Misteri

Kasus Misterius William Harrison (Part 1)

98
Kasus Misterius William Harrison (Part 1)

“Aku tidak membunuhnya! Demi Tuhan aku tidak membunuhnya!,” teriak Richard Perry tak berdaya di depan tiang gantungan.

“Pengakuan itu palsu!”

John, sang kakak yang berada di sampingnya yang juga sama-sama menunggu detik-detik eksekusi tampak lebih tegar. Tapi itu bukanlah keberanian. Dia tahu tak ada lagi yang dapat dilakukannya. Keputusan untuk mengaku itu benar-benar bodoh. Saat kepalanya mendongak ke atas tempat eksekusi, secepat kilat ketakutan merobohkan ketegarannya. Seorang wanita dengan tubuh yang telah kaku dan kaki terjuntai di atas tanah baru saja dieksekusi. Wanita itu adalah ibunya.

Orang-orang yang berkumpul di Broadway Hill hari itu berdesak-desakan demi menyaksikan takdir apa yang akan ditemui keluarga Perry. Beberapa dari mereka terlihat marah, tetapi ada sebagian yang merasa iba dan ngeri. Sisanya berdiri dengan ekspresi datar seolah eksekusi semacam itu hanyalah tontonan di sela makan siang.

“Untung saja wanita penyihir itu sudah lebih dulu digantung,” bisik seorang wanita dengan nada sinis.

“Memangnya dia sungguh penyihir?,” tanya seorang yang berdiri di sebelahnya. “Aku tidak percaya..”

“Semoga Tuhan mengampuninya. Hukuman seperti ini setidaknya lebih baik dibandingkan hukuman yang diterima Jendral Harrison,” ujar seorang pria yang berdiri tak jauh dari kedua wanita tadi.

“Maksudmu Jendral Thomas Harrison? Aku bahkan tak sanggup membayangkannya,” sergah seorang lainnya bergidik ngeri.

Seorang pria dengan tatapan penuh kemarahan berdiri di barisan paling depan. Tampaknya dia begitu menginginkan kematian John dan Richard Perry. Amarah dan kebencian tertangkap jelas dari sorot matanya yang tajam.

“Tenang saja Ed, mereka tidak akan bisa lolos dari hukuman. Apa yang mereka lakukan pada ayahmu akan segera terbayar.”

Pria bernama Edward itu tak membalas ucapan orang yang ada di belakangnya. Ayahnya sudah tewas dibunuh. Apalagi yang diharapkannya selain kematian para pelaku. Dia menatap tajam ke tiang gantungan sementara kedua pria di atas sana, John dan Richard akan segera menjalani eksekusi menyusul ibu mereka.

Kain hitam penutup kepala dipasang. John melihat untuk terakhir kalinya wajah ketakutan sang adik di depan tiang gantungan. Algojo terdengar memberikan aba-aba. Para hadirin menahan nafas. Sunyi mencengkram tempat itu seketika. Lalu terdengar suara tuas ditarik.

Hari itu tahun 1661.

***

Pertengahan Agustus 1660.

“Segeralah pulang begitu urusanmu selesai,” ujar Nancy sembari menyiapkan keperluan suaminya. “Kembalilah sebelum makan malam,” lanjutnya khawatir.

“Ya ampun kau ini. Tempat itu jaraknya hanya 2 mil dari sini. Lagi pula aku kan sudah biasa pergi ke Charingworth untuk menagih sewa,” jawab William.

“Aku hanya tak mau kau jadi lupa waktu mengobrol dengan beberapa penyewa di sana” timpal Nancy sambil mengintip keluar jendela menatap sinar matahari di pagi hari yang cerah itu.

Juliana Lady Viscountess Campden, majikan Harrison, beberapa hari yang lalu telah memintanya mengumpulkan uang sewa dari beberapa penyewa di Charingworth. Wanita itu adalah putri Sir Baptist Hicks.

Sir Baptist Hicks adalah bangsawan dan mantan Walikota London. Kekayaannya sungguh luar biasa. Ia membangun banyak bangunan megah dan fasilitas umum di Campden. Lingkaran pertemanannya bukan orang biasa. Salah satunya adalah Raja Charles I. Menurut kabar, ia juga pernah meminjamkan uang kepada James I dan sebagai hasilnya memperoleh kekayaan yang sangat besar.

“Baiklah aku berangkat sekarang. Aku akan pulang sebelum makan malam, tapi siapkan makan malam yang enak,ya!,” canda William sambil berpamitan pada istrinya.

Belum jauh William melangkah. “Sayang, kau lupa topimu!,” teriak Nancy sambil melambaikan topi suaminya. Pria itu kembali dan mengambil topinya sambil tertawa.

“Huh..dasar pelupa!,” seru Nancy sambil mengulurkan topi. Dilihatnya wajah suaminya itu sekilas. Entah mengapa ada perasaan tak enak menyergapnya tiba-tiba.

Keluarga Harrison tinggal di wilayah Chipping Campden. Untuk pekerjaan rumah sehari-hari keluarga ini dibantu oleh Joan Perry dan kedua putranya John dan Richard. Mereka sudah bekerja pada keluarga Harrison sejak beberapa tahun yang lalu.

Hari sudah petang walaupun matahari masih bersinar terik. Siang hari terasa berlangsung lebih lama saat musim panas.

