng. “Gak ah. Saya kurang suka membaca Bu. Nunggu di luar aja. Gapapa kok lama juga,” balasnya santai.
Saya mengangguk paham. Menemukan orang yang suka membaca tuh memang gak mudah. Gak segampang saat kita mencari minuman atau makanan kekinian yang kedai kecilnya bisa kita jumpai di sepanjang jalan yang kita lewati. Tapi entah mengapa setiap mendengar jawaban “saya tidak suka membaca” hati saya mendadak pilu, nelongso. Setelah mendengar itu biasanya pikiran saya langsung terlempar ke masa sekolah.
Jika tidak suka membaca, dulu waktu sekolah ngapain aja? Terus saat mau ujian/ulangan belajarnya bagaimana? Perlu membaca bukan?
Disambut Teras yang Cantik dan Seorang CEO
Melewati pertigaan dengan jalur jalan yang tidak lebar, Mas Adi bersengaja melambatkan jalan kendaraan. Kepalanya langsung menengok ke kiri dan membiarkan saya menikmati pemandangan sebuah teras yang terdekorasi indah. Saya langsung teringat dengan beberapa cafe estetik yang ada dan bertebaran di seputaran Ubud, Bali.
“Kita sudah sampai Bu,” kata Mas Adi dengan nada riang gembira. Seperti layaknya sebuah ring tone gawai yang berbunyi kencang dengan musik yang melonjak dan mengajak kita berjoget.
Saya langsung menoleh ke arah yang sama dengan Mas Adi. Tampak sebuah teras dengan tanaman rambat dan sebuah mobil VW panjang yang sengaja difungsikan sebagai spot membaca. Mobil tipe sama yang dulu pernah menjadi mobil dinas almarhum ayah saya saat berdinas di Garuda Indonesian Airways (nama lama dari Garuda Indonesia). Ada sebuah tulisan Shira Media yang terpahat di atas kayu dan diletakkan di bagian atas sebuah pintu besar tinggi yang juga terbuat dari kayu.
Saya tidak turun di sisi depan ini tapi mengikuti Mas Adi memarkirkan mobil di sebuah lahan yang berada persis di samping bangunan yang saya lewati. Bener apa yang disampaikan Mas Adi tadi. Shira Media begitu akomodatif menyediakan lahan yang luas untuk kendaraan pengunjung. Dengan luas sekitar 200-an m2, area parkir ini sudah disemen permanen dan lebih dari lega untuk menampung banyak motor dan mobil. Disediakan juga sebuah pondokan untuk menunggu dan beberapa petugas yang siap membantu.
Saya bergegas melangkah dengan semangat membara. Menantikan bagaimana reaksi sendiri untuk melahap sebuah rangkaian penataan klasik modern yang telah lama saya lihat di media sosial.
Langkah saya langsung terhenti saat tiba di teras depan itu. Seperti yang tadi saya lewati, ada sebuah mobil VW panjang yang sudah berubah fungsi sebagai mini library. Pintu tengahnya dibuka sehingga kita bisa masuk ke dalam kendaraan. Joknya juga sudah dilengkapi dengan kain berwarna sementara di sisi luar dan dalam mobil ada rak buku yang padat dengan jajaran beragam jenis buku. Semua memang disediakan untuk tamu Shira Media yang berminat membaca dengan kondisi yang semi private. Pengen banget saya difoto di sana tapi sayang tidak ada yang membantu.
Melangkah lebih lanjut saya menemukan sebuah teras besar dan luas dengan penataan unik layaknya cafe atau resto yang biasa kita lihat di destinasi wisata seperti Ubud, Seminyak, dan area-area lain yang suitable untuk hang-out dan bersantai.
Ada meja dan dudukan kreatif yang dibuat dengan kayu yang dikombinasikan dengan palet plastik dari jenama minuman asal Amerika. Disediakan juga meja kayu dengan bangku-bangku rotan, lalu sebuah vespa lama sebagai dekorasi. Yang sangat menarik perhatian adalah beberapa mural yang mengisi banyak ruang/dinding kosong. Mural dengan sentuhan futuristik modern penuh warna yang juga dikerjakan oleh artis yang sama untuk dinding tinggi luas yang ada di lahan parkir.
Saat saya memutuskan untuk membaca di teras ini karena di dalam sudah penuh pengunjung, saya bertemu dengan Mas Cahyo Satria. Lelaki dengan rambut keriting unik yang adalah pendiri dan CEO dari Shira Media. Membangun usaha sejak 2008, Shira Media sudah menjejakkan diri sebagai major and stand alone publisher dengan lahan display di tempat yang saat itu sedang saya kunjungi. Dan kabarnya usaha ini sudah dan bisa menabung sedemikian banyak kelimpahan rezeki bagi sang pemilik.
Memanfaatkan kesempatan bertemu ini, saya mengajak beliau berbincang sembari menabung banyak insight tentang membangun bisnis di dunia publishing. Mengusung jargon “Shira Media adalah Buku Sayap Sang Waktu” perjuangan untuk bisa tegak teguh seperti sekarang tentunya butuh proses yang tidaklah sedikit dan mudah. Shira Media pun konsisten mengikuti perkembangan zaman. Selain menghadirkan outlet dengan rancang dalam ruang yang kekinian dengan book library, coffee shop, area membaca yang nyaman dan akomodatif sekaligus menjual banyak buku terbitan mereka sendiri, Shira Media juga tampak begitu agresif menggunakan digital media.
Seperti yang disampaikan Mas Cahyo, dunia digitalisasi harus kita tanggapi dengan gerak cepat. Dunia sales, promotion and advertising yang bisa ditumpangi sebagai langkah-langkah strategis dalam pengembangan usaha, wajib diseriusi dan dijalankan dengan usaha terbaik dan tentu saja dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin.
Saya menggangguk dalam. Meski sering mendengarkan pendapat yang sama dari berbagai sumber, penyampaian Mas Cahyo sebagai pengingat yang harus dibangkitkan kembali.
“We go with the best flow. Medsos sekarang sedang berjaya. Ya kita ikuti saja. Belajar, dalami, dan gunakan sesuai porsinya,“ sambung Mas Cahyo dengan semangat.
Saya kembali mengangguk dan tak ada bantahan atas kalimat di atas. Meski harus berjuang berdarah-darah di tahap awal, nyatanya berbisnis harus bahkan wajib mengikuti perkembangan zaman. Jangan sampai kita “terlempar” hanya karena mata kita hanya memandang lurus ke depan dan tak pun aware dengan geliat persaingan yang semakin ketat.
Gak kaget jika melihat jaringan media sosial Shira Media begitu hidup dengan kontinuitas yang terkonsep. Tak sedikit saya lihat promo yang intense saat Shira Media menerbitkan buku terbaru lalu mengadakan bincang buku sebagai salah satu lini mempromosikan buku tersebut.
Nasehat-nasehat Mas Cahyo kemudian menjadi bekal yang bernilai buat saya apalagi setelah beliau tahu saya juga sedang merintis membangun “kerajaan” yang sama. Saya pun kemudian terbuka dengan profesi yang sedang saya jalani dan impian untuk membesarkan Annie Nugraha Mediatama dengan sentral kegiatan serta produksi di Yogyakarta.
Keterbukaan ini tadinya – saya pikir – akan membatasi perkenan Mas Cahyo untuk berbagi. Tapi ternyata tidak. Beliau malah menyemangati dan bercerita lebih lanjut tentang perjuangannya mendirikan dan membangun Shira Media. Tumpukan kekaguman itu membuat diri saya begitu merasa beruntung. Entah serius atau tidak, Mas Cahyo malah mengajak saya membeli tanah kosong yang ada persis di depan Shira Media.
“Biar tetanggaan kita Bu. Kan asyik bisa ngobrol-ngobrol terus kayak gini,” ujarnya sembari tersenyum lebar. Kalimat yang sungguh melegakan hati. Karena terus terang, foot steps Shira Media adalah salah satu jejak yang ingin saya lamati, amati, dan dicontoh. Menara api yang suitable and credible yang pas untuk Annie Nugraha Mediatama.
Sebelum akhirnya memotret bagian dalam Shira Media Library, Mas Cahyo mengurai sekilas tentang fasilitas fisik yang ada di sana. Bahkan nominal berapa yang sudah dihabiskan untuk berinvestasi di tempat yang sekarang. Bangunannya sendiri terbagi dua. Pertama adalah library yang juga berfungsi sebagai book store dengan mini cafe di lantai dasar sementara lantai duanya berfungsi sebagai kantor. Gedung tertutup di sampingnya, di belakang mobil VW tadi adalah gudang dan tempat penyimpanan semua kebutuhan logistik.
Perpustakaan dan Toko Buku yang Merabuk Jiwa
Saking asyiknya ngobrol, tak terasa saya sudah menghabiskan hampir dua jam untuk ngobrol dengan Mas Cahyo. Astaga. Begitulah ya jika bertemu dengan orang se-frekuensi. Apalagi bisa sekaligus ngilmu pada orang sukses yang tepat dan cerdas. Saya pun kemudian izin masuk untuk memotret dan merasakan kuatnya atmosphere dunia kreatif literasi yang disajikan oleh Shira Media.
Dan seperti yang saya duga. Selangkah masuk mengenakan kaos kaki (tidak diperkenankan mengenakan alas kaki selama di dalam toko), kaki saya mendadak terhenti dan tertahan langkah dengan netra yang terjebak pada kekaguman maksimal.
This is it. This is my dream and my objective. Impian masa pensiun saya. Surga yang ingin saya ciptakan saat saya dan suami siap untuk membersamai masa-masa tua bersama.
