
Teknologi.id – Jepang kembali mencuri perhatian dunia dengan konsep teknologi futuristis yang terdengar seperti cerita film sains fiksi. Perusahaan konstruksi Shimizu Corporation mengusulkan pembangunan panel surya raksasa di Bulan yang nantinya dapat menghasilkan listrik dan mengirimkannya langsung ke Bumi.
Proyek bernama Luna Ring ini diklaim mampu menghasilkan energi dalam jumlah sangat besar, bahkan mencapai 13.000 terawatt, atau sekitar 500 kali lebih besar dibanding konsumsi listrik dunia saat ini. Meski masih berupa konsep, proyek tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu solusi energi bersih di masa depan.
Baca juga: Jepang Kembangkan Drone Kardus AirKamuy 150, Bisa Dirakit Tanpa Alat dalam 5 Menit
Apa Itu Proyek Luna Ring?
Luna Ring merupakan konsep pembangunan sabuk panel surya sepanjang sekitar 11.000 kilometer yang mengelilingi garis khatulistiwa Bulan.
Tidak seperti panel surya di Bumi yang hanya bisa menghasilkan listrik saat siang hari dan terganggu cuaca, panel di Bulan diperkirakan mampu menyerap sinar Matahari hampir tanpa henti.
Hal ini karena Bulan tidak memiliki atmosfer, awan, maupun hujan yang menghalangi cahaya Matahari. Selain itu, sabuk panel surya yang mengelilingi khatulistiwa Bulan memastikan selalu ada bagian panel yang menghadap Matahari sehingga pembangkit bisa beroperasi hampir 24 jam sehari.
Mengapa Jepang Ingin Membangun Panel Surya di Bulan?
Gagasan ini muncul setelah bencana gempa dan tsunami Tohoku pada 2011 yang memicu krisis di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi.
Peristiwa tersebut mendorong Jepang mencari sumber energi alternatif yang lebih aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan dibanding pembangkit listrik berbasis nuklir maupun bahan bakar fosil.
Menurut Shimizu Corporation, Bulan menawarkan lokasi yang jauh lebih ideal untuk menghasilkan energi surya dibandingkan permukaan Bumi.
Bagaimana Cara Listrik dari Bulan Bisa Sampai ke Bumi?

Konsep Luna Ring bekerja melalui beberapa tahapan.
Pertama, panel surya di permukaan Bulan menangkap sinar Matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.
Selanjutnya, listrik dialirkan melalui jaringan kabel menuju fasilitas transmisi yang berada di sisi Bulan yang selalu menghadap ke Bumi.
Di lokasi tersebut, energi listrik kemudian dikonversi menjadi gelombang mikro (microwave) dan sinar laser berenergi tinggi.
Pancaran energi tersebut dikirim menuju stasiun penerima di Bumi yang menggunakan teknologi rectenna (rectifying antenna).
Rectenna kemudian mengubah gelombang mikro menjadi listrik yang dapat langsung disalurkan ke jaringan listrik nasional.
Selain memasok listrik, energi tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk memproduksi hidrogen hijau sebagai bahan bakar bersih sekaligus media penyimpanan energi.
Dibangun Menggunakan Robot di Bulan
Karena pembangunan proyek dilakukan di luar angkasa, sebagian besar pekerjaan direncanakan menggunakan robot yang dikendalikan dari Bumi.
Shimizu juga ingin memanfaatkan sumber daya yang tersedia di Bulan agar biaya peluncuran material dari Bumi dapat ditekan.
Misalnya, tanah atau regolit Bulan akan diolah menjadi beton, sementara serat kaca dan material konstruksi lainnya diproduksi langsung di lokasi.
Benarkah Bisa Menghasilkan Listrik 500 Kali Lebih Besar?
Shimizu memperkirakan Luna Ring mampu menghasilkan hingga 13.000 terawatt daya, angka yang disebut sekitar 500 kali lebih besar dibanding total konsumsi listrik dunia saat ini.
Jika teknologi tersebut benar-benar berhasil diwujudkan, proyek ini berpotensi mengubah cara manusia menghasilkan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Masih Banyak Tantangan
Meski terdengar menjanjikan, Luna Ring masih jauh dari tahap realisasi.
Hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu mentransmisikan listrik dari Bulan ke Bumi dalam skala sebesar itu dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Sistem tersebut juga memerlukan sinyal pemandu dari Bumi agar pancaran microwave dan laser dapat mengenai stasiun penerima secara presisi.
Di sisi lain, biaya pembangunan diperkirakan mencapai angka yang sangat besar dan hingga kini proyek tersebut belum memperoleh pendanaan resmi.
Bahkan, sejumlah pakar energi di Jepang menilai pengembangan energi panas bumi masih jauh lebih realistis dibanding membangun pembangkit listrik di Bulan.
Negara Lain Juga Mengembangkan Teknologi Serupa
Jepang bukan satu-satunya negara yang mengembangkan konsep pembangkit listrik luar angkasa.
Pada 2023, California Institute of Technology (Caltech) melalui proyek MAPLE berhasil mendemonstrasikan pengiriman daya listrik nirkabel dari orbit ke Bumi dalam skala kecil.
Sementara itu, Japan Space Systems tengah mengembangkan proyek OHISAMA, yaitu satelit yang akan menguji transmisi energi surya dari luar angkasa ke Bumi.
China juga berencana membangun pembangkit listrik tenaga surya luar angkasa berskala kilometer pada dekade 2030-an, sedangkan Inggris telah lebih dulu mendukung riset serupa melalui pendanaan pemerintah.
Baca juga: Peneliti Jepang Ciptakan Teknologi Ubah Keringat Jadi Listrik untuk Sensor Wearable
Kesimpulan
Konsep Luna Ring menunjukkan bagaimana teknologi masa depan dapat membuka peluang baru dalam penyediaan energi bersih. Dengan memanfaatkan sinar Matahari di Bulan yang tersedia hampir sepanjang waktu, Jepang berharap suatu hari nanti listrik dapat dipasok ke Bumi tanpa bergantung pada cuaca maupun bahan bakar fosil.
Meski masih menghadapi tantangan besar dari sisi teknologi, biaya, dan infrastruktur, proyek ini menjadi salah satu gagasan paling ambisius dalam pengembangan energi luar angkasa.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(dwk)