Sampai waktu itu William belum kembali dari Charingworth. Bahkan saat makan malam dihidangkan pun, pria itu masih juga belum pulang. Nancy yang cemas memutuskan untuk menunggu. Berkali-kali matanya menatap jauh ke ujung jalan berharap suaminya itu akan muncul seperti biasanya, namun hingga malam semakin larut, harapannya semakin pupus.

Nancy khawatir sesuatu menimpa suaminya. Tiga bulan sebelumnya Charles II kembali dari pengasingan dan masuk London dengan penuh kemenangan bersama para pendukungnya, yang menandai dimulainya masa kekuasaannya. Sebelumnya, negeri itu diliputi ketakutan saat Richard Cromwell berkuasa. Banyak prajurit yang tidak menerima upah berkeliaran untuk mencuri dan merampok. Tapi sekarang situasi sudah jauh lebih baik. Tapi tetap saja kekhawatiran menggelayuti benak Nancy.

Ia kemudian meminta John Perry untuk pergi menyusul suaminya ke Charingworth malam itu juga. Nancy tak bisa menunggu sampai esok. John bergegas berangkat mencari majikannya.

Tetapi baik William ataupun John, keduanya tidak juga kembali sampai pagi tiba. Nancy yang semakin berprasangka buruk lalu meminta putranya, Edward untuk pergi menyusul.

Charingworth tidaklah jauh dari kediaman keluarga Harrison. Seperti kata William, jaraknya hanya 2 mil. Jalan menuju ke sana juga relatif aman meskipun sangat sepi.

Edward berjalan tergesa-gesa. Ia mempercepat langkahnya. Hatinya was-was. Ayahnya sudah tua. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya. Lalu di tengah perjalanan, ia melihat John.

“Hei, John!,”

Dari kejauhan, John terlihat terkejut kemudian menoleh mencari orang yang memanggilnya. 

“Kau ke mana saja. Mana ayahku?,” tanya Edward terengah-engah menghampirinya.

“Aku tak dapat menemukannya. Aku sudah bertanya pada beberapa orang, tapi mereka mengatakan tidak melihat Tuan Harrison,” terang John.

Keduanya melanjutkan pencarian. Edward memutuskan untuk mencari ke Ebrington.

“Kita ke Ebrington. Ayah bilang akan menagih sewa juga ke sana,” ujar Edward.

Ebrington letaknya di antara Charingworth dan Chipping Campden. Edward berpikir kalau ayahnya mungkin bertemu seseorang di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Charingworth.

“Ya, dia memang berada di sini kemarin malam menagih sewa,” ujar Nyonya Ludlow, salah seorang penyewa ketika ditanyai Edward dan John. Wanita itu bahkan sampai lupa menyuruh John dan Edward masuk karena kedua pria itu tampak bertanya dengan sangat tergesa-gesa.

“Aku sempat memintanya masuk dulu sebentar, tapi sepertinya dia terburu-buru,” kata Nyonya Ludlow mengingat pertemuannya dengan Harrison.

Edward dan John kemudian bergegas pergi ke Paxford yang berada tak jauh dari sana. Barangkali seseorang melihat Harrison melewati wilayah itu setelah menagih sewa. 

Tapi pencarian mereka ke Paxford sia-sia. Tak ada seorang pun yang melihat Harrison di sana. Mereka kemudian memutuskan untuk kembali ke Chipping Campden, berpikir William mungkin sudah berada di rumah.

Di tengah perjalanan pulang keduanya mendengar beberapa orang yang berpapasan dengan mereka mengatakan ada seseorang yang dirampok di jalan.

“Ya, tampaknya seorang pria telah tewas dirampok. Barang-barangnya tergeletak penuh darah di ujung jalan itu,” ujar seorang pria menjelaskan sambil menunjuk ke tempat yang dimaksud.

Tanpa berpikir panjang Edward segera berlari. Di belakangnya John mengikuti.

Di dekat semak-semak itu Edward melihat beberapa barang berserakan. Sepotong kemeja dan kain pengikat leher tergeletak penuh darah. Sebuah topi yang tampaknya telah disayat benda tajam juga ditemukan tak jauh dari sana. Dan semua itu adalah milik ayah Edward, William Harrison.

Edward tak percaya pada apa yang dilihatnya. Tubuhnya gemetar, kakinya terasa lemas seketika. Tak salah lagi barang-barang itu milik ayahnya. Apakah ayahnya telah dirampok lalu dibunuh? Sang perampok pasti tahu kalau ayahnya sehabis menagih sewa dan membawa banyak uang bersamanya.

Edward segera terbayang wajah ibunya. Apa yang harus dikatakannya pada ibunya nanti begitu sampai di rumah?

Namun meskipun barang-barang William Harrison ditemukan, tetapi jasad pria itu lenyap tak berbekas. Apakah seseorang telah membawa mayatnya pergi dari sana? Atau mungkinkah seseorang telah menguburkan jasadnya di suatu tempat untuk menghilangkan jejak?

Bersambung…

*Jumlah komentar minimal 11, satu orang hanya dihitung satu komentar. Batas terakhir tanggal 6 Januari 2021 pukul 21.00 yaa.. 🙂

Perhatian: Mohon hargai penulis dengan tidak mengambil atau copy paste tulisan di blog ini untuk dijadikan postingan blog/website ataupun konten Youtube. Terima kasih.. ^^ 

Exit mobile version