Sesungguhnya kalian hidup di zaman di mana para ulamanya banyak, tetapi para khatibnya sedikit. Dan akan datang setelah kalian zaman di mana para khatibnya banyak, tetapi ulamanya sedikit.” Tidak semua yang pandai orasi dan pidato adalah ulama; maka kita perlu mengetahui karakter ulama sejati.
INDONESIAINSIDE.ID – Ulama sejati adalah mereka yang memiliki kedalaman ilmu yang kuat dan keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan ulama sejati dengan kata-katanya yang sangat indah:
إِنَّ العَالِمَ الرَّاسِخَ فِي العِلْمِ لَوْ وَرَدَتْ عَلَيْهِ مِنَ الشُّبَهِ بِعَدَدِ أَمْوَاجِ البَحْرِ، مَا أَزَالَتْ يَقِينَهُ، وَلَا قَدَحَتْ فِيهِ شَكًّا؛ لِأَنَّهُ قَدْ رَسَخَ فِي العِلْمِ، فَلَا تَسْتَفِزُّهُ الشُّبُهَاتُ، بَلْ إِذَا وَرَدَتْ عَلَيْهِ، رَدَّهَا حَرَسُ العِلْمِ وَجَيْشُهُ مَغْلُولَةً مَغْلُوبَةً.
“Sesungguhnya seorang ulama yang mantap dalam ilmu, jika datang kepadanya berbagai syubhat sebanyak gelombang lautan, itu tidak akan menghilangkan keyakinannya, atau menimbulkan keraguan padanya; karena ia telah mantap dalam ilmu, sehingga syubhat tidak dapat menggoyahkannya. Bahkan jika syubhat datang kepadanya, ia akan menolaknya dengan penjaga ilmu dan tentaranya yang terikat dan kalah.” (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/140)
Ini menunjukkan bahwa ulama sejati memiliki ketahanan yang luar biasa terhadap gangguan dan keraguan. Ilmu yang mereka miliki menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan intelektual dan spiritual.
Perbedaan antara Ulama, Khatib, dan Penceramah
Ibnu Mas’ud rahimahullah memberikan peringatan tentang perbedaan antara ulama, khatib, dan penceramah. Beliau berkata: “Sesungguhnya kalian hidup di zaman di mana para ulamanya banyak, tetapi para khatibnya sedikit. Dan akan datang setelah kalian zaman di mana para khatibnya banyak, tetapi ulamanya sedikit.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, 346; Thabrani dalam Al-Kabir, 9/801; disahkan oleh Al-Hafiz dalam Fath Al-Bari, 10/510)
Pesan ini sangat relevan di zaman kita sekarang, di mana banyak sekali orang yang pandai berbicara di depan umum namun sedikit yang benar-benar mendalami ilmu agama dengan benar. Ulama sejati tidak hanya pandai berbicara tetapi juga memiliki kedalaman ilmu yang membimbing setiap kata-katanya.
Ilmu dan Amal yang Seimbang
Ulama sejati memahami bahwa Allah telah membagi peran dan pekerjaan di antara hamba-hamba-Nya sebagaimana Dia membagi rezeki. Hafiz Ibn Abd al-Barr meriwayatkan sebuah kisah menarik dalam kitabnya At-Tamhid:
“Ini saya tulis dari ingatan saya, karena naskah aslinya tidak ada: Abdullah bin Abdul Aziz Al-Umari, seorang ahli ibadah, menulis surat kepada Imam Malik mendorongnya untuk menyendiri dan beribadah. Maka Imam Malik menulis kembali kepadanya: ‘Sesungguhnya Allah telah membagi amal-amal sebagaimana Dia membagi rezeki. Mungkin ada orang yang dibukakan pintu untuk berpuasa, yang lain dibukakan pintu untuk berjihad. Menyebarkan ilmu adalah amal terbaik dari perbuatan baik, dan saya ridha dengan apa yang Allah bukakan bagi saya. Saya tidak berpikir bahwa apa yang saya lakukan kurang dari apa yang Anda lakukan, dan saya berharap bahwa kita berdua berada dalam kebaikan dan berkah.‘” (Tārīkh al-Islām, Adh-Dhahabi, Peristiwa 171-180, 329)
Ini menunjukkan bahwa ulama sejati tidak hanya berfokus pada satu aspek ibadah, tetapi mereka juga menghargai pentingnya menyebarkan ilmu dan memberikan manfaat kepada umat.
Ulama sejati adalah mereka yang memiliki ilmu yang mendalam, keteguhan hati, dan keseimbangan antara ilmu dan amal. Mereka adalah penjaga kebenaran yang tidak tergoyahkan oleh syubhat dan kebatilan. Mereka bukan hanya pandai berbicara tetapi juga mengamalkan apa yang mereka ajarkan. Mereka memahami bahwa setiap orang memiliki peran dan tanggung jawabnya sendiri dalam agama, dan mereka menghargai setiap usaha yang dilakukan demi kebaikan dan kebenaran.
Kita harus berusaha meneladani karakter ulama sejati ini dalam kehidupan kita, mencari ilmu dengan kesungguhan hati, menjaga keteguhan iman, dan selalu berusaha menyebarkan kebaikan dan manfaat kepada orang lain. Dengan demikian, kita dapat menjadi bagian dari mereka yang mendapatkan keberkahan dan kebaikan di dunia dan akhirat. (MBS)
