KHO Kopitiam, Warisan Kuliner Peranakan yang Eksis di Kota Malang | Restaurant and Culinary Review, Travel | September 2026
Di malam terakhir berada di Malang, saya dan suami sepakat untuk berkeliling kawasan Jl. Jend. Basuki Rahmad, Klojen. Area yang walking distance dengan dan dari Prime Whizz Hotel tempat kami menginap. Selain menyusur Kajoe Tangan, kami kemudian menemukan KHO Kopitiam. Resto yang menyajikan kuliner peranakan yang jadi salah satu kegemaran saya.
Berada di kawasan yang super sibuk dengan hiburan dan pilihan kuliner yang beragam, saya gak menyangka akan bertemu dengan resto yang menyajikan aneka masakan peranakan di malam itu. Sementara sebagian besar yang saya tandai adalah makanan berat dan kudapan asli daerah, sajian ala Jepang dan Korea, mie ayam dan bakso, serta berbagai menu kekinian yang ditawarkan di bahu dan atau pinggir jalan. Jajanan ringan yang bergabung dengan para penjual mainan anak serta outlet oleh-oleh yang murah meriah.
Yang pasti, malam itu, area ini sibuk dan padat luar biasa.
Sebenarnya saya penasaran ingin mencoba sebuah cafe unik dan cantik di dalam kawasan Kajoe Tangan. Tapi karena cafe itu padat oleh pengunjung, saya dan suami memutuskan untuk makan malam di tempat lain. Dan tambah tidak sreg karena suami kurang betah duduk dengan sound system plus bunyi musik yang terlalu memekakkan telinga.
Rezekinya, tak jauh dari jalan keluar Kajoe Tangan menuju kembali ke hotel, saya menemukan KHO Kopitiam yang tampak lowong dari luar dan dengan visual indah khas peranakan. Cantik banget. Tempatnya juga hening meski di dalam sudah ada beberapa tamu.
Langkah saya langsung terhenti.
Tentang Sajiannya
Penasaran. Saya meminta kepada petugas untuk mengijinkan saya menyusur menu nya terlebih dahulu. Barisan pilihan sajiannya dicetak di atas kertas HVS putih yang sudah dilaminating.
Gambar/foto asupannya sederhana saja. Tidak menampilkan style food photographer yang belakangan sering digunakan oleh beberapa resto. Tapi pihak KHO Kopitiam menyusun barisan menu berdasarkan jenisnya. Ringkas dan jelas plus seadanya saja. Sederet bagian untuk pilihan KHO Signature. Kemudian Nasi Bungkus (yang satu ini penasaran banget pengen saya coba). Lalu ada Gorengan, Toast & Telur, dan dilengkapi oleh sederetan kopi (minuman panas) serta minuman dingin.
Sejujurnya, tanpa melihat menu pun, saya tuh hafal di luar kepala tentang semua menu yang biasa disajikan oleh resto yang berjudul Kopitiam. Sebuah diksi yang mewakili aneka warisan kuliner peranakan yang jadi salah satu pilihan favorit saya.
Gak butuh waktu lama bagi saya untuk memesan Bihun Goreng Penang (30K) dan Es Teh O (9K). Sementara suami memesan Laksa (30K) dan Teh O Panas (8K). Asyiknya lagi kedua jenis teh itu freeflow. Tawaran yang mengasyikkan banget. Sudahlah murah eh bisa ngisi ulang gratis.
Waktu penyajiannya juga ekspres loh. Tak lebih dari lima menit menunggu kedua pesanan kami terhidang di meja. Semua masih dalam kondisi hangat dengan asap yang menari-nari.
Gimana rasanya?
Wah. Kalau KHO Kopitiam tetanggaan sama rumah, barangkali tiap hari pesan di sini. Nyobain setiap menu satu persatu yang tercetak rapi di lembaran menu. Termasuk bolak-balik makan Es Potong Singapore yang begitu menyelerakan dan berada di dekat kasir.
Tak perlu tanya enak atau enggak ya, semangkuk Laksa lengkap dengan potongan telur rebus, bakso ikan, potongan tahu setengah matang, dan keripik kentang pedas, serta sayur, habis dilibas suami tanpa banyak bicara. Tandas tak bersisa. Bahkan hingga ke kuah kuningnya yang menurut suami tak terlalu berat di lidah.
