Mas Antok, sosok inspiratif dari Trimulyo, Semarang, adalah simbol harapan bagi pesisir yang kian tergerus abrasi.
Di tengah angin laut yang menggigit dan aroma asin air laut, Mas Antok berdiri sebagai garda terdepan penghijauan pesisir. Trimulyo bukan hanya rumah bagi ribuan jiwa, tetapi juga garis depan dalam menghadapi dampak pembangunan pesisir yang tak ramah lingkungan.
Dulu, Mas Antok hanyalah seorang buruh pabrik. Kini, ia adalah petani mangrove dan penggerak utama konservasi lingkungan di wilayahnya.
Perjalanan hidupnya adalah kisah transisi dari mencari nafkah demi bertahan hidup, menjadi penggerak perubahan demi menyelamatkan masa depan. Perubahan itu dimulai pada 2015, ketika ia mulai memimpin Komunitas Tripari.
Dari Buruh ke Penggerak Lingkungan
Suswanto, atau yang akrab disapa Mas Antok, tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi pemimpin komunitas lingkungan.
Bertahun-tahun bekerja sebagai buruh pabrik, ia menyaksikan sendiri bagaimana lingkungan pesisir tempat tinggalnya kian rusak—abrasi menggerus daratan, ekosistem pesisir makin terancam. Hatinya tergerak.
Pada 2015, bersama warga Trimulyo, Mas Antok membentuk Komunitas Tripari—sebuah inisiatif akar rumput yang fokus pada penghijauan pesisir dan konservasi lingkungan.
Tripari bukan sekadar komunitas, melainkan wujud nyata perlawanan terhadap abrasi pantai dan dampak pembangunan pesisir yang tak berkelanjutan. Fokus mereka adalah penanaman mangrove sebagai solusi alami penguat garis pantai.
Baca Juga: Pantai Trimulyo Semarang dan Dampak Ekonomi Akibat Rusaknya Mangrove
Kolaborasi Bersama LindungiHutan
Tahun 2017 menjadi titik balik bagi Tripari. Melalui pertemuan dengan Rio, perwakilan dari LindungiHutan, serta sang pendiri, Mas Antok melihat peluang untuk memperluas dampak.
Kolaborasi ini menguatkan fondasi kegiatan konservasi di Trimulyo—dari kegiatan komunitas kecil menjadi gerakan berbasis data, pendanaan publik, dan pelibatan korporasi.
Program penanaman mangrove menjadi semakin masif, dengan ratusan sukarelawan dan donatur bergabung dalam aksi nyata. Warga Trimulyo, yang sebelumnya skeptis, kini terlibat aktif.
Mereka tak hanya menanam pohon, tapi juga merawat dan menjaga keberlanjutannya. Menurut data LindungiHutan, lebih dari 50.000 pohon telah ditanam di pesisir Trimulyo hingga 2024.
Tantangan Tak Menyurutkan Tekad
Meski banyak kemajuan, jalan yang ditempuh Mas Antok tidak selalu mulus. Proyek normalisasi sungai pada 2019 dan pembangunan jalan tol Semarang–Demak membawa tantangan besar.
Ribuan pohon mangrove yang telah ditanam terpaksa ditebang. Bagi Mas Antok, itu bukan sekadar kehilangan fisik, tetapi juga luka di hati perjuangan.
Namun, semangat Mas Antok tak padam. Ia bersama komunitas terus melakukan pemulihan area terdampak. Mereka menyusun ulang strategi penanaman, bekerja sama dengan berbagai pihak, dan terus mengedukasi masyarakat soal pentingnya vegetasi mangrove.
Konsistensi menjadi kata kunci. Seperti kata Mas Antok, “Selama ada dukungan dan kemauan, kita bisa menanam kembali harapan.”
Baca Juga: Sehari Bersama Mak Jah, Menanam Mangrove dan Rasanya Tinggal Sendiri di Tengah Lautan
Komitmen untuk Masa Depan
Kini, Mas Antok melihat hasil dari kerja kerasnya. Area yang dulunya rawan banjir kini mulai terlindungi. Burung-burung kembali bersarang di rimbunnya mangrove. Ia berharap kolaborasi dengan LindungiHutan dan berbagai mitra bisa terus berlanjut.
“Kita bukan sekadar menanam pohon,” kata Mas Antok, “kita sedang menanam masa depan.” Harapan itu bukan utopia, tapi bisa nyata jika ada sinergi antara komunitas, pemerintah, dan sektor swasta.
Bersama mitra seperti Mas Antok dan Komunitas Tripari, LindungiHutan membuka ruang kolaborasi CSR lingkungan yang berdampak nyata. Yuk, jadikan program hijau bagian dari strategi keberlanjutan bisnis Anda.
