Tokoh penggerak penghijauan adalah wajah nyata dari harapan terhadap masa depan bumi yang lebih lestari. Tokoh penggerak penghijauan LindungiHutan adalah garda terdepan untuk menyuarakan aspirasi dan aksi.
Mereka hadir sebagai pahlawan lingkungan, sosok yang menggerakkan perubahan demi kelestarian alam dengan sepenuh tenaga, waktu, dan pikiran untuk menjaga ekosistem dari dampak negatif ulah manusia.
Dengan semangat yang tak pernah padam, mereka berdiri di garis depan perlawanan terhadap kerusakan lingkungan, menyelamatkan alam bukan demi nama, melainkan karena cinta yang mendalam terhadap bumi.
Dalam artikel ini, dirangkum kilas balik perjalanan lima tokoh penggerak penghijauan yang telah bekerja bersama LindungiHutan. Meski tak selalu terdengar gaungnya di ruang publik, kontribusi mereka begitu besar dalam pelestarian lingkungan.
Kisah mereka bukan hanya tentang menanam pohon, tapi tentang menumbuhkan harapan dan menyemai masa depan.
Tokoh Penggerak Penghijauan yang Menginspirasi
Berbagai daerah di Indonesia menyimpan kisah perjuangan luar biasa dari individu yang mendedikasikan hidupnya bagi kelestarian alam.
Lima tokoh berikut adalah contoh nyata bagaimana kerja sama antara masyarakat lokal dan LindungiHutan dapat menghasilkan dampak lingkungan yang signifikan.
Lewat aksi nyata mereka, dari menanam mangrove hingga menginspirasi gerakan keadilan iklim, mereka telah menjadi teladan yang layak dikenal lebih luas.
Mak Jah atau Paijah
Desa Bedono di Sayung, Demak, tenggelam oleh abrasi laut. Namun di tengah kondisi tersebut, Mak Jah memilih bertahan.
Selama lebih dari 10 tahun, ia dan keluarganya hidup di tengah lautan, menjadi saksi bisu perubahan drastis akibat krisis iklim dan abrasi. Namun, bukan kepasrahan yang menjadi pilihannya, melainkan perlawanan melalui pelestarian.
Mak Jah dan keluarganya melakukan aksi nyata sebagai tokoh penggerak penghijauan dengan menanam mangrove di sekitar wilayah tempat tinggalnya.
“Puluhan tahun Mak Jah terus menanam demi menjaga tempat tinggalnya yang tergerus ombak. Ia tidak menyerah,” tulis LindungiHutan. Perjuangannya membuktikan bahwa ketekunan bisa menjadi benteng terakhir penjaga alam.
Sampai saat ini, telah ada puluhan hingga ratusan ribu pohon mangrove yang Mak Jah dan keluarganya tanam di Bedono.
Hasilnya bukan hanya perlindungan dari abrasi, tapi juga kebangkitan ekosistem, burung-burung kembali, dan mangrove menjadi habitat baru bagi banyak makhluk hidup.
Baca Juga: Sehari Bersama Mak Jah, Menanam Mangrove dan Rasanya Tinggal Sendiri di Tengah Lautan
Pak Wasito
Sejak tinggal di Desa Kartika Jaya, Kabupaten Kendal, pada 2003, Pak Wasito menyaksikan langsung kehancuran pesisir karena abrasi dan banjir rob.
Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal, genangan air rob terjadi di lima wilayah, yakni Kelurahan Karangsari, Kelurahan Bandengan, Desa Pilangsari, Desa Mororejo, serta Desa Kartika Jaya di Kecamatan Patebon.
Perasaan prihatin mendorongnya melakukan sesuatu yang berarti untuk lingkungannya. “Saya tidak ingin kampung saya hilang begitu saja karena air laut,” ujarnya.
Mulai tahun 2006, ia melakukan konservasi pesisir dengan menanam mangrove, bakau, dan cemara di berbagai pantai di Kendal, termasuk Kartika Jaya, Ngebum, dan Jungsemi.
Meski awalnya dicemooh dan ditentang oleh lingkungan sekitar dan keluarganya, ia tetap konsisten dan bahkan aktif mengedukasi masyarakat serta mendorong anak muda untuk peduli pada lingkungan.
Atas dedikasinya, Pak Wasito menerima Kalpataru 2020 dari KLHK dan Kendal Awards 2015. Konservasi yang ia lakukan mendorong munculnya wisata Pulau Tiban dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mangrove sebagai pelindung pesisir.
Baca Juga: Mengenal Sosok Pak Wasito, Sang Pengabdi Lingkungan dari Kendal
Pak Ujang
Ujang Kustiawan, atau Pak Ujang, tokoh penggerak penghijauan berasal dari kampung dan hanya menyelesaikan pendidikan hingga SLTA.
Ia merantau ke Jakarta dan menetap di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), tempat ia kemudian menjadi petani hutan mangrove sejak 2015. Cita-citanya sejak kecil menjadi petani mengakar kuat dan tumbuh menjadi panggilan jiwa.