Sungguh merabuk jiwa.
Seperti yang sering saya lihat di akun IG @shiramedia dan @shiracoffee keindahan itu sekarang (bisa) saya lihat langsung.
Terpampang di netra saya yang menua ini sebuah ruang baca yang luas dengan koleksi buku yang diselimuti oleh tempat berbahan utama kayu dengan warna dan lampu yang sangat bersahabat dengan mata. Rak tinggi dengan tempat baca berupa karpet luas, meja dan kursi kayu, serta satu set sofa yang mendekat ke arah jendela. Di antara kolom-kolom rak tersebut diperlihatkan juga beberapa pajangan yang memorable.
Space lebar saat masuk pun begitu mengesankan. Selain ada spot foto yang jadi favorit pengunjung dan paling banyak terlihat di IG, ada display buku berupa koper yang lucu banget. Idenya ciamik deh. Sementara di dinding kanan ada sederetan buku terlaris dan terbaru yang dimiliki oleh Shira Media. Kemudian ada gantungan tas cangklong yang bisa kita adopsi. Persis di sisi ini kita bisa langsung melihat sebuah tangga menuju ke lantai dua. Tangga ini juga jadi salah satu obyek foto yang jadi langganan pengunjung. Di setiap sisi jejak ada tulisan dengan font jenis handwriting beberapa judul buku yang dilahirkan oleh Shira Media.
Catatan: Shira Media mengizinkan kita untuk memotret sepuas mungkin dan menyebarkan ribuan foto estetik di kolom promosi masing-masing. Tapi tidak untuk memotret dengan menggunakan perangkat profesional.
Kita lanjutkan penelusuran ya.
Dari pintu masuk ini pula, tampak sebuah spot yang begitu menarik minat saya. Sebuah cafe kecil yang memanjang dan bersisian persis dengan dinding tangga. Layanannya sederhana saja. Kopi dan minuman kekinian, beberapa camilan, dan suvenir seperti pembatas buku yang lucu-lucu. Saya gak bisa menahan diri untuk tidak mengadopsi bookmark itu. Di depan counter ini ada meja lipat kecil panjang putih yang menempel langsung di rangka counter. Beberapa tempat duduk pun disediakan. Jadi kalau mau baca sembari nangkring di depan counter tuh bisa banget. Cuma ya begitu. Ruang geraknya terbatas.
Di belakang pelayanan makan minum ini ada toilet kecil yang bersih dan tertata apik. Sentuhan Pinterest nya terlihat betul. Ada pernak-pernik yang memberikan sentuhan keindahan, kebutuhan buang air yang lengkap (sabun, tissue) dan tentu saja pewangi ruangan. Betah kan jadinya kalau mau buang air.
Saya sekali lagi menebarkan pandangan ke arah barisan rak yang tinggi menjulang. Semua kolom tampak penuh dan padat. Sebagian besar stok buku yang bisa dibaca ditaruh di bagian bawah. Agar reachable tentunya. Saya menyusur kolom demi kolom rak dan tak bisa menahan diri untuk mengadopsi beberapa buku yang ada di sana. Buku tebal-tebal yang memang sudah saya niatkan untuk dibeli. Saking berat dan banyaknya, sang petugas kemudian datang tergopoh-gopoh, berinisiatif menyediakan tas kantong, agar tangan tua saya tidak kelelahan memeluk buku-buku itu. Duh sentuhan perhatian kecil yang sungguh berarti buat saya. Apalagi saat dengan baiknya dia menawarkan diri untuk memotret saya di beberapa sudut cantik yang jadi peminatan para tetamu.
Si Mas yang ramah ini kemudian menawarkan kopi, segelas tinggi minuman dingin, dan sepotong besar plain croissant untuk saya nikmati. Tawaran apik karena saya memang berniat, membuka bungkusan tiap buku di teras luar tadi. Lagi-lagi dengan sigap dia mempersilakan saya melangkah ke taman dengan buku-buku yang sudah saya adopsi dan dibuka di meja yang saya pilih.
Tak terasa, sejam sudah saya habiskan untuk melahap beberapa bagian buku untuk menjawab keingintahuan saya. Tentu saja sembari menghabiskan minuman dan camilan yang terhidang di meja.
Saya melirik jam tangan. Astaga. Sudah pkl. 13:00 WIB ternyata. Empat jam saya bertamu di Shira Media.
Mas Adi kemudian cekatan mengambil alih kantong besar yang saya bawa. Apalagi saat melihat saya terpaksa memiringkan badan karena keberatan.
“Ya ampun Bu. Banyak amat bukunya. Lama loh Ibu di dalam. Pasti dah kelaparan,” katanya dengan nada khawatir yang begitu terbaca.
Saya mengikik. Tak percaya pada diri sendiri. Sedetik berada di dalam mobil, kalimat inilah yang kemudian saya sampaikan ke Mas Adi.
