Jakarta, CNN Indonesia —
Jepang bersiap mengatur pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik (EV), seiring volume buangan yang diperkirakan melonjak dari sekitar 50.000 unit pada tahun fiskal 2026 menjadi 400.000 unit pada 2040.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) pekan lalu merampungkan laporan bersama yang menyatakan keduanya akan mempertimbangkan solusi kebijakan dan jadwal penetapan sistem daur ulang baterai EV, dikutip Nikkei Asia. Keduanya berencana membentuk kelompok kerja pada musim panas ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sistem sukarela
Berdasarkan undang-undang yang berlaku, perusahaan daur ulang kendaraan di Jepang diwajibkan memulihkan baterai dari kendaraan yang sudah habis masa pakainya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun baterai yang tidak bisa dijual kembali bergantung sepenuhnya pada skema sukarela, yaitu dikumpulkan oleh produsen melalui Japan Auto Recycling Partnership (JARP) dengan biaya pemrosesan yang ditanggung pabrikan.
Empat belas produsen domestik, termasuk Toyota dan 18 produsen asing termasuk Volkswagen dan BYD, saat ini berpartisipasi dalam skema itu.
Pada tahun fiskal 2024, sistem sukarela berhasil memulihkan sekitar 13.000 unit baterai, menurut JARP. Namun kapasitas sistem ini dinilai tidak akan mampu mengimbangi pertumbuhan volume limbah baterai ke depan.
Kementerian Lingkungan Hidup memperkirakan hampir 50.000 baterai EV akan dibuang pada tahun fiskal 2026. Angka itu diproyeksikan naik menjadi sekitar 130.000 pada tahun fiskal 2030, dan 400.000 pada tahun fiskal 2040.
Keterlambatan pengumpulan berisiko membebani perusahaan daur ulang dan berpotensi memicu pembuangan ilegal.
Baterai litium-ion juga menyimpan risiko kebakaran, sehingga sistem pengumpulan yang aman menjadi krusial.
Di balik persoalan limbah, terdapat dimensi keamanan ekonomi yang tidak kalah penting.
Baterai EV bekas merupakan sumber logam kritis seperti litium dan kobalt. Karena Jepang sangat bergantung pada impor untuk kedua bahan ini, daur ulang baterai dinilai dapat memperkuat ketahanan sumber daya dan keamanan ekonomi nasional.
Kedua logam ini bahkan sudah ditetapkan sebagai produk kritis berdasarkan Undang-Undang Promosi Keamanan Ekonomi Jepang.
Namun proses daur ulangnya tidak banyak kemajuan, terutama karena biaya yang masih sangat tinggi.
Salah satu usulan yang tengah dibahas adalah memasukkan baterai EV ke daftar barang yang ditetapkan dalam undang-undang daur ulang, yang berarti produsen diwajibkan secara hukum mengumpulkannya.
Mandat ini diperkirakan akan menambah biaya yang kemungkinan diteruskan ke pembeli kendaraan.
Jepang tertinggal dari China dan Eropa
Di panggung global, dua raksasa sudah bergerak lebih jauh. Uni Eropa pada 2023 memberlakukan Battery Regulation yang menetapkan target tingkat daur ulang yang terukur.
China sedang membangun sistem pelacakan baterai dari tahap produksi hingga daur ulang, sekaligus melonggarkan pembatasan impor bahan perantara seperti baterai yang sudah dihancurkan guna mengamankan pasokan bahan baku.
Namun ada paradoks di kubu China: negara itu juga memimpin pengembangan baterai yang menggunakan sedikit atau bahkan tidak ada logam berharga, yang justru mengurangi insentif ekonomi untuk mendaur ulang baterai jenis ini, menurut para pengamat industri.
Pemerintah Jepang belum memutuskan apakah akan memperkuat skema sukarela atau beralih ke mandat wajib.
Kelompok kerja yang akan dibentuk musim panas ini ditargetkan merancang sistem yang mampu menilai kondisi baterai bekas dan mendorong penggunaan kembali di dalam negeri.
(fea)