Gimana dengan Bihun Goreng Penangnya? Duh saya kudu tarik nafas dan berhenti beberapa kali. Porsinya berlimpah betul. Saya sesungguhnya sudah jarang banget makan malam. Jika pun harus makan malam karena kondisi atau beberapa alasan tertentu, saya lebih sering menghindar dari masakan yang karbonya tinggi.
Tapi malam itu saya memberikan pengecualian untuk sepiring besar bihun goreng.
Duh enaknya tak terbantahkan deh. Beneran loh yang saya tuliskan ini gak over review. Kematangan bihunnya pas dengan skala menggoreng yang tidak too oily. Isian pelengkapnya pun nikmat betul. Taugenya masih krenyes-krenyes. Campuran telur dan sayurnya juga gak over cook. Eh dilengkapi juga dengan potongan tipis keripik kentang pedas yang super duper membangkitkan selera, persis seperti yang juga ditaruh di Laksa.
Tadinya —di tengah perjalanan makan— saya sempat menyerah karena lambung sudah tak sanggup menampung. Suami pun sudah kekenyangan. Sementara jika dibungkus dan dilanjutkan makan di hotel, biasanya akhirnya tidak tersentuh. Dan jujurly, saya tuh ingin menyediakan secuil sisi lambung untuk es potong itu. Astaga.
Tapi saat melihat suami sabar menunggu sambil berulangkali ngeteh, akhirnya Bihun Goreng Penang itu bisa saya tandaskan tanpa sisa. Konsekuensinya adalah kudu duduk sedikit agak lama dari biasanya supaya badan dan bokong tak terasa berat karena kekenyangan.
Kami berdua menutup acara makan malam bersama itu dengan wajah puas karena berhasil mengisi waktu dengan asupan yang kualitasnya sesuai harapan.
Apa kabar es potong Singapore? Ah sutralah. Saya menyerah. Meski rasa kangen akan es tersebut masih terngiang-ngiang dan tak tertahankan hingga mata hampir terpejam di kamar hotel, saya memutuskan untuk melupakannya.
Tentang Tempatnya
Ketika memutuskan untuk berhenti sejenak persis di depan resto tadi, saya langsung mengagumi sentuhan dekorasi dan penataan tempat yang dipersembahkan oleh KHO Kopitiam.
Pihak resto menyediakan sebuah teras kecil dengan beberapa dudukan untuk mereka yang ingin nongkrong di teras sembari menghabiskan waktu dan merasakan sajian terbaik dari resto ini. Colokan listrik pun banyak. Jadi jangan khawatir “kehabisan daya” untuk peralatan elektronik kita. Kursi dan meja kaca besi yang disediakan juga nyaman buat berlama-lama.
Setelah teras dengan dinding, jendela, dan pintu nan indah menyambut kedatangan kita. Barisan tegel kunci mengikuti langkah kita berikut dekorasi dinding yang hadir dengan sentuhan tionghoa serta peranakan yang kental hadir memanjakan netra. Susunannya pun estetik. Cakep betul dijadikan sudut foto untuk mengukir kenangan.
Jumlah meja untuk bersantapnya tidak begitu banyak karena sebagian lahan lainnya digunakan untuk area pelayanan. Kasir dan dapur terlihat menyatu meski ruang masak dan kegiatan masaknya tidak bisa kita lihat secara terbuka.
Saya melihat ada sebuah tangga yang cukup curam yang menghubungkan kita dengan lantai atas. Saya kurang paham apa yang ada di atas. Tapi di satu sudut dinding ada keterangan tentang tempat menginap. Barangkali itu ya.
Namun yang jelas, apa yang ada di bawah ini, sudah meninggalkan kesan keindahan tata ruang yang begitu menyenangkan hati. Setiap sudut menyajikan keseriusan pemilik tempat menghadirkan sisi terbaik untuk menemani tamu dalam bersantap.
Ruang estetik dan cantik tentunya membangkitkan kekaguman yang lebih dari biasanya. Cantik serta nyaman sekaligus.
Kapan ada waktu dan kesempatan bertandang ke kota Malang, saya meyakinkan diri akan kembali bertamu ke KHO Kopitiam. Mencoba menu lain pastinya. Khususnya Nasi Bungkus yang tampak begitu menggoda untuk dinikmati.
