Scroll untuk baca artikel
Berita

Kemenkes Siapkan Regulasi untuk Kembangkan Ekosistem Plasma

webmaster
1
×

Kemenkes Siapkan Regulasi untuk Kembangkan Ekosistem Plasma

Share this article
kemenkes-siapkan-regulasi-untuk-kembangkan-ekosistem-plasma
Kemenkes Siapkan Regulasi untuk Kembangkan Ekosistem Plasma

Jakarta, CNN Indonesia —

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menyiapkan regulasi untuk mengembangkan ekosistem plasma nasional. Upaya ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia sekaligus memastikan ketersediaan Produk Obat Derivat Plasma (PODP) bagi pasien yang membutuhkan.

Example 300x600

Ketua Tim Kerja Kelainan Darah dan Gangguan Imunologi Kemenkes Aswardi mengatakan setidaknya ada tiga tantangan yang perlu diatasi untuk membangun ekosistem plasma yang kuat dan berkelanjutan. Pertama, keterbatasan sumber daya menjadi salah satu kendala dalam penyediaan plasma di Indonesia.

Tanpa sumber daya yang memadai, penyediaan PODP masih sulit dilakukan. Tantangan berikutnya adalah ketersediaan dan kesiapan masyarakat untuk menjadi donor plasma.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Yang berikutnya ketersediaan atau kesiapan masyarakat menjadi donor. Hal ini justru menjadi kunci bagi kita semua, bagaimana PODP ini dapat diimplementasikan kalau masyarakat sudah siap atau mau berperan aktif dalam donor,” kata Aswardi di Jakarta dalam acara International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026, Rabu (7/10).

Tantangan ketiga adalah kolaborasi berbagai sektor yang masih harus diperkuat. Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kemenkes Dita Novianti Sugandi Argadireja mengatakan ekosistem plasma nasional yang mandiri dan berkelanjutan dibutuhkan untuk membangun ketahanan kesehatan Indonesia. Karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam pengembangannya.

“Ketika kita berbicara tentang plasma sesungguhnya kita tidak hanya berbicara mengenai salah satu komponen darah tetapi kita berbicara mengenai harapan dan keberlangsungan hidup pasien yang membutuhkan terapi berbasis plasma sebagai bagian penting dari perawatan medis mereka,” kata Dita mengutip Antara.

Menurut Dita, PODP memiliki peran penting dalam layanan kesehatan. Produk tersebut digunakan untuk menangani berbagai kondisi medis, mulai dari imunodefisiensi primer, hemofilia, hingga penyakit langka dan kronis lainnya.

“Kepastian pasokan PODP inilah yang memungkinkan pasien untuk mempertahankan kualitas hidup mereka dan tetap berkontribusi secara produktif di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan ketersediaan PODP yang aman, berkualitas, dan terjangkau merupakan salah satu pilar penting dalam penguatan sistem kesehatan nasional dan sejalan dengan upaya membangun ketahanan kesehatan.

Karena itu, penguatan ekosistem plasma membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, institusi kesehatan, unit pengelola darah, industri, komunitas pasien, donor, dan pemangku kepentingan lainnya.

Plasma dan kebutuhan pasien

Masyarakat Indonesia umumnya lebih familiar dengan donor darah dibandingkan donor plasma. Padahal, plasma merupakan komponen penting dalam darah yang dapat diolah menjadi PODP untuk mendukung perawatan pasien dengan berbagai kondisi medis.

Plasma mencakup sekitar 55 persen dari volume darah. Di dalamnya terdapat berbagai protein penting, termasuk albumin, antibodi, dan faktor pembekuan yang dapat diolah menjadi produk terapi.

Pakar Bank Darah dan Kedokteran Transfusi Teguh Triyono menjelaskan bahwa pengambilan plasma berbeda dengan donor darah utuh. Dalam proses donor plasma menggunakan alat apheresis, plasma dipisahkan dari komponen darah lainnya. Komponen darah yang tidak diambil kemudian dikembalikan ke tubuh donor.

Plasma yang terkumpul selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai produk terapi untuk membantu pasien dengan kondisi tertentu, termasuk hipoalbuminemia, gangguan perdarahan, dan imunodefisiensi.

“Karena itu, pemahaman mengenai plasma dan proses pengambilan plasma penting untuk dipahami, begitu juga dengan kontribusi dari donor plasma sebagai bagian penting dari perjalanan perawatan pasien,” kata Teguh.

Ketersediaan plasma pun bergantung pada keberadaan donor yang memenuhi persyaratan serta proses pengambilan yang dilakukan sesuai ketentuan. Kesadaran masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem plasma.

Kepala Komunikasi dan Informasi Yayasan Laskar Aferesis Berbagi (YLAB) Mila Rahmania mengatakan masyarakat cenderung terdorong berkontribusi ketika memahami tujuan dan manfaat dari tindakan donor yang dilakukan. Menurut dia, partisipasi berkelanjutan tidak cukup hanya dengan mengajak masyarakat berdonor.

Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang akurat, pengalaman donor yang baik, serta apresiasi atas kontribusi mereka. Di sisi lain, keberlanjutan pasokan PODP sangat berkaitan dengan kebutuhan pasien. Dalam upaya tersebut, Takeda melalui jaringan BioLife di berbagai negara juga akan mendukung pengembangan jaringan pengambilan plasma di Indonesia dengan mengacu pada standar mutu, keamanan, dan regulasi yang berlaku.

Presiden Direktur PT Takeda Life Sciences Andreas Gutknecht mengatakan pihaknya berkomitmen bekerja sama dengan Kemenkes dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung pengembangan ekosistem plasma di Indonesia.

“Produk Obat Derivat Plasma memiliki peran penting dalam mendukung pasien yang hidup dengan kondisi kompleks dan mengancam jiwa. Di Indonesia, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai plasma dan mendukung pengembangan ekosistem plasma yang berkelanjutan merupakan langkah penting dalam memperkuat sistem kesehatan,” kata dia.

(tis/tis)