Pak Ujang menanam dan merawat mangrove di Ekowisata Mangrove PIK sebagai mitra penghijauan lapangan LindungiHutan. Ia juga menanam mahoni, ketapang, dan trembesi. “Saya menanam bukan karena gaji, tapi karena hati,” katanya, menyuarakan dedikasi yang tak ternilai.
Kini, kawasan mangrove yang dahulu rusak mulai hidup kembali. Kontribusinya menginspirasi banyak pihak dan memperlihatkan bahwa keterbatasan pendidikan dan ekonomi tak menjadi penghalang untuk menjaga alam.
Baca Juga: Perjuangan Pak Ujang Jaga Kelestarian Hutan Mangrove Jakarta
Edi Mulyono
Sebagai nelayan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Edi Mulyono hidup berdampingan langsung dengan dampak perubahan iklim. Penurunan hasil tangkapan ikan, banjir rob, dan air sumur yang tercemar menjadi kenyataan yang ia hadapi sehari-hari.
Edi aktif sebagai tokoh penggerak penghijauan dengan menanam mangrove bersama warga seminggu sekali dan menjadi suara warga Pulau Pari dalam kampanye keadilan iklim di forum internasional, seperti Berlin dan Bonn.
“Kami tidak menyebabkan perubahan iklim, tapi kami yang paling merasakan dampaknya,” tegasnya dalam wawancara.
Isu Pulau Pari kini mendapat sorotan global. Edi bukan sekadar nelayan, ia adalah wajah dari korban iklim yang nyata, memperjuangkan hak komunitas kecil di panggung internasional.
Baca Juga: Perubahan Iklim Menuntut Keadilan Iklim, Edi dari Pulau Pari Menyampaikan Tuntutannya di Eropa
Pak Dayanto dan Pak Slamet
Abrasi hebat pada 2020 menghancurkan pesisir Tangkolak, Karawang, merusak 1,2 km garis pantai dan menghilangkan 100 ribu pohon mangrove.
Dari reruntuhan itu, muncul dua tokoh penggerak penghijauan: Dayanto, warga lokal yang dulu merusak terumbu karang dan kini berubah, serta Slamet Abadi, dosen UNSIKA yang melihat pentingnya keterlibatan akademisi.
Dayanto mendirikan Kelompok Kreasi Alam Bahari sejak 2014, dan Slamet membentuk UNSIKA Peduli Mangrove sejak 2015. Mereka melakukan edukasi dan penanaman menggunakan metode “rumpun berjarak”.
“Kami tidak hanya menanam, tapi juga menyulam dan membersihkan sampah agar hutan mangrove tumbuh sehat,” ujar Slamet.
Ribuan pohon dari tiga jenis utama telah ditanam. Kolaborasi mereka menjadi contoh sinergi antara tokoh penggerak penghijauan dari kelompok masyarakat dan perguruan tinggi dalam menjaga ekosistem dan membangun tanggung jawab lintas generasi.
Baca Juga: Kisah Dayanto dan Slamet Lestarikan Mangrove di Pesisir Tangkolak, Kabupaten Karawang
Dampak Positif Kolaborasi dengan Penggerak Penghijauan
Kolaborasi dengan tokoh penggerak penghijauan memberi nilai tambah bagi perusahaan B2B, sekaligus memperkuat citra ramah lingkungan dan komitmen terhadap keberlanjutan di mata publik serta pemangku kepentingan.
Kolaborasi ini juga membuka ruang keterlibatan aktif dengan masyarakat lokal, menciptakan hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan.
Dengan berkontribusi pada proyek-proyek penghijauan, perusahaan turut andil dalam menjaga keberlanjutan ekosistem, mengurangi dampak karbon, dan memenuhi target ESG (Environmental, Social, Governance) yang kini menjadi indikator penting dalam dunia bisnis.
Mengapa Bergabung dengan LindungiHutan?
LindungiHutan menghadirkan ekosistem kolaboratif yang memudahkan perusahaan untuk terlibat dalam inisiatif penghijauan.
Dengan dukungan logistik yang solid, jaringan mitra lokal yang luas, serta pendekatan berbasis data dan transparansi, LindungiHutan menjadi mitra strategis untuk pencapaian tujuan keberlanjutan.
Proses kolaborasi bersama LindungiHutan dirancang efisien dan fleksibel, memungkinkan perusahaan dari berbagai sektor untuk menyesuaikan program dengan kebutuhan mereka.
Baik itu CSR, pelibatan karyawan, maupun kampanye publik, LindungiHutan siap membantu mewujudkan aksi nyata untuk bumi.
Baca Juga: Testimoni PT SMFL Leasing Indonesia Jalankan Kolaborasi Penghijauan Bersama LindungiHutan
Mari Bergerak Bersama untuk Masa Depan Hijau
Tokoh penggerak penghijauan adalah pilar penting dalam mewujudkan keberlanjutan. Mereka telah menunjukkan bahwa aksi sekecil apa pun, jika dilakukan dengan konsisten dan hati, bisa membawa dampak besar.
Bagi perusahaan, bekerja sama dengan mereka melalui LindungiHutan bukan hanya langkah strategis, tetapi juga wujud nyata tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Hubungi tim LindungiHutan sekarang juga untuk menjajaki peluang kolaborasi. Mari tanamkan kebaikan dan tumbuhkan masa depan bersama!
