Berita

Kasus Perusakan Makam Ayah Mertua Djaduk Ferianto Berakhir Damai

2
kasus-perusakan-makam-ayah-mertua-djaduk-ferianto-berakhir-damai
Kasus Perusakan Makam Ayah Mertua Djaduk Ferianto Berakhir Damai

Yogyakarta, CNN Indonesia

Peristiwa perusakan makam ayah mertua mendiang seniman kondang, Djaduk Ferianto oleh juru kunci pemakaman disebut berakhir secara damai.

Perusakan ini terjadi di makam lama Pakuncen, daerah Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Kondisi makam yang patah pada bagian nisan kali pertama diketahui oleh Bernadetta Petra, istri mendiang Djaduk, kemarin.

Kapolsek Wirobrajan Kompol Arif Darmawan menyebut persoalan tersebut telah selesai melalui jalur mediasi. Petra dan juru kunci berinisial S disebut sepakat memilih jalan damai setelah bertemu pada Rabu (12/8) siang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Sudah selesai, mediasi sudah selesai, dan semuanya sudah buat kesepakatan, berakhir dengan perdamaian, baik-baik semuanya. Jadi kepala nisannya juga sudah dikembalikan, dipasang lagi, sudah diperbaiki, sudah pulih seperti sediakala,” kata Arif saat dihubungi.

Menurut Arif, kedua belah pihak menyepakati pembayaran uang kebersihan sebagai bagian dari pangkal permasalahan dan penyelesaian persoalan tersebut. Uang kebersihan itu juga telah dibayarkan Petra dan kesepakatan keduanya kemudian dituangkan dalam hasil mediasi.

Arif menjelaskan, nisan makam ayah Petra sebelumnya memang dilepas oleh juru kunci. Namun, menurutnya, tindakan tersebut dilakukan karena juru kunci ingin bertemu dengan ahli waris.

“Cuma masalah komunikasi aja,” katanya.

Terkait status lahan pemakaman tersebut, Arif mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa pemiliknya. Namun, pengelolaan makam lama di kawasan Pakuncen dilakukan warga setempat secara turun-temurun.

Arif menyebut pengelolaan tersebut berbeda dengan kompleks makam Pakuncen yang berada di bawah Pemerintah Kota Yogyakarta. Sementara itu, juru kunci berinisial S telah puluhan tahun mengelola makam tersebut. Tugas itu diwariskan dari generasi sebelumnya.

Arif menuturkan, pemberian uang kepada pengelola makam selama ini merupakan kebiasaan para peziarah. Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan kebersihan dan perawatan lingkungan makam.

“Ninggali untuk kebersihan seikhlasnya,” katanya.

Menurut Arif, Petra sendiri selama ini tetap memberikan uang kepada orang-orang yang membantu membersihkan makam. Hanya saja, ia belum pernah bertemu langsung dengan juru kunci.

“Jadi mungkin sama yang orang-orang di sekitaran melu bersih-bersih itu ditinggali Rp10 ribuan lah ini. Tapi sing khusus sing juru kunci itu enggak kesampaian, enggak pernah ketemu gitu lho,” sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, makam ayah mertua Djaduk Ferianto di kawasan Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta, dirusak oleh juru kunci pemakaman. Peristiwa itu diketahui Bernadetta Petra, istri Djaduk, saat hendak berziarah pada Selasa (11/8) pagi. Ia kaget mendapati nisan makam ayahnya dalam kondisi rusak.

“Saya kaget karena itu sudah di ditugel mejane (maesan dipatah),” kata Petra.

Petra kemudian mencari keberadaan juru kunci dan mendatangi kantor kelurahan setempat. Dari sana, ia mengetahui kompleks makam tersebut bukan aset Pemerintah Kota Yogyakarta dan tidak memiliki data legalitas yang jelas. Makam ayah Petra, yang wafat dan dimakamkan sejak 1971, berada di kompleks makam lama di sebelah barat Masjid Kuncen dan selama ini tidak dikenakan biaya sewa.

Petra lalu melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Wirobrajan. Setelah juru kunci ditemukan, Petra datang ke lokasi bersama sejumlah petugas kepolisian. Di sana, juru kunci mengakui telah merusak nisan makam ayah Petra. Menurut Petra, tindakan itu dilakukan karena ia selama ini tidak memberikan uang kepada juru kunci, meski Petra mengaku tidak pernah bertemu dengannya.

Petra akhirnya mentransfer Rp500 ribu sebagai uang yang ia anggap sebagai utang, di luar biaya perbaikan makam. Ia juga meminta kondisi makam dikembalikan seperti semula dan menawarkan sistem pembayaran jasa secara bulanan.

Pada Rabu (12/8), Petra mendapat informasi bahwa nisan makam ayahnya telah diperbaiki. Meski demikian, ia menyayangkan cara juru kunci menyelesaikan persoalan tersebut. Petra berharap persoalan serupa dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik.

Petra juga berharap kejadian ini menjadi momentum untuk memperjelas regulasi mengenai lahan pemakaman, termasuk aturan penggunaan dan pengelolaannya.

(kum/fra)

[Gambas:Video CNN]

Exit mobile version