Lingkungan

Kendaraan Listrik di Indonesia Belum Sepenuhnya Ramah Lingkungan, Peran Pohon Jadi Penyeimbang

9
kendaraan-listrik-di-indonesia-belum-sepenuhnya-ramah-lingkungan,-peran-pohon-jadi-penyeimbang
Kendaraan Listrik di Indonesia Belum Sepenuhnya Ramah Lingkungan, Peran Pohon Jadi Penyeimbang

LindungiHutan Insight

  • Kendaraan listrik di Indonesia sedang digencarkan oleh pemerintah Indonesia, sebagai bagian dari upaya transformasi industri kendaraan ramah lingkungan.
  • Proses produksi dan pengolahan baterai belum ramah lingkungan, karena masih mengeluarkan polutan berbahaya ke udara.
  • Imbangi dengan penanaman pohon sebagai langkah dalam membantu mengurangi emisi karbon seperti karbon dioksida dan polutan berbahaya lainnya.

Saat ini, produksi kendaraan listrik di Indonesia sedang digencarkan oleh pemerintah Indonesia, sebagai bagian dari upaya transformasi industri kendaraan ramah lingkungan, strategi penurunan emisi, dan pengurangan ketergantungan impor BBM.

Dilansir dari video yang diunggah Metro TV di Youtube, tekanan harga energi fosil, isu perubahan iklim, serta inovasi teknologi, juga menjadi alasan pemerintah Indonesia melakukan pergeseran menuju kendaraan listrik.

Faktor global seperti ketidakpastian harga BBM, membuat kendaraan listrik menjadi opsi yang lebih stabil, ekonomis, dan jangka panjang, serta pastinya tidak menghasilkan emisi langsung sehingga lebih ramah lingkungan.

Namun, itu belum sepenuhnya ramah lingkungan. Proses produksi dari pabriknya masih menghasilkan emisi karbon dan limbah yang bisa berdampak negatif pada lingkungan sekitar.

Bahan baku baterai masih diperoleh dari proses penambangan sehingga belum ramah lingkungan. Hal tersebut juga berpotensi degradasi lahan maupun alih fungsi lahan hutan, yang bisa mengakibatkan rusaknya ekosistem.

Manfaat Menggunakan Kendaraan Listrik

Beralih menggunakan kendaraan listrik, menjadi salah satu langkah nyata dalam meningkatkan kesadaran akan lingkungan. Kendaraan listrik memberikan berbagai manfaat, baik bagi pengguna maupun lingkungan sekitar.

1. Mengurangi Emisi Gas dan Polusi Udara

Kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas saat digunakan. Berbeda dengan kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil, lebih banyak menghasilkan emisi gas seperti melepaskan karbon dioksida dan polutan lain.

Kendaraan listrik juga dapat membantu menurunkan tingkat polusi udara, khususnya di perkotaan.  sekaligus  mendukung upaya pengurangan jejak karbon.

2. Mengurangi Ketergantungan Pada BBM

Dalam pengoperasiannya, kendaraan listrik tidak membutuhkan BBM sebagai sumber energi utamanya. Kendaraan listrik lebih menggunakan daya listrik dari baterai sebagai sumber energi.

Hal ini sesuai dengan misi pemerintah Indonesia, yang ingin mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

3. Mengurangi Polusi Suara

Kendaraan listrik tidak menggunakan mesin pembakaran internal sehingga menghasilkan  gesekan dan getaran yang jauh lebih minim.

Hal ini membuat tingkat kebisingan yang dihasilkan cenderung lebih rendah, dibandingkan kendaraan yang menggunakan mesin pembakaran internal. 

Suara operasional dari kendaraan listrik  yang lebih halus, turut memberikan kenyamanan, baik bagi pengguna maupun lingkungan sekitar, khususnya di perkotaan yang padat penduduk.

4. Mencegah Perubahan Iklim

Kendaraan listrik mengubah energi listrik yang tersimpan dalam baterai, menjadi gerakan untuk membantu beroperasi.

Adapun kendaraan konvensional, mengubah energi dari bahan bakar minyak menjadi energi yang terbuang sia-sia dalam bentuk panas ke udara sehingga dapat mempercepat perubahan iklim ke suhu yang lebih panas.

5. Mendukung Transisi Energi dan Masa Depan Berkelanjutan

Menggunakan kendaraan listrik berarti bertransisi dari bahan bakar minyak ke energi listrik. Ini akan membantu dalam mengurangi ketergantungan dalam impor BBM, sekaligus menuju masa depan berkelanjutan dengan energi terbarukan.

Baca juga: Transportasi Ramah Lingkungan, Solusi Kurangi Emisi Karbon

Sisi Lain: Produksinya & Baterainya yang Belum Ramah Lingkungan

Kendaraan listrik di Indonesia termasuk transportasi ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan polutan berbahaya ke udara. Sebaliknya, proses produksi dan pengolahan baterai belum ramah lingkungan, karena masih mengeluarkan polutan berbahaya ke udara.

1. Proses Produksi

Dikatakan belum ramah lingkungan karena, listrik yang digunakan dalam mengisi baterai, masih banyak dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga batu bara.

Akibatnya, emisi seperti karbon dioksida (CO₂) yang biasanya dilepaskan dari knalpot kendaraan konvensional, pada kendaraan listrik justru berpindah dan dihasilkan dari cerobong asap pembangkit listrik batu bara tersebut.

Di sisi lain, proses produksi baterainya dan perakitan kendaraan listriknya yang dilakukan pabrik-pabrik otomotif juga membutuhkan energi besar. 

Hal ini berdampak pada peningkatan emisi karbon dan limbah industri ke udara sehingga dapat mengakibatkan polusi udara.

2. Pengolahan Baterai

Bahan baku dalam pembuatan baterainya juga belum sepenuhnya ramah lingkungan karena menggunakan mineral bumi seperti kobalt, nikel, aluminium, dan timah, yang didapatkan melalui proses penambangan. 

Aktivitas ini berpotensi menyebabkan degradasi lahan maupun alih fungsi lahan hutan menjadi area tambang, yang pada akhirnya dapat merusak ekosistem.

Diketahui, Indonesia menjadi salah satu penyedia utama bahan baku baterai kendaraan listrik tersebut. Hal ini didukung dengan kekayaan geologis Indonesia yang melimpah.

Dilansir dari invi-indonesia.co.id, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam cadangan nikel, sedangkan pada cadangan kobalt, Indonesia menduduki peringkat kedua terbanyak di dunia.

Adapun pada cadangan timah, Indonesia menduduki peringkat ketiga terbanyak di dunia.  Untuk cadangan bauksit yang di mana itu merupakan bahan utama alumunium, Indonesia menduduki peringkat ke-enam terbanyak di dunia.

Baca juga: 10+ Manfaat Menanam Pohon untuk Lingkungan dan Manusia

Peran Pohon Jadi Penyeimbang

Oleh karena itu, dapat diimbangi dengan penanaman pohon sebagai langkah dalam membantu mengurangi emisi karbon seperti karbon dioksida dan polutan berbahaya lainnya, yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga batu bara maupun industri (pabrik) otomotif.

Pohon berperan penting dalam menyerap polutan berbahaya di udara sehingga mampu menurunkan suhu lingkungan dan membuat udara terasa lebih sejuk.

Penanaman pohon juga berperan penting dalam mencegah bencana longsor, khususnya di area yang mengalami alih fungsi hutan menjadi area tambang. 

Pohon berperan penting dalam menyimpan cadangan air di dalam tanah sehingga struktur tanah lebih stabil dan risiko longsor bisa diminimalisir.

Di sisi lain, tanah di area tambang umumnya cenderung kering dan kurang subur. Penanaman pohon dapat membantu meningkatkan kandungan air dan membuat tanah kembali menjadi subur.

Setelah itu, tanah akan lebih mudah ditanami pohon, sehingga berpotensi memulihkan kembali area bekas tambang menjadi kawasan hutan.

Menanam pohon merupakan salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Anda dapat melakukannya secara mandiri atau berpartisipasi dalam berbagai program penanaman yang diselenggarakan oleh organisasi lingkungan, seperti LindungiHutan.

Sejak tahun 2016 hingga 2026, LindungiHutan telah menanam lebih dari 1,2 juta pohon di lebih dari 40 lokasi penanaman yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Upaya ini dilakukan sebagai bentuk kontribusi langsung dalam upaya pemulihan lingkungan secara berkelanjutan.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Exit mobile